
Episode 63:
" Alina tunggu!!" teriak Li, namun Alina tetap berlari sambil mengusap air matanya.
" Alina kamu mau kemana?" tanya kedua orang tuanya yang baru saja tiba.
Mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya.
Chyou, Gadis dan kedua orang tua Alina menatap Li dengan tatapan bingung, seolah meminta penjelasan tentang apa yang terjadi. Lalu mereka beralih menatap Cassandra dan ayahnya. Barulah mereka mengerti meski tak sepenuhnya.
Setelah menatap sendu kepergian Alina, Li beralih menatap Cassandra dengan tatapan penuh kebencian. Bukannya Li tak mau mengejar Alina, namun ia masih harus menyelesaikan urusannya kepada Cassandra. Lagipula Li percaya, Alina pasti tidak akan berbuat nekat.
" Bagaimana, apa kau masih tidak mau meninggalkan Alina?" ucap Cassandra sambil tersenyum meremehkan.
Li pun membalas dengan senyuman yang sama, seolah tak sedikitpun ada rasa takut dengan gertakan Cassandra.
" Kau pikir aku akan takut dengan gertakan murahan mu itu? kau pikir aku akan meninggalkan Alina karena takut akan ancaman mu yang tak bermanfaat itu?" ucap Li kembali tersenyum miring.
" Kau pikir semudah itu menaklukkan ku? kau salah besar. Bahkan aku tahu malam itu kau hanya menjebak ku. Aku tidak benar-benar melakukan hal yang berlebihan terhadap mu. Aku tahu kau hanya mengarang kepada Alina dan semua keluarga ku, bahwa aku telah menodai mu malam itu, hanya agar aku bertanggung jawab atas semua perbuatan yang tidak aku lakukan, dan juga membuat Alina meninggalkanku, iya kan?"
" Kau benar-benar ular berkepala dua," ucap Li.
Yang lain hanya tercengang dan terkejut tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Satu di pikiran mereka untuk Cassandra, licik.
Tak berbeda dengan yang lain, Cassandra juga tak bisa berkata apa-apa untuk membela dirinya. Semua yang Li katakan sangat memojokkan dirinya.
Namun tak sampai di situ saja, Cassandra masih berusaha untuk memikirkan cara untuk membela diri.
" Hahaha Li Li," ucapnya tertawa sumbang.
" Kalian boleh percaya dengan yang dikatakan Li, tapi apa kau punya bukti yang kuat untuk itu?" ucap Cassandra seolah meragukan.
" Dengar ya! disini aku lah korbannya. Aku seorang wanita yang di nodai oleh seorang Li Chung Yuu. Apa kalian tega melihat seorang wanita teraniaya, hah? dimana hati nurani kalian?!" kata Cassandra sambil histeris.
Semua orang tak bergeming. Mereka tahu watak seorang Cassandra, dan mereka tidak akan percaya begitu saja dengan drama yang ia buat.
Li tersenyum puas melihat ekspresi semua orang yang nampak biasa saja. Ia seolah tersenyum mengejek kepada Cassandra, membuat Cassandra semakin kesal.
" Apa kau mau tahu rahasia lainnya tentang dirimu?. Mungkin kau lupa, biarkan aku yang akan mengingatkan mu kembali," ucap Li.
" Apa maksudmu?"
" Tunggu sebentar lagi! ada sesorang yang juga harus mendengar rahasia ini."
" Apa maksudmu Li, jangan membuat ku menunggu yang tidak penting seperti ini! Siapa orang yang kau maksud?"
" Ohh, ternyata kau sudah tidak sabar ya menerima kejutan ini."
Tak lama sebuah mobil polisi datang dan membuat Cassandra ketar-ketir dibuatnya. Namun ia harus tetap biasa saja seolah tak bersalah dalam hal ini.
Dua orang polisi berseragam pun turun dari mobil, namun di sana juga ada Aisyah bersama mereka.
" Sekarang semuanya sudah lengkap, dan waktunya untuk memberi mu kejutan, Cassandra," ucap Li dengan tersenyum penuh kemenangan.
