My Idol My Imam

My Idol My Imam
Paniknya Habibi


__ADS_3

Episode 35:


" Waalaikumsalam dek, kenapa?" Tanya Alina pada Gadis yang ada di seberang telepon.


" Teh, bapak kecelakaan!" Kata Gadis.


" Astaghfirullah! Kok bisa?" Alina terdengar panik.


" Tadi bapak mau beli pupuk ke pasar. Pas mau nyebrang, tiba-tiba ada orang yang bawa motor kenceng banget. Bapak keserempet, dan orang itu lari gitu aja." Cerita Gadis.


" Terus keadaan bapak sekarang gimana? Apa luka bapak parah?" Tanya Alina masih dengan nada panik.


" Alhamdulillah, luka bapak gak terlalu parah, cuma lecet dikit aja. Teteh gak usah khawatir, gak perlu repot-repot pulang juga." Ucap Gadis. Akhirnya Alina bisa bernafas dengan lega."


" Alhamdulillah kalau bapak baik-baik aja. Teteh jadi lega dengernya." Ucap nya.


" Ya udah itu aja teh. Cuma mau ngasih kabar, supaya teteh gak kepikiran."


" Iya, terimakasih ya dek. Jaga bapak dengan baik ya!"


" Siap teh. Kalau gitu, Gadis tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh." Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Alina kembali meletakkan ponselnya di dalam tasnya.


Tiba-tiba saja ia kembali teringat akan ucapan Ying di pusat perbelanjaan tadi. Pikirannya seolah mengait-ngaitkan dengan kejadian bapaknya yang tertabrak lari, dengan ancaman yang di berikan Ying padanya dan keluarganya di kampung.


Lamunannya buyar saat sebuah tangan memegang pundak nya dengan lembut. Alina pun menoleh kepada orang yang telah mengganggu lamunannya.


" Aa!" Ucap Alina.


" Kenapa melamun di luar? Ini sudah mulai sore, nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" Ucap Li menasehati.


" Iya A' maaf. Ini Alina mau masuk." Ucapnya. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam apartemen mereka, karena hari pun sudah mulai sore, dan sebentar lagi akan gelap.


"Sayang!" Panggil Li pada Alina. Merasa dirinya di panggil, Alina pun menoleh.


" Ya A'."


" Tadi yang menelpon kamu siapa?" Tanya Li. Sebab tadi dia sempat melihat istrinya menelpon seseorang, dan wajahnya nampak sangat khawatir. Bukan bermaksud mencurigai, namun ia hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada Alina atau keluarganya.


" Gadis A'." Jawab Alina singkat.


" Memangnya kenapa Gadis menelpon kamu, apa ada hal penting?" Li menaikan sebelah alisnya.


" Tadi Gadis cuma ngasih kabar, katanya bapak kecelakaan. Tapi Alhamdulillah luka nya tidak parah kok. Cuma lecet-lecet sedikit aja." Tutur Alina. Li nampak mengangguk-angguk.


" Alhamdulillah kalau bapak baik-baik saja." Ucap Li. Tiba-tiba Li menangkap ke khawatiran di mata Alina. Ia tahu bahwa istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


" Apa ada yang membuat hati mu janggal?" Tanya Li tiba-tiba. Sontak saja hal itu membuat Alina tercengang.


" Ma_maksud Aa?" Tanya Alina tak mengerti.


" Sepertinya kamu sedang ada masalah. Coba ceritakan pada Aa, apa yang sebenarnya terjadi?" Tebak Li. Tentu saja ucapan Li yang tiba-tiba itu membuatnya merasa tersudut.


" I_ itu A'. E,,,,,,,,, anu." Alina tergagap. Ia bingung harus menjawab bagaimana.


" Katakan saja! Aa janji tidak akan marah." Ucap Li meyakinkan Alina. Ia seakan tahu apa yang di rasakan oleh Alina.


" Janji Aa tidak akan tersinggung nantinya?" Alina memastikan sekali lagi.


" Iya sayang, insyaallah." Ucap Li dengan penuh penekanan.

__ADS_1


" Tadi waktu belanja sama mama Aisyah, kami bertemu dengan mama Ying dan Cassandra di sana." Alina sengaja tidak menggantung ucapannya. Ia masih nampak ragu untuk mengutarakannya pada Li.


" Lalu mereka bilang apa sama kamu, apa mereka menyakiti kamu?" Li nampak khawatir. Ia juga memutar-mutar tubuh Alina untuk memastikan bahwa Alina baik-baik saja.


" Tidak A'. Mereka sama sekali tidak menyakiti Alina, cuma,,,,,, mereka mengatakan sesuatu." Alina kembali menggantung ucapannya.


