
Episode 39:
Setelah kepulangan Indria dan Mariah ke Indonesia sore tadi, Aisyah selalu mengurung dirinya di kamar. Setelah selesai shalat Maghrib pun, Aisyah sama sekali tak menampakkan diri, walau sekedar makan ataupun minum saja.
Dia sudah terpukul atas meninggalnya suami tercintanya. Di tambah, kini dia harus menerima perlakuan buruk dari sang mertua, bahkan juga menuduhnya sebagai dalang kematian Ferdi.
Tak ada kata yang dapat mengungkapkan betapa hancur leburnya perasaan Aisyah saat ini.
Di rumah itu hanya tersisa Aisyah, Li dan Alina saja. Keluarga yang lain sudah pulang bersama Mariah dan Indria sore tadi, sedangkan Aisyah tak mempunyai kerabat maupun orang tua. Dia hanya tinggal sebatang kara semenjak ia lahir. Aisyah dibesarkan di panti asuhan, dan setelah ia tumbuh dewasa dan bisa mencari pekerjaan sendiri, dia pun bekerja di kantor Ferdi sebagai OG.
Alina telah selesai menata makan malam bersama para pembantu. Kini ia sedang duduk bersama Li di ruang tamu, sembari menunggu Aisyah turun dan mereka akan makan bersama nanti.
" A', dari sore tadi Mama Aisyah kok belum kelihatan ya, apa dia masih ada di kamarnya?" Ucap Alina yang kini sedang bersandar manja di pundak suaminya. Li yang semula membaca sebuah buku pun menoleh kearah istrinya itu. Ia lantas membuka kacamata minus nya dan menaruhnya di atas meja.
" Mungkin Mama lagi istirahat. Mama pasti masih capek dan sedih setelah kepergian pak Ferdi," jawab Li. Ia lantas mencium kening Alina yang masih terbalut hijab itu dengan lembut, sungguh pemandangan yang sangat manis.
Alina pun mendongak ke atas dan menatap Li yang sedang tersenyum padanya.
" Tapi ini sudah malam loh A'. Kita juga sudah lama nunggu, tapi Mama belum keluar juga dari kamarnya." Alina pun mulai khawatir terhadap Aisyah yang tak kunjung kelihatan.
" Emmmmm bagaimana kalau kamu lihat saja ke kamarnya, mungkin dia masih tidur," ucap Li menyarankan Alina. Alina pun mengangguk membenarkan.
Saat ia hendak beranjak untuk melihat keadaan Aisyah, namun tak lama seorang ART memanggilnya sambil berlarian dan nafas yang terengah-engah.
" Nona Nona! Nyonya Aisyah," ujar ART itu seraya masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
" Mama. Memangnya Mama kenapa Bu?" Tanya Alina mulai merasa ada yang tidak beres.
" Nyonya dia,,,,,,, dia mengamuk," terang ART itu.
Degh,,,
"Apa lagi ini?" Batin Alina.
" Sekarang Mama ada di mana Bu?" Tanya Li.
" Nyonya sedang berada di kamarnya. Dia menolak untuk makan, dan mengusir kami semua," ucapnya lagi.
Tanpa pikir panjang lagi, Li segera berlari ke kamar Aisyah, dan di iringi oleh Alina dari belakang.
Alangkah terkejutnya Li dan Alina. Setelah sampai di kamar Aisyah, mereka melihat Aisyah sedang melempari bantal kearah para pembantu sambil berteriak histeris.
__ADS_1
Bahkan Li yang mencoba menenangkannya pun terkena amukan dari Aisyah.
" PERGI KALIAN SEMUA. KALIAN SEMUA TIDAK MENYUKAI KU," teriak Aisyah.
Semua orang bingung, termasuk Li yang tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Aisyah.
" A'," panggil Alina pada Li. Ia memegang pundak Li dari belakang, dan Li pun menoleh.
" Gimana kalau Lina saja yang membujuk Mama, siapa tahu berhasil," usul Alina.
" Tidak, tidak boleh sayang. Aa takut kamu kenapa-napa, lagipula kamu kan belum pulih benar."
" Di coba dulu A', siapa tahu berhasil. Lagipula Alina yakin kok, Alina pasti baik-baik saja," ucap Alina kekeuh.
Melihat kegigihan Alina meyakinkannya, Li pun akhirnya mengizinkan.
Alina mendekati Aisyah dengan perlahan seraya memanggil namanya dengan lemah lembut.
Aisyah menatap Alina dan menghentikan tingkahnya. Dan benar saja, akhirnya Aisyah luluh hanya dengan keberadaan Alina. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya.
Aisyah langsung tersenyum kala Alina mendekati nya, bahkan kini Alina telah duduk di samping Aisyah.