" Kalian pengecut, beraninya cuma main keroyokan," ucap Cassandra dengan raut wajah ketakutan.
" Sebenarnya bukan main keroyokan, hanya saja banyak yang membela kebenaran dari pada mengikuti kejahatan mu itu."
Bukan Li yang menjawab, melainkan Tian yu yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana datangnya.
Cassandra dan ayahnya kini sudah terkepung. Mereka benar-benar tak tahu lagi harus meloloskan diri bagaimana lagi caranya.
" Apa mau kalian sebenarnya? mengapa kalian memperlakukan kami seperti ini? salah kami apa?"
Kini giliran Yun yang berbicara. Ia pun mendekat pada sang anak, dan mencoba melindunginya seolah menjadi sebuah tameng untuk sang anak semata wayangnya itu.
" Salah apa kau bilang? kau masih tak sadar salah kalian dimana?" kata Tian.
Tian lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, lalu memperlihatkannya pada Yun dan Cassandra serta semua orang yang ada di sana.
" Dengarkan ini baik-baik!" ucap Tian.
__ADS_1
Tian memutar sebuah rekaman tentang rencana pembunuhan Ferdi beberapa tahun silam. Terdengar jelas bahwa di sana Cassandra sedang menelpon seseorang untuk menyuruhnya melakukan pembunuhan itu.
Terlihat Aisyah meneteskan air matanya ketika mendengar rekaman itu. Aisyah memang sudah di beri tahu tentang siapa pembunuh suaminya, namun hatinya terasa sakit jika harus mengingat itu kembali.
Imah yang melihatnya, langsung mendekat dan mencoba untuk menenangkan.
Cassandra dan ayahnya benar-benar dibuat tak berkutik lagi dengan semua bukti-bukti yang ada.
Ingin lari pun tidak bisa, karena semua tempat sudah di kepung oleh beberapa anggota kepolisian.
" Oh ya, sudah cukup ya untuk bukti hari ini, karena jika di ungkapkan satu persatu, waktunya tidak akan cukup. Kesalahan kalian itu terlalu banyak, hingga butuh memori banyak untuk menyimpan kejahatan kalian di ponsel ku," kata Tian.
" Bahkan, anak yang kau kandung itu juga bukan anak Li kan? itu adalah anak hasil bayaran kan? kau membayar seseorang untuk menghamili mu, dan mengakui bahwa anak yang kau kandung adalah anak dari Li. Sungguh benar-benar licik," tambah Tian.
" Diam kau bo*oh!" teriak Cassandra.
" Pak, tangkap mereka sekarang!" Perintah Li pada pihak kepolisian.
Mereka berdua pun tak berkutik lagi karena di ringkus polisi.
" Kurang ajar kalian semua!!" teriak Cassandra merasa tak terima.
" Kalian lihat saja, aku tidak sebodoh itu. Kalian ingat Xiang? aku telah menyuruhnya mengikuti Alina. Dan kalian tahu setelah itu apa yang terjadi?" Cassandra lantas tertawa puas bak orang gila.
" Ayo cepat ikut!!" perintah polisi pada mereka.
Mereka pun dibawa oleh pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti.
Semua orang mengucap syukur karena akhirnya biang masalah yang selama ini selalu membuat onar pun telah tertangkap.
Di sisi lain, Alina yang sedang patah hati pun menyusuri jalan, hingga akhirnya ia tak sadar telah berjalan cukup jauh.
Ia bingung karena baru sadar bahwa ia sudah sangat jauh dari rumah.
Di tengah kebingungan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
" Kak Xiang!" lirih Alina.
" Hai Alina, akhirnya kita bertemu kembali," ucapnya sambil menaikkan alisnya layaknya seorang penggoda jalanan.
" Jangan mendekat! jika tidak aku akan loncat dari jembatan ini," ucapnya yang memang posisinya saat ini sedang berada di jembatan yang sangat tinggi, ditambah air yang begitu deras di bawah sana.
" Hahaha, loncat saja jika kau berani. Memang itu yang Cassandra inginkan."
