My Idol My Imam

My Idol My Imam
Rencana Ying Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Episode 45:


Setelah selesai makan, Habibi pun berpamitan untuk pulang kepada Alina dan Li.


Begitu juga dengan Alina dan Li. Setelah makan, mereka melakukan shalat tahajud dan di susul dengan shalat subuh berjamaah.


Kebetulan belum ada tanda-tanda Aisyah akan bangun subuh itu, sehingga Li lebih tenang untuk melakukan ibadah bersama Alina.


" Sayang, mungkin Aa akan langsung ke lokasi syuting pagi ini," ucap Li sembari membenahi pakaian casual yang ia pakai.


" Pagi-pagi sekali?" Tanya Alina yang saat ini sedang melipat pakaian.


" Hee'm," jawab Li sambil mengangguk.


" Lagi pula jika Aa pergi siang, keduluan Mama Aisyah bangun. Aa tidak mau kejadian tadi malam terulang kembali," ucap Li yang tiba-tiba sedih.


Melihat kesedihan di wajah suaminya, Alina menghentikan aktivitas melipat pakaian, dia lantas mendekati sang suami dan memeluknya dari belakang.


" Maaf," ucapnya.


" Untuk?"


" Karena Mama, Aa jadi sedih dan susah seperti ini."


Li mengubah posisinya dan membalikkan tubuh Alina untuk saling berhadapan, lalu memeluk erat tubuh Alina.


" Bukan karena Mama, tapi karena takdir yang harus Aa lewati," jawab Li sambil menoel hidung Alina.


" Maka dari itu apapun yang terjadi, kamu jangan tinggalkan Aa ya, karena Aa tidak bisa melewati ujian ini sendirian tanpa kamu," lanjutnya.


Alina menatap Li dengan sendu. Sungguh kata-kata yang Li ucapkan membuatnya terharu dan baper.


Alina hanya bisa mengangguk dengan mata yang mulai berembun.


" Sini Aa peluk!" Ucapnya sambil menuntun kepala Alina agar bersandar di dada bidangnya. Tentu dengan senang hati Alina pun menurut, dan membenamkan wajahnya di dada suaminya itu.


Namun tak lama Alina teringat akan sesuatu yang membuatnya langsung menegakkan kepalanya dan mendongak untuk menatap Li.


" Oh iya A, besok kan acara wisudanya Alina, Aa jangan lupa datang ya besok!" Ucap Alina dengan antusias.


" Pasti datang sayang. Lagipula mana mungkin Aa bisa lupa tentang apa saja yang kamu lakukan," jawabnya terdengar sedikit gombal, namun sama sekali Li tidak sedang menggombal, alias reel.


" Emmmm bisa aja si oppa," ledek Alina.


" Kenapa oppa, Aa kan bukan orang Korea. Harusnya di panggil Bao Bao dong," ucap Li berpura-pura tak terima.


Sebenarnya mau di panggil Bao Bao atau oppa sama saja, karena Li juga ada keturunan Korea dari sebelah ayahnya.

__ADS_1


" Iya deh terserah apa saja, yang penting bagi Alina, panggilannya tetap Aa," ucapnya sambil tersenyum puas.


" Dasar ya," kata Li dengan mencubit hidung Alina yang tertutup niqab itu.


Dengan wajah cemberut Alina mengusap hidungnya yang terasa sakit akibat ulah Li.


" Ya sudah, Aa mau berangkat kerja dulu sebelum Mama Aisyah terbangun," ucap Li yang menyudahi kebersamaan mereka.


" Iya, Aa hati-hati ya, jangan tergoda sama Cassandra di sana!" Katanya, masih dengan wajah cemberutnya.


" Iya sayang. Hati ini sudah terkunci kok, dan kuncinya kamu yang pegang," kata Li sambil mengekspresikan kan menggunakan tangannya.


" Ayo senyum! Masak suami berangkat kerja di suguhkan dengan wajah yang masam ini. Ayo tersenyum supaya lebih cantik lagi!" Ucap Li dengan kedipan matanya.


Mau tak mau Alina pun tersenyum, meskipun awalnya terpaksa karena masih merasa dongkol, namun lama kelamaan akhirnya luluh juga. Mana bisa Alina kesal terlalu lama terhadap suami sekaligus idola tampan nya tersebut.


" Nah gitu kan lebih cantik," ucap Li lagi, dan itu semakin membuat hati Alina merekah bak musim semi.


" Ya sudah ya, Aa berangkat dulu."


Alina pun mengangguk dan meraih tangan Li untuk ia cium.


" Assalamualaikum, baik-baik di rumah ya zawjati!"


