
Episode 25:
"apa Mau mu ? Kenapa kau menculik ku?" Pekik Alina dengan histeris. Xiang menyeringai dan tersenyum licik.
" Mau ku tidak banyak, aku hanya ingin melihat semua yang kamu tutupi dengan pakaian kebesaran itu."
" Aku hanya penasaran, seberapa indah nya tubuh mu itu hingga kamu menutupinya dengan sangat rapat." Xiang kembali menyeringai licik.
Xiang memiliki kepribadian yang sangat buruk. Ia memiliki penasaran yang sangat besar terhadap sesuatu yang menurut nya langka. Xiang akan melakukan apa saja asalkan rasa penasarannya terselesaikan, walaupun dengan cara jahat sekali pun.
" Astaghfirullah halazim!.Apa maksudmu?"
" Kamu masih tidak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti?"
" Aku hanya ingin bereksperimen dengan tubuh mu itu, kau mengerti?" Xiang meninggikan suaranya pada Alina.
" Tidak. Aku tidak mau! Tolong
Turunkan aku sekarang juga!" Alina berusaha membuka pintu mobil Xiang, namun Xiang telah menguncinya, membuat usaha Alina sia-sia saja.
" Hahaha. Tidak semudah itu sayang. Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja sebelum rasa penasaran ku hilang." Xiang lantas tertawa puas, membuat Alina semakin di buat takut.
Alina masih berusaha untuk melepaskan diri dari Xiang dengan cara mengguncang pintu mobil Xiang dengan sekuat tenaga, namun semakin kuat ia berusaha, semakin membuat tubuhnya terasa lemah karena kelelahan.
Lantas Alina hanya bisa menangis dengan nasib malang nya tersebut.
Di sisi lain, Li tengah kebingungan mencari keberadaan Alina, ia melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan. Ia juga berusaha bertanya pada orang-orang yang ia temui, namun reaksi mereka selalu menggeleng.
Li Bingbing. Di tengah kebingungan, ia duduk di tepi jalan. Ia mengusap wajah nya karena merasa frustasi, tak lama seseorang menepuk pundak nya, dan itu membuat Li menoleh pada orang tersebut.
" Kau! Kenapa kau ada di sini?" Tanya Li.
" Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini? Mengapa wajah mu terlihat sangat gelisah?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Habibi.
" Bukan urusan mu!" Jawab Li dengan nada jutek.
" Ck. Kau ini, jangan terlalu gengsi jadi orang, jika kau kesusahan, baru tahu rasa nanti." Cibir Habibi.
" Apa perduli mu?" Li masih tetap dengan keras kepala nya.
" Aku perduli karena kau asisten pribadi Alina. Aku takut kegelisahan mu ada hubungannya dengan Alina."
" Lalu apa peduli mu jika ini menyangkut tentang Alina? Kau siapa Alina hingga berani ikut campur terlalu jauh tentang nya?" Tanya Li masih dengan nada dingin nya.
__ADS_1
" Aku teman dekat nya. Lagi pula berani sekali kau memanggil bos mu dengan sebutan nama saja, apa kau sudah merasa seperti suami Alina?" Habibi menyeringai.
Ingin sekali rasanya Li menyumpal mulut Habibi yang berkata tidak sopan pada nya. Andai saja dia bisa mengatakan bahwa dirinya memang suami Alina.
" Sudahlah. Katakan saja, sebenarnya mau mu apa?" Tanya Li.
" Wah kau ini benar-benar sok sekali." Habibi mulai terpancing emosi. Ia sangat kesal melihat sifat Li yang selalu terlihat acuh, padahal dia pikir Li tak ubahnya seperti supir pribadi Alina saja. Habibi tak terima, ia lantas ingin memberi pelajaran kepada Li. Ia sudah siap mengepalkan tangannya dan hendak memukul Li, namun dengan santai nya Li menangkap tangan Habibi, membuat sang empu tak bisa bergerak.
