My Idol My Imam

My Idol My Imam
Tanda-tanda Pada Aisyah


__ADS_3

Episode 40:


Setelah belajar, Alina berniat untuk kembali ke kamar Aisyah. Alina pun melirik kearah suaminya yang nampaknya sudah tertidur pulas di ranjangnya.


Alina pun menghampiri Li dan duduk di sampingnya.


Cup


Satu kecupan pun ia sematkan di kening Li.


" A' Lina izin ke kamar Mama ya. Mimpi yang indah my husband!" Ucap Alina. Tak lupa ia juga membenarkan letak selimut Li yang agak tak beraturan.


Setelah selesai, Alina pun kembali ke kamar Aisyah. Namun sebelum ke sana, tak lupa ia juga membuatkan susu untuk Aisyah.


" Assalamualaikum Ma," ucapnya sambil mendorong pintu yang tidak di kunci itu.


" Waalaikumsalam." Aisyah yang semula rebahan, setelah mendengar suara Alina, ia langsung berdiri dan menyambut Alina dengan sangat senang.


" Sini Nak!" Ucapnya sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya.


" Kok lama sekali ngambil sesuatu nya?" Tanya Aisyah saat mereka sudah duduk di tepian tempat tidur.


" Eee itu Ma, tadi Alina sholat dulu," ujarnya. Alina tidak berbohong, tadi sewaktu Alina ke kamarnya, kebetulan waktu isya telah sampai, jadi ia dan Li pun melaksanakan shalat terlebih dahulu.


" Oh iya," ucapnya. Dan untungnya Aisyah tidak bertanya lebih lanjut. Bukan apa-apa, hanya saja jika Alina mengatakan bahwa ia sedang bersama Li, Alina hanya takut Aisyah akan marah dan kembali mengamuk.


" Ma sudah sholat?" Tanya Alina.


" Alhamdulillah sudah, sudah berwudhu juga tadi," ucapnya.


" Oh, Alhamdulillah kalau begitu. Kalau begitu, Alina mau berwudhu dulu ya Ma." Aisyah mengangguk. Alina segera ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum ia tidur.


Perlu diketahui, salah satu keutamaan berwudhu sebelum tidur adalah orang yang berwudhu sebelum tidur maka malaikat menemaninya dan mendoakan agar dosa hamba tersebut mendapat ampunan dari Allah SWT. Selain itu, berwudhu sebelum tidur bisa mengatasi insomnia serta membuat otak lebih rileks dan pikiran pun menjadi lebih nyaman.


Selesai berwudhu, Alina kembali menemui Aisyah yang nampaknya sudah berbaring, namun belum bisa tidur.


Ia nampak begitu gelisah dan berguling kesana-kemari, entah apa yang membuatnya gelisah seperti itu.


Alina pun menghampirinya dan menyentuh pundak Aisyah. Aisyah yang menyadari ada pergerakan di sampingnya pun menoleh.


" Mama kok belum tidur?" Tanya Alina.


" Tidak tahu, Mama sangat gelisah. Sepertinya Mama butuh sesuatu yang bisa membuat Mama tenang," ucapnya.


Alina pun ingin akan sesuatu yang sepertinya hampir ia lupakan. Ia lantas mengambil segelas susu yang tadi ia bawa dari dapur dan memberikannya kepada Aisyah.


" Tadi Alina bikinin buat Mama, tapi baru ingat sekarang. Nih di minum dulu susunya Ma, siapa tahu bisa membuat Mama lebih rileks." Aisyah pun menerima susu tersebut, lantas meminumnya hingga tandas.


" Alhamdulillah," ucap Alina.

__ADS_1


" Terimakasih ya sayang," ucapnya sambil memberikan gelas kosong tersebut kepada Alina. Alina menerimanya dan meletakkannya kembali di atas nakas.


" Sekarang Mama tidur ya!" Ucapnya lagi. Aisyah pun menurut, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Boleh Mama minta sesuatu?" Tanya Aisyah.


" Apa itu Ma?"


" Tolong lantunkan shalawat untuk Mama. Mama ingin sekali mendengarkan kamu bersholawat!"


" Boleh Ma. Tapi maaf sebelumnya, suara Lina tidak seindah pelantun aslinya," ucapnya. Aisyah lantas tersenyum.


" Tidak apa-apa, namanya juga bukan penyanyi," tuturnya.


"Ya sudah, kalau begitu Lina bersholawat ya, tapi Mama harus cepat tidur!" Aisyah pun lantas mengangguk dan mulai memejamkan matanya.


