My Idol My Imam

My Idol My Imam
Permintaan Sang Ibu Mertua


__ADS_3

Episode 34:


Seperti kata Alina tadi. Setelah sepulang sekolah, dia pun menunggu Aisyah di gerbang sekolah. Namun tak lama sebuah mobil menghampirinya dan berhenti tepat di depan nya, dan ternyata pemiliknya adalah Aisyah.


Alina tersenyum menyambut kedatangan Aisyah, begitu pun sebaliknya.


" Assalamualaikum. Sudah lama nunggu nya?" Tanya Aisyah.


"Waalaikumsalam. Tidak juga kok ma." Jawab Alina.


" Gimana, kamu sudah izin sama Li?" Tanya Aisyah lagi.


" Sudah ma. Dan Alhamdulillah, Aa ngizinin."


" Alhamdulillah kalau begitu. Kita berangkat sekarang?"


" Ayok ma!"


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya ke tempat tujuan, yaitu ke pusat perbelanjaan.


" Kamu ambil troli juga?" Tanya Aisyah saat Alina juga mengambil troli.


" Iya ma, Lina mau belanja, kebetulan di dapur udah banyak yang habis." Tutur Alina.


" Oh ya, kalau begitu ayok kita belanja bersama!" Ajak Aisyah. Mereka pun mulai mengambil barang yang mereka butuhkan.


" Kamu liatin apa nak?" Tanya Aisyah saat melihat Alina celingukan.


" Ini loh ma. Pusat perbelanjaan nya besar banget, jauh banget sama pasar yang ada di kampung Alina." Ucap nya sambil memandangi dengan rasa kagum.


" Oh ya?" Alina menoleh ke arah Aisyah lantas mengangguk. Setelah itu ia Kembali melihat-lihat pusat perbelanjaan itu.


" Di sini selain tempatnya bagus, barang-barang nya juga bagus-bagus. Buah sama sayuran nya juga masih segar-segar." Aisyah lantas mengambil salah satu buah dan kembali meletakkan ketempat semula, sekedar memberi tahu Alina saja.


Setelah itu mereka kembali memilih dan membeli barang-barang yang mereka perlukan.


" Lihatlah Tante! Itu wanita yang mengaku sebagai istri Li." Tunjuk seorang wanita yang sedang bersama seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah Cassandra dan Ying, ibu dari Li. Dia sedang menunjuk tepat ke arah Alina dan Aisyah.


" Siapa dia? Kenapa pakaian nya aneh sekali, seperti seorang ******* saja." Cibir Ying saat menilai pakaian yang di gunakan Alina.


" Itulah Tante. Bukan hanya aneh, tetapi sangat sangat aneh." Tambah Cassandra.


" Apakah wanita aneh seperti itu yang menjadi pendamping anak ku? Sepertinya aku harus memberinya pelajaran." Ying yang merasa geram, lantas menghampiri Alina dan Aisyah.


Begitupun Cassandra yang mengikuti Ying dari belakang.

__ADS_1


" Hey wanita aneh!" Seru Ying tepat di depan Alina.


" Ma_ma." Beo nya. Alina mengenali wanita yang memanggilnya tersebut. Dia pernah melihatnya sebelumnya.


" Siapa yang kau sebut mama? Aku bukan mama mu." Ucap Ying sedikit membentak.


" Panggil aku nyonya saja!" Perintah Ying.


" Baik ny_yonya." Alina lantas meraih tangan Ying dan mencium nya dengan Hidmat. Ying nampak tak merespon apa-apa dengan perlakuan Alina terhadap nya, malah ia nampak terpaku untuk sesaat.


" Apa nyonya memanggil saya tadi?" Tanya Alina memastikan. Ying tersadar saat Alina berbicara pada nya.


" Lantas siapa lagi jika bukan kau?" Ucap nya dengan gaya angkuh.


" Ada perlu apa nyonya memanggil saya?"


" Saya hanya ingin memperingatkan kepada kamu, untuk segera menjauhi anak saya!" Kata Ying.


Alina sempat terkejut mendengar permintaan Ying. Namun ia berusaha mengendalikan diri nya agar terlihat biasa saja.


" Sebelum nya saya meminta maaf kepada nyonya. Atas dasar apa nyonya memerintahkan saya agar menjauhi suami saya sendiri?" Alina memberanikan diri untuk bertatapan dengan Ying yang juga menatap nya dengan tatapan tajamnya.


" Dasar kau bo*oh. Kau masih bertanya alasannya kenapa?" Ying tersenyum menyeringai.


" Karena aku adalah orang tua nya, dan aku tidak menyetujui pernikahan kalian. Karena aku telah menjodohkan Li dengan Cassandra. Puas kau?"


" Sudah sayang!" Ucap Aisyah menenangkan Alina. Aisyah merangkul pundak Alina, mencoba memberikan kekuatan pada nya.


