My Idol My Imam

My Idol My Imam
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Episode 23:


" Aa ngapain pegang-pegang Alina? Lina kan masih ngambek sama Aa." Ucap Alina sambil melepas tangan Li dari pundak nya.


" Ya kan tadi kamu mau-mau saja, kenapa sekarang kamu marah aku pegang? Istri Aa lagi PMS ya? Memang nya salah Aa di mana sih cantik?" Wajah Li tampak memelas, dia tidak tahu lagi bagaimana cara nya membujuk Alina agar tidak marah lagi dengan nya.


Sebenarnya ingin sekali Alina tertawa, bahkan sekarang dia sedang tersipu mendengar Li yang begitu takut dan putus asa karena nya, namun rasa gengsi masih menguasai hati nya. Bagaimana tidak Baper di sanjung idola sendiri secara langsung.


Alina menyembunyikan wajahnya yang merona karena Li. Ia menahan diri agar tidak memeluk Li karena sangking baper nya.


" Nah kan, sekarang tidak mau melihat wajah Aa, memang Aa sejelek itu, sampai-sampai kamu memalingkan wajah begitu?"


" Tidak!" Jawab Alina ketus. Ia lantas berlalu dari hadapan Li dan menuju kamar mereka. Namun Li tak mau menyerah, ia juga membuntuti Alina ke kamar nya.


Setelah sampai di kamar, dan tanpa izin dari Alina, Li langsung mengangkat tubuh Alina ala bridal style. Dia meletakkan nya di atas tempat tidur, dengan posisi tubuh Li di atas Alina. Alina terkesiap, ia merasa sangat gugup jika sudah begini, wajah tampan Li terlihat begitu jelas di depan matanya.


Li membuka cadar Alina dengan perlahan, sedikit pun tidak ada suara di antara mereka, yang ada hanya hembusan nafas mereka yang saling bersahutan, serta detak jantung masing-masing yang berpacu begitu cepat.


Li perlahan mendekatkan wajahnya pada Alina, hingga tersisa jarak beberapa senti di antara mereka. Alina memejamkan matanya kuat-kuat, seakan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.


Bibir mereka sempat bertemu untuk beberapa saat, namun Li mengakhiri nya. Li mengusap bibir Alina yang basah menggunakan jari tangan nya, ia membersihkan sisa jejak perbuatan nya.


" Jika kamu masih marah tanpa sebab, aku akan teruskan ini." Ucap Li sambil mengusap bibir pink alami Alina. Alina tak merespon, ia hanya menatap Li tanpa berkedip sedikitpun, seakan kesadaran nya masih di ambil alih oleh perbuatan yang baru saja di lakukan suami artisnya itu.


" Lagi pula kamu marah karena apa, Apa karena aku terlambat menjemput kamu? Aa rasa itu tidak mungkin, karena setahu Aa kamu tidak semudah itu untuk marah, apa lagi dengan suami mu sendiri." Kini tangan Li beralih membelai wajah cantik Alina.


' Aduh A'! Masa Aa tidak tahu sih kalau Alina sedang cemburu dengan nama yang ada di ponsel Aa. Siapa itu Cassandra A'? Atau Cassandra itu,,,,,,,,??? Hahh!!' Alina tiba-tiba membulatkan matanya seakan mengingat sesuatu.


" Kenapa mata nya seperti mau keluar begitu, Kamu marah Aa bilang begitu?" Tanya Li yang tak mendengar isi hati Alina. Alina dengan cepat menggeleng.


" Kamu mau Aa belikan sesuatu?" Tanya Li dengan topik yang berbeda.


" Atau kita jalan-jalan saja, mau?" Tanya Li memastikan.


" Bo_boleh!" Entah dorongan dari mana, Alina lantas mengiyakan begitu saja ajakan Li.


" Ya sudah, kalau begitu kamu siap-siap dulu, Aa tunggu di luar."


Alina lantas mengangguk dan segera melaksanakan perintah sang suami.

__ADS_1


Setelah selesai berganti baju berwarna marun dengan cadar berwarna hitam, Alina juga membawa tas punggung nya dan setelah itu ia segera menemui Li yang sudah menunggu nya di luar.


" Yuk!" Ajak Alina.


" Masyaallah, istri Aa memang selalu cantik." Puji Li saat melihat penampilan Alina.


Alina sempat tersipu, namun tak lama Alina kembali mengajak Li untuk segera pergi. Tak lupa mereka juga menyempatkan diri untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Aisyah.


" Kita mau ke mana A'?" Tanya Alina saat mereka sedang berada di dalam mobil.


" Kamu mau nya kemana?" Li membalikkan pertanyaan nya.


" Emmmm, makan di pinggir jalan!"


" di pinggir jalan? Memangnya kamu mau makan apa?" Li nampak ragu, pasalnya dia sama sekali tidak pernah makan di pinggir jalan. Bukan apa-apa, ia hanya takut seseorang mengenali nya dan bisa membuat keributan, meskipun biasanya dia sering berbagi kepada anak jalanan, tetapi itu dengan cara menyamar, meskipun begitu masih saja banyak orang yang mengenali nya dan di buat berita oleh mereka.


"Apa saja yang penting halal. Kenapa? Aa keberatan ya Alina ngajak makan di pinggir jalan?" Lo lantas menggeleng dan tersenyum kepada Alina.


" Tidak sayang, Aa senang bisa menemani kamu makan."


