
Episode 36:
Seorang aktor tampan sedang duduk sambil membaca naskah drama
yang akan ia perankan nanti.
Entah mengapa hatinya gelisah. Ia lantas memutuskan untuk mengambil air minum, berharap perasaannya bisa lebih tenang.
Ia pun meraih gelas yang berada di depannya. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba gelas tersebut terlepas dari tangannya. Dan seketika itu perasaannya semakin gelisah.
" Astaghfirullah halazim." Ucapnya dengan lantang, sehingga semua orang yang berada di sana pun menoleh pada Li.
" , tidak apa-apa. Hanya saja gelasnya tadi licin dan akhirnya terjatuh." Alasan Li.
Semua orang nampak mengangguk mengerti, lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
' Ya Allah. Ada apa dengan ku, kenapa perasaanku menjadi tidak enak begini?' batin Li.
Tak lama sebuah nada dering di ponselnya pun berdering. Li segera mengangkat, karena yang menelpon adalah Aisyah. Dia juga menjauh dari lokasi syuting, agar tak ada yang mendengar percakapannya.
" Assalamualaikum ma. Ada apa?"
" Waalaikumsalam. Li, Sebaiknya kamu segera ke rumah sakit sekarang!" Ucapnya terdengar terburu-buru.
Degh
Perasaan Li semakin tak karuan. Mendengar kata rumah sakit saja membuat kakinya terasa lemas.
" Siapa yang sakit ma?" Nada bicaranya sudah mulai panik.
" Alina."
Nah tuh kan benar. Li tidak pernah salah jika tentang rasa, apalagi rasa khawatir. Perasaannya seolah memberi tahu lebih dulu, bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja.
Li menarik nafasnya dalam-dalam, agar rasa paniknya bisa agak berkurang. Dia tahu, jika rasa panik berlebihan, maka akan membuat seseorang kehilangan kendali dan gampang gegabah.
" Ya sudah ma. Saya ke sana sekarang. Mama tolong sharlok rumah sakitnya ya!" Setelah mengatakan itu, Li lantas mematikan sambungan teleponnya.
Tuh kan apa ku bilang. Rasa panik membuat seseorang lupa segalanya. Li saja lupa untuk mengucapkan salam kepada Aisyah. Makanya, jangan gampang panik ya pemirsah.
" Bos, saya minta izin untuk break sebentar." Izin Li kepada sutradaranya.
" Kenapa memangnya Li? Apa kau sakit?" Tanyanya.
" Tidak bos, teman ku ada yang sakit. Dia sebatang kara, dan hanya punya saya di negeri ini. Apa boleh saya izin sebentar?"
__ADS_1
Li terpaksa berbohong demi kebaikan bersama. Kenapa Li tidak beralasan keluarganya saja yang sakit? Karena kalau keluarganya, semua orang pasti tahu.
" Tapi kau masih ada satu sin lagi."
" Iya aku tahu. Bisakah sin itu di lewatkan, dan di ganti dengan yang lain saja dulu!" Sutradara itu nampak berpikir sejenak, lantas mengangguk setuju.
" Ya sudah. Kau urus saja dulu temanmu itu. Semoga dia lekas sembuh, dan kau harus datang lagi besok!"
" Terimakasih bos. Kalau begitu saya permisi dulu." Li lantas berlalu meninggalkan lokasi syuting tersebut. Namun langkahnya berhenti saat Cassandra menghalangi jalannya.
" Mau kemana kamu? Kita kan belum selesai syuting." Tanya Cassandra. Li memutar bola matanya jengah. Dia juga tak menjawab pertanyaan Cassandra dan hendak berlalu begitu saja. Namun sepertinya Cassandra tak menyerah. Dia terus saja menghalangi jalan Li dengan tak tahu malunya.
" Cassandra, mau mu apa sebenarnya?" Li sudah kehabisan stok kesabarannya.
" Kan kau tahu sendiri. Mau ku, yaitu menikah dengan mu." Ucap Cassandra dengan tidak tahu malunya.
" Kau ini benar-benar tak bisa di ajak bicara baik-baik ya." Geram Li.
" Kau yang tidak bisa di ajak bicara baik-baik." Cassandra membalikkan perkataan Li.
" Minggir! Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu." Li pun mendorong tubuh Cassandra kesamping dan meninggalkannya begitu saja.
Cassandra menggeram kesal. Dia juga menghentakkan kakinya, namun setelah itu, dia pun tersenyum sinis sambil memandangi kepergian Li.
" Lihat saja Li. Cepat atau lambat, Alina pasti akan meninggalkan mu." Ucap Cassandra sambil menyeringai.
Dia langsung mencari keberadaan Alina dan sempat akan menanyakan kepada bagian resepsionis. Namun tak lama, bunker yang membawa Alina, lewat tepat di depannya.
Di samping Alina juga ada Habibi dan gurunya yang juga ikut mengantar Alina sampai ke rumah sakit.
Namun karena tubuh Li tertutup oleh banyaknya perawat dan beberapa dokter, Habibi jadi tidak bisa melihat keberadaan Li di sana.
" Sayang!" Panggil Li pada Alina. Li juga memegang erat tangan Alina. Alina tersenyum senang, akhirnya orang yang ia tunggu, tiba juga.
