My Idol My Imam

My Idol My Imam
Ajakan Kerjasama


__ADS_3

Episode 61:


Sepeninggalan keluarganya, kini Li juga harus berangkat ke lokasi syuting. Tinggallah Alina yang menunggui Ying di rumah sakit.


Meskipun Alina merasa canggung dan masih merasa takut, takut kalau-kalau Ying menolaknya dan tak mau di urus olehnya. Namun Alina harus merawat mertuanya itu sekalipun Ying nanti akan menolaknya.


Dengan perlahan Alina mendekati Ying yang nampak masih tak bergeming. Alina berniat untuk menawarkan Ying makan, karena sudah waktunya Ying minum obat.


" Ma, Mama makan ya! kan Mama harus segera minum obat," ucap Alina.


" Taruh saja di situ. Nanti saya akan memakannya sendiri," jawab Ying dengan nada dingin.


" Harus sekarang Ma, karena sekarang sudah waktunya Mama minum obat."


Ying yang terlihat marah, langsung menoleh ke arah Alina dengan tatapan tajam.


" Kamu punya telinga kan? saya bilang saya bisa sendiri," jawab Ying dengan nada emosi.


Alina terkesiap dan merasa syok mendengar Ying yang membentaknya. Namun ia tak gentar atau mundur untuk meluluhkan hati mertuanya tersebut.


" M-maaf Ma.Ya sudah, kalau begitu Lina taruh di sini ya Ma, nanti Mama makan ya!" ucap Alina dengan takut-takut.


Entah mengapa Ying tiba-tiba merasa iba dan tersentuh dengan perhatian kecil yang di berikan Alina padanya. Hatinya seolah membanding-bandingkan Alina dan Cassandra. Cassandra sang mantu idaman, tidak mau merawat dirinya, dan lebih parahnya lagi, Cassandra malah memaki dan berkata kasar padanya. Sedangkan Alina, menantu yang tidak ia pedulikan keberadaannya, menantu yang tidak ia inginkan, bahkan sempat ia hina, kini dia lah yang mau merawatnya tanpa imbalan apapun.


Saat Alina hendak berbalik, berniat menjauh sedikit dari mertuanya tersebut, Ying tiba-tiba memanggilnya.


" Alina!"


Sontak saja Alina menoleh dan tersenyum senang karena akhirnya Ting mau berbicara dengannya.


" Iya Ma, ada apa?"


Alina pun mendekat kembali pada Ying.


" A-apa kamu mau menyuapi ku?" tanya Ying dengan ragu.


Alina menganguk sambil tersenyum senang.


" Iya Ma dengan senang hati Lina mau." Dengan senang hati pula Alina meraih mangkuk bubur tersebut dan mulai menyuapi Ying.


Ying tersenyum ke arahnya, membuat hati Alina tersentuh. Sebab, baru kali ini Ying bersikap manis padanya, dan mau menerima tawarannya untuk membantu. Meskipun ia tak tahu nantinya Ying akan mengakuinya sebagai menantu atau tidak, setidaknya untuk saat ini ia bisa merasakan dekat dengan mertuanya itu. Mungkin masih terlihat agak canggung, namun Alina merasa ini adalah awal yang baik untuknya dan mertuanya.

__ADS_1


Setelah bubur di mangkuk habis, Alina lanjut memberikan beberapa butir obat kepada Ying. Ying menelan semua obat tersebut hingga habis.


Sudah beberapa hari ini Alina lah yang merawat Ying hingga akhirnya, sedikit demi sedikit Ying berangsur membaik dari sebelumnya.


Li dan keluarga Alina senang melihat keakraban mereka beberapa hari ini, terkecuali Aisyah dan Habibi yang beberapa hari terakhir ini jarang terlihat lagi. Mungkin mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Aisyah. Ketika pemiliknya keluar, ternyata dia adalah Cassandra. Namun Cassandra pun datang ke rumah Aisyah tidak sendirian, ia di temani oleh Habibi sekaligus penunjuk jalan juga.


Entah apa lagi yang akan di rencanakan Cassandra hingga ia rela datang ke rumah Aisyah.


Habibi dan Cassandra langsung menuju ke depan pintu rumah Aisyah dan memencet bel beberapa kali.


Dan tak lama Aisyah sendirilah yang membukakan pintu.


Ia sempat terkejut karena tak menyangka seorang Cassandra, artis terkenal itu datang ke rumahnya.


" Ca_cassandra kan?" ucapnya setengah tak percaya.


