My Idol My Imam

My Idol My Imam
Saling Komunikasi Tanpa Emosi


__ADS_3

Episode 33:


Li melangkah ke kamar mandi berniat untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Li pun memakai celana boxser dengan setelan kaos hitam tipis nya, setelah itu ia pun turun ke bawah untuk mengecek, apakah masih ada stok mie instan untuk nya pagi ini.


Namun langkah nya terhenti saat melihat seseorang yang sedang masak sesuatu di dapur nya.


Di lihat dari poster tubuh dan pakaian nya yang serba tertutup itu, sepertinya dia adalah seorang wanita, ia juga memakai pakaian seperti sebuah seragam sekolah.


Li lantas mencoba mendekati wanita itu dengan langkah hati-hati, ia mengendap-endap bak seorang maling.


Li pikir, apa dia wanita yang telah ia nodai malam tadi? Jika benar apa yang harus ia perbuat? Menikahi nya? Terasa mustahil baginya. Meskipun agama tidak melarangnya untuk melakukan poligami dengan syarat dia bisa adil terhadap istri-istri nya nanti, namun apa dia sanggup untuk menduakan Alina? Li rasa tidak.


Setelah berada di belakang wanita itu, Li hendak memegang pundak wanita itu, namun wanita tersebut sudah lebih dulu berbalik tanpa tahu ada orang di belakang nya. Alhasil spatula yang di pegang nya mengenai tepat di kepala Li.


" Astaghfirullah Aa. Kenapa Aa tiba-tiba ada di belakang?" Ucap Alina


terkejut dengan kemunculan Li yang tiba-tiba.


" Aduh sayang, sakit ini kepala Aa!" Rintih Li yang lebih mirip seperti sedang merengek. Dia pun memegangi kepalanya yang terkena spatula.


" Ya Allah, sakit ya A'? Mana nya yang sakit, sini Alina tiupin!" Tanya nya sambil meniup-niup bagian kepala Li yang terkena spatula.


Li pun sedikit menunduk agar tinggi mereka sejajar.


" Eh tunggu sayang! Sejak kapan kamu ada di sini?" Tanya Li.


" Sejak sore semalam, tapi pas Lina pulang, Aa tidak ada di apartemen. Memangnya Ada ke mana?" Alina pun balik bertanya.


" Kamu sudah pulang, berarti kamu sudah memaafkan Aa?" Li tak menjawab pertanyaan Alina, tapi ia malah menanyai Alina.


" Iya sudah A. Alina cuma berpikir, tidak baik mendiamkan suami terlalu lama. Dan lagi pun, Alina sebenarnya juga salah di sini. Secara tidak langsung Alina sudah menuduh Aa selingkuh dan sudah tidak mempercayai As sebagai suami Alina. Padahal Alina baru dengar dari mulut orang lain saja, dan bahkan Alina tidak mau mendengarkan penjelasan Aa. Alina sadar, rumah tangga itu harus ada rasa saling percaya antara satu sama lain." Cerita Alina panjang lebar.


" Maaf kan Alina ya A." Li tersenyum, lantas ia pun mengangguk.


" Aa juga minta maaf ya sama kamu." Alina mengangguk, mereka pun lantas berpelukan dengan haru.


" O iya. Tadi Aa belum menjawab pertanyaan Alina, kemana Aa saat Alina pulang semalam?" Alina lantas melepas pelukannya dan beralih menatap Li.


" Aa di ajak nongkrong sama Tian." Jawab Li. Ia mengalihkan pandangannya, tak berani menatap Alina. Ia takut Alina akan menanyai kemana ia pergi.


Li pun berpura-pura membuka kulkas untuk mengambil sebotol minuman dari sana.


" Di mana?" Dan benar saja, Alina pasti akan menanyakan tempat di mana dia berkumpul bersama teman-teman nya.

__ADS_1


Alina menatap Li dengan tatapan curiga nya, sehingga membuat Li merasa salah tingkah di tatap begitu.


" D_di bar sayang." Jawab Li. Li memilih jujur dari pada harus berbohong, namun pada akhirnya akan ketahuan dan membuat Alina lebih marah nantinya.


Mata Alina sudah sangat tajam menatap Li, ia seolah sudah bersiap-siap untuk memarahi suaminya itu, namun Li meralat nya dengan cepat.


" Tapi sayang, aku tidak minum minuman keras kok. Aku tidak bohong, kalau kita hanya duduk dan berkumpul saja, tidak lebih." Jelas Li.


" Terus kenapa Aa bisa pulang di antar sama Cassandra dengan keadaan mabuk?" Alina melipat kedua tangannya di dada, seperti orang yang sedang menginterogasi.


" Hah, maksud kamu apa? Aa benar-benar, tidak mengerti." Li memicingkan matanya.


