My Idol My Imam

My Idol My Imam
Social Anxiety?


__ADS_3

Episode 42:


Setelah selesai berganti pakaian, membersihkan diri, setelah itu lanjut dengan makan siang.


Alina dan Aisyah bersiap menemui dokter Vian untuk memeriksakan Aisyah tanpa sepengetahuan Aisyah sendiri.


" Sudah siap Ma?" Tanya Alina yang sudah rapi dengan baju warna dongker, hijab senada, serta cadar putihnya.


Dia juga sudah menyandang tas selempang nya, hanya tinggal berangkat saja.


" Iya nih, Mama juga sudah siap. Terus siapa yang mengantarkan kita?" Tanya Aisyah.


" Kita minta tolong sama pak Kim saja ya Ma." Aisyah pun setuju, dan mereka pun berangkat di antar oleh supir pribadi Alina.


Sebelumnya Li juga sudah membuat janji dengan dokter Vian dan mengatakan bahwa istrinya Alina akan berkunjung hari ini.


Tak lama mereka telah sampai di tempat praktek dokter Vian tersebut.


Awalnya Aisyah heran dan sempat bertanya mengapa mereka malah datang ke rumah sakit, bukannya jalan-jalan? Dan untung saja Alina bisa meyakinkan Aisyah, dan mengatakan bahwa mereka hanya ingin konsultasi saja tentang kesehatan fisik Aisyah, karena akhir-akhir ini Aisyah banyak merasakan kesedihan.


Setelah sampai di depan pintu masuk ruangan dokter Vian, Aisyah dan Alina langsung di persilahkan masuk oleh seorang perawat, karena mereka juga sudah di tunggu oleh dokter Vian sendiri.


" Permisi dokter!" Ucap Alina seraya menggandeng tangan Aisyah.


Dokter Vian pun menoleh mendengar namanya disebut.


" Ya silahkan masuk!" Jawab Dokter Vian.


Alina pun masuk dengan di iringi Aisyah dari belakang.


Tanpa banyak basa-basi lagi, dokter Vian langsung memeriksa kondisi mental Aisyah, serta menanyainya banyak hal tentangnya.


Setelah selesai, dokter Vian menghampiri Alina dan meminta untuk ke ruangannya.


Ya hanya Alina saja, tanpa ada Aisyah.


" Bagaimana Dok, apa yang sedang di alami Mama saya?" Tanya Alina ketika dia sudah berada di ruangan dokter Vian.


" Jadi sebenarnya, ibu nona terkena cemas sosial atau di sebut juga social anxiety. Yang mana sang penderita merasa tidak nyaman jika bertemu atau berinteraksi dengan orang lain. Dan hal seperti ini terjadi ketika kondisi pikiran dan perasaan seseorang sedang sedih atau telah kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya," jelas dokter Vian.


" Tapi anda jangan khawatir. Yang di alami nyonya Aisyah tidak terlalu fatal. Itu baru gejalanya saja," lanjut sang dokter.


" Lalu apa tanda-tandanya juga bisa mengamuk begitu dokter?" Tanya Alina.


" Mungkin bisa, tapi jika sudah terlalu parah biasanya."


" Tapi kenapa Mama saya sering sekali mengamuk dok?"


Dokter Vian lantas mengerutkan keningnya. Entah apa yang ada di dalam benak Dokter tersebut, yang jelas dia nampak merasa heran dengan apa yang di tuturkan Alina.


" Untuk hal itu, biar saya cari tahu lagi nanti," ucap dokter Vian mengakhiri pembicaraan mereka.


" Ini saya beri resep obat. Dan di sana juga ada obat penenang juga. Dan jika ada sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi saya!"


Dokter Vian pun memberikan secarik kertas yang bertuliskan resep obat tersebut kepada Alina.


Setelah menerima kertas tersebut, dan tak lupa Alina juga berpamitan kepada dokter Vian.


" Sudah Ma, yuk Alina temani Mama," ucap Alina mengajak Aisyah yang sedari tadi menunggu di luar.


Aisyah lantas tersenyum dan mengangguk. Setelah itu mereka pun pergi dari rumah sakit itu dan berencana untuk berbelanja.


Namun naasnya di tengah perjalanan, mobil yang mereka kendarai mogok.


