My Idol My Imam

My Idol My Imam
Pertemuan Habibi Dan Li


__ADS_3

Episode 43:


Tak lama mereka pun sampai, waktu juga sudah menunjukkan pukul lima sore.


" Nak, jika kamu tidak keberatan, bagaimana jika subuh nanti kita sahur bersama di rumah ibu!" Tawar Aisyah.


Alina yang mendengar tawaran Aisyah untuk Habibi itu pun lantas tertegun.


Bagaimana bisa Aisyah mengajak seorang pria yang bukan muhrim bagi mereka untuk makan sahur bersama, yang mana di rumah tersebut hanya tinggal mereka berdua saja, para pembantu semuanya sudah di pulangkan tanpa tersisa. Semua itu karena ketidak mampuan Aisyah untuk membayar gaji mereka.


" Eeeee nanti saya coba izin sama ibu saya dulu ya Bu," jawab Habibi.


" Iya, itu lebih bagus. Saya suka dengan pribadi kamu yang selalu mementingkan orang tua terlebih dahulu," ucap Aisyah tersenyum tulus.


Sedangkan Alina bingung apa yang harus ia lakukan. Jika Habibi melihat kedatangan Li nanti bagaimana, pasti semua akan terbongkar.


" Eeeee tapi Ma, bukannya tidak baik jika kak Habibi yang bukan mahram kita bertamu ke rumah tengah malam? Nanti jadi omongan orang bagaimana?" Ucap Alina.


Bukan sekedar mencari alasan saja, Alina mengatakan itu atas dasar kebenaran.


Namun yang membuat Alina tak habis pikir, bisa-bisanya Aisyah begitu ramah pada Habibi yang baru ia kenal, bahkan dengan santainya mengajak Habibi untuk makan sahur bersama.


Hal itu membuat Alina menjadi berpikir macam-macam. Tapi dengan segera ia menepisnya kembali. Ia tak mau berprasangka buruk terhadap Aisyah yang selama ini sudah sangat baik terhadapnya.


" Tidak apa-apa jika hanya sekali-sekali, hitung-hitung sebagai perkenalan dan rasa terimakasih Mama karena Habibi telah mengantarkan kita," jawab Aisyah.


" Yang penting kan, Habibi tidak menginap di rumah kita," lanjut Aisyah.


" Tapi kan Ma,,,,,,,"


" Sudah ya sayang, Mama tidak mau berdebat dengan kamu," ucap Aisyah.


Dengan terpaksa Alina pun mengalah, karena tak enak juga dengan Habibi yang masih berada di situ.


" Ya sudah kalau begitu saya izin permisi pulang dulu ya," kata Habibi.


" Oh ya silahkan Nak Habibi, tapi jangan lupa nanti kesini lagi ya!" Timpal Aisyah.


Habibi hanya mengangguk lalu tersenyum ramah pada keduanya.


Hatinya saat ini juga sedang berbunga-bunga karena telah mendapat lampu hijau dari orang tua angkat Alina.


Tinggal selangkah lagi, maka ia akan mendapatkan Alina sepenuhnya, begitu pikir Habibi.


Dua wanita berbeda usia itu pun memandangi kepergian mobil Habibi hingga tak nampak lagi dari pandangan mereka.


Kini Aisyah dan Alina sudah terbangun jam dua dini hari. Mereka sedang menyiapkan makanan untuk sahur pertama mereka di Ramadhan tahun ini.


Jika semua orang bergembira menyambut tahun yang penuh berkah ini, berbeda halnya dengan Alina. Ia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, ia sangat ingin bersahur bersama suaminya tahun ini, namun di sisi lain, ia sangat takut jika Habibi mengetahui bahwa dia sudah menikah dan suaminya adalah orang yang sangat terkenal di publik.


Bahkan ia tak berani mengatakan pada suaminya untuk membatalkan saja sahur bersama mereka. Biarlah nanti takdir yang akan menjawabnya. Mungkin ini memang sudah waktunya sebagian orang mengetahuinya.


Tok tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Hati Alina semakin gelisah dan was was mendengarnya.

__ADS_1


Namun ia sudah siap dengan segala konsekuensinya nanti.


" Nak, tolong buka pintunya, mungkin itu Habibi yang sudah datang," ucap Aisyah.


Dengan berat hati, Alina terpaksa melangkah menuju ke arah pintu.


" Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh Alina," ucap Habibi ketika pintu baru saja terbuka.


" Wa_alaikum salam," jawab Alina yang sempat terkejut


" Masuk kak!" Ucap Alina terdengar ragu.


Habibi lantas menurutnya dan segera masuk untuk bergabung bersama Alina dan Aisyah.


" Ehhhh Nak Habibi, mari sini Nak!" Ucap Aisyah dengan sangat ramah mempersilahkan Habibi untuk duduk di kursi meja makan.