Tak lupa Li juga mengecup kening Alina dengan penuh rasa sayang.


" Iya sayang, pasti. Ya sudah, Aa berangkat ya."


Tak lama setelah mengatakan itu, Li pun segera berangkat. Tak lupa Alina juga mengantarkan Li hingga di luar gerbang, dan menunggu hingga mobil Li tak nampak lagi dari pandangannya.


Di tempat lain, seorang wanita paruh baya sedang mondar-mandir di lokasi syuting seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


Tak lama sebuah mobil Lamborghini Gallardo berhenti tepat di depan halaman gedung, dan tak lain pemilik mobil mewah tersebut adalah Li.


" Li akhirnya kau sampai juga," ucap wanita paruh baya tersebut sambil menghampiri Li yang baru turun dari mobilnya.


" Mama! Ada keperluan apa Mama ke sini?" Tanyanya sedikit terkejut dengan kedatangan Ying ke lokasi syutingnya.


Li tak bermaksud tak menyukai kedatangan sang Mama, hanya saja tak biasanya Ying datang langsung ke lokasi syuting untuk menemuinya. Biasanya dia akan menelpon dan meminta Li untuk pulang, namun kali ini Ying lah yang datang sendiri.


" Kenapa, kau tidak suka dengan kedatangan ku?" Tanya Ying sedikit tersinggung.


" Bu_bukan begitu maksud ku Ma, aku hanya tidak menyangka saja Mama yang datang langsung ke sini, biasanya kan selalu menghubungi ku dulu."


" Mama ada perlu dengan mu, ini sangat penting," ucapnya dengan nada datar.


" Tentang apa Ma?"

__ADS_1


Kening Li berkerut heran, tak biasanya ibunya itu mendesaknya seperti itu jika sesuatu hal tersebut tidak terlalu penting baginya.


" Nanti mama ceritakan, sekarang lebih baik kamu ikut Mama!" Kata Ying sambil mencoba menarik tangan Li untuk ikut bersamanya.


Namun tenaga Ying tak mampu menyeret Li yang bertenaga lebih darinya.


" Tidak bisa begitu Ma, aku masih ada jadwal syuting, bahkan aku baru saja sampai," tolak Li dengan cara yang sedikit halus.


" Sudah, tadi Mama sudah meminta izin kepada sutradara mu untuk membawa mu sebentar," jawab Ying.


Mau tak mau, Li terpaksa mengikuti kemana Mama nya akan membawa dirinya tersebut.


Tak berselang lama, mereka pun telah sampai di sebuah cafe dekat dengan lokasi syuting.


Ying pun langsung memesan dua gelas minuman kepada seorang waiters.


" Ma, minumannya satu saja, buat mama saja," tolak Li.


Pelayan yang hendak mengambilkan minuman pun mengurungkan niatnya demi mendengar ucapan Li.


" Loh kenapa? Ini hanya minuman jus saja kok, bukan alkohol."


Ying tahu akhir-akhir ini Li selalu menolak jika di berikan alkohol.


" Tidak apa-apa Ma, hanya tidak ingin minum saja," jawabnya yang sebenarnya sedang menutupi bahwa dirinya sedang berpuasa.


Jika ia mengatakan yang sebenarnya pada Ying, maka pasti Ying tidak akan terima.


" Baiklah terserah mu saja." Dan akhirnya Ying pun tak mempermasalahkan nya.


" Minumannya satu saja!" Ucap Ying pada seorang pelayan cafe yang masih setia menunggu keputusan pelanggannya.


" Baik Nyonya, silahkan tunggu sebentar!"


Pelayan tersebut segera kebelakang untuk membawakan minuman yang di pesan oleh Ying .


" Jadi maksud Mama membawaku ke sini untuk apa?" Tanya Li langsung pada pertanyaan inti.


" Secepatnya Mama ingin menikahkan mu dengan Cassandra," jawab Ying.


" APA?!"


Sedangkan di tempat lain, Alina yang sedang beberes rumah pun tak sengaja menyenggol Gucci antik milik Aisyah. Ia pun langsung panik dan bingung. Seolah kontak batin, entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi gelisah dan akhirnya tidak sengaja menyenggol Gucci milik Aisyah.


" Ada apa Nak?" Tanya Aisyah yang baru keluar dari kamarnya karena terganggu dengan suara pecahan Gucci tersebut.


" I_ini Ma, Alina minta maaf," ucap Alina sambil menahan tangisannya.

__ADS_1


Aisyah pun melihat apa yang di tunjukkan oleh Alina. Dan jujur ia terkejut karena melihat Gucci kesayangannya telah hancur berkeping-keping. Namun ia tidak mempermasalahkannya.


__ADS_2