" Jangan buang waktu ku dengan tingkah mu yang tak berguna ini!" Cibir Li dengan santainya. Ia lantas menghempaskan tangan Habibi dengan kasar. Habibi menggeram tertahan dengan sikap acuh Li pada nya. Li tak memperdulikan Habibi yang masih terlihat kesal pada nya, ia lantas pergi meninggalkan Habibi untuk melanjutkan kembali mencari Alina.
" Hey *******! Awas saja kau!" Teriak Habibi dari jarak yang mulai jauh. Bukan tanpa alasan, Habibi memanggil Li dengan sebutan ******* karena Li yang selalu memakai masker dan kacamata hitam nya, hingga hampir seluruh wajahnya tertutupi oleh dua benda tersebut.
Bukan nya Li tak mendengar, hanya saja ia tak memperdulikan nya dan langsung masuk ke dalam mobil nya.
Habibi yang masih merasa kesal sekaligus penasaran kepada Li, ia lantas menaiki motor sport yang tadi ia bawa untuk mengikuti Li.
*********
Kini Alina di tarik paksa untuk turun dari mobil oleh Xiang. Ia di bawa ke sebuah markas yang di luarnya sudah di jaga oleh beberapa pria yang terlihat seumuran dengan Xiang.
" Lepas!! Jangan pegang-pegang!" Pekik Alina.
" Ayo cepat masuk! Dan jangan membantah kalau ingin hidup." Ucap Xiang dengan nada membentak.
" Hah, banyak omong kau. Hey kalian!" Panggil Xiang pada anak buah nya yang berjaga. Mereka lantas menghampiri Xiang.
" Wah bos, seperti nya barang baru ya? Nampak berbeda dari yang lain." Ucap salah satu anak buah Xiang.
" Sudah jangan banyak tanya, sekarang bawa dia ke dalam!" Perintah Xiang pada mereka. Seperti perintah Xiang, mereka tak mau banyak bertanya lagi, mereka lantas membawa Alina ke dalam markas mereka.
" Lepaskan aku baj**gan! Aku tidak sudi di sentuh oleh kalian." Ucap Alina.
" Diam kau gadis aneh! Masih untung kau di pilih oleh bos kami. Seharusnya kau bersyukur bisa di bawa kemari, berarti kau termasuk gadis yang di sukai oleh bos kami." Hardik salah satu dari mereka.
" Cih, tak sudi aku harus menjadi gadis yang di sukai pria ba**ngan itu, lebih baik aku mati dari pada harus di bawa ke tempat terkutuk ini." Bantah Alina.
" Dasar gadis tidak tahu di untung. Masuk sini!" Mereka di buat kesal oleh Alina, pun lantas mendorong Alina untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat gelap tanpa sedikitpun penerangan. Tempat itu sangat pengap dan seperti tidak ada lubang ventilasi nya.
Alina hanya bisa menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri di dalam kegelapan itu. Mulutnya tak henti-hentinya melafalkan istighfar dan menyebut nama Allah. Hanya tangis pilu dalam kesunyian dan kegelapan yang bisa Alina lakukan saat ini. Ia telah mempasrahkan dirinya pada sang pencipta atas apa pun yang terjadi kedepannya.
" Ya Allah, jika memang takdir ku harus meninggal saat ini juga, aku ikhlas Ya Allah. Tapi satu yang ku pinta, jaga selalu kesucian dan kehormatan ku hingga nafas terakhir ku!" Sungguh pilu dan menyayat hati. Alina hanya bisa pasrah dan tak henti-hentinya menangis.
Hingga malam, tak ada tanda-tanda dirinya akan bebas dari ruangan nan gelap gulita itu. Sama seperti halnya saat waktu ashar tadi, dengan kaki terikat, Alina tetap melaksanakan shalat Maghrib meski tidak leluasa bergerak dan dengan kapasitas seadanya.
__ADS_1
Brakkk
Saat tahiyat terakhir, pintu di dobrak dengan sangat keras. Alina terkesiap, ia merasa sangat takut dan segera memeluk tubuh nya kembali dengan tubuh yang mulai bergetar hebat.
