
Episode 60:
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Li pun segera kembali ke rumah sakit untuk memberikan pesanan sang istri, yaitu rujak buah.
Meskipun tadi sempat kesulitan mencari pedagang rujak buah tersebut, karena memang hari sudah sangat larut dan tak ada lagi yang berjualan tengah malam begini.
Untungnya ada restoran yang masih buka jam segitu meskipun agak jauh tempatnya dari rumah sakit tempat Alina di rawat.
Dan lagi pun mereka tidak menjual menu tersebut di restoran mereka, namun karena Li memohon kepada mereka dan mengatakan bahwa istrinya sangat ingin rujak tersebut, akhirnya mereka pun membuatkan nya dengan bahan dan buah seadanya.
Setelah sampai di rumah sakit, Li segera memberikan rujak buah tersebut kepada Alina. Ia tidak sabar melihat Alina memakannya dengan lahap rujak itu.
Namun lagi-lagi nasib sial menimpanya. Setelah sampai, ternyata Alina sudah tertidur dengan pulas. Mungkin karena terlalu lama menunggu kedatangannya dan akhirnya tertidur.
Dengan berat hati terpaksa Li menaruh boks yang berisi rujak tersebut di atas meja dan gagal untuk melihat Alina memakannya dengan lahap seperti yang ada di bayangannya.
Dengan gontai, Li pun ikut tertidur di samping bunker Alina dengan posisi kepala yang di taruh di atas ranjang.
Saat azan Subuh berkumandang, yang kebetulan dekat dengan rumah sakit tersebut, Li pun terbangun sambil mengusap-usap matanya agar pandangannya lebih jelas.
Ia bangkit dari kursi dan akan segera melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
Tak lama di susul pula dengan Alina yang ikut terbangun karena merasakan ada pergerakan di sampingnya.
" A'!," Panggil Alina.
Li yang tadinya akan masuk ke dalam kamar mandi pun mengurungkan niatnya dan menoleh pada sang istri.
" Iya sayang, kamu mau berwudhu juga?" tanyanya.
" Iya A', Alina mau ikut shalat," ucapnya.
" Ya udah, sini Aa papah." Li pun mendekat pada Alina dan memapahnya menuju ke kamar mandi.
" Ya udah, Aa duluan aja, nanti Lina nyusul," ucapnya setelah selesai berwudhu.
" Yakin tidak apa-apa kalau Aa lepas?"
" Yakin A'. Kalau di papah lagi kan kita jadi batal wudhu nya."
" Ya sudah, kamu saja yang duluan. Aa memantau dari belakang, takutnya jatuh."
Alina pun menurut dan berjalan lebih dulu lalu di susul oleh Li dari belakang.
__ADS_1
Selesai shalat subuh, mereka melanjutkan dengan membaca Al-Qur'an berdua. Li juga belajar melancarkan bacaannya agar lebih fasih dalam melafazkan nya.
" Assalamualaikum," ucap suara dari luar kamar.
Mereka pun menghentikan aktivitasnya dan segera membuka pintu kamar. Dan ternyata itu ada Gadis, Imah dan Jaka.
Ya, memang malam tadi mereka menunggui Alina di rumah sakit, akan tetapi Gadis yang tidak bisa tidur meminta pulang sebelum jam tiga pagi dini hari tadi. Mereka pikir tidak apa-apa meninggalkan Alina, karena di sana juga sudah ada Li.
" Ibu, bapak, Gadis. Ayo masuk! kebetulan Alina sudah bangun sejak tadi," ucap Li.
Mereka tersenyum, lalu segera masuk untuk menemui anak mereka.
" Alina, bagaimana keadaan kamu sekarang, apa lebih baik?" tanya Imah.
" Alhamdulillah, hari ini Lina agak enakan Bu. Lina gak sabar mau cepat pulang," ucapnya.
" Nanti ya, kita tanya dokter dulu," timpal Li. Alina pun mengangguk patuh.
" Bener tuh kata suami kamu Nak. Kamu istirahat saja dulu, jangan mikirin yang lain!" kata Imah lagi.
Di tempat lain, Ying masih terbaring lemah di ranjang rawatnya. Pagi ini, ia terpaksa harus di tinggal oleh suami dan anaknya karena ada urusan penting. Sedangkan Chyou, ada jadwal kuliah pagi ini.
Sepeninggalan anak dan suaminya, tiba-tiba Cassandra datang dengan gaya sombongnya. Duduk di sofa ruang rawat Ying dengan angkuh.
