
Episode 18:
Gadis dan Aisyah menuntun Alina keluar dari kamar nya untuk bertemu Li yang sudah sah menjadi suaminya.
Rasa haru, bahagia dan gugup menjadi satu. Keringat dingin seakan membanjiri tubuh Alina. Alina meraih tangan Li dengan gemetaran dan tangan nya yang terasa dingin. Tak jauh berbeda dari Alina, Li juga merasakan hal yang sama, namun sebagai seorang lelaki, dia lebih pintar menyembunyikan kegugupan nya.
Alina mencium tangan Li dengan Hidmat, Li juga memegang kepala Alina dan membacakan doa yang sudah ia pelajari beberapa hari terakhir, ia meniupkan nya pada ubun-ubun Alina, lalu mencium kening istrinya itu dengan Hidmat.
“Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.” Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.
Semua orang terharu, terlebih Imah yang langsung mendekati putri dan menantunya itu, ia memeluk Alina dengan tangis haru.
" Selamat ya sayang, Ibu do'akan supaya pernikahan kalian langgeng terus sampai maut memisahkan. Pesan ibu, jadilah permata untuk suamimu, jangan biarkan orang lain merusak permata itu dengan mudah. Jadilah istri yang bisa menjaga harga diri, karena harga diri istri adalah harga diri suami, karena apa yang istri perbuat, maka suami yang akan menanggung dosa nya." Nasehat Imah. Ia pun melepaskan pelukannya dari Alina, setelah itu ia beralih menatap sang menantu dengan senyum yang mengembang dan mata yang berkaca-kaca.
Tak lupa Li juga meraih tangan ibu mertua nya itu, lalu mencium nya dengan Hidmat.
Imah juga memberikan wejangan kepada Li sebagai seorang imam dan pemimpin rumah tangga untuk anak dan cucunya kelak.
Setelah selesai acara salam-salaman, mereka semua pun lanjut makan siang yang sudah di siapkan oleh para asisten rumah tangga Aisyah.
__ADS_1
" Li tolong kamu jaga baik-baik istri kamu, jangan pernah sesekali kamu menyakiti nya. Paman akan selalu mendukung kamu, selagi niat dan tujuan kamu itu baik. Tetapi jika kamu salah, maka paman orang yang paling pertama yang akan menghajar mu." Ucap paman Yuan tegas, Li hanya tersenyum lalu mengangguk mantap.
Setelah selesai makan, paman Yuan dan ustadz Mansur pun berpamitan untuk pulang, karena hari pun sudah mulai sore.
" Li, kalau kamu sudah lelah, kamu istirahat saja dul, itu kamar Alina di lantai atas, kamu langsung saja ke sana!" Ucap Aisyah. Entah mengapa tiba-tiba Li dan Alina merasa canggung dengan ucapan Aisyah. Li mengusap-usap tengkuknya untuk menghilangkan rasa gugupnya, sedangkan Alina hanya tertunduk malu. Padahal sebelum menikah, Li yang paling tidak sabar untuk segera menghalalkan Alina, namun setelah sah, dia malah merasa sangat grogi sendiri.
"Ya sudah sana kalian ke kamar! biar ini semua ibu sama Gadis yang beresin." Kata Imah menunjuk peralatan dapur yang belum di cuci, sedangkan Gadis sedari tadi tersenyum jail kepada kakak nya.
" Tidak perlu Bu Imah, ini semua sudah tugas asisten rumah tangga yang melakukan nya. Lebih baik kita semua istirahat saja, sebentar lagi juga azan magrib, kita beres-beres dan mandi saja dulu." Cegah Aisyah.
" Teh, entar kalau kecapean, bilang sama Gadis, biar Gadis pijitin!." Bisik Gadis tepat di telinga Alina, sebelum ia akan beranjak ke kamar nya. Mendengar kalimat ambigu dari Gadis, membuat Alina tersipu.
Mereka semua lantas pergi ke kamar masing-masing, begitu pun Alina dan Li sebagai pengantin baru.
Setelah berada di dalam kamar, mereka sama-sama merasa canggung dan grogi. Alina memainkan ujung jari nya karena bingung harus berbicara apa pada suaminya, sebab ini adalah kali pertama Alina satu ruangan dengan seorang pria, terkecuali ayah kandungnya sendiri.
" A'!"
" Lina!" Ucap mereka bersamaan. Mereka terdiam sesaat karena merasa salah tingkah satu sama lain.
__ADS_1
" Aa duluan aja deh!" Kata Alina mempersilahkan.
" Ya sudah, Aa yang duluan mandi ya, nanti kalau kamu yang duluan, Aa bisa ketiduran." Ucap Li. Alina lantas mengangguk, dan Li pun masuk ke dalam kamar mandi.
Alina duduk di tepi ranjang sambil menunggu Li selesai mandi, dan tak lama Li keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggang nya, hingga terlihat dengan jelas oleh Alina bentuk tubuh Li yang sempurna dengan perut kotak-kotak itu.
" Astaghfirullahhalazim!" Alina menjerit keras, dan dengan cepat pula ia menutup wajahnya menggunakan tangan saat melihat Li yang bertelanjang dada di depan nya.
" Kenapa sayang!" Tanya Li bingung dengan tingkah istrinya. Meski dalam keadaan begitu, Alina sempat di buat baper dengan kata sayang yang di sematkan Li untuk nya.
" En_enggak A', gak papa!" Elak Alina. Li lantas mendekati Alina, membuat Alina semakin di buat tak karuan.
" kenapa mata nya di tutup?" Tanya Li seraya berusaha untuk melepaskan tangan Alina dari wajahnya, namun tangan Alina semakin kuat agar Li tidak dapat membukanya, namun tenaga Alina tak sebanding dengan Li yang berotot, akhirnya dia kalah, dan tangannya terlepas dari wajahnya.
" Ihhh Aa! Kenapa di buka? Lina kan malu?" Akui nya. Alina pun memalingkan wajahnya ke samping, dan lagi-lagi Li meraih wajah Alina dan menghadapkannya pada nya.
" Heyy lihat Aa sini!" Li meraih wajah Alina yang masih tertutup cadar agar beralih menatap nya. Alina menurut, ia tidak melawan lagi saat Li menarik wajahnya nya.
Sesaat pandangan mereka bertemu, tangan Li perlahan membuka kain cadar yang menutupi wajah istrinya itu. Alina sama sekali tidak bergerak, bahkan ia menutup mata nya kuat-kuat, untuk menutupi rasa malunya.
__ADS_1
Dan kini sepenuhnya kain cadar terbuka, Li terdiam tak berkutik saat memandang keindahan ciptaan Allah itu, sungguh indah tiada duanya, cantik sempurna, itulah gambaran yang Li lihat saat ini.