
Episode 44:
" K_kau," ucap Aisyah terlihat syok.
" Kenapa kau ada di sini?" Lanjut Aisyah lagi.
Kali ini ia sedikit meninggikan suaranya.
" Ma!"
Alina yang menyadari perubahan pada Aisyah pun segera menghampiri Aisyah dan mencoba menenangkannya.
Ia juga mengusap pelan pundak Aisyah, seolah mengatakan untuk tidak marah.
" Kenapa dia ada di sini Alina?" Kini lanjut Alina yang di tanyai.
" Ma, Aa Li kan suami Alina, jadi wajar dong dia ada di sini," jawab Aisyah, namun dengan penuh kehati-hatian saat mengatakannya.
" DIA SUAMI YANG MEMBAHAYAKAN MU ALINA!" Ucap Aisyah dengan lantang dan jelas.
Alina dan yang lainnya pun terkejut karena teriakan Aisyah.
Alina juga sedikit syok mendengar ucapan Aisyah, meskipun sebenarnya ia tak mengerti maksud ucapan Aisyah, namun ia tak menyangka Aisyah sebegitu membenci Li hingga mengatakan hal tersebut.
" Ma_maksud Mama apa?" Tanya Alina.
Namun Aisyah tak menjawab, hanya nafasnya saja yang memburu, serta mata yang merah karena menahan amarah.
" Sudahlah Alina, lebih baik kamu bawa Mama ke kamarnya saja dulu!" Perintah Li yang di angguki oleh Habibi.
Alina menurut, ia pun membawa Aisyah ke kamarnya dan menuntunnya.
Setelah sepeninggalan Alina, Li mengajak Habibi untuk duduk. Dia masih merasa syok dengan penuturan Aisyah tentang dirinya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Habibi.
Berada di antara keluarga yang sedang tidak baik-baik saja, membuatnya merasa canggung.
Li menoleh sesaat, lalu menganguk dan kembali menundukkan kepalanya, dengan tangan yang saling menggenggam.
" Sudahlah, jangan terlalu di ambil hati perkataan Bu Aisyah tadi, mungkin dia sedang lelah," ucap Habibi mencoba menenangkan Li.
" Aku tahu semua yang dikatakan oleh Mama Aisyah memang benar adanya, kalau aku adalah suami yang hanya bisa membahayakan Alina saja, dan bukannya melindunginya."
Li mulai insecure pada dirinya sendiri. Aisyah benar, semakin hari bukannya kebahagiaan yang Alina dapatkan, malah kesengsaraan yang selalu menghampirinya, dan itupun semenjak mengenal Li.
Habibi merasa tak tega melihat Li yang rapuh seperti itu. Ia pun mendekati Li dan menepuk pundak Li.
__ADS_1
" Sudahlah bro, jangan membuat dirimu semakin terpukul dengan ucapanmu sendiri, setiap manusia punya cobaannya masing-masing, kita hanya harus bersabar untuk melaluinya!" Ucap Habibi.
Kepala Li terangkat untuk menatap wajah Habibi. Ia tak menyangka, orang yang dulunya ia anggap saingan, kini dengan bijaknya menasehatinya. Jujur, ucapan Habibi adalah sebuah motivasi untuknya.
" Terimakasih, dan maaf untuk semua ini, karena kedatangan ku, acara sahur bersama kalian menjadi berantakan," ucap Li dengan tulus.
Mendengar ucapan Li, Habibi jadi terkekeh.
" Kau ini. Aku ke sini karena undangan dari ibu Aisyah, akan tetapi, jika ku tahu Alina sudah memiliki suami, mana mungkin aku berani mencoba mendekatinya," ucapnya sambil terkekeh.
" Jadi maksudmu, kau menerima undangan sahur bersama ini hanya untuk mendekati istri ku?" Li bertanya dengan sorot mata yang tajam.
" Ya lalu untuk apa lagi?" Jawab Habibi dengan santainya, namun masih menahan tawanya.
Li menggeram tertahan, ingin rasanya ia menghajar mulut Habibi yang mengatakan hal itu padanya. Namun ia masih mengingat bahwa rumah ini milik Aisyah, dan saat ini Aisyah pun sedang sakit.
" Santai bro, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku menyukai teman ku sendiri." Dan tiba-tiba Habibi tertawa puas karena menyadari perubahan pada wajah Li.
Tapi sebenarnya apa yang ia katakan semuanya benar, namun tak mungkin lagi saat ini ia mengungkapkannya. Biarlah rasa cintanya ia pendam sendiri, dan Habibi berharap suatu saat akan hilang dengan sendirinya.
" Ah kau ini," ucap Li masih dengan sisa kesalnya.