" Ada apa ini pak, kenapa tiba-tiba berhenti?" Tanya Aisyah pada sang supir.


" Tidak tahu Nyonya, sepertinya ban nya kempis," jawab supir tersebut.


Supir itu pun lantas turun untuk memeriksa kerusakan yang ia maksud.


" Bagaimana pak?" Tanya Alina ketika supir tersebut telah memeriksa mobilnya.


" Sepertinya benar nyonya, ban nya bocor, dan persediaan ban kita sepertinya sudah habis," ucapnya lagi.


" Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Aisyah bingung.

__ADS_1


Kebetulan jalanan yang mereka lewati juga nampak sepi, jarang sekali kendaraan yang berlalu lalang untuk di mintai pertolongan.


" Itu bukannya mobil yang biasa mengantarkan Alina ke sekolah, mengapa bisa terparkir di situ," monolog seorang pria yang sedang mengendarai mobilnya.


Kebetulan dia melihat mobil yang sedang terparkir di bahu jalanan yang terlihat sepi.


" Apa jangan-jangan itu Alina ya. Mungkin dia sedang membutuhkan pertolongan," ucapnya lagi.


Pria itu lantas menepikan mobilnya tak jauh dari mobil milik Alina.


Dia lantas turun dari mobil dan menghampiri sang supir yang sedang mengotak-atik ban mobil, entah apa yang dia lakukan di sana.


" Mobilnya kenapa pak?" Tanyanya.


" Ban nya bocor tuan, dan kami tidak mempunyai ban serep," jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Supir itu nampak bingung, sebab dia juga sudah menghubungi pihak bengkel, namun belum di jawab oleh mereka.


Alina menyadari ada seseorang yang berada di luar mobilnya.


Dia juga mengenali orang tersebut, lantas memanggilnya.


" Kak Habibi!" Seru Alina.


Dia juga keluar dari dalam mobilnya untuk menghampiri Habibi.


Habibi yang merasa namanya di sebutkan pun menoleh ke asal suara.


" Alina?"


" Assalamualaikum Alina," ucap Habibi terlebih dahulu.


Tak lupa juga ia menangkupkan kedua tangannya.


" Waalaikumsalam wa rohmatullahhi wabarokatuh," jawab Alina dengan reaksi yang sama.


" Kak Habibi mau kemana?" Tanya Alina.


" Tidak mau kemana-mana, hanya sekedar jalan-jalan saja, dan kebetulan melihat mobil kamu di sini, jadi kakak kesini," jawabnya.


" Tidak kok kak, ada Mama di dalam sana," tunjuk Alina kearah dalam mobil.


Merasa dirinya dibicarakan, Aisyah pun keluar untuk menemui Habibi dan Alina.


" Eh Bu, assalamualaikum," sapa Habibi dengan ramah.


Dia juga sedikit membungkukkan tubuhnya seraya menangkupkan kedua tangannya, dan dibalas oleh Aisyah tak kalah sopan.


"Waalaikumsalam. Siapa ya?" Tanya Aisyah.


" Ini kak Habibi Ma, teman sekolahnya Alina." bukan Habibi, melainkan Alina yang menjawabnya.


" Habibi Bu," ucapnya memperkenalkan diri, dan disambut senyum ramah dari Aisyah.


" Ibu sama Alina mau kemana, biar saya antar. Kebetulan saya juga sedang kosong," tawar Habibi.


" Tidak usah lah kak, nanti ngerepotin kakak," jawab Alina.


" Tidak sama sekali Alina, kakak tidak merasa di repotkan kok. Lagi pula sampai kapan kalian akan menunggu di sini, lebih baik kakak yang antarkan pulang."


Alina terdiam, ia seolah sedang menimbang-nimbang tawaran Habibi untuk mereka.


Ia hanya tidak tega meninggalkan supirnya sendirian di tempat sepi seperti itu.


" Benar Nyonya, nona. Lebih baik ikut dengan tuan Habibi saja!" Sambung sang supir.


" Tapi bagaimana dengan bapak?" Tanya Alina.


" Tenang nona, nona jangan pikirin saya, saya sudah menghubungi pihak bengkel, dan sebentar lagi mereka akan datang," ucapnya.


