My Idol My Imam

My Idol My Imam
Rencana Tak Terduga Aisyah


__ADS_3

Episode 47:


" Mami bicara dari tadi kamu cuma merespon begitu saja Habibi," ucap Mei merasa kesal karena sedari tadi dirinya hanya di acuhkan saja oleh Habibi.


" Lalu Habibi harus merespon bagaimana lagi Mi?"


" Seharusnya saat orang yang sedang jatuh cinta itu merespon sangat bersemangat, tapi kamu seperti orang yang sedang putus cinta saja."


" Huff entahlah Mi." Untuk yang kedua kalinya Habibi menghela nafas berat.


" Oh ya Nak, Mami mau dong kamu kenalkan ke Mami calon mu itu," ucap sang ibu terlihat bersemangat.


" Sepertinya tidak bisa Mi," jawab Habibi spontan.


" Kenapa?"


" Karena, tak bisa di pikirkan dengan otak, sulit di cerna oleh nalar, dan sakit jika dirasakan oleh hati," jawabnya.


Setelah mengatakan kiasan tersebut, Habibi pun beranjak dari tempat duduknya, berencana untuk keluar meninggalkan Mei yang masih mematung serta mencerna apa yang baru saja di ucapkan oleh Habibi.


" Habibi keluar sebentar Mi, assalamualaikum." Namun tak lupa Habibi menyalami tangan ibunya untuk berpamitan.


" Tak bisa di pikirkan oleh otak, sulit di cerna oleh nalar, dan sakit jika di rasakan oleh hati, apa maksudnya?" ucap Mei seolah mengulang kata-kata yang di ucapkan Habibi.


" Ah entahlah, pusing lama-lama jika di pikirkan, lebih baik aku melanjutkan pekerjaan ku saja," lanjutnya lagi.


Mei pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah Habibi tadi, yaitu membuat kue untuk berbuka puasa nanti.


Sedangkan di perjalanan, Habibi yang memang berniat akan ke rumah Alina pun teringat untuk membeli sesuatu untuk di berikan kepada Alina atau Aisyah, mungkin seperti takjil untuk berbuka puasa nanti.


Habibi pun melihat sebuah toko yang menjual berbagai macam kue, dan ia pun mengunjunginya.


" Permisi," sapa Habibi kepada penjaga toko.


" Ya mau beli yang mana?" Tanya penjaga toko itu dengan ramah.


" Saya mau beli yang ini, sama yang ini!" Habibi pun menunjuk beberapa jenis donat kentang dan Black Forest.


" Baik, sebentar saya bungkusan ya." Penjaga toko tersebut pun segera menyiapkan pesanan Habibi dan menyerahkannya.


Dengan langkah yang nampak semangat, Habibi pun melajukan kembali mobil untuk menuju ke rumah Alina.


Setelah sampai di sana, Habibi pun memarkirkan mobilnya, dan dengan tidak sabarnya Habibi pun memencet bel rumah Aisyah dengan semangat.


Tak terlalu lama, Aisyah yang kebetulan sedang berada di rumah pun segera membukakan pintu untuk tamunya tersebut.


" Eh Nak Habibi, ayo silahkan masuk Nak!" Kata Aisyah dengan sangat ramah.


" Iya Bu."


" Eeee Alina nya ada Bu?" Tanya Habibi ketika sudah berada di dalam.


" Oh tadi dia sedang mandi, mungkin tidak lama lagi selesai," jawab Aisyah.


Habibi pun hanya mengangguk canggung.

__ADS_1


Berhadapan dengan Aisyah yang notabene nya adalah orang tua dari Alina, membuatnya merasa canggung bila berhadapan langsung dan hanya berdua saja.


" Oh iya Bu, ini saya tadi kebetulan lewat dan melihat ini, lalu saya belikan ini untuk ibu dan Alina untuk berbuka puasa nanti," ucapnya sambil menyerahkan makanan yang ia bawa tadi.


" Wah ini untuk ibu dan Alina? Masyaallah, terimakasih ya Nak, kamu memang sangat baik," ucap Aisyah memuji Habibi.


" Terimakasih Bu, tapi ini hanya kebetulan lewat saja dan saya teringat Alina sangat menyukai coklat, jadi saya beli ini untuk Alina dan juga ibu," ucapnya.


" Ini makanannya ibu terima, terimakasih ya," ucap Aisyah sekali lagi, sambil menenteng paper bag yang berisi makanan tersebut.


" Iya sama-sama Bu."


" Sebentar ya ibu panggilkan Alina dulu," kata Aisyah, ia pun hendak berdiri untuk menyusul Alina ke kamarnya.


" Tidak usah Bu, saya kesini cuma mau memberikan ini untuk ibu dan Alina, tidak lama juga kok," jawabnya.


" Tidak apa-apa, lagi pula Alina juga pasti sudah selesai mandi dan sholatnya, sebentar ya!"


Karena paksaan dari Aisyah, Habibi pun mengangguk.


Tak lama Alina pun keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian muslimah nya, lengkap dengan cadar berwarna merah senada dengan warna pakaian yang ia kenakan.


Habibi berdecak kagum melihat pemandangan indah nan sejuk di depan matanya itu.


" Subhanallah." Tak terasa kalimat kagum itu keluar dari mulutnya.


" Kak Habibi, sudah lama di sini?"


Pertanyaan Alina membuatnya terkesiap dan tersadar dari lamunannya.


