
Episode 46:
" Ya Allah Nak kamu tidak apa-apa?" Tanya Aisyah ketika melihat pecahan Gucci tepat di depan Alina. Ia juga bergegas menghampiri Alina dan memeriksa keadaan Alina kalau-kalau ada yang terluka, serta memutar-mutar tubuh Alina.
" Eeee tidak Ma, Alina tidak apa-apa, hanya saja Gucci nya,,,,,," ucap Alina sambil menatap sedih pada Gucci yang telah hancur tersebut.
Aisyah mengerti saat ini Alina sedang merasa bersalah atas pecahnya Gucci miliknya tersebut, meskipun dia sendiri tak masalah, namun bagi Alina itu sangat menakutkan. Bagaimana tidak, Alina tahu bahwa Gucci tersebut adalah Gucci kesayangan Aisyah, bahkan Gucci tersebut adalah barang antik yang sangat langka di dunia.
Aisyah pun mendekati Alina dan mengusap pundaknya, seolah mengatakan bahwa ia tidak masalah sama sekali dengan Gucci tersebut.
" Ya sudah tidak apa-apa, kan yang penting kamu nya tidak apa-apa," ucap Aisyah yang kini beralih mengusap kepala Alina dengan sayang.
" Kamu kenapa kok sepertinya lagi banyak pikiran?" Tanya Aisyah lagi.
Aisyah juga menuntun Alina menuju sofa dan duduk di sana.
" Tidak ada yang Alina pikirkan kok Ma," jawab nya sambil menunduk.
" Kamu jangan bohong sama Mama, Mama kenal sama kamu itu bukan baru sehari dua hari loh, tapi sudah dua tahun. Jadi Mama tahu kalau kamu sedang ada masalah."
Alina menatap Aisyah dalam, lalu menggeleng pelan.
" Tidak ada masalah apapun Ma, Alina hanya sedang rindu kepada keluarga di kampung, mereka apa kabar ya?"
" Kalau kamu rindu kepada mereka, Mama bisa ajak mereka sekalian tinggal di sini kok, bagaimana?"
" Oh itu tidak perlu Ma, nanti ngerepotin Mama, dan lagi pula kalau mereka pindah ke sini siapa yang ngurus sawah di sana," ujarnya.
" Ya itu pun terserah kamu saja, kalau kamu mau mereka di sini, Mama akan senang hati menerimanya," ucap Aisyah.
" Apa kau sudah menelpon orang tuamu hari ini?" Tanya Aisyah lagi.
" Belum Ma," jawabnya.
" Ya sudah, sekarang lebih baik kamu telpon mereka dulu!" Ucap Aisyah.
Alina pun mengangguk dan tersenyum kepada Aisyah, lalu menuruti perintah Aisyah dengan segera.
Ia sangat senang Aisyah sendiri lah yang menyuruhnya Alina untuk menelpon keluarganya, kebetulan ia juga sudah sangat rindu berat kepada keluarganya.
Meskipun sebenarnya setiap hari ia juga sering berkomunikasi dengan keluarganya itu, namun tetap saja setiap hari ia selalu merindukan mereka.
__ADS_1
Alina pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Gadis adiknya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
" Aku mohon Mama jangan egois." Ucap seorang pria muda dengan nada marah, namun ia masih berusaha untuk sopan terhadap wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibunya sendiri.
" Dari mana kau menyimpulkan bahwa Mama egois, ini semua demi kebaikan mu," ucap wanita paruh baya itu tak mau kalah.
Dua orang yang berbeda jender tersebut saat ini sedang beradu urat, mereka sama sekali sudah tak perduli sekarang mereka sedang berada di mana, mereka bahkan tidak perduli banyak mata yang memandang heran ke arah mereka.
" Kebaikan, hehh," ucap Li dengan terkekeh angkuh.
" Kebaikan apa yang Mama maksud, kebaikan agar keluarga kita bisa terpandang karena Mama memiliki menantu seorang artis juga, begitu?" Tanya Li dengan penuh penekanan.
" Itu juga salah satunya, namun jika kau menikah dengan Cassandra, bukan hanya keluarga kita saja yang di untungkan, akan tetapi kau juga. Bukankah kau dan Cassandra dulunya saling mencintai?" Ucap Ying yang juga ikut menggebu-gebu.
" Ya, memang dulu kami saling mencintai, namun setelah perubahan pada sikapnya, rasa cinta ku berubah menjadi tak suka padanya," ujar Li, wajahnya tertunduk saat mengatakan itu, bibirnya menyunggingkan senyum yang seolah mengenang rasa pahit yang pernah ia alami.