" Ngomong-ngomong, kalau boleh saya tahu, sejak kapan kalian menikah?" Tanya Habibi.
" Semenjak Alina datang ke negeri ini," jawab Li.
" What?!"
" Maksudnya kau menikahinya sejak dia masih duduk di bangku SMA?" Tanya Habibi dengan nada terkejutnya.
" Ya, bukankah sekarang dia juga masih SMA," ucap Li dengan santainya.
" I know, tapi kan sekarang dia sudah mau lulus, akan tetapi kau menikahinya di saat dia masih belia."
Bukan maksud tak terima Alina di nikahi saat masih muda, akan tetapi Habibi hanya merasa tak habis pikir saja.
" Aku hanya menghargai ajaran agama nya waktu itu, selain itu aku juga tak mau bertele-tele dalam sebuah hubungan. Jika sudah cocok, why not."
" because he is my first love, and I can't live without it ," ucap Li tanpa keraguan.
Habibi menganguk sambil menundukkan kepalanya dalam. Ternyata sebegitu sayangnya Li pada Alina, sampai-sampai secepat itu ia meyakinkan dirinya untuk menikahi Alina. Padahal jika penggemarnya tahu, bisa berakibat fatal bagi karirnya, bahkan dirinya sendiri. Karena Habibi tahu betul betapa terkenalnya Li sebagai artis di negara itu. Bahkan tak sedikit pula para wanita yang menggandrunginya.
" Alina," ucap Li ketika melihat Alina menghampiri mereka. Habibi juga mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada Alina.
" Bagaimana Mama?" Tanya Li lagi.
" Mama sudah tidur, tadi sudah Alina kasih obat penenang juga," ucap Alina sendu.
__ADS_1
Li pun berdiri untuk menghampiri Alina, lalu merangkulnya dengan sayang.
" Ya sudah, tidak usah di pikirkan!" Ucap Li sambil mengusap pelan pundak Alina.
Alina menganguk lantas tersenyum pada Li.
" Ya sudah, lebih baik kita makan sekarang, sudah jam tiga setengah loh ini," ucap Alina.
" Eeeee lebih baik kakak pulang sekarang Alina, tidak enak mengganggu kalian berdua," Tutur Habibi.
Dia pun mulai beranjak dari duduknya, berniat untuk berpamitan kepada tuan rumah.
" Loh, kenapa pulang kak, lagipula ini sudah jam tiga setengah loh, mana sempat lagi sahur di rumah. Lebih baik sahur di sini saja bersama kita!" Bujuk Alina.
" Benar bro, perjalanan ke rumah mu kan sangat jauh, mana sempat kau sampai ke rumah," timpal Li.
" Alina juga sudah masak banyak loh, sayang kan kalau mubasir karena tidak ada yang makan."
" Baiklah kalau kalian memaksa," ucap Habibi pada akhirnya.
" Oh iya sayang, Mama sudah makan sahur?" Tanya Li ketika mereka telah berada di meja makan.
" Belum A', tadi sih sudah Alina siapin bubur sebelum minum obat, tapi kalau seandainya Mama Aisyah tidak puasa besok juga tidak apa-apa, tidak di beratkan juga kan," ucap Alina sambil menyendok kan nasi dan lauk pauk ke dalam piring Li.
" Yang ini mau?" Tanya Alina menunjuk sayur asem yang dia buat sendiri.
" Mau dong, apapun yang kamu masak, pasti Aa makan," jawab Li sedikit terdengar menggombal.
" Ehemmm." Keduanya pun menoleh ke arah Habibi yang sengaja berdehem karena merasa tidak di anggap di sana.
" Eh kak Habibi mau laik apa, biar Alina ambilkan," tawar Alina yang merasa tak enak hati karena telah mengacungkan Habibi.
" Bo,,,,,,,."
" Tidak usah sayang, kan dia bisa ambil sendiri, lauk nya tidak jauh juga kan."
Belum sempat Habibi mengiyakan tawaran Alina, Li sudah lebih dulu memotong perkataannya.
Li merasa cemburu ketika Alina menawarkan jasa pada orang lain selain dia sebagai suaminya.
" Iya kan Habibi?" Tanya Li, tak lupa ia juga menatap tajam ke arah Habibi.
" I_iya." Habibi yang merasa seolah di ancam oleh Li pun terpaksa mengiyakan perkataan Li.
" Oh ya sudah, sekarang kita mulai makan yuk, sebelum imsak!" Ajak Alina.
Dia juga mulai mengambil nasi dan lauk pauknya untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
" Kak Habibi makan yang banyak ya, biar puasanya lancar!" Ucap Alina lagi.
Habibi pun mengangguk canggung sambil melirik ke arah Li yang masih menatap tajam ke arahnya.