Li tidak menanyakan apa-apa kepada Aisyah, apa yang terjadi pada Alina. Saat ini ia hanya ingin fokus untuk kesembuhan Alina saja.
" Aa sakittttt." Rintih Alina. Ia semakin erat memegang tangan Li, karena rasa sakit yang luar biasa pada bagian perutnya.
" Sabar ya sayang! Sebentar lagi kamu pasti akan sembuh." Ucap Li menyemangati.
" Maaf, anda hanya boleh mengantarkannya sampai di sini. Mohon tunggu di luar saja!" Ucap salah satu perawat kepada Li, saat mereka sudah berada di depan pintu UGD.
Li menurut, dia pun memilih duduk di kursi tunggu saja. Li juga di temani Aisyah yang juga ikut mengantar Alina sampai di ruang UGD.
Sedangkan Habibi dan gurunya, sudah kembali ke sekolah lagi. Karena masih ada beberapa pelajaran lagi, Habibi terpaksa meninggalkan Alina dulu. Setelah sepulang sekolah, dia berencana akan kembali menjenguk Alina di rumah sakit itu.
__ADS_1
Li gelisah, takut, khawatir menjadi satu saat ini. Dia mondar-mandir tak karuan di depan pintu UGD. Pikirannya benar-benar kacau. Bahkan dia sendiri lupa untuk menanyakan kepada Aisyah, apa yang sebenarnya terjadi pada Alina hingga dia bisa terluka seperti itu.
" Li, duduk dulu, tenangkan pikiran mu! Mama yakin, Alina pasti akan baik-baik saja." Kata Aisyah. Li menoleh dengan wajah yang sudah tak karuan. Rambutnya acak-acakan serta wajah yang terlihat kusut.
" Tidak bisa ma. Bagaimana saya bisa tenang melihat Alina seperti itu. Mama lihat kan tadi? Darah nya banyak sekali."
" Iya, mama tahu Li. Tapi dengan panik begitu, Alina juga tidak akan bisa sembuh dengan cepat. Lebih baik sekarang kita berdoa sama-sama, minta pada Allah, agar tidak terjadi apa-apa pada Alina!" Nasehat Aisyah untuk Li.
Tak lama, dokter yang menangani Alina keluar dari ruang UGD. Li dan Aisyah langsung menghampiri Dokter tersebut.
" Bagaimana Dok?" Tanya Li tidak sabaran.
" Siapa di sini yang keluarga pasien?" Tanya Dokter.
" Kami berdua keluarganya Dok." Jawab Aisyah.
" Mari keruangan saya! Ada yang ingin saya tanyakan." Ucap sang dokter. Li dan Aisyah sempat saling pandang. Namun setelah itu, mereka pun mengikuti sang dokter untuk menuju ruangannya.
" Jadi bagaimana Dok? Bagaimana kondisi Alina sekarang, apa dia baik-baik saja?" Li kembali bertanya kepada dokter tentang keadaan Alina.
" Kondisi pasien sudah mulai membaik. Namun kami mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang dikandungnya."
" Ja_ janin dok? Ucap Li dan Aisyah bersamaan.
" Iya. Itu juga yang ingin saya bicarakan."
" Ma_maksud dokter?" Ucap Li.
" Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa pakaian tertutup seperti itu bisa hamil? Bukankah dia masih sekolah?" Tanya dokter.
" Apa urusannya dokter menanyakan hal pribadi tersebut?"
" Bukan apa-apa. Saya hanya menyayangkan, banyak kasus remaja yang terjadi seperti itu. Saya sering menangani hal yang serupa." Jelas dokter.
" Maaf dokter. Tapi Alina bukan wanita seperti yang dimaksud." Ucap Li dengan tegas. Tentu ia tidak terima jika Alina di samakan dengan wanita yang hamil tanpa suami. Pikirannya sudah kacau dengan meninggalnya sang calon buah hati, dan sekarang dia harus di hadapkan dengan pertanyaan yang jelas-jelas menyinggung perasaannya.
" Maaf sebelumnya. Saya hanya ingin meminta penjelasan, agar saya tidak perlu menyembunyikan ini dari pihak perlindungan anak."
" Dokter ingin meminta penjelasan? Baiklah, akan saya jelaskan." Li mulai di kendalikan emosi.
" Li sudah!" Lerai Aisyah.
" Maaf dokter. Saya ini ibu dari pasien. Mohon dokter jangan ikut campur dalam urusan pribadi seorang pasien, karena itu bukan tugas dokter."
" Maaf Bu. Tapi saya juga sedang melakukan tugas saya."
__ADS_1
" Dokter dengar! Saya adalah suami dari pasien yang dokter ragukan kesuciannya itu. Kami menikah karena untuk menjauhkan diri dari fitnah. Dokter puas sekarang?" Jelas Li dengan sangat tegas dan lantang. Dan benar saja, dokter itu tak berkutik, dia memilih bungkam dan tak melanjutkan pertanyaannya.
" Kalau begitu kami permisi dokter." Pamit Aisyah. Dia juga menuntun Li agar segera keluar dari ruangan dokter tersebut secepatnya.