Alina hanya mengangguk lalu duduk dengan jarak yang cukup jauh dari Habibi.


Mereka hanya berdua, kebetulan setelah memanggil Alina tadi, Aisyah tak nampak lagi batang hidungnya.


" Kak Habibi ada perlu apa ke sini?" Tanya Alina.


" Tidak perlu apa-apa, hanya mengantarkan makanan untuk berbuka saja," jawabnya.


Lagi-lagi Alina hanya mengangguk, karena ia memang sudah tahu saat Aisyah tadi memanggilnya dan mengatakan bahwa Habibi memberikan mereka bingkisan.


" Eeee Li belum pulang?" Tanya Habibi, sebenarnya hanya untuk berbasa-basi untuk menutupi rasa canggungnya.


" Belum, Aa Li bilang mungkin dia pulangnya agak terlambat dan tidak bisa berbuka puasa bersama," jelas Alina, dan Habibi pun mengangguk.


" Ya sudah kalau begitu kakak mau pamit pulang dulu, sudah mulai sore juga," pamit Habibi.


Sedangkan Alina hanya merespon dengan anggukan.


Namun niat Habibi terpaksa diurungkan karena tak lama Aisyah yang mendengar bahwa Habibi akan pulang pun mencegahnya.


" Nak Habibi mau pulang sekarang?" Tanyanya.


" Iya Bu, Mami saya pasti sudah menunggu saya untuk berbuka puasa bersama," ujarnya.


" Kenapa cepat sekali pulangnya, kenapa tidak sekalian berbuka puasa disini saja. Mami Nak Habibi pasti mengizinkan jika Nak Habibi berbuka disini," bujuk Aisyah.

__ADS_1


Habibi terdiam, nampaknya ia mulai terhasut oleh perkataan Aisyah. Dan tak berapa lama Habibi pun mengangguk.


" Baiklah, nanti saya akan kabari Mami saya dulu supaya beliau tidak mencari saya nantinya."


Sedangkan Alina hanya menyimak dan tak mau ikut bicara.


" Ma Lina mau ke dapur dulu ya, mau menyiapkan menu untuk berbuka nanti," ucap Alina.


" Ya sudah kalau begitu, biar Mama saja yang menemani Nak Habibi disini."


Alina lantas mengangguk dan mulai mengerjakan tugasnya menuju dapur untuk menyiapkan takjil.


" Nak Habibi, ada yang mau ini bicarakan dengan mu," kata Aisyah ketika mereka tinggal berdua saja di ruang tamu.


" Ada apa Bu?" Habibi pun menyimaknya dengan serius dengan apa yang akan Aisyah sampaikan.


" Begini, ibu ada rencana akan mendekatkan kamu dengan Alina, apa kamu setuju?" Tanya Aisyah sambil menatap Habibi dengan penuh harap.


" Maksud ibu mendekatkan seperti apa ya?"


Betapa terkejut sekaligus bingung yang Habibi rasakan saat ini. Di satu sisi ia sangat bahagia dengan keputusan Aisyah, namun di sisi lain dia tak mungkin melakukannya, karena Alina sendiri masih berstatus sebagai istri orang lain.


Sebenarnya Habibi paham dengan yang di maksud Aisyah. Hanya saja ia ingin memastikan lagi supaya tidak salah pengertian nantinya.


" Maksud ibu kamu dan Alina ibu jodohkan, apa kamu mau?" Ulang Aisyah lagi.


Habibi terdiam, pikirannya benar-benar di buat amburadul karena ucapan Aisyah. Ia seolah tak mampu memutuskan apa-apa saat ini.


" Tapi Bu,,,,,." Ucapan Habibi menggantung. Ia ragu untuk mengatakannya.


" Kenapa, kamu memikirkan status Alina saat ini?" Tanya Aisyah seolah mengerti keraguan Habibi.


Habibi pun mengangguk polos.


" Kamu tenang saja, itu biar menjadi urusan ibu. Ibu akan memisahkan mereka dengan cara ibu sendiri," ucap Aisyah sambil tersenyum licik.


Sungguh, mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Aisyah, membuat Habibi tersentak kaget.


Bagaimana bisa seorang ibu akan merusak rumah tangga anaknya sendiri.


" Tapi kenapa Bu?" Tanya Habibi nampak tak terima.


" Karena Li tidak layak untuk Alina, Li itu pembawa sial bagi keluarga kami." Aisyah berkata dengan perasaan yang menggebu-gebu karena di penuhi dengan emosi.


" Jika Alina terus di biarkan bersama Li, ibu takut Alina juga ketularan sial seperti dia," lanjut Aisyah.


Habibi hanya tertunduk Bean tak berani untuk berkata apa-apa lagi, melihat Aisyah yang begitu emosional saat mengucapkan nama Li.


Sedangkan Li yang kebetulan baru saja tiba, tak sengaja mendengar percakapan mereka yang membahas tentang perpisahan dan perjodohan tersebut.


Li tak mampu mengekspresikan betapa hancur perasaannya saat ini. Hatinya seolah di patahkan dengan paksa mendengar ucapan Aisyah.


Tenggorokannya terasa tercekat serta tangannya yang mengepal kuat. Ia berusaha menahan diri agar tidak terbawa suasana.


Untuk sementara waktu, Li pun memutuskan untuk menjauh guna menenangkan diri.

__ADS_1


__ADS_2