
Episode 19:
Li menelan ludah nya berkali-kali, hingga membuat jakunnya turun naik.
Ia benar-benar tak menyangka gadis yang selama ini tertutup rapat dengan sebuah kain tipis di wajahnya itu, benar-benar berbeda dengan gadis lainnya, kecantikan nya sungguh bak bidadari surga.
Alina menunduk malu karena di pandangi oleh Li begitu lekat nya, hingga tak nampak kedipan di matanya.
Perlahan Li mengangkat tangan nya untuk menyentuh wajah Alina, ia kembali mengangkat wajah Alina agar ia bisa menatap nya dengan puas.
" Katakan pada ku, apa kau adalah hadiah yang di berikan Allah pada ku? Seorang bidadari surga!" Ucap Li dengan lembut. Alina tersipu, pipinya yang putih itu memerah karena perkataan Li yang seperti sedang menggombalinya.
" Aa sudah terbiasa ya menggombal? Seperti nya ahli sekali dalam hal menggombal." Kata Alina sambil mengulum senyumnya karena sisa gombalan Li.
" Jujur, aku tidak ahli dalam hal menggombal, karena aku tidak pernah punya pacar sebelumnya. Tapi untuk dirimu, semua yang ku katakan adalah sebuah kenyataan." Tutur Li, pandangan nya tak lepas dari wajah cantik Alina, Alina semakin di buat senyum-senyum sendiri karena ulah Li yang tak habis-habisnya mengeluarkan kata-kata manis nya.
" Ehemm, sudah ah A'! nanti Lina tidak jadi mandi, keburu azan magrib nanti." Suara Alina menyadarkan Li yang sedari tadi tak bosan-bosannya memandangi wajah Alina.
Alina lantas beranjak dari duduknya ia mengambil bajunya yang berada di lemari dan setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi. Li masih memperhatikan Alina hingga wanita itu hilang dari pandangan nya, setelah itu ia lantas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Alina keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap nya, kecuali cadar nya.
Ia pun melirik Li yang ternyata sedang memainkan kan ponsel nya dengan posisi berbaring. Alina berjalan dengan ragu-ragu untuk mendekati Li, dan tak lama azan magrib pun berkumandang.
" A', Itu sudah azan, kita sholat Berjamaah yuk!" Ajak Alina, Li lantas menoleh dan tersenyum, setelah itu ia meletakkan ponsel nya di atas nakas.
" Yuk! tapi Aa kurang hafal gerakan nya. Bagaimana kalau kita sholat berjamaah sama orang tua kamu dulu, nanti setelah Aa bisa, kita akan sholat berdua!." Tutur Li. Alina pun mengangguk dan tersenyum. Ia segera menghampiri orang tua nya untuk mengatakan hal itu, dan mereka semua pun sholat berjamaah di mushola kecil yang terdapat di dalam rumah Ferdi.
Setelah selesai shalat, mereka kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1
Entah mengapa tiba-tiba rencana jail Li muncul di pikiran nya untuk mengerjai Alina.
" Duduk sini!" Perintah Li pada Alina saat mereka sudah berada di dalam kamar, ia pun menepuk-nepuk tempat di samping nya, menyuruh Alina untuk duduk di dekat nya.
Alina menurut, meski perasaan gugup kembali menghampiri nya.
" Aa buka lagi ya cadar nya?" Ucap Li meminta persetujuan, Alina pun mengangguk, Li lantas membuka cadar Alina dan meletakkan nya di atas bantal, setelah itu ia kembali memandang wajah Alina dengan lekat, seolah tak pernah jemu ia memandang gadis yang baru ia nikahi itu.
Tangan nya terangkat untuk membelai wajah Alina yang mulus tanpa satu jerawat pun yang bertengger di wajah nya.
" Cantik." Tutur Li tiba-tiba. Alina kembali menundukkan kepalanya, karena Li selalu berhasil membuat nya tersipu.
" Aa sudah hapal doa untuk malam ini, kamu mau dengar?" Kata Li dengan suara seraknya. Alina faham dengan kalimat ambigu yang di ucapkan Li, tiba-tiba ia pun berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Eeeee,,,,, do_doa a_apa A'?" Tanya Alina terbata-bata.
" Emmmm." Alina tak bisa berkata-kata.
" Bismillahi,,,,,."
" A'!" Belum sempat Li melajukan, tiba-tiba Alina mengangkat telapak tangan nya ke atas, pertanda Li tidak boleh melanjutkan nya.
" Kenapa?" Tanya Li heran.
" Kayak nya Lina perlu ke kamar mandi dulu deh." Kata Alina yang sebenarnya hanya alasan nya semata.
" Sebentar ya!" Alina lantas beranjak dari duduknya dan berlari ke arah kamar mandi. Li yang melihat tingkah Alina lantas terkekeh geli, ia pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah malu-malu Alina yang terlihat lucu di matanya.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Alina langsung menutup pintu kamar mand, ia mengipasi wajah nya yang tak terasa panas dengan menggunakan tangan, serta mulut nya yang tak henti-hentinya meniup- niup, sekedar untuk menghilangkan rasa grogi nya. ia benar-benar di buat tak karuan oleh suami sekaligus idola nya tersebut.
__ADS_1
Bisa di bayangkan bagaimana perasaan Alina bisa menikah dengan aktor favoritnya sendiri, dan sebentar lagi mereka mungkin akan melaksanakan Sunnah Rasul sebagai pengantin baru.
Sungguh sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.
" Duh gimana nih? Aku harus gimana ya Allah? Alina belum siap, tapi Alina juga gak boleh nolak!" Ucap Alina heboh sendiri. Ia mondar-mandir tak karuan di dalam kamar mandi, sambil mengigit kuku-kuku jari nya.
" Ah ya sudah lah, siap gak siap, harus siap." Monolog nya. Ia lantas menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara kasar.
" Semangat!" Alina mengepalkan kedua tangannya ke atas, mencoba menyemangati diri sendiri. Setelah itu Alina pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri Li yang sudah berbaring di tempat tidur nya.
" Kenapa lama sekali? Apa yang kamu lakukan di dalam kamar mandi?" Tanya Li, ia lantas menggeser sedikit tubuh nya agar Alina memiliki ruang di samping nya.
" Tidak lagi ngapa-ngapain kok A'." Jawab Alina sambil tersenyum manis ke arah Li. Alina pun menempatkan diri di samping Li, dan duduk di tepi ranjang. Saat Alina ingin membuka hijab nya, tiba-tiba Li mencegah nya.
" A_apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Li cemas.
" Mau buka hijab lah A', emang mau ngapain lagi?" Tanya Alina balik.
" J_jangan!" Cegah Li semakin gusar.
" Kenapa memangnya A'?" Tanya Alina dengan polosnya.
Kini gantian Li yang di buat tak karuan oleh Alina, padahal Alina sama sekali tidak memiliki niatan untuk mengerjai Li, seperti yang dilakukan Li pada nya. Alina hanya mencoba mempersiapkan diri untuk melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri.
" Tidak apa-apa, lebih baik sekarang kita tidur saja ya! Besok kan kamu harus sekolah." Bujuk Li sambil menampakkan barisan gigi nya yang tersusun rapi.
Alina pun mengangguk polos, dan dia pun membaringkan tubuhnya di samping Li, Li meletakkan kepala Alina pada lengan nya untuk di jadikan bantal oleh Alina, Alina menurut tanpa protes, ia merasa nyaman berada di posisi itu.
Mereka pun tertidur dengan posisi saling berhadapan dengan tangan Li yang satu memeluk pinggang Alina.
__ADS_1