Namun Cassandra hanya mengangguk dengan raut angkuh dan tanpa senyum sedikitpun.


" Ya Allah, ini benar? ya sudah, ayo masuk!" ucap Aisyah yang nampak girang karena kedatangan tamu artis terkenal.


" Mari di minum!" kata Aisyah.


" Iya Bu, terimakasih." Bukan Cassandra yang menjawab, melainkan Habibi.


" Aku langsung to the poin saja. Aku ke sini ingin menawarkan kerjasama untuk mu, apa kau mau?" tanya Cassandra tanpa adanya basa-basi terlebih dahulu.


" Kerjasama, kerjasama apa ya?"


" Kerjasama untuk memisahkan Li dan Alina. Bukankah kau tidak menyukai Li?" ucap Cassandra sambil memainkan kuku-kukunya dan tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


Aisyah terkejut dan langsung berdiri seolah tak terima dengan rencana jahat Cassandra. Wajahnya juga merah padam karena menahan amarah.


" Kerjasama macam apa itu? aku memang membenci Li karena dia selalu membuat hidup Alina susah, tapi untuk memisahkan mereka dengan sengaja, itu bukan caraku," ucap Aisyah sambil menunjuk-nunjuk tak suka ke arah Cassandra.


Cassandra lantas berdiri lalu menghampiri Aisyah dan membisikkan sesuatu padanya.


" Kau mu-na-fik," ucapnya dengan penuh penekanan. Lantas Cassandra tersenyum miring dan kembali duduk di tempat semula.

__ADS_1


" Apa maksudmu mengatakan bahwa aku munafik?" ucap Aisyah dengan marah.


" Simpel saja. Kau menginginkan mereka berpisah, tapi tidak mau berusaha memisahkan mereka," ucapnya sambil tersenyum miring.


" Karena aku tidak se-licik dirimu, kau paham?"


" Sekarang silahkan pergi dari rumah ku, karena aku tidak menerima tamu yang menjerumuskan," ucap Aisyah lagi sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


Cassandra tidak marah atau merasa tersinggung. Dengan santai ia beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekati Aisyah.


" Jangan menyesal jika nanti kau pasti akan membutuhkan ku," ucap Cassandra berbisik tepat di telinga Aisyah.


Setelah selesai Cassandra melenggang pergi meninggalkan Aisyah yang masih dengan wajah marahnya.


Sebelum ikut pergi, Habibi menyempatkan diri untuk berbicara sejenak kepada Aisyah.


" Ibu tidak mau memikirkan pagi tawaran kerjasama dari Cassandra?"


" Untuk apa?" Aisyah menoleh ke arah Habibi dengan tatapan marah.


" Untuk memisahkan mereka Bu, bukankah ibu ingin sekali mereka berpisah?"


" Habibi dengar! ketika kita membenci seseorang, bukan berarti kita harus dengki terhadapnya. Jika Alina terpisah dari Li, itu akan membuat Alina sedih. Bukankah kita menyayangi Alina, jika iya, seharusnya kita akan bahagia melihat Alina bahagia." Habibi menganguk, membenarkan ucapan Aisyah.


Benar yang dikatakan Aisyah. Tak seharusnya dia ikut alur licik yang di buat oleh Cassandra. Seharusnya jika dia mencintai Alina, maka dia akan bahagia melihat Alina bahagia.


" HABIBI!"


Lamunannya buyar ketika Cassandra memanggilnya dengan suara lantang dari luar rumah Aisyah.


" IYA SEBENTAR," jawab Habibi.


" Bu sepertinya saya harus menemuinya dulu." Aisyah menganguk datar.


" Ibu tenang saja, saya tidak akan mengikuti keinginan Cassandra itu untuk memisahkan Li dan Alina." Aisyah kembali menganguk, namun kali ini sambil tersenyum tipis.


Setelah berpamitan, Habibi pun menghampiri Cassandra yang nampaknya sudah lama menunggunya.


Mereka pun pergi meninggalkan kediaman Aisyah dan berencana ke rumah sakit untuk kembali menemu Ying di sana.


Di rumah sakit, Alina sedang membereskan pakaian Ying, karena hari ini Ying sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.

__ADS_1


Kesehatannya pun sudah mulai membaik, tak seperti sebelumnya yang nampak selalu pucat dan tidak bersemangat.


Memang semenjak Alina yang merawatnya, Ying nampak lebih bersemangat. Ying juga semakin sayang terhadap menantu pertamanya itu.


__ADS_2