
Episode 62:
" Nanti kamu ke rumah Mama ya Alina!" kata Ying ketika mereka berada di dalam mobil untuk menuju pulang.
Mereka semua akan mengantarkan Ying pulang hari ini, termasuk keluarga Alina. Meskipun mereka berbeda mobil, karena mobil yang membawa Ying tidak muat lagi.
Di mobil Li, ada Ying, Alina dan ayahnya Li. Sedangkan di mobil yang di bawa Chyou, ada kedua orang tua Alina dan Gadis yang ikut mengantar sekaligus silaturahim.
" Pasti itu Ma. Kan Alina mau memastikan Mama sampai dengan selamat," ucapnya.
Wanita berbeda usia itu sedang berbincang-bincang di kursi belakang. Li dan Jung Hee tersenyum senang karena melihat keakraban mereka. Terutama Li yang sudah mendambakan itu sejak awal.
" Maksud Mama, kamu tinggal di rumah Mama saja ya. Kamu mau kan tinggal sama Mama, Papa dan Chyou?"
Alina tersenyum canggung. Ia tak langsung menjawab, matanya sesekali melirik ke arah Li seolah meminta kepastian dari suaminya itu.
" Jika kamu di rumah Mama, Mama bisa membantu menjaga cucu Mama ini, dan Mama tidak perlu jauh-jauh untuk bertemu dengannya," ucapnya sambil mengusap-usap perut Alina yang masih rata itu.
Setelah mendapat anggukan dari sang suami, Alina nampak senang dan langsung mengangguk dengan semangat.
" Iya Ma, Alina mau."
Ying nampak senang mendengarnya. Ia pun tersenyum dan langsung memeluk Alina. kedua pria di depan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua wanita berbeda budaya tersebut.
" Terimakasih ya sayang," ucapnya. Alina pun mengangguk dengan raut wajah terharu. Untuk pertama kalinya Ying memanggilnya dengan sebutan sayang.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun telah tiba di rumah Ying. Ying merasa lega karena kembali menghirup udara rumah, setelah beberapa Minggu ini ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan bau obat yang menyengat.
" Akhirnya, Mama bisa pulang dan istirahat dengan tenang tanpa bau obat yang tidak enak itu," ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Baru saja ia berucap seperti itu, seketika senyumnya memudar karena seseorang yang tiba-tiba saja ada di dalam rumahnya. Duduk dengan santai sambil menikmati secangkir lemon tea, bak pemilik rumah.
" Kau. Kenapa kau ada di rumahku?" ucap Ying dengan tatapan tajam.
Orang itu hanya tersenyum tipis dan kembali menyeruput teh nya.
" Aku sengaja ingin menyambut mu. Bukankah kau senang dengan sambutan ku?"
" Cih. Setelah apa yang kau dan anakmu perbuat padaku, kau masih menganggap bahwa aku senang bertemu denganmu? jangan harap!"
Alina tahu bahwa mertuanya saat ini sedang emosi. Ia pun menghampiri Ying dan mengusap pelan pundak Ying, untuk mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Yun tersenyum licik, lalu menatap remeh pada Ying dan Alina.
" Oh, jadi menantu ninja mu ini sudah berhasil menaklukkan mu sekarang?" ucap Yun.
" HAI, jaga bicaramu!! dia bukan ninja, dan dia tidak menaklukkan ku. Aku lah yang telah sadar bahwa dia memang menantu yang tulus dan bukan penjilat seperti kalian," ucap Ying dengan lantang.
Tentu saja Yun tersinggung dengan ucapan Ying. Nampak jelas dari sorot matanya yang menatap tajam ke arah Ying dan Alina.
Alina semakin erat memeluk Ying dari belakang. Nampak seperti sedang bersembunyi di belakang Ying.
" Jaga ucapan mu Ying! kau yang datang kepada ku agar kita menjodohkan Cassandra dan Li. Bukankah kau sendiri yang penjilat?!" ucap Yun yang nampak emosi.
" Jaga ucapan mu," ucap Ying sambil memegangi dadanya sambil meringis kesakitan.
" Ma, Mama kenapa?" tanya yang lain mulai merasa panik. Li dan Jung Hee pun mendekati Ying untuk memastikan keadaannya.
" Mohon anda pergi dulu dari sini!" kata Li kepada Yun sambil menunjuk ke arah pintu.
" Apa maksudmu Li, kau mengusir mertuamu ini?, benar-benar tidak sopan," kesal Yun karena merasa di perlakukan tidak sopan oleh Li.
" Maaf tuan Yun, tapi ini sangat darurat. Kehadiran anda di sini semakin membuat suasana menjadi tidak nyaman," ucap Li dengan bahasa formal.
" Kurang ajar kau. Aku ini mertuamu, setidaknya panggil dengan sopan. Panggil aku Papa mertua!" ujarnya.
