
Episode 21:
Alina menjauh dari pandangan mereka. Li pun menatap Habibi dengan tatapan tajam, meski tak terlihat oleh Habibi karena tertutup kacamata hitam.
Li dan Habibi masih saling pandang dengan pikiran mereka masing-masing.
" Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Habibi memecah keheningan.
Li tak menjawab maupun bersuara sedikit pun, ia hanya mengangguk acuh kepada Habibi.
Setelah kepergian Habibi, ponsel Li kembali berbunyi.
Kali ini Li mengangkat panggilan dengan nomor yang sama sebelumnya itu.
" Iya kenapa?" Tanya Li to the poin, dan dengan suara kasar.
" Iya, saya ke sana sekarang." Li lantas mematikan panggilan nya secara sepihak. Ia lantas masuk ke dalam mobil nya dan pergi ke tempat yang di beritahukan si penelpon.
Di sisi lain. Setelah usai pelajaran pertama, Alina istirahat. Ia memilih pergi ke kantin sekolah untuk mengisi perut nya yang tiba-tiba kembali lapar, padahal tadi pagi ia sudah sarapan. Mungkin karena mood Alina sedang kurang baik, jadi dia lebih gampang kelaparan.
" Assalamualaikum Alina. Sendiri aja, boleh kakak duduk di sini?" Tanya Habibi yang juga membawa semangkuk mie dan air mineral nya, ia meminta izin untuk bergabung bersama Alina di tempat duduk yang sama, meski jarak mereka lumayan jauh, karena Habibi tahu batasan dirinya dan Alina sebagai sesama muslim.
" Eh kak Habibi, boleh kak silahkan!" Alina tak merasa keberatan, asalkan masih dalam batas wajar. Habibi lantas duduk dan melahap mie pesanan nya.
Habibi adalah anak IPS kelas A yang juga bersekolah di tempat Alina bersekolah. Ia lebih tua satu tahun dari Alina, meskipun mereka sekelas namun beda jurusan. Habibi asli kelahiran China, namun ibunya berasal dari negara yang sama dengan Alina. Habibi dan Alina memiliki keyakinan yang sama, bahkan kakek nya dari sebelah ibunya adalah seorang kiyai sekaligus pemilik pesantren terbesar di Jakarta, hingga sedikit-sedikit Habibi juga paham tentang ajaran Islam.
" Alina! Boleh gabung di sini?" Cia teman sebangku Alina tiba-tiba muncul dan bergabung bersama Alina dan Habibi. Alina tersenyum lalu mengangguk.
" Boleh Ci."
" Eh Lina, aku mau bertanya. Aku tadi melihat kamu di antar oleh seorang pria, siapa dia? Kenapa seperti nya gaya berjalannya dan postur tubuhnya, seperti tidak asing."
" Uhuk,,,,,,uhuk,,,,,,!" Mendengar apa yang di katakan Cia tadi, Alina jadi tersedak saat hendak minum. Habibi dengan sigap memberikan tisu kepada Alina.
" Terimakasih kak!" Ucap Alina. Habibi membalas nya dengan anggukan dan tersenyum kepada Alina.
" Wah, so sweet sekali." Puji Cia saat melihat adegan Habibi yang memberikan tisu pada Alina, padahal hal itu biasa saja bagi Alina yang tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Habibi. Lain halnya dengan Habibi yang memiliki perasaan khusus kepada Alina, ia jadi salah tingkah, pipinya nya bersemu merah saat Cia dengan sengaja menggoda nya.
" Kalian sangat cocok. Kenapa kalian tidak pacaran saja? Jika sudah sama-sama lulus, baru menikah." Ucap Cia dengan enteng nya, bahkan dia juga melupakan pertandingan awal nya.
__ADS_1
Mata Alina membulat saat mendengar usulan Cia yang tentu tidak masuk akal menurut nya. Bagaimana mungkin dia memiliki hubungan dengan pria lain, sementara dia sendiri sudah menikah.
Habibi sempat tersipu dengan ucapan Cia, namun ia ingat yang di katakan kakek nya.
