
Episode 26:
" A' Lina takut!" Ucap Alina saat berada di dalam pelukan Li.
" Kamu tidak usah takut lagi, ada Aa di sini." Li semakin mempererat pelukannya pada Alina.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Habibi sedang memperhatikan mereka dengan rasa terkejut nya. Otak nya seolah terhenti seketika melihat pemandangan di depan mata nya.
Namun Li dan Alina terpaksa mengurai pelukannya karena beberapa polisi masuk dan meringkus Xiang dan anak buah nya. Habibi segera mengajak mereka untuk segera keluar dari markas tersebut.
Tak lama ponsel Li berdering, karena di sana juga ada Habibi, ia terpaksa menjauh untuk mengangkat telpon tersebut, ia takut jika percakapan nya di dengar oleh Habibi.
" Saya permisi dulu ya, ada telpon." Kedua nya mengangguk dan memberi izin kepada Li untuk mengangkat telpon nya.
Li pun menggeser icon hijau dan mengangkat nya.
" Waalaikumsalam pak!"
" Ki_kita,,,,,,, eeeee. Maaf pak, tadi kami lupa untuk memberi tahu bapak kalau kami malam ini akan menginap di apartemen saya, mungkin untuk beberapa hari ke depan, tidak apa-apa kan pak?" Li terpaksa tidak memberi tahu kepada Ferdi apa yang baru saja terjadi pada Alina. Dan ya, dia memang berencana untuk menginap di apartemen nya dan mengajak Alina.
" Terimakasih atas izinnya ya pak. " Li nampak terkekeh kecil, entah apa yang di katakan Ferdi di seberang sana, yang jelas Ferdi telah mempercayakan Alina kepada Li sebagai suami Alina.
" Ah bapak bisa saja."
" Iya pak, kalau begitu selamat malam. Assalamualaikum!" Li lantas mengakhiri panggilan nya dan segera bergabung kembali bersama Habibi dan Alina.
" Kita pulang sekarang?" Tanya Li pada Alina.
" Hey tidak bisa begitu! Alina harus pulang bersama saya!" Habibi tak mau Li mengantarkan Alina pulang, ia takut kejadian Li yang memeluk Alina terulang kembali.
" Kenapa begitu?" Tanya Li heran. Alina hanya menjadi penonton saja atas perdebatan mereka.
" Ya, pokoknya pulang bersama saya, tidak aman jika pulang bersama mu."
" Apa hak mu berbicara seperti itu? Saya ini adalah asisten pribadi nya, jadi saya lah yang harus mengantar dia pulang, karena itu juga sudah menjadi tugas saya." Ucap Li tak mau kalah.
" Hah bung! Kau hanya asisten pribadi nya, dan tak lain adalah seorang pembantu, sedangkan aku adalah teman sekolahnya yang lebih berhak mengantarkan nya sampai ke rumah dengan selamat dan aman." Ucap Habibi dengan angkuhnya.
Li lantas menyeringai. Dalam hati nya benar-benar sudah merasa kesal kepada Habibi, jika saja dia tak berhutang Budi kepada Habibi yang ikut andil dalam penyelamatan Alina, mungkin saat ini juga Habibi sudah ia hajar.
" Lebih baik sekarang Alina saja yang memilih akan ikut dengan siapa, supaya lebih adil dan tidak ada lagi yang boleh protes!" Li mengambil jalan tengah. Sebenarnya bukan jalan tengah, dia sengaja memberi pilihan kepada Alina karena dia tahu siapa yang akan Alina pilih. Sungguh licik bukan?.
" Oke! Saya setuju. Saya yakin Alina akan memilih saya untuk mengantarkan nya pulang." Ucap Habibi dengan percaya diri nya. Li hanya terkekeh kecil sambil tersenyum.
" iya kan Alina? Kamu pasti pilih kakak untuk mengantarkan kamu pulang?" Tanya Habibi dengan sangat. Alina bingung, lebih tepatnya ia merasa iba kepada Habibi jika ia harus menolak ajakan nya, namun ia juga tidak mungkin menerima tawaran Habibi untuk pulang bersama. Dengan berat hati dia harus menolak ajakan Habibi dan tentu saja pulang bersama suaminya ke apartemen.
Alina sempat bingung, namun dia harus segera mengatakan nya agar urusannya cepat selesai. Ia memandang Li dan Habibi bergantian.
" Ma_maaf kak Habibi, Lina pulang sama A',,,, emm maksud Alina dia saja. Kalau Alina pulang sama kak Habibi, Alina takut pak Ferdi akan mecat dia karena tidak mengawal Alina sampai rumah, Alina tidak mau mempersulit pekerjaan orang lain." Alina menggigit bibirnya karena merasa tak enak hati, ia terpaksa harus berbohong demi suaminya.