" Iya, mereka mengatakan apa sama kamu?" Li tak sabar lagi ingin mendengar penjelasan, langsung dari istrinya itu.


" Me_mereka bilang, Alina harus menjauhi Aa secepatnya. Mereka juga mengancam Alina, jika Alina tidak segera menjauhi Aa, maka mereka akan melakukan hal buruk terhadap keluarga Alina." Alina menjelaskan semua yang di katakan oleh Ying tadi, tanpa ada yang di kurangi dan di lebihkan.


" Astaghfirullah halazim mama. Kenapa sampai seperti ini sih." Li menjambak rambutnya frustasi. Ia benar-benar tak habis pikir, ternyata ibunya berani sampai sejauh ini.


" Aa maaf ya. Bukan maksud Alina untuk membuat Aa benci atau bagaimana terhadap orang tua Aa sendiri. Tapi Alina hanya tidak ingin merahasiakan apa-apa dari Aa sebagai suami Alina. Alina gak mau dapat dosa A'." Jelas Alina.


Li mengangkat kepalanya dan menoleh pada Alina, lantas tersenyum.


" Aa mengerti sayang. Aa hanya menyayangkan sikap mama sama kamu, itu saja. Aa usahakan tidak akan membenci mama." Setelah mengatakan itu, Li lantas mengusap pelan pipi Alina yang masih terbalut cadar itu, membuat sang empu tersipu malu karenanya.


Li terdiam sejenak. Setelah itu, tiba-tiba saja Li berdiri dengan rahang yang mengeras karena menahan emosi.


" Aa mau kemana?" Tanya Alina yang juga ikut berdiri mengikuti langkah suaminya.


Langkah Li berhenti. Ia menghadap pada Alina, dan tersenyum lembut padanya.


" Aa cuma mau ngasih peringatan sama mama untuk tidak menggangu kamu lagi. Aa janji, tidak akan berbuat kasar atau membentak mama nanti." Li pun mengacungkan dua jarinya sebagai tanda janjinya kepada Alina.


" Tetap tidak boleh A'!"


" Kenapa sayang?"


" Kalau Aa ke sana dan bilang tentang Alina. Nanti yang ada, mama malah semakin membenci Alina. Alina tidak mau A'."


" Jangan ya A'. Please!!" Mohon Alina dengan sungguh-sungguh.


" Ya sudahlah jika begitu. Aa mengalah saja." Akhirnya Li pun mau mengalah dan menuruti permintaan Alina.


" Tapi jika nanti mama berbuat jahat lagi sama kamu dan keluargamu, bagaimana?"


" Insyaallah tidak. Dan nanti kita cari cara sama-sama ya untuk menghentikan perbuatan mama!" Dan kali ini, Li mengangguk patuh.


Petang berganti malam, malam pun berganti pagi. Seperti biasa, setelah sarapan pagi, Li mengantar Alina ke sekolahnya. Namun yang berbeda ialah, hari ini Li sudah mulai syuting film yang dibintangi oleh dirinya bersama Cassandra.


Setelah sampai di gerbang sekolah, Alina berpamitan kepada Li untuk masuk ke dalam sekolah nya.


Saat akan masuk kelas, Alina berpapasan dengan Cia. Mata Cia nampak sembab, seperti habis menangis.


" Cia, kamu kenapa?" Tanya Alina. Sebagai seorang teman, tentu Alina merasa khawatir terhadap teman sebangkunya itu.


" Kenapa kamu masih menanyakan hal itu? Kau kan tahu sendiri penyebabnya." Jawab Cia yang terdengar agak ketus.


" Cia aku benar-benar minta maaf sama kamu. Bukanya aku tidak mau membebaskan kakak mu itu. Hanya saja, aku tidak bisa membantah kehendak kakak ku yang menginginkan kakak mu di hukum dengan hukuman yang setimpal. Aku bisa apa, karena aku tidak memiliki uang untuk membebaskan kakak mu."


Ya. Alina sengaja menyebut Li sebagai seorang kakak. Hanya sebagai kedok, agar tidak terbongkar.


Flashback satu hari yang lalu.


" Cia, kamu kenapa?" Tanya Alina saat melihat teman sebangku nya itu menangis.


" Cia aku minta maaf!" Isak Cia yang memohon kepada Alina.


" Minta maaf untuk apa?" Alina tak mengerti maksud ucapan Cia.

__ADS_1


" Aku minta maaf karena ternyata kakak ku lah yang telah menculik kamu." Ucap Cia di sela-sela Isak tangisnya. Alina pun ikut duduk di samping Cia, dan tersenyum dengan lembut kepada Cia.