Lagi-lagi Habibi menurut tanpa suara, hanya senyum ramahnya saja yang ia tampakkan.


" Wah sudah siap saja nih Bu," ucap Habibi ketika mereka sudah berada di meja yang sama.


" Iya, kan ada tamu spesial," jawab Aisyah.


Habibi dan Aisyah sudah mulai menyantap makanan mereka. Namun berbeda halnya dengan Alina, sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk makanannya sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.


Gelisah sudah pasti, cemas apa lagi. Hatinya was was menunggu kedatangan Li, ia sudah memikirkan kemungkinan besar yang akan terjadi nanti, namun dia bisa apa.


" Assalamualaikum."


Dan benar kekhawatirannya akhirnya terjadi juga.


" Siapa itu Lina, kamu buka dulu sana!" Perintah Aisyah.


Alina menurut. Ia segera menunju ke arah pintu untuk dan membukakan nya.


" Assalamualaikum ya habibati, ini untuk istri Aa tercinta." Li lantas memberikan sebuah buket bunga mawar merah kepada Alina.


Alina pun menerimanya dengan hati yang berbunga pula.


" Terimakasih ya naeam zawji. Bunganya cantik," puji Alina.


" Iya, secantik yang punya," balas Li.


Lagi dan lagi Alina di buat tersipu oleh gombalan Li. Walaupun tak begitu mencolok, namun mampu membuat hati Alina merekah bak bunga yang sedang di pegang nya.


" Oh iya, ini Aa juga bawakan makan plus jajanan kesukaan kamu." Li pun menenteng paper bag yang ia bawa kepada Alina.


" Wah, terimakasih my husband." Alina pun menerimanya dengan senyum yang mengembang.


" Siapa sayang, kok lama sekali?" Tanya Aisyah dari dalam rumah.


" Eeeeeee itu Ma," ucap Alina dengan wajah bingung.


" Bilang saja sayang, kalau yang datang itu Aa. Palingan Mama marahnya cuma sebentar," usul Li.


Alina kembali bingung, ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Siapa Alina?"


Tiba-tiba Habibi menghampiri Alina yang tak kunjung masuk kedalam rumah. Itupun atas perintah Aisyah yang menyuruhnya menghampiri Alina.


Sontak saja dua pria tersebut saling pandang untuk sesaat.


Habibi mengamati dengan seksama wajah pria yang berhadapan dengannya tersebut.


Lain halnya dengan Li yang sering melihat Habibi di sekolah Alina.


" Kau,,,,,."


Habibi pun memicingkan matanya seolah mengingat-ingat siapa orang yang berhadapan dengannya tersebut.


Sedangkan Alina hanya bisa menggigit bibirnya yang berada di balik cadar itu. Ia bingung harus mengatakan apa pada dua pria tersebut.


" Kenapa dia ada di sini sayang?" Tanya Li.


Entah sengaja atau tidak saat mengatakan sayang di depan Habibi, yang jelas Li tak mau lagi ada yang di tutup-tutupi tentang statusnya dan Alina.


Alina dan Habibi terperangah secara bersamaan mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Li.


" Sayang?" Beo Habibi.


" Kalian pacaran atau,,,,,,,?" Lanjutnya.


Tanpa ragu Li meraih tangan Alina untuk ia genggam.


" Dia istri sah saya," Tutur Li secara gamblang dan tanpa keraguan yang terpancar dari wajahnya.


Habibi menelan ludahnya secara kasar. Terasa tercekat saat mendengar pengakuan Li yang mengatakan bahwa Alina adalah seorang istri.


Dengan berat hati, Habibi pun mendekati Li dan Alina yang masih berdiri di tempatnya.


Dan dengan hati yang hancur berkeping-keping, serta senyum yang ia paksakan, Habibi mengulurkan tangannya pada Li.


" Selamat buat kalian." Dengan senang hati Li pun menyambut uluran tangan Habibi dan balas tersenyum pada Habibi.


" Terimakasih kawan," jawab Habibi dengan ramah.


" Bukankah kau ini Li Chung Yu, aktor terkenal itu?" Tanya Habibi lagi.


Li pun tersenyum wajar, lantas menganguk.


" Tidak terlalu terkenal juga bro, hanya aktor biasa," jawab Li.


" Kau ini bisa saja." Li dan Habibi pun lantas terkekeh bersama.


Sedangkan Alina hanya menatap bingung keduanya yang begitu akrab, padahal mereka baru saja bertemu.


" Habibi, Alina, kalian kenapa lama sekali?"


Kembali terdengar suara Aisyah yang memanggil keduanya.


" Kalian lagi ngapain si,,,,,,,?" Ucap Aisyah terhenti ketika melihat keberadaan Li di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2