Ia lantas berdiri dan mendekat pada Yun. Tanpa sepatah katapun, Li menarik paksa Yun keluar dari rumahnya.
Sedangkan Jung Hee dan Alina memapah Ying yang mulai membaik, ke dalam kamarnya, lalu membaringkan tubuh Ying secara perlahan ke atas tempat tidur.
" Alina, Papa titip Mama dulu ya, kara Papa mau melihat Li di depan," kata Jung Hee.
" Iya Pa."
" Mama butuh sesuatu?" tanya Alina kepada Ying setelah Jung Hee keluar.
Ying lantas menggeleng lemah.
" Kalau begitu Mama istirahat dulu saja ya! Alina mau keluar, tidak apa-apa kan?"
Ying kembali memberi isyarat, kali ini dengan isyarat mengangguk.
Sebelum keluar, Alina menyempatkan untuk membenahi letak selimut Ying. Setelah di rasa sempurna, dan Ying pun mulai terlelap karena kinerja obat tidurnya yang baru ia minum. Alina pun meninggalkan kamar Ying dan menyusul Li dan Jung Hee.
__ADS_1
Di luar rumah, Yun yang merasa tak terima di perlakukan seperti itu oleh menantunya sendiri pun mengamuk dan memaki Li. Namun Li nampak tak terpengaruh dengan makian Yun dan langsung meninggalkan Yun tanpa mengatakan apa-apa.
Bukan bermaksud tidak sopan terhadap orang yang lebih tua, hanya saja Li sudah merasa muak dengan semua drama yang di buat Yun dan Cassandra. Li sudah merasa cukup dengan semua tipuan yang mereka buat.
Namun saat Li ingin masuk ke dalam rumah, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumahnya sambil membunyikan klakson dengan sangat keras, dan itu membuat Li terpaksa mengurungkan niatnya.
" SAYANG!!" panggil seorang wanita dari dalam mobil tersebut yang ternyata adalah Cassandra.
Cassandra berlarian ke arah Li dan hendak memeluk Li, namun Li dengan cepat mengacungkan tangannya ke depan sebagai tanda berhenti.
Dengan terpaksa Cassandra pun mengurungkan niatnya dengan wajah kesal.
" Sayang! aku rindu sekali dengan mu," rengek Cassandra dengan nada di buat manja.
Cassandra kembali ingin maju dan memeluk Li, namun Li mundur beberapa langkah dari Cassandra.
" Berdiri di tempat, jika tidak ingin aku berbuat kasar!" ucap Li dengan tegas dan dingin.
Cassandra pun menurut dan kembali memundurkan langkahnya sedikit ke belakang.
" Apa kau tidak merindukan aku? apa kau sudah melupakan aku?" ucap Cassandra dengan nada sedih.
Bertepatan saat itu, Alina dan Jung Hee pun muncul, namun Li tidak menyadari kehadiran mereka karena posisinya yang membelakangi, membuat Cassandra seolah mempunyai peluang untuk memainkan drama jahatnya.
" Apa kau melupakan apa yang selama ini kita lalui bersama? apakah semudah itu?" ucap Cassandra sambil menangis histeris seolah-olah menjadi korban.
" Apa yang kau bicarakan? hentikan drama busuk mu itu!" be*tak Li yang tentunya tidak terima dirinya di fitnah dengan perbuatan yang tidak ia lakukan.
" Setelah semua yang kau dapatkan dari ku, semudah itu kau berpura-pura melupakannya? jahat!!"
" Cassandra stop it!"
" APA?? apa kau belum puas merenggut tubuhku malam itu? sekarang apa lagi yang kau inginkan? Bahkan saat ini aku sedang mengandung anak mu juga, apa kau masih tetap tak perduli?!!"
Alina terkejut dengan pengakuan Cassandra. Bahkan ia baru mengetahui hal itu dari mulut Cassandra dan bukan dari suaminya.
Air matanya luruh sudah tak tertahankan. Ternyata apa yang ia dengar dan pikirkan malam itu benar, bahwa Li sedang bermain gila dengan Cassandra hingga lupa pulang. Tadinya ia sudah tak memikirkan nya lagi, karena ia menganggap itu bisa saja hanya pikiran buruknya. Namun ternyata fellingnya tak salah.
" Aa!" lirihnya. Namun itu masih dapat Li dengar, dan Li pun baru menyadari bahwa ada Alina dan ayahnya di belakangnya.
" Sa-sayang. Sayang Aa bisa jelasin, kejadiannya tidak seperti itu."
__ADS_1
Namun sayangnya penjelasannya tidak di terima baik oleh Alina. Alina menggeleng dengan tersenyum miris, lalu berlari tanpa meninggalkan sepatah katapun.