
Episode 6:
Alina menyelip diantara kerumunan warga yang sedang berada di depan rumah nya, ia juga melihat Gadis yang sedang menangis sesenggukan di antara pak RT dan Dewi. Hal itu semakin membuat nya bertanya-tanya.
" Nah ini dia nih orang nya." Ucap salah satu warga saat Alina sudah berada di teras rumah nya, yang di sana juga ada pak RT, Dewi dan Gadis.
" Ini ada apa sebenarnya?" Tanya Alina. Tiba-tiba saja Gadis menghambur memeluk Alina sambil menangis tersedu-sedu.
" Maaf neng Alina, bapak sudah mencoba mencegah mereka agar tidak membuat keributan di rumah kamu, tapi mereka tidak mau mendengar kan saya." Keluh pak RT. Alina tersenyum lalu mengangguk.
" Pak RT! Kita tidak akan ke sini ramai-ramai, kalau tidak ada tujuan, betul tidak?" Sanggah wanita paruh baya yang berbadan gemuk.
" Betul, betul!!!" Sahut warga lainnya serempak.
" Ini sebenarnya ada apa pak RT? Tolong jelaskan kepada saya!" Pinta Alina sambil menenangkan adik nya yang masih menangis di dalam pelukannya.
" Begini neng Alina, sebelumnya bapak minta maaf, bukan bermaksud menuduh kamu tapi bapak selaku ketua RT di kampung ini, ingin menanyakan, apa kah benar neng Alina sudah melakukan zina?" Tentu saja hal itu membuat Alina terkejut sekaligus tersinggung dengan tuduhan yang tidak ia perbuat.
" Atas dasar apa mereka menanyakan hal itu?" Tanya Alina masih berusaha tenang.
" Karena bukti-bukti yang di dapat neng Dewi dari salah satu warga yang mengabadikan foto kamu dan Dian yang sedang berbuat mesum di sawah." Jawab pak RT sambil memberikan beberapa foto itu kepada Alina. Alina terkejut saat melihat foto dirinya dan Dian yang terlihat seperti orang yang sedang bermesraan, bahkan di sana tidak nampak sama sekali bahwa dirinya adalah korban. Benar-benar sangat ahli orang yang membidik foto itu.
Satu fakta lagi yang membuat nya terkejut. Alina memang mengakui kejadian tadi saat dirinya dan Dian sedang berada di sawah, namun tidak begitu kejadian yang sebenarnya, dan siapa orang yang tega memfitnah nya dengan cara mengabadikan foto dirinya, dan orang itu sama sekali tidak menolong nya waktu itu.
Sungguh, Alina saat ini ingin rasanya menjerit sekencang kencangnya untuk meluapkan kekesalan atas semua masalah yang menimpanya secara bertubi-tubi.
Alina lantas menoleh ke arah Dewi dengan tatapan menyelidik.
" Teh Dewi dapat dari siapa foto ini? Kenapa teh Dewi malah ikut ikutan seolah nuduh Lina, bukannya lindungin Lina?" Tanya Alina dengan mata berkaca-kaca, dia menatap nyalang ke arah Dewi yang terlihat memalingkan wajahnya seolah acuh.
__ADS_1
" Maaf Lina, kali ini teteh gak bisa menutupi kesalahan yang kamu perbuat, kamu sudah mengotori kampung ini dengan perbuatan kamu itu." Ucap Dewi masih dengan gaya acuh nya.
" Teteh harus mengungkapkan kebenaran dan melindungi kampung ini, meski yang melakukan kesalahan itu, orang yang teteh sayang." Mata nya mulai berkaca-kaca, ia seolah tak sanggup bertatap mata dengan Alina dan memilih memalingkan wajahnya. Entah itu sebuah penyesalan atau sebuah sandiwara yang sedang ia perankan. Yang jelas, Alina benar benar tak habis pikir, mengapa Dewi tega mengatakan itu pada warga.
" Teteh tau Alina orang nya gimana kan? Lina gak mungkin ngelakuin hal serendah itu, itu cuma fitnah." Tutur Alina menatap sendu ke arah Dewi.
" Saya berani bersumpah, bahwa saya tidak pernah melakukan apa yang kalian tuduhkan kepada saya." Kini Alina mengatakan kepada semua warga yang sedang berkumpul di depan rumah nya itu.
" Alah,,,,,, Mana ada maling yang mau ngaku, kalau ngaku penjara penuh, betul gak ibu ibu bapak bapak?" Timpal ibu ibu yang bisa di bilang ratu gosip di kampung itu.