" Tidak semudah itu Cia. Di dalam keyakinan kami, tidak di benarkan seorang muslim atau muslimah mengikat hubungan mereka dengan kata pacaran, karena di dalam agama kami kata pacaran itu tidak ada, yang ada itu ta'aruf." Jelas Habibi dengan bijak.
" Bukankah itu sama saja? Memang apa bedanya pacaran dengan ta'aruf? Bukankah sama-sama hubungan antara pria dan wanita?" Tanya Cia ingin tau. Habibi tersenyum lalu menjawab.
" Ta’aruf merupakan proses perkenalan antara laki–laki dan perempuan untuk menuju pernikahan. Sedangkan, pacaran yaitu perkenalan antara laki–laki dan perempuan yang hanya didasari kesenangan duniawi saja, yang belum tentu menuju pernikahan." Jelas Habibi. Cia lantas mengangguk paham dengan penjelasan yang di berikan Habibi.
" Kalau begitu, apa salahnya jika kalian ta'aruf saja, saling mengenal dulu, siapa tahu cocok." Kata Cia lagi.
" Kita kan masih sama-sama sekolah, saya tidak mau ta'aruf ujung-ujungnya menjadi fitnah karena terlalu lama. Apa lagi aku dan Alina satu sekolah, sama saja mereka mengira kami pacaran kalau begitu, Benar kan Alina?" Habibi meminta dukungan dari Alina untuk menjawab. Alina yang sedari tadi hanya menyimak saja, di buat tergagap dengan pertanyaan yang di lemparkan Habibi pada nya.
" Hah,,, i_ya, iya. Ta'aruf itu berjarak hanya sekitar satu sampai tiga Minggu saja, jika sudah sama-sama cocok, maka si pria di anjurkan untuk segera mengkhitbah atau melamar si wanita nya." Cia hanya mengangguk saja.
" Ya sudah, kalau begitu aku tunggu sampai kalian menuju ke pelaminan." Ucap Cia dengan lantang nya, sampai-sampai seluruh murid yang sedang ada di kantin menatap mereka bertiga, terutama Alina dan Habibi.
" Ta_tapi Ci." Alina tak melanjutkan ucapannya, ia tak tahu harus menyangkalnya dengan cara apa lagi agar Cia tidak menjodoh-jodohkan dirinya dan Habibi. Jika ia mengatakan yang sebenarnya bahwa dia sudah menikah, maka satu sekolah pasti akan gempar dan mereka pasti akan mencari tahu siapa suami Alina, atau mungkin mereka tidak akan percaya, seorang murid SMA sudah menikah.
Dan benar saja, akibat teriakan Cia tadi, pada murid beramai-ramai menyoraki Alina dan Habibi. Mereka menganggap Alina dan Habibi memiliki hubungan khusus.
Di lain tempat. Li sedang menuju ke tempat shooting, ia bergegas masuk ke dalam studio walaupun sebenarnya ia tidak ingin ke sana. Namun dia harus tetap profesional sebagai seorang aktor.
" Ada apa?" Li langsung to the poin. Dia berdiri tepat di hadapan produser yang beberapa tahun lalu telah resmi bekerja sama dengan nya dalam sebuah kontrak.
" Astaga, kenapa kau menjadi tidak sopan begini? Ayo lah, duduk lah dulu! Kita bicara kan ini sambil minum-minum" Ajak sang produser sambil menuangkan wine ke dalam gelas nya. Di sana juga ada Tian yu sebagai manajer Li dan juga Cassandra sebagai lawan main dalam sebuah film yang akan mereka perankan nanti.
Li pun menurut, ia duduk di samping Tian.
" Untuk apa aku di suruh datang ke sini? Apakah ini masalah film itu lagi?" Tanya Li. Ia berbicara tanpa melihat lawan bicaranya.
Produsen Yun lantas tersenyum smirk sambil meneguk kembali wine nya.
" Lantas apa lagi selain itu?" Jawab nya dengan santai.
" Bukankah sudah kukatakan, beri aku waktu satu Minggu lagi. Lagi pula bukankah waktunya masih satu bulan lagi, lalu untuk apa membahas ini sampai berulang kali?" Li mulai kesal.