" Ya sudah, kita cari makan sekarang?" Alina mengangguk senang.


"Loh A', ini bukan jalan pulang kan? Memang nya kita mau kemana lagi?" Tanya Alina saat mereka sedang berada di dalam mobil.


" Ke suatu tempat, kamu ikut saja, nanti juga kamu akan tahu!" Jawab Li tanpa mengatakan kemana tujuan nya. Alina mengangguk tanpa protes.


Tak lama sampai lah mereka di sebuah butik ternama di kota itu. Li lantas menghentikannya mobil nya tepat di depan butik tersebut.


" Kok kita berhenti di sini?" Tanya Alina heran.


" Udah yuk turun!" Perintah Li. Alina menurut, ia pun segera turun dari mobil.


Li menggenggam tangan Alina untuk ia gandeng, dengan senang hati Alina pun membalas genggaman tangan Li.


" Wah A', ini butik nya besar sekali, terus kita ngapain di sini A'?" Alina terkagum-kagum melihat butik yang begitu besar dan di penuhi dengan pakaian merek ternama.


" Ya mau belanja lah sayang, masa tiduran." Celetuk Li yang membuat Alina menampakkan deretan gigi putih nya yang rapih.


" Nona tolong temani istri saya untuk memilih pakaian!" Perintah Li pada penjaga butik.

__ADS_1


" Baik tuan." Pelayan itu menundukkan kepalanya dengan hormat.


" Memang nya Aa mau kemana?" Tanya Alina.


" Aa mau pergi sebentar, tidak jauh kok, hanya ada yang ingin Aa beli." Ucap Li.


" Ohhh ya sudah tidak apa-apa."


Setelah Li pergi, Alina memilih-milih pakaian yang ada di butik itu. Pelayan juga menunjukkan koleksi pakaian muslimah pada Alina.


Akhirnya Alina tertarik pada sebuah gamis berwarna biru langit yang terlihat simpel namun elegan.


Alina berencana akan memperlihatkan nya kepada Li, dia sangat senang mendapatkan gamis tersebut dan Alina sudah tidak sabar ingin memperlihatkan gamis tersebut kepada Li. Alina pun segera mencari Li di sekitar butik, namun langkah nya terhenti saat melihat Li, yang tidak sendirian. Li nampak sedang bersama dua orang wanita muda dan wanita paruh baya. Alina pikir, mereka mungkin pengunjung butik yang sedang berbicara kepada Li. Dia tidak begitu jelas melihat siapa dua orang yang sedang bersama Li tersebut. Alina lantas melanjutkan langkahnya untuk menemui Li, namun lagi-lagi langkah nya berhenti, senyum senang nya pun memudar seketika saat mendengar percakapan mereka.


" Cassandra, mama! Kenapa kalian ada di sini?" Tanya Li pada dua wanita itu. Alina yang mulai mengerti bahasa China tersebut, pun mendengar percakapan mereka, karena jarak antara Alina dan Li tidak terlalu jauh.


Alina kembali mengingat nama yang tertera di layar ponsel Li tempo hari. Alina sadar, ternyata Cassandra yang di maksud adalah Cassandra si artis terkenal yang kini sedang bersama Li.


" Pertanyaan bodoh macam apa itu? Seharusnya mama yang bertanya kepada kamu, untuk apa kau ada di butik khusus pakaian wanita seperti ini, wanita mana yang ingin kamu berikan hadiah?" Cerah Ying, mama Li. Li hanya menyeringai.


" Untuk apa mama mengetahui nya?"


" Karena aku ibu mu Li, aku berhak tahu semua tentang dirimu, dan apa saja yang kau lakukan." Li kembali menyeringai.


" Oh ya aku lupa, bahwa apa saja yang termasuk tentang diriku, itu harus dengan seizin mu." Ucap Li masih terlihat santai, namun hati nya sudah terbakar oleh emosi.


" Sudah lah Li, jangan membangkang lagi! Pulang lah ke rumah sekarang!" Mohon ibu Li.


" Aku tidak mau jika mama terus memaksakan kehendak mama agar aku menikah dengan dia." Ucapan nya tertuju untuk Cassandra.


Degh


Alina tidak dapat menggambarkan betapa hancur dan terkejutnya dia saat telah mengetahui bahwa Cassandra, artis yang sering memerankan sebuah film romantis bersama dengan suaminya itu, ternyata mereka sudah di jodohkan oleh orang tua Li sendiri.


Alina menutup mulutnya karena syok. Air mata nya luruh sudah tanpa ia minta. Ternyata sedekat itu hubungan antara Li dan Cassandra, bahkan mereka sudah di jodohkan sebelum Li mengenal Alina. Semua pikiran-pikiran negatif berseliweran di kepala nya, ia merasa tidak pantas untuk Li yang notabene nya adalah seorang artis, sedangkan Alina sendiri hanya orang biasa bahkan jauh dari kata sempurna. Sedangkan Cassandra, dia adalah seorang artis sama seperti Li. Bahkan bukan hanya orang tua nya saja yang menjodohkan mereka, tetapi juga para fans mereka.


Tanpa pikir panjang, Alina meletakkan begitu saja gamis yang ia pilih tadi hingga tergelak di lantai.


Alina pun berlari keluar dari butik tersebut tanpa sepengetahuan Li. Alina pergi dengan keadaan hati yang tidak sedang baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2