Habibi hanya bisa menghela nafas pasrah dengan keputusan Alina. Bagaimana pun dia tidak boleh egois, meskipun alasan nya ingin mengantar Alina semata-mata hanya ingin menjaganya dari orang yang ingin macam-macam kepada nya.
" Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati saja ya!" Ucap Habibi dengan penuh penekanan, ia juga melirik ke arah Li yang terlihat biasa saja menanggapi nya.
" Kakak pulang duluan ya!" Alina dan Li mengangguk. Setelah mengucapkan salam kepada kedua nya, Habibi lantas pulang. Kini hanya tinggal Alina dan Li yang juga akan pulang ke apartemen mereka.
" A', Aa mau Lina masakin apa buat makan malam?" Tanya Alina saat mereka sudah berada di apartemen. Tak lupa Alina juga sudah membersihkan diri setelah sampai tadi.
" Tidak usah sayang! Aa sudah pesan online tadi, jadi kita tinggal makan saja. Kamu hanya tinggal siapkan saja makanan nya, makanan nya ada di dalam kulkas." Ucap Li saat ia baru saja selesai mandi.
__ADS_1
" Oh ya sudah, Alina sambil makanan nya sekarang ya?." Alina pun segera menyiapkan makanan nya, dan mereka pun makan bersama di apartemen yang tentunya sangat mewah.
" A', tadi mama atau pak Ferdi ada menghubungi Aa tidak?" Tanya Alina saat mereka telah selesai makan dan kini mereka sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi.
" Ada!" Jawab Li singkat namun dengan nada lembut.
" Terus Aa bilang apa sama mereka?" Li mengubah posisi nya jadi menghadap Alina.
" Tadi yang menelpon Aa itu pak Ferdi, Aa tidak bilang apa-apa sama dia, hanya bilang kalau kita akan menginap di apartemen untuk beberapa hari." Jawab Li dengan senyum yang tak pernah pudar saat berbicara dengan Alina.
" Dia tidak menanyakan perihal Alina kan?" Tanya Alina masih merasa cemas. Li menggeleng dan tersenyum, Alina pun merasa lega setelah itu.
" Syukurlah A'."
" Oh ya A', bagaimana Aa bisa tahu kalau Alina di culik oleh kakak nya Cia?"
" Cia? Jadi yang menculik kamu itu kakak teman kamu sendiri?" Bukan nya menjawab, Li malah menanyai Alina.
" Iya, dia teman sebangku Alina di sekolah." Li mengangguk paham.
" Jadi ceritanya tadi,,,,,,,!"
Flashback on
" Kau ini kenapa sih selalu mengikuti ku?" Tanya Li pada Habibi yang menghadang mobil nya.
" Aku ingin mencari Alina, perasaan ku tidak enak tentang nya." Jawab Habibi. Li merasa geram saat istrinya di khawatirkan oleh pria lain.
" Lalu apa urusannya dengan mu?"
" Sudah ku bilang bahwa Alina teman ku, jadi aku harus melindunginya juga." Jawab Habibi. Li semakin di buat geram oleh Habibi, namun ia sadar, tak seharusnya ia membuang-buang waktu hanya karena rasa cemburunya.
" Terserah kau saja!" Li lantas berlalu dan akan masih masuk ke dalam mobil kembali, namun Habibi memanggilnya.
Mereka lantas pergi ke kantor polisi terdekat dengan menggunakan kendaraan masing-masing.
Dengan bantuan pihak kepolisian, akhirnya mereka menemukan keberadaan Alina. Polisi tersebut juga mengatakan bahwa Xiang dan komplotannya adalah buronan yang sudah lama mereka incar, namun mereka hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk meringkus nya.
Flashback off
Alina dengan khusyuk mendengarkan cerita sang suami, setelah ceritanya selesai ia mengangguk-anguk mengerti.
Alina lantas menyenderkan kepalanya pada pundak Li. Malam itu seolah menjadi malam yang penuh liku-liku yang mereka lalui.
" Sayang, kamu lelah?" Tanya Li sambil mengusap-usap kepala Alina.
" Tidak!"
" Ngantuk?"
" Tidak A'! Memang nya Aa sudah mengantuk?" Tanya Alina.
" Tidak juga, tapi Aa ingin istirahat."
" Ya sudah, kita masuk ke dalam kamar?" Li mengangguk, mereka pun masuk ke dalam kamar mereka.
" A'!" Panggil Alina saat Li akan ke kamar mandi. Li pun mengurungkan niatnya dan menoleh pada Alina.
" Kenapa sayang?"