" Sebenarnya ada hal yang lebih penting dari itu. Aku ingin kau dan Cassandra melakukan sebuah setingan sebagai pasangan sungguhan di dunia nyata, itung-itung sebagai sebuah promosi sebelum film itu di rilis. Aku yakin, film itu akan banyak peminatnya dan akan laku keras di pasaran." Seringai Yun. Li di buat marah mendengar ide Yun yang terdengar curang.
__ADS_1
" Barakkk!" Li lantas menggebrak meja, sehingga membuat semua orang terkejut.
" Bisa-bisanya kau melakukan hal selicik itu hanya demi ketenaran, apa kau pikir melakukan settingan itu di benarkan? Itu sama saja sebuah pembohongan publik, kau mengerti?" Ucap Li dengan geram, ia berdiri di hadapan Yun sambil menunjuk-nunjuk nya.
Tian mencoba menenangkan Li dan menyuruh nya untuk duduk kembali, dan Li pun menurut. Ia sadar, tak seharusnya ia terpancing emosi seperti itu.
" Sudahlah, jangan di buat tegang, lebih baik kau pikirkan saja dulu tawaran ku itu, sekarang lebih baik kita bersantai sambil menikmati minuman ini!" Ajak Yun. Cassandra, Tian dan Yun meminum wine nya, Yun juga menuangkan minuman keras itu untuk Li, dan memberikan nya pada Li.
" Ayo bersenang-senang lah dulu!" Ucap Yun sambil memberikan segelas wine pada Li.
" Maaf aku tidak bisa minum ini lagi." Tolak Li dengan tegas.
Semua jadi terheran-heran dengan sikap Li yang tidak seperti biasanya, yang menolak jika di ajak minum.
" Kenapa? Apakah kau sakit Li?." Tanya Cassandra. Li lantas menggeleng.
" Lalu kenapa kau tidak minum bersama kami?" Tanya Cassandra lagi, ia tidak puas dengan jawaban yang Li berikan.
" Tidak apa-apa, kalian lanjut saja, aku permisi dulu. Ada hal penting yang harus aku kerjakan." Ucap Li. Tanpa menunggu jawaban dari semua orang, Li pun segera berlalu meninggalkan mereka yang masih asyik dengan minuman nya.
" Tunggu Li!" Cassandra berlari mengejar Li yang sudah berada di pintu keluar.
" Ada apa lagi?" Li menghentikan langkahnya dengan malas, meskipun sebenarnya ia sudah muak menghadapi Cassandra dan ayahnya yang selalu membuat sensasi demi keuntungan pribadi.
" Kenapa kamu menolak ajakan ayahku untuk menjadi pacar pura-pura ku?" Tanya Cassandra.
" Untuk apa melakukan kebohongan demi sebuah uang? Cara itu benar-benar menjijikkan Cassandra." Jawab Li dengan malas.
" Tapi itu semua tidak ada ruginya untuk kita Li, malah kita akan sama-sama di untungkan. Selain mendapatkan uang dan ketenaran, orang tua mu tidak akan menganggap mu pembangkang lagi. Karena aku tau, mereka menginginkan kita bersama, Iya kan?" Kata Cassandra.
" Sama saja Cassandra. Setelah mengetahui bahwa itu hanya sebuah settingan, mereka akan lebih marah pada ku." Ujar Li.
" Tidak akan, jika kita melakukan nya dengan sungguh-sungguh."
" Maksud mu?" Tanya Li tak mengerti maksud ucapan Cassandra.
" Maksudnya kita benar-benar pacaran, seperti dulu."
" Sudahlah Cassandra, aku sudah bilang berulang kali dengan mu. AKU TIDAK MAU!" Ucap Li menekankan pada kalimat terakhirnya. Setelah mengatakan itu, Li lantas berlalu dari hadapan Cassandra tanpa menghiraukan Cassandra yang saat ini sedang kesal karena cinta nya di tolak berulang kali oleh seorang Li Chung Yuu.
__ADS_1