" Betul, betul!!!" Ucap semua warga membenarkan.
" Udah pak RT, usir saja mereka dari kampung kita! ngotor ngotorin kampung kita aja." Tambah seorang bapak bapak.
" Malu tuh sama hijab." Tambah seorang ibu ibu.
Sedangkan pak RT dan Dewi segera menjauh dari sana sambil berusaha untuk menenangkan warga nya.
Namun tak lama, beberapa warga datang sambil menarik paksa Dian yang terlihat tidak memberontak sama sekali. Di sana Alina juga melihat bapak dan ibu nya yang sedang menuju ke arah nya, Imah terlihat menangis dengan di rangkul Jaka.
Dan saat itu pula, para warga pun berhenti menghakimi mereka dan menghentikan aksi nya.
Imah dan Jaka segera menghampiri kedua putri mereka dan memeluk kedua dengan tangis yang pecah di antara mereka. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan.
" CUKUP, CUKUP!! Apa yang kalian lakukan pada putri putri ku? Kalian KETERLALUAN!!!" Teriak Jaka geram.
" Kamu sebaiknya jangan menutupi kesalahan putri mu Jaka! Itu sama saja kamu membenarkan apa yang dia perbuat." Ucap salah satu warga.
" Betul, kamu sebagai orang tua, harus bertindak tegas, usir saja dia Jaka!" Timpal yang lain.
__ADS_1
" Iya usir saja!!" Ucap semua warga.
" CUKUP!! Saya bilang berhenti kalian!!" Tegas pak RT menengahi. Mereka pun seketika terdiam.
" Kalian tidak boleh main hakim sendiri, ini bisa di bicarakan baik baik, kita musyawarah kan ini di kantor desa!"
Mereka pun mengangguk setuju dan segera membubarkan diri. Dan kini Alina dan keluarga nya serta Dian di bawa ke kantor desa. Dewi dan seorang pria yang menjadi saksi atas kejadian itu pun juga ikut serta.
Setelah sampai di sana, Alina juga melihat kedatangan juragan Bagio dan Andy yang terlihat sangat marah. Mereka sudah mengetahui kejadian itu melalui seorang warga yang ikut serta ke rumah Alina tadi.
Juragan Bagio langsung berdiri dan menghampiri Alina dengan tatapan tajam nya.
Plakkk
" Benar benar memalukan!" Bentak juragan Bagio. Alina memegangi pipinya yang memerah karena tamparan keras dari juragan Bagio, ia hanya diam tanpa berniat membela diri atau pun protes.
" Juragan, saya mohon percaya pada saya! Anak saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan." Bela Jaka. Sedangkan Alina masih tetap diam tanpa ekspresi. Imah dan Gadis memeluk Alina sambil menangis.
" Sudah lah Jaka, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi kepada saya, lagi pula anak saya sudah tidak berminat dengan anak mu yang sok alim ini." Cibir juragan Bagio.
" Ck ck ck. Luaran nya saja alim, berhijab, tapi ternyata sudah basi." Ucap nya dengan tersenyum mengejek.
" Ya sudah lah pak RT, saya sudah tidak ada urusan lagi dengan keluarga sampah ini, anak saya dan wanita ini sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi terserah kalian mau kalian apakan dia." Ucap juragan Bagio menunjuk Alina. Ia dan putranya lantas pergi meninggalkan kantor desa tersebut.
" Jadi dengan semua bukti bukti yang mengarah jelas kepada Alina dan Dian, saya menyatakan bahwa mereka terbukti bersalah dan harus segera di nikahkan!" Ucap pak RT telak.
Alina melotot tajam mendengar keputusan dari pak RT. Jelas dia merasa keberatan dengan sangsi yang di jatuhkan pada nya itu. Yang benar saja, dia harus menerima hukuman tanpa kesalahan yang ia perbuat. Dan harus menikah dengan orang yang sudah membuat nya di fitnah sekeji ini.
Mungkin dia pasrah harus menerima perjodohan nya dengan Andy yang syukur nya tidak jadi, itu pun karena bakti nya kepada orang tua nya. Tapi untuk menikah dengan Dian,,,,,? Tentu saja dia harus menolak dengan tegas, karena bagaimanapun dia tidak salah dalam hal ini, dia hanya lah seorang korban yang seharusnya di lindungi, bukan malah menjadi umpan buaya.
__ADS_1