" Ini makanan untuk mu, cepat makan! nanti bos akan menemui mu." Ucap seorang anak buah Xiang yang membawa sepiring makanan dan segelas air putih, lalu ia meletakkan makanan tersebut di dapan Alina, setelah itu dia pun keluar kembali.
Aroma makanan tersebut menggugah selera, membuat Alina yang memang tidak makan dari siang tadi pun merasa perutnya semakin keroncongan. Ia sudah tidak tahan lagi, ia pun lantas mengambil sebuah ayam goreng dan ingin melahapnya. Namun ia teringat akan sesuatu dan ia pun mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali ayam goreng tersebut.
Ia berfikir, jika ia memakannya dan di dalam makanan tersebut sudah di beri obat atau racun, maka dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Dengan terpaksa, dia harus menahan rasa laparnya meski rasanya sangat menyiksa.
" Ibu, bapak, Lina kangen! Lina takut sendirian di sini, Lina pengen pulang! Tolongin Lina." Ucap Alina pilu. Ia memeluk tubuh nya sendiri dan membenamkan wajahnya di sela-sela lutut nya.
" Aa Li, Lina takut!" Ucap nya di sela-sela Isak tangisnya.
Cklekkk
Suara pintu yang di buka oleh seseorang. Alina semakin mempererat pelukannya pada tubuh nya, ia merasa semakin takut dan tak berani menatap orang tersebut.
" Sangat menyenangkan sekali jika bisa bermain dengan wanita tertutup seperti mu." Seringai Xiang. Suara nya terdengar menakutkan di telinga Alina.
Xiang menarik hijab Alina dengan kasar, hingga membuat Alina mendongak dan merasa kesakitan.
" Aaaawsh!" Pekik Alina. Xiang lantas mengambil sebuah tali dan mengikatkan nya pada tangan Alina. Alina memberontak, namun tenaga nya kalah kuat dengan tenaga Xiang yang notabene nya seorang laki-laki.
Xiang kembali menjambak jilbab Alina dengan kasar, sehingga membuat Alina kembali memekik kesakitan. Hal itu semakin membuat Xiang merasa puas dengan mainan baru nya.
" Teriak lah sayang, teriak sekuat-kuatnya! Aku sangat suka dengan suara seksi mu itu, sangat membuat ku berga*rah." Seringai Xiang. Ia pun menciumi rambut Alina yang terbalut hijab, semakin membuat Alina ketakutan. Tubuh nya bergetar hebat, ia merasa tak berdaya dan berpikir bahwa dirinya akan segera hancur. Ia hanya bisa pasrah pada yang maha kuasa atas segala sesuatu yang akan terjadi pada nya.
Brakkk
" Aa!"
" Ba**ngan, manusia bia*ap! Berani nya kau menyentuh istri ku dengan tangan kotor mu itu!" Li sedang kalap, ia melihat sendiri bagaimana istrinya di perlakukan oleh Xiang.
Li lantas menarik kerah baju yang di gunakan Xiang dengan kasar, ia menyeret tubuh Xiang dan memukuli nya tanpa ampun. Ia benar-benar tak bisa lagi mengendalikan diri nya dan terus memukuli Xiang tanpa ampun, membuat Xiang seolah tak berdaya karena nya.
" A' cukup! Sadar A', sadar!" Suara Alina membuat nya tersadar dan segera melepaskan cengkraman nya pada Xiang yang sudah terkulai lemas akibat pukulan Li yang bertubi-tubi.
Li segera mengucap istighfar berulang kali dan mengusap wajah nya dengan kasar.
Setelah itu ia segera menghampiri istri nya dan melepaskan ikatan tali dari sang istri.
__ADS_1
Li segera menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Alina menangis histeris di dalam pelukan Li, begitu pun Li, ia meneteskan air mata rasa bersalah nya. Jujur, baru kali ini ia menangis karena seorang wanita, dan baru kali ini ia meneteskan air mata nya. Sebagai seorang laki-laki, Li memang tidak pernah menangis, bagi nya, air mata bagi seorang laki-laki adalah sebuah kelemahan, dan saat ini dia sedang lemah karena rasa bersalah nya kepada wanita yang ia cintai.