My Idol My Imam

My Idol My Imam
Memeriksakan Aisyah


__ADS_3

Episode 41:


Berapa saat setelah saling pandang, Li mengangguk pada Alina. Alina yang paham pun mengangguk.


Dia lantas ikut berjongkok menyamakan posisinya pada Aisyah.


" Iya Ma, Lina tidak akan dekat-dekat sama dia kok," ucapnya. Padahal saat mengatakan hal tersebut, Alina mati-matian menahan sesak di dadanya. Entahlah, walaupun hanya sekedar bohongan semata, agar Aisyah percaya, namun entah mengapa berat rasanya mengatakan itu.


" Tidak. Mama ingin dia keluar secepatnya dari rumah ini. Mama tidak suka dia sentuh sentuh kamu seperti tadi!" Ucap Aisyah masih dengan intonasi yang sama.


" Iya Ma, tapi nanti ya. Biarkan Aa sarapan dulu!" Ucap Alina.


" Mama tidak mau dia sarapan bersama kita," ucap Aisyah telak. Alina menghembuskan nafasnya secara kasar mendengar perintah Aisyah yang tak bisa di ganggu gugat lagi.


" Ya sudah, biar saya di luar saja," ucap Li mengalah.


" Kenapa tidak langsung pergi saja?" Ucap Aisyah dengan gaya juteknya. Kembali Li mengalah, ia pun mengangguk dan segera keluar dari rumah itu. Namun ia tak benar-benar pergi. Li memutuskan untuk menunggu Alina di luar gerbang saja.


Alina hanya bisa pasrah dengan sikap orang tua angkatnya tersebut. Bagaimana pun ia tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Aisyah.


Tingg,,,,,,


Suara notifikasi pesan dari ponsel Alina pun berbunyi. Alina segera melihat pesan tersebut.


( Aa tunggu di luar ya. Nanti sepulang sekolah, kamu ajak Mama ke Dokter Vian!) Isi pesan tersebut.


Yang ternyata itu pesan dari Li yang menyuruh Alina membawa Aisyah ke psikiater kenalannya.


Alina pun dengan cepat membalas pesan dari Li. Bukan apa-apa, ia hanya takut Aisyah curiga jika ketahuan.


" Ma, lebih baik Mama istirahat lagi ya di kamar. Nanti kalau Lina sudah pulang dari sekolah, kita jalan-jalan, mau?" Tanya Alina saat mereka telah selesai sarapan.


Tanpa menaruh curiga, Aisyah pun menganguk setuju. Alina pun mengantar kembali Aisyah ke kamarnya. Setelah selesai, Alina pun berpamitan kepada Aisyah untuk ke sekolah.


Di depan gerbang, Alina melihat Li berdiri di samping mobilnya, tanpa terlindung oleh apapun dari sinar matahari.


Meskipun masih pagi, namun matahari sudah sangat trik dan lumayan membakar kulit jika terpapar langsung.


" Aa kenapa tidak menunggu di dalam mobil saja?" Li yang baru menyadari keberadaan Alina pun sontak menoleh.


" Hay sayang. Kenapa?" Tanya Li yang tak begitu mendengar ucapan Alina tadi.


" Tadi Alina bilang, kenapa tidak menunggu di dalam mobil saja?" Ulangnya.

__ADS_1


" Oh. Tidak apa-apa, hanya saja kalau menunggu di dalam, Aa bisa ketiduran," ucapnya.


" Bagaimana, Mama sudah aman?" Tanya Li lagi. Alina lantas mengangguk.


" Ya sudah, kalau begitu tunggu apa lagi? kita berangkat sekarang, takutnya nanti kamu terlambat!" Alina kembali mengangguk, mereka pun masuk dan segera melajukan mobilnya.


Setelah berpamitan dan mencium tangan suaminya seperti biasa ia lakukan, Alina pun keluar dari mobil untuk segera masuk kelas, karena tak lama lagi ujian akan di mulai.


" Nanti pulang kabarin Aa ya!" Sebelum Alina benar-benar menjauh, Li sempat mengatakan itu. Alina menganguk, lantas pergi meninggalkan Li yang masih memandangi kepergiannya.


Tepat pukul satu siang, ujian telah selesai. Alina keluar kelas dan berjalan menuju koridor.


Pikirannya masih terngiang-ngiang tentang kejadian Aisyah pagi tadi. Apa mungkin ngamuknya Aisyah itu karena sedang sakit? Lalu jika benar, mengapa sikapnya begitu aneh. Aisyah hanya ingin bersamanya tanpa ada orang lain.


Pikiran Alina terus saja bersirobok dengan perasaannya yang sedang gundah. Gadis bercadar itu juga sangat khawatir dengan sikap Aisyah yang berubah tempramen secara tiba-tiba itu. Ia ingin segera pulang dan mengajak Aisyah ketempat yang di saran kan oleh Li tadi pagi. Ia ingin tahu, mengapa Aisyah seperti itu.