(Waqtu sahar bih yatiib


Alhal lahlisshofa


Wabiyajudil ali


Bil fadliahlilwafaa


Telah lahir cahaya penerangan jiwa


Manusia mulia penyejuk jiwa


Telah lahir cahaya penerangan jiwa


Manusia mulia penyejuk jiwa


Matahari berseri


Datang pujaan hati


Sebagai obat diri


Sebagai obat diri


Malaikat memuji bidadari berseri


Menyambut sang nabi dari allahu rabbi.


Malaikat memuji bidadari berseri


Menyambut sang nabi dari allahu rabbi.


Hancurlah berhala

__ADS_1


Terkunci neraka


Sambutan yang esa


Untuk umat manusia


Untuk umat manusia )


Dan benar saja, setelah Alina melantunkan beberapa bait sholawat, Aisyah pun tertidur dengan pulas. Alina tersenyum, ia pun segera menyusul Aisyah ke alam mimpi.


Seperti pagi-pagi sebelumnya. Setelah shalat subuh, Alina kembali berkutat di dapur. Sedangkan Aisyah kembali tertidur setelah melaksanakan shalat subuh tadi. Alina tak ingin mengganggu orang tua angkatnya itu, ia memaklumi kondisi Aisyah yang sekarang. Melihat Aisyah tenang dan nyaman saja sudah membuat Alina senang.


Memang akhir-akhir ini sifat Aisyah berbeda dari biasanya. Ia lebih banyak termenung dan menyendiri di kamarnya. Jika ada orang lain selain Alina yang mendekatinya, maka dia akan mengamuk dan melemparkan barang-barang yang ada di dekatnya pada orang tersebut.


Li menghampiri Alina yang sedang memasak di dapur, dan langsung memeluknya dari belakang. Ia sama sekali tak perduli ada beberapa orang asisten rumah tangga yang melihat tingkahnya. Sudah semalaman ia menahan diri untuk tidak memeluk Alina dan menghirup aroma tubuh istrinya itu.


Li terbiasa seperti itu. Jika sehari saja ia tidak berdekatan dengan istrinya itu, meski hanya sekedar memeluk saja, maka kegelisahan akan selalu melanda dirinya. Mungkin terdengar lebay memang, tapi itulah kenyataannya.


" Assalamualaikum, selamat pagi ya zawjati," ucap Li. Alina yang mendapat pelukan secara tiba-tiba pun terjingkat kaget.


" Astaghfirullah halazim Aa. Lepas ih, malu tau," ucapnya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Li.


" Tidak mau ah," tolak Li, dia pun semakin mempererat pelukannya pada Alina.


" Lepas atuh A', Lina jadi sudah bergerak ini," ucapnya masih berusaha melepaskan diri.


" Gak mau," ucap Li pula yang masih Keukeh.


" Tidak apa-apa Nona, biar kami saja yang menyelesaikannya," ucap salah satu ART.


" Tuh kan," ucap Li. Alina lantas menatap tajam ke arah Li.


" Ya sudah, tersebut terimakasih ya Bu." Dan akhirnya Alina terpaksa mengalah. Mereka pun duduk santai sambil menunggu Aisyah untuk sarapan bersama.


Dan tak lama kemudian Aisyah keluar dari kamarnya. Namun langkahnya berhenti seketika melihat Li yang duduk berdampingan dengan Alina, bahkan sesekali mereka terlihat mesra. Tatapan tajamnya mengarah pada Li.


Dengan langkah cepat, Aisyah menghampiri mereka dan langsung menarik Alina untuk mendekat padanya.


Dan tentu saja hal itu membuat keduanya terkejut.


" Mama. Ada Ma?" Tanya Alina.


" Kamu kenapa dekat-dekat dengan dia, dia itu benci sama kita. Semua orang benci sama kita," racau Aisyah. Li dan Alina semakin kebingungan dengan sifat Aisyah yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.


Dengan penuh kelembutan, Alina memegang kedua pundak Aisyah.


" Mama kenapa tiba-tiba bilang Aa Li membenci kita. Dia kan suami Alina Ma, mana mungkin Aa benci sama kita," ucap Alina dengan penuh kelembutan. Ia mencoba memberikan pengertian kepada Aisyah.


" Tidak sayang. Kamu jangan mudah percaya sama semua orang. Semua orang itu benci sama kita, mereka benci sama Mama." Tiba-tiba saja Aisyah kembali menangis histeris seperti yang terjadi tadi malam. Tubuhnya luruh kebawah. Ia histeris bak anak kecil yang ingin sesuatu.

__ADS_1


Alina dan Li saling pandang. Sekarang mereka mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada Aisyah.


__ADS_2