" Mama takut sama mereka. Mereka semua benci sama Mama. Sekarang Mama cuma punya kamu," ungkapnya. Alina heran, lantas ia menatap Li yang masih berada di depan pintu kamar.
Li pun memberi isyarat mengangguk, yang artinya, Alina perlu mendengarkan saja keluh kesah Aisyah tanpa membantahnya.
" Ya sudah ya. Sekarang lebih baik Mama makan dulu, dari tadi kan Mama belum ada makan sedikit pun!"
" Tapi kamu jangan ke mana-mana ya, temani Mama. Mama takut sendiri," ucapnya.
" Iya Ma, Lina temani. Tapi Mama harus makan dulu ya!" Aisyah mengangguk. Alina lantas mengambil piring yang berisi makanan yang sudah di siapkan oleh ART sebelumnya.
Alina juga menyuapi Aisyah hingga makanan tersebut habis tak bersisa di piringnya.
Alina tersenyum senang. Dan meletakkan kembali piring tersebut di tempat semula.
" Nah selesai makan, kita sholat isya dulu ya, abis itu langsung tidur!" Aisyah lantas tersenyum dan menuruti semua perintah Alina.
Sedangkan Li hanya bisa membuang nafas panjang. Malam ini terpaksa Li sholat isya sendiri tanpa Alina.
Mau bagaimana lagi, jika ia paksakan, takutnya Aisyah akan mengamuk lagi.
__ADS_1
Selesai shalat, Alina berniat akan kembali lagi ke kamar miliknya dan Li, namun Aisyah mencegahnya dan meminta Alina untuk menemaninya tidur. Tak hanya itu, ia juga meminta Alina untuk menyanyikan sholawat untuknya.
Alina terdiam dan berpikir. Ia ragu menerima tawaran Aisyah untuk menemaninya tidur. Jika dia menemani Aisyah, lalu bagaimana dengan Li yang pasti juga sedang membutuhkannya. Akan tetapi jika ia menolak, Alina takut Aisyah akan marah dan mengamuk lagi.
" Iya, Lina akan temani Mama, tapi Alina ke kamar Alina dulu ya buat ambil sesuatu," izin Alina, yang sebenarnya hanyalah sebuah alasan untuk menemui Li sekaligus meminta izin padanya.
" Oh iya. Tapi jangan lama-lama ya sayang, Mama takut sendirian!" Alina tersenyum, lantas keluar dari kamar Aisyah untuk menuju kamarnya.
Di sana, Li sudah duduk di tepian ranjang, nampaknya sedang menunggu kedatangan Alina.
" A', kok belum tidur?" Tanya Alina. Dia juga ikut duduk di samping Li. Li menoleh pada istrinya itu, lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuannya istrinya itu.
" Aa nungguin kamu sayang," jawabnya.
" A', Lina minta izin tidur di kamar Mama Aisyah ya malam ini." Li langsung mengganti posisi nya menjadi terlentang dan menatap Alina.
" Kok gitu?" Kata Li terdengar tak terima.
" Kasihan Mama Aisyah A', dia baru kehilangan suaminya. Jiwanya masih belum stabil, dan dia perlu teman. Boleh ya, Lina tidur di kamar Mama, untuk malam ini saja," mohon Alina.
" Kalau begitu, berarti Aa tidur sendiri dong malam ini," ucap Li terdengar sedih.
" Cuma untuk malam ini kok A'. Lagian kan besok Alina ujian," ucap Alina seraya mengusap lembut wajah Li.
" Memangnya kenapa kalau besok ujian?" Tanya Li heran.
" kalau tidur sama Mama kan, Alina bisa lebih fokus dan gak kebayang wajah Aa terus," ucap Alina yang terlihat sedang menahan tawanya.
" Sejak kapan kamu pintar gombal?"
" Sejak mengenal dirimu," jawabnya lagi.
" Dasar." Li pun menoel hidung Alina karena gemas dengan tingkahnya. Mereka pun tertawa karena gombalan receh Alina.
" Ya sudah sana, tidur. Besok kan kamu ujian akhir. Tidak boleh telat, fokus belajar, jangan kepikiran aku terus!" Ucap Li.
" Ihhh Aa. Kepedean banget sih jadi orang," gerutu Alina seraya mencubit lengan kekar milik Li. Li pun dengan puas menertawakan nya.
Ia juga beranjak keluar dari kamarnya untuk ke pindah ke kamar Aisyah.
Sebelum tidur, ia juga menyempatkan diri untuk belajar. Karena selama seminggu, dia akan melaksanakan ujian akhir, yang artinya tak lama lagi Alina akan lulus.
__ADS_1