" Menjenguk? siapa yang mau menjenguk Mama? kedatangan ku kesini hanya untuk memastikan bahwa Li sudah mau meninggalkan perempuan kampung itu," ucapnya sambil tersenyum licik.
" Iya sayang, Mama berjanji akan segera memisahkan mereka berdua," kata Ying sambil memegangi dadanya yang mulai terasa sakit.
" JANJI JANJI JANJI terus. Mana buktinya? sampai saat ini Li masih bersama wanita itu, bahkan semakin dekat saja," ucap Cassandra dengan penuh emosi.
" Mama akan berjanji Cassandra, tapi untuk saat ini Mama belum mampu untuk berbuat apa-apa. Karena Mama masih terbaring lemah disini," ucap Ying sambil menahan rasa sakit yang semakin kuat saja.
" Ahhh alasan saja terus. Dasar wanita tua tidak berguna." Setelah mengatakan itu, Cassandra segera pergi meninggalkan kamar rawat Ying tanpa memperdulikan keadaan Ying semakin memburuk.
Untung saja saat itu ada perawat yang masuk untuk memeriksa keadaan Ying. Dan perawat tersebut segera memanggil dokter, hingga nyawanya dapat tertolong dengan cepat.
" Permisi tuan Li, apa tuan Li ada di dalam?" ucap seorang perawat yang mengetuk pintu kamar Alina.
Li yang sedang berkumpul dengan keluarga istrinya tersebut pun segera membuka pintu untuk perawat.
" Ada apa?" tanya Li.
" Ibu anda yang berada di kamar nomor tiga, sekarang keadaannya sedang kritis. Dokter meminta anda untuk ke sana segera!"
__ADS_1
Sontak saja Li langsung terkejut. Dan tanpa jawaban apapun, Li segera berlari ke kamar rawat ibunya dengan perasaan cemas.
Alina dan keluarganya pun mendengar dengan jelas ucapan perawat tadi dan tak kalah khawatir.
" Bu, Lina mau ke kamar Mama Ying sekarang, Lina mau melihat keadaannya," ucap Alina terdengar sangat cemas.
" Iya Nak, ibu juga mau melihat keadaannya. Ayo kita sama-sama ke sana!" ajak Imah yang di angguki oleh semuanya.
" Bagaimana keadaan Mama saya dokter?" tanya Li yang kebetulan baru saja tiba.
" Syukurlah, ibu anda sudah melewati masa kritisnya, dan keadaannya sekarang sudah baik-baik saja."
" Apa boleh saya melihatnya sekarang?"
" Silahkan tuan." Li lantas tersenyum senang, lalu menyalami dokter dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Tak lama setelah itu, Alina dan keluarganya pun menyusul masuk ke dalam ruang rawat Ying.
" Gimana keadaan Mama sekarang A'?" tanya Alina yang ikut berdiri di samping Li. Li menoleh lalu tersenyum kepada Alina.
" Kamu udah kuat tanpa kursi roda ternyata," bukannya menjawab, Li malah membahas hal lain.
" Aa, Lina kan tanya kondisi Mama, kok jawabnya lain sih?" kesal Alina.
" Ya karena kondisi Mama sekarang sudah membaik, sayang."
" Alhamdulillah kalau begitu A', Lina khawatir banget loh tadi."
Tanpa mereka ketahui, Ying sudah bangun dan mendengar percakapan mereka dari tadi. Ia nampak tak suka dengan keberadaan Alina dan keluarganya di kamarnya.
" Eh Mama sudah bangun. Mama buruh sesuatu, atau Mama mau minum?" tanya Alina ketika melihat mertuanya membuka matanya.
Ying tak menjawab, ia malah memalingkan wajahnya ke arah lain dengan angkuh.
" Nak, karena keadaan mertua mu sudah membaik, ibu bapak dan Gadis mau pulang ke rumah ibu Aisyah ya," kata Imah.
" Iya Bu, terimakasih ya ibu udah jenguk Mama."
" Sama-sama Lina. Nyonya Ying kan besan ibu juga, ya harus dong ibu jenguk dia."
" Ya sudah, ibu mau pulang dulu. Jaga kesehatanmu dan calon cucu ibu, sama rawat mertuamu dengan baik ya!" tambah Imah lagi.
Setelah berpamitan, mereka pun pulang ke rumah Aisyah dan meninggalkan Alina, Li dan Ying di sana.
__ADS_1