" Tidak apa-apa. Kan kamu tidak salah, jadi tidak perlu minta maaf kepada ku." Ucap Alina dengan lemah lembut.


" Ta_tapi masalahnya, aku tidak bisa hidup tanpa kakak ku. Aku mohon padamu untuk secepatnya membebaskan kakak ku! Demi aku, aku mohon!!" Mohon Cia dengan penuh harap.


" Aku minta maaf Cia. Kakak ku yang melarang ku untuk tidak membebaskan kakak mu itu. Padahal aku sudah mengatakan bahwa kau itu adalah teman ku, namun dia tetap tidak memberi izin pada ku."


" Lalu aku harus bagaimana Alina? Aku mohon padamu, lepaskan kakak ku!"


" Sekali lagi aku minta maaf Cia, aku tidak bisa." Setelah mengatakan demikian, Alina pun terlihat fokus pada pelajarannya tanpa menghiraukan rengekan-rengekan dari Cia yang berada di sampingnya.


Flashback off.


" Tapi aku ini teman mu Alina."


" Aku tahu. Tapi aku tidak punya kuasa."


" Ah sudahlah. Jika memang kau tidak bisa membantu, lebih baik lupakan saja!" Cia lantas berlalu meninggalkan Alina yang masih terdiam di tempatnya.


Karena masih ada waktu setengah jam lagi untuk memulai pelajaran. Alina pun memutuskan untuk pergi ke toilet. Ia hanya ingin membasuh wajah nya dengan air, agar lebih rileks.


Karena letak toilet berada di lantai bawah, Alina pun terpaksa menuruni anak tangga terlebih dahulu.


Namun saat menuruninya, tiba-tiba dua orang siswi yang sedang bersenda gurau, tak sengaja menyenggol tubuh Alina hingga ia terjatuh dan terguling ke bawah.


" Astaghfirullah halazim. Ya Allah, sakit sekali akhhh,,,,,,,!" Alina memegangi perutnya yang terasa amat sangat sakit.


Karena kejadian itu, semua orang termasuk dua siswi yang tidak sengaja menyenggol Alina tersebut, pun menghampiri Alina yang tergeletak di lantai sambil memegangi perutnya.


" Ada apa ini? Kenapa dia bisa jatuh?" Tanya seorang guru kepada para muridnya.


" Maaf sir, kami tidak sengaja menyenggol nya, sehingga membuatnya terjatuh." Akui kedua siswi tersebut.


" Ya sudah. Kalian tolong bawa dia ke UKS!" Perintah guru tersebut.


" Tunggu!! Ada apa ini sir?" Tanya Habibi yang baru saja tiba.


" Astaghfirullah halazim Alina! Apa yang terjadi pada Alina sir?" Tanya Habibi dengan nada panik.


" Mereka tidak sengaja mendorong nya." Jelas guru tersebut.


" Lebih baik sekarang bawa dia ke UKS!" Perintah guru itu lagi.


" Kalau saya boleh usul. Lebih baik Alina di bawa ke rumah sakit saja langsung! Sepertinya dia terluka sangat parah sir." Usul Habibi.


" Ide yang sangat bagus. Ayo kalian semua angkat dia ke dalam mobil saya!" Perintah guru tersebut kepada semua muridnya.


" Tunggu dulu sir!" Ucap Habibi. Para siswa laki-laki yang tadinya ingin membopong Alina pun menghentikan gerakannya.


" Ada apa lagi Habibi?" Tanya guru itu.


" Saya minta, yang mengangkat tubuh Alina hanya wanita saja!" Ucap Habibi. Guru tersebut pun paham. Dia mengangguk dan kembali memerintahkan kepada murid perempuan nya untuk membantu membopong tubuh Alina.


Alina di pangku oleh seorang murid perempuan di kursi belakang, sedangkan Habibi dan guru tadi yang berada di depan.


" Ya Allah. Astaghfirullah. Laila haillallah,,,,!" Alina tak henti-hentinya melafazkan kalimat-kalimat Allah, agar rasa sakitnya bisa berkurang.


" Ya Allah, Aa sakittt,,,,,,,." Ucapnya tanpa sadar. Hal itu membuat Habibi menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Alina.


" Ya Allah Alina, darah!!" Habibi terkejut saat melihat kaki dan rok yang di gunakan Alina berlumuran darah. Ia lantas panik dan meminta gurunya tersebut untuk lebih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Harapannya agar mereka cepat sampai, dan Alina bisa cepat di tangani.

__ADS_1


__ADS_2