Alina mempercepat langkahnya agar cepat sampai di area parkir. Karena Li sudah mengirim pesan dan sedang menunggunya di sana.


" Alina!" Seru seseorang yang membuat langkah Alina terhenti. Alina pun menoleh pada orang yang memanggilnya tersebut.


" Kak Habibi," ucapnya.


Habibi tadi berlarian karena mengejar langkah Alina yang cukup cepat untuk ukuran tubuh mungil dan kaki pendek seperti Alina. Ia pun kewalahan dan ngos-ngosan mengejar Alina.


" Mau cepat pulang," jawab Alina. Gadis itu juga menghentikan langkahnya.


" Mau ngapain? Bukannya kita ada janji mau ke perpus ya, kok pulang?"


Semalam Habibi memang sempat mengirim pesan singkat pada Alina, dan mengajak Alina untuk belajar bersama setelah sepulang sekolah. Akan tetapi sekarang Alina ingin buru-buru pulang.


" Duh maaf ya kak, Alina lupa. Tapi gimana kalau lain kali saja, soalnya Alina hari ini ada keperluan mendadak," ucapnya.


Jujur Habibi kecewa. Kesempatan untuk mendekati Alina gagal. Padahal dia sudah menyusun kata-kata indah untuk mengungkapkan perasaannya kepada Alina, namun usahanya sia-sia saja. Akan tetapi, Habibi juga tidak bisa memaksa untuk tetap tinggal jika Alina punya kepentingan lain.


" Ya sudah, lain kali saja kita belajarnya. Kan masih ada waktu satu Minggu lagi," ucapnya seraya berusaha tersenyum.


" Makasih ya kak udah ngertiin. Kalau begitu Alina pulang sekarang," pamitnya.


" Biar kakak antar ya," tawar Habibi.


" Eeee tidak usah repot-repot kak, Alina sudah di jemput supir Mama tadi."


Alina terpaksa harus berbohong, agar Habibi tidak curiga.

__ADS_1


Dan untungnya Habibi pun percaya dan menganguk pasrah.


" Iya, kamu hati-hati dijalan ya!"


" Iya kak, insyaallah. Kalau begitu Alina pulang dulu ya, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam," jawab Habibi


Alina lantas berlalu meninggalkan Habibi yang masih memandangi punggungnya hingga menghilang dari pandangan Habibi.


" Setelah lulus nanti, aku akan mengutarakan perasaan ku padanya," ucapnya bermonolog sendiri setelah Alina tak nampak lagi keberadaannya.


" Aa, sudah lama nunggunya?" Tanya Alina pada Li yang langsung menyambut kedatangannya seraya tersenyum dari kejauhan.


" Tidak. Baru setengah jam menunggu," ujarnya.


" Ya Allah A', itu lama sekali loh. Maaf ya A', Alina terlalu lama," sesalnya.


Wajahnya juga murung karena tak enak hati dan kasihan kepada suaminya yang menunggu lama.


Li yang gemas melihat wajah istrinya yang cemberut bak anak kecil itu pun lantas menghampirinya dan langsung mencubit hidung serta pipi chubby yang tertutup niqab itu.


" Aa sakit ih," protes Alina seraya memegangi pipinya yang di cubit oleh Li. Li terkekeh puas, lantas kembali jail dengan mengacak-acak jilbab Alina.


Namun tanpa mereka sadari, seseorang menatap tajam pada mereka. Pria itu mengepalkan tangannya melihat pemandangan yang kurang pantas menurutnya.


Melihat muslimah seperti Alina bercengkrama dengan seorang pria, membuat hatinya memanas. Apalagi Alina adalah wanita yang di incarannya selama ini.


Habibi berniat hendak menghampiri mereka, namun karena jarak mereka yang lumayan jauh, ia pun tak sempat. Karena Alina dan Li sudah melajukan mobilnya.


Habibi menggeram tertahan. Ia berjanji akan menemui pria yang bersama Alina tadi dan menghajarnya.


" A, nanti kalau sudah sampai di rumah, Aa langsung pulang ke apartemen aja ya! Lina tidak mau Aa di sakiti sama Mama. Alina takut Mama ngamuk lagi seperti tadi pagi," ucapnya dengan nada sendu.


" Iya sayang. Lagi pula Aa tidak mau Mama kambuh lagi karena melihat keberadaan Aa di sana," ucapnya sambil tersenyum hangat.


" Tapi nanti kamu kasih kabar sama Aa ya kalau ada sesuatu!" Lanjut Li.


Alina pun mengangguk patuh.


Setelah sampai di gerbang rumah Aisyah, Alina pun turun. Tak lupa ia menyalami tangan suaminya itu dengan takzim.


" Hati-hati ya habibati. Ingat, jangan lupa kasih kabar!" Ucap Li sebelum Alina benar-benar masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Alina lantas berbalik ke arah Li, lalu menganguk serta tersenyum kearahnya, sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam rumah Aisyah.


__ADS_2