" Aku adalah istri sah nya, sedangkan kak Cassandra hanya orang lain yang tiba-tiba muncul di dalam rumah tangga kami." Ucap Alina seraya mengusap sisa air mata nya. Alina masih berusaha berbicara dengan nada rendah, karena ia masih menghormati Ying yang berstatus sebagai mertuanya.


" Hey anak kecil. Kau itu masih sekolah, tapi sudah menikah. Dasar genit." Cibir Cassandra.


" Aku menikah karena sudah di garis kan oleh Tuhan ku, bukan karena aku genit terhadap siapa pun." Alina membela diri nya sebagai sendiri.


" Ah mengelak saja kau bisa nya." Ucap Cassandra lagi sambil bersidekap dada.


" Kau dengar wanita kampungan! Jika kau tidak segera menjauhi anak ku, maka kau akan tahu sendiri akibat nya." Ucap Ying. Setelah mengatakan itu, Ying dan Cassandra lantas meninggalkan Aisyah dan Alina yang masih terpaku di tempatnya.


" Waalaikumsalam!" Alina menjawab salam meski mereka tidak mengucapkan nya.


Alina tak kuasa menahan rasa sesak di dada nya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan nya, lalu berjongkok.


Ia menangis tersedu-sedu di atas lantai pusat perbelanjaan itu. Ia tak kuasa menahan air mata nya yang ingin tumpah. Bahkan ia tak perduli saat ini ia sedang berada di mana.


" Sudah ya sayang. Jangan di ambil hati omongan mereka! Mereka pasti cuma menggertak saja." Ucap Aisyah yang mencoba menenangkan Alina. Ia juga meraih tubuh Alina agar berdiri.

__ADS_1


" Kita lanjut belanja, atau pergi saja dari sini?" Tanya Aisyah. Sebenarnya dia belum selesai berbelanja, namun karena melihat kondisi Alina yang seperti nya tidak bisa lagi untuk melanjutkan, lebih baik dia belanja lain waktu saja.


" Tidak apa-apa kok ma. Alina masih sanggup untuk menemani mama belanja." Alina pun memaksakan senyumnya kepada Aisyah.


" Kalau tidak bisa, jangan di paksakan ya!"


" Alina benar tidak apa-apa kok ma." Alina masih bersikeras mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Alhasil Aisyah pun mengangguk, dan mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka sebelum nya.


Setelah selesai berbelanja, mereka membawa barang belanjaan mereka dan memasukkan nya ke dalam mobil.


" Mama beneran tidak mau mampir dulu?" Tanya Alina saat mereka sudah sampai di depan apartemen Li.


" Maaf ya sayang, lain kali saja." Tolak Aisyah.


" Kok tidak mampir dulu ma?"


" Mas Ferdi hari ini mau pulang ke Indonesia, tidak mungkin kan jika mama tidak ada di rumah saat dia mau pergi." Jelas Aisyah.


" Loh pak Ferdi pulang? Kenapa ma, apa ibu nya sakit lagi?" Tanya Alina merasa khawatir.


" Tidak nak. Hanya ada pekerjaan yang harus dia urus di sana." Alina mengangguk mengerti.


" Berarti mama sendiri di rumah? Kalau mama tidak keberatan, lebih baik mama menginap di sini saja sampai pak Ferdi pulang." Usul Alina. Aisyah lantas tersenyum dan menggeleng.


" Tidak perlu sayang. Mama tidak sendirian kok di rumah, ada para ART dan tukang kebun. Nanti jika mama sedang bosan, mama akan ajak kamu jalan-jalan. Boleh kan?"


" Boleh dong ma, tapi Alina harus izin Aa dulu ya." Aisyah pun tersenyum lantas mengangguk.


" Ya sudah. Kalau begitu mama pulang dulu ya, sudah di tunggu soalnya."


" Iya ma, kalau begitu hati-hati di jalan!" Aisyah kembali mengangguk.


" Assalamualaikum!" Ucap Aisyah.


" Waalaikumsalam ma."


Alina memandangi mobil Aisyah yang mulai menjauh.


Pikiran nya kembali teringat akan ucapan sang ibu mertua nya tadi. Ada rasa takut, namun juga rasa tak mau kehilangan. Takut jika ancaman Ying memang benar terjadi, namun ia juga tak bisa meninggalkan Li tanpa alasan.


Dirinya bagi termakan buah simalakama. Jika ia menuruti permintaan Ying, maka dia harus siap bercerai dengan Li, dan tentunya itu tidak ia inginkan. Bukankah Allah membenci perceraian.


Tetapi jika ia tidak menuruti nya, maka bisa saja Ying berbuat nekad terhadap keluarga nya di kampung.


Lamunan nya buyar saat mendengar nada dering ponselnya. Alina lantas mengambil ponselnya tersebut, dan di sana tertera sebuah nama adiknya Gadis. Alina menggeser icon hijau dan segera mengangkatnya.

__ADS_1


" Waalaikumsalam dek, kenapa?"


" Astaghfirullah halazim! Kok bisa?"


__ADS_2