__ADS_1
" Izinkan Alina menjadi istri yang sempurna untuk Aa!" Ucap Alina tiba-tiba. Li mengerutkan keningnya tak mengerti maksud ucapan Alina.
" Maksud kamu apa sayang? Kamu sudah menjadi istri yang sempurna untuk Aa, lalu sempurna yang bagaimana lagi?"
" Sentuh Alina A'!" Alina sudah mempersiapkan diri untuk mengatakan hal itu pada Li, meskipun rasanya sangat malu untuk mengatakan nya.
" Ma_maksud kamu,,,,,?" Li paham, namun ia tidak mengatakan nya secara gamblang.
Alina lantas mengangguk mengiyakan nya.
Li memegang pundak Alina dan menatap dalam pada Alina.
" Sayang, Aa pasti akan meminta hak Aa, tapi tidak sekarang."
" Kenapa A'? Aa tidak berselera dengan tubuh Alina sehingga Aa tidak mau menyentuh Alina sampai sekarang?" Alina menundukkan kepalanya merasa sedih.
" Bukan begitu sayang, bukan! Hanya belum waktunya saja." Li mencoba membuat Alina mengerti.
" Lalu kapan waktunya A'? Apa sampai menunggu Alina tidak bisa memberikan kesucian Alina lagi pada Aa?" Alina menatap Li dengan perasaan kecewa dan dengan uraian air mata.
Li juga sempat terkejut dengan ucapan Alina yang menurutnya tidak seperti Alina yang biasanya lemah lembut dan tidak suka menuntut.
" Sayang kamu bicara apa?" Li menarik tubuh Alina untuk ia peluk.
" Alina hanya takut kejadian tadi terulang lagi pada Alina A'. Alina takut tidak bisa menjaga kesucian Alina untuk Aa." Alina menumpahkan segala kesedihan nya di dada Li. Dia hanya trauma, rasa takut nya membuat otak nya selalu berpikir negatif.
" Tapi kamu masih sekolah sayang, dan masih sepuluh bulan lagi kamu untuk lulus. Jika nanti kamu hamil, dan perut kamu akan membesar, bagaimana dengan sekolah mu?" Li masih berusaha membujuk dan menenangkan Alina.
" Jika melakukan nya hanya sekali, Alina yakin tidak akan membuat Alina hamil. Dan jika pun terjadi, Alina bisa home schooling saja." Alina masih tetap kekeuh.
Li menarik pundak Alina agar menatap mata nya.
" Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" Tanya Li menatap dalam pada Alina. Alina mengangguk pelan, meski begitu ia sangat yakin dengan keputusan nya.
" Ya sudah kalau begitu kita sholat sunnah zifaf dulu ya sebelum melaksanakan nya!" Ucap Li. Alina menatap kagum pada Li.
" Dari mana Aa tahu tentang itu?"
" Sedikit- sedikit Aa belajar dari buku-buku islami dan mendengar dari ceramah."
" Masyaallah suami aku, terimakasih ya A'." Alina memeluk Li karena terharu.
" Sama-sama sayang! Ya sudah, ayo kita sholat dulu!" Ajak Li. Alina mengangguk , setelah itu ia dan Li mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Sunnah dua rakaat tersebut.
Setelah mengucap salam dan memanjatkan doa, Alina pun mencium tangan Li dengan Hidmat, Li juga mencium kening istrinya.
Setelah itu rasa gugup menghampiri Alina. Meskipun ini bukan kali pertamanya Alina bersentuhan fisik dengan Li, namun malam ini ia akan menyerahkan mahkota yang selama ini ia jaga dengan baik kepada Li, kepada orang yang selama ini ia cintai dalam diam, yang saat ini telah menjadi suami sah nya.
" Kamu sudah siap?" Tanya Li sekali lagi pada Alina. Alina mengangguk malu, ia menundukkan kepalanya, namun Li meraih wajah Alina agar bertatap muka dengan nya.
Perlahan Li membuka mukena yang di kenakan Alina, hingga rambut panjang sepinggang itu tergerai dengan indah. Li di buat terpesona untuk sesaat, namun tak lama ia melanjutkan lagi aktivitas nya.
Li menggendong tubuh Alina untuk di bawa ke tempat tidur mereka.
Li memulai nya dengan mengucapkan sebuah doa.
" Bismillahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana,". Yang artinya: "Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami."
Setelah itu ia mulai dengan mengecup kening, kedua mata Alina hingga turun ke bibir pink Alina.
__ADS_1
Malam itu menjadi saksi penyatuan dua insan yang saling mencintai, di satukan dalam ikatan yang tak di sangka-sangka.
Kini Alina telah sah sepenuhnya menjadi milik Li suaminya.