" Aa tidak tahu kalau semalam Cassandra mencoba untuk melakukan hubungan yang biasanya di lakukan oleh suami istri kepada Aa." Ucap Alina . Li mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, namun ia sama sekali tidak mengingat apa-apa.


" Aa benar-benar tidak ingat apa-apa sayang. Memang apa saja yang sudah Cassandra lakukan terhadap Aa?"


" Dia sudah berani-berani nya membelai Aa dan membuka pakaian Aa."


" APA. Terus apa dia sempat,,,,,,,,,,?" Li sengaja menggantung perkataanya, karena dia yakin Alina sudah mengerti maksud dan arah pertanyaan nya.


" Enggak. Untung Alina datang di waktu yang tepat, kalau tidak mungkin Aa dan dia."


Li merasa sangat lega mendengar nya. Benar kata Alina, jika Alina datang terlambat sedikit saja, pasti dia akan dapat masalah baru lagi.


" Makanya A, itu peringatan buat Aa agar Aa benar-benar menjauhi semua yang mendekat kan Aa pada dosa!"


" Maksud kamu?" Li masih tak mengerti maksud Alina.


" Ya itu tadi, seperti pergi ke bar walaupun tidak minum minuman yang mengandung alkohol. Tapi bisa saja kan, hal lain terjadi pada Aa."


" Bukannya Alina melarang Aa untuk bertemu teman-teman Aa, tapi tempat nya gak boleh di tempat seperti itu!" Alina memperingati Li.


Li lantas memeluk Alina dari belakang.


" Iya iya, Aa salah. Aa minta maaf ya." Li pun membenamkan wajahnya di ceruk leher Alina.


" A jangan, geli tau!" Keluh Alina.


" Geli tapi tidak sakit kan?" Alina hanya merespon dengan senyuman.


Li lantas membalikkan tubuh Alina agar berhadapan dengan nya.


" Berarti yang bersama Aa malam tadi itu kamu?" Tanya Li memastikan. Alina mengangguk malu.


" Terimakasih ya sayang untuk yang kesekian kalinya." Ucap Li.

__ADS_1


" Iya A."


" Ya sudah A, Lina mau nyiapin sarapan dulu buat Aa, abis itu Lina harus ke sekolah kan, nanti Alina terlambat lagi pergi ke sekolah nya." Li mengangguk dan tersenyum, setelah itu ia membiarkan istrinya untuk menata makanan nya. Sesekali Li juga membantu Alina agar pekerjaan istrinya itu sedikit ringan.


Selesai sarapan, seperti biasa. Li mengantarkan Alina untuk berangkat ke sekolah nya.


" A' nanti siang, Aa tidak usah menjemput Alina ya!" Tutur Alina sebelum ia turun dari mobil.


" Kenapa? Kamu mau pulang sama Habibi ya?" Tanya Li yang nampak sedang cemburu.


" Ih Aa apaan sih. Bukan begitu A, nanti siang mama Aisyah minta di temani belanja." Jelas Alina.


" Belanja apa? Shopping?"


" Bukan, belanja kebutuhan dapur katanya."


" Memangnya supir ke mana, kenapa harus kamu yang menemani nya?"


" Supir sih ada, cuma kan tidak enak jika harus menolak."


" Tapi siang ini Aa ingin bersama dengan mu, Mama Aisyah pasti mengerti jika kamu tidak jadi menemaninya."


" Tidak bisa begitu dong A. Aa inget tidak kenapa Lina bisa berada di sini?"


" Untuk menemui Aa." Jawab Li dengan percaya diri.


" Ihh bukan A'. Lina di sini itu karena permintaan dari pak Ferdi yang meminta Alina agar menjadi teman istri nya di saat dia sedang tidak di rumah." Jelas Alina.


" Oh iya. Terus?"


" Ya tidak mungkin kan kalau Lina membatalkan begitu saja


Meskipun mereka sudah menganggap Lina sebagai anak mereka sendiri, tapi kan Alina tetap orang lain."


Akhirnya Li pun mengerti apa yang di rasakan Alina, ia pun mengizinkan Alina untuk menemani Aisyah siang ini.


Setelah itu, lalu Alina segera turun dari mobil dan segera menuju sekolah nya. Gara-gara perdebatan nya dengan Li tadi, Alina hampir saja terlambat untuk masuk ke sekolah nya.


Alina pun segera masuk kelas karena sebentar lagi pelajaran akan segera di mulai.


" Alina!" Panggil Cia yang berada di samping Alina. Matanya nampak sembab seperti orang yang habis menangis. Cia pun menatap Alina dengan wajah yang memelas.


" Cia, kamu kenapa? Apa ada orang yang menyakiti mu?" Tanya Alina merasa khawatir dengan teman sebangku nya itu.


" Lina maaf kan aku!" Ucap nya sambil terisak. Alina pun semakin di buat bingung karena Cia yang menangis tanpa sebab.

__ADS_1


__ADS_2