" Tapi benar, bapak tidak apa-apa di tinggal sendiri?" Tanya Alina lagi merasa khawatir.


" Benar nona."


" Ya sudah, kalau begitu Alina sama Mama pulang duluan tidak apa-apa?" Ulang Alina.

__ADS_1


Sang supir lantas menganguk meyakinkan sang majikan yang nampak berat meninggalkannya.


" Mama tidak keberatan kan kalau kita ikut bersama kak Habibi?" Kini Alina bertanya pada Aisyah yang sedari tadi hanya menyimak saja.


" Tidak apa-apa sayang, Mama tidak keberatan kok, malah sangat senang," jawab Aisyah tanpa ragu.


Awalnya Alina heran dan sempat mengerutkan keningnya. Namun ia tak mau berprasangka apa-apa dulu terhadap Aisyah.


" Ya sudah, kalau begitu ayo masuk!" Suara Habibi membuyarkan lamunannya.


" Eh iya, ayo sayang!" Ucap Aisyah dengan begitu semangat.


Alina menganguk, dan mereka pun berpamitan kepada supir lebih dulu,lalu setelah itu masuk kedalam mobil Habibi.


Saat di dalam mobil, Alina mengingat sesuatu, lantas ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengirimkan pesan kepada suaminya.


( A', ingat kan malam ini?) Isi pesan tersebut di kirim kepada suaminya.


Tinggg,,,,,


Tak lama balasan pesan dari Li pun masuk.


Alina tersenyum, lantas membukanya.


( Iya, ingat sayang. Malam ini, dan tahun ini adalah sahur pertama Aa kan?)


Tak terasa Alina senyum-senyum sendiri membaca isi pesan dari suaminya itu.


( Iya A'. Jangan lupa sahur bersama nya ya sayang!)


Alina pun mengirim kembali dan menunggu balasan pesan dari Li.


Tingg,,,,,


( Iya sayang, mana mungkin Aa lupa. Karena itu yang selalu Aa ingat seharian ini.)


Alina kembali tersenyum membaca pesan dari suaminya.


Namun tak lama sebuah pesan kembali di kirim oleh Li.


( Kebetulan Aa pulangnya subuh, jadi Aa langsung ke situ ya, kita sahur bersama. Kamu mau Aa belikan apa untuk sahur nanti?)


Satu pesan lagi berhasil di kirim untuk Alina. Dan itu berhasil membuat Alina tersenyum.


( Terserah Aa saja, Alina tidak minta menu sahur apapun, kecuali menua bersama mu)


Pesan kembali terkirim dari Alina untuk Li.


( Bisa saja istri Aa ini. Belajar dari mana bisa merayu seperti itu?)


Li juga mengirimkan emoticon love untuk Alina.


Bak anak ABG, Alina tak henti-hentinya di buat tersenyum oleh suaminya sendiri.


Tak lama pesan dari Li pun kembali terkirim.


( Ya sudah ya sayang, Aa mau kerja dulu. Love you my life 💖😘)


Tanpa sadar Alina terkekeh membaca pesan dari suaminya itu yang juga di beri emoticon love dan cium.


Hal itu tak luput dari pandangan Aisyah. Dia mengerutkan keningnya heran melihat tingkah Alina bak seperti anak ABG yang sedang kasmaran saja.


" Pesan dari siapa sayang, kok senyum-senyum sendiri?" Tanya Aisyah.


Alina tertegun untuk sesaat, namun tak lama ia pun menggeleng.


" Bukan dari siapa-siapa Ma, ini pesan dari teman Alina," jawabnya.


Ia terpaksa berbohong agar Aisyah tidak kembali mengamuk jika ia tahu bahwa itu adalah Li.


Aisyah menganguk, ia pun akhirnya percaya dengan perkataan Alina.


" Maaf Bu, Alina. Kita ini mau pulang atau kemana dulu?" Tanya Habibi yang memang tak tahu arah tujuan mereka.


" Lebih baik pulang saja Nak, hari juga sudah sore," jawab Aisyah dengan lemah lembut, berbeda saat berbicara kepada Li.

__ADS_1


" Oh begitu." Habibi pun mengangguk dan menuruti perintah Aisyah untuk segera mengantarkannya pulang.


__ADS_2