" Tapi Mama yakin Li, rasa cinta itu akan kembali tumbuh jika kalian sudah menikah nanti."
Ying tetap kekeuh ingin menikahkan Li dengan Cassandra.
" Ma sudahlah!"
" Li kasihanilah Mama dan Papa mu, kami sudah melakukan semuanya untuk pernikahan ini. Kami juga sudah mengurus semuanya, mulai dari dekorasi, catering, undangan, gaun pengantin, kau hanya perlu menuruti saja," mohon Ying begitu sangat serius.
" Apa kau tidak kasihan jika Mama dan Papa mu ini jadi bahan olokan orang-orang karena acara pernikahan ini gagal. Kami malu Li jika gagal, kami malu terhadap teman-teman bisnis Papa mu, apa yang harus kami katakan nanti." .
Ying benar-benar terlihat sangat pusing, Li pun yang melihat kegelisahan orang tuanya tersebut merasa sangat iba.
Saat ini ia sedang di landa dilema. Di satu sisi ada orang tuanya yang harus ia selamatkan harga dirinya. Karena jujur ia adalah orang yang tidak sanggup melihat keluarganya dilanda masalah, karena selain istri, prioritas utamanya adalah keluarga dan orang tuanya.
Namun di sisi lain ada rumah tangganya yang harus ia pertahankan, dan ada perasaan orang yang sangat ia cintai yang harus ia jaga.
Li menghempaskan nafasnya dengan kasar, mencoba berfikir dengan tenang dan memutuskan masalah yang dihadapinya sekarang tenang pula.
" Saya akan memikirkannya nanti Ma, untuk saat ini saya harus segera ke lokasi syuting," ucap Li namun kali ini dengan lemah lembut dan sopan.
" Baiklah, Mama tunggu jawaban mu segera!"
Meskipun berat, Li pun akhirnya menganguk setuju.
__ADS_1
Setelah perdebatan yang panjang tersebut selesai, Li pun berpamitan kepada ibunya untuk kembali ke lokasi syuting.
Namun di lain tempat, Habibi telah bersiap untuk pergi dan mengunjungi seseorang.
Pakaiannya nampak rapi dan sangat stylish serta sangat wangi.
Dengan semangat Habibi pun menuruni anak tangga sambil bersenandung riang.
" Assalamualaikum Mi," ucapnya pada seorang wanita paruh baya namun masih nampak awet muda.
Tak lupa Habibi juga mencium pipi kiri dan kanan wanita yang di panggil Mami olehnya tersebut dari belakang.
Sontak saja Mami nya yang sedang membuat kue untuk berbuka puasa tersebut menjadi terkejut.
" Astaghfirullah halazim, waalaikumsalam Nak," jawab Mami nya dengan ekspresi terkejutnya.
" Kamu ini kebiasaan ya, selalu suka membuat Mami terkejut. Nanti kalau Mami jantungan bagaimana?" Ucapnya kesal.
Bukannya merasa bersalah, Habibi malah terkekeh puas karena telah berhasil menjaili sang Mami.
" Sepertinya anak Mami sedang bahagia ya?."
Melihat keceriaan Habibi, Mei sang ibu pun memperhatikan tingkah sang anak yang beberapa hari ini nampak lebih periang dibanding biasanya.
" Ah tidak kok Mi," elaknya.
" Atau anak Mami ini sedang jatuh cinta dengan seorang wanita?" Tanyanya lagi, hal itu membuat pipi Habibi bersemu merah karena salah tingkah.
Tiba-tiba Habibi menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi dan membuang nafasnya dengan kasar.
" Hufff, entah lah Mi, Habibi bingung," jawabnya.
" Kenapa bingung?"
" Habibi ragu Mi," jawabnya.
Mei segera menghampiri anaknya itu, karena sebagai seorang ibu, Mei tahu saat ini ada yang Habibi sembunyikan darinya.
" Apa yang membuat mu ragu. Saran Mami, jika menyukai seseorang, kau harus berjuang dan berusaha mendapatkan hatinya, namun jika kalian sudah saling mencintai, kau yang harus bergerak cepat. Jadilah pria gentle Nak!"
" Terkadang wanita itu butuh perjuangan," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Habibi hanya mengangguk-angguk, entah ia menyimak atau tidak perkataan ibunya tersebut, yang jelas saat ini pikirannya sering tidak fokus terhadap apapun kecuali Alina.