" Cassandra? apa hubunganmu dengan Cassandra?"
" Hubungan spesial," ucapnya diiringi dengan tawa yang menakutkan.
" Jangan mendekat ku bilang!!" kata Alina, ketika Xiang terus saja maju.
Namun sayangnya Xiang nampaknya tak menggubris perkataan Alina untuk tidak mendekat.
Hingga akhirnya Alina telah sampai di sisi jembatan, dan itu membuatnya menoleh ke bawah dengan tatapan ketakutan.
" ALINA!!" terik seseorang, dan ternyata itu adalah Habibi.
" Kak Habibi!!"
" Jangan bergerak dari sana, atau tidak ku pa*ahkan lehermu!!" an*am Habibi kepada Xiang.
Namun Xiang malah tertawa bak orang gila.
Dan untungnya Li, Tian dan rombongan polisi datang tepat waktu untuk membantu.
" Jangan bergerak!!" Xiang pun langsung mengangkat kedua tangan ke atas.
" Aaaaaaaa!!!"
Namun naasnya, kaki Alina tergelincir hingga membuatnya terjatuh. Untungnya dia masih dapat berpegangan di sisi jembatan.
" ALINA!!!" Teriak Li dan Habibi secara bersamaan.
__ADS_1
Namun nampaknya Li kalah cepat dengan Habibi yang memang posisinya tak jauh dari jatuhnya Alina.
" Pegang tangan kakak!" ucap Habibi sambil mengulurkan tangannya pada Alina.
Dengan perlahan dan merasa ragu, Alina pun menjabat tangan Habibi. Dan itu membuat Li dan Tian bisa bernafas lega akhirnya.
Ketika saat polisi lengah, Xiang mengeluarkan pi*tolnya diam-diam, lalu dengan cepat menembakkan se*jata api itu ke arah Habibi sebanyak dua kali di bagian punggungnya, tepat di sebelah kiri.
" HABIBI!!" terik Li.
Dengan sekuat tenaga Habibi menahan rasa sakitnya agar Alina bisa naik ke atas permukaan dengan selamat. Sebelah tangannya memegangi pundaknya, sedangkan sebelahnya menarik tangan Alina.
Namun karena tenaganya terkuras karena rasa sakit di punggungnya itu, ia hanya bisa menahannya agar Alina tidak jatuh.
Suasana semakin mencekam. Li segera berlari untuk membantu Habibi. Dan akhirnya Alina dapat di selamatkan.
Polisi sudah membawa Xiang ke kantor untuk pemeriksaan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
" Kak Habibi, hiks hiks hiks," tangis Alina pecah ketika melihat darah yang terus mengalir dari tubuh Habibi.
Habibi sudah tak bertenaga lagi untuk berdiri. Kini ia pun terbaring di pangkuan Li sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat itu.
" Habibi, kau masih kuat kan? sebentar lagi ambulans akan datang. Kau harus bertahan sebentar lagi."
Namun Habibi menggeleng. Wajahnya sudah sangat pucat karena kehabisan banyak darah. Tangan dan kakinya sudah begitu dingin seperti mayat hidup.
" T-tidak Li, aku su-dah tidak ku-at lagi. A-aku han-nya ingin minta ma-af kepada kau dan juga A-alina, karena se-secara tidak langsung, aku pernah men-yakiti perasaan mu dengan mencintai Alina," ucapnya dengan terbata-bata.
" Dan un-tuk mu Alina. K-kakak minta maaf, dan terimakasih karena pernah menjadi warna di ha-ti kakak, me-meskipun warna itu telah milik orang lain."
Hanya air mata di balik cadar hitam itu yang berbicara. Bibirnya tak mampu berkata apa-apa karena rasa sesak di dadanya.
Alina lantas mengangguk dengan sejuta rasa sesak dan iba melihat kondisi Habibi yang memprihatinkan itu.
Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Habibi pun menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Li.
Li dan Tian hanya bisa tertunduk sedih karena telah gagal menyelamatkan nyawa Habibi.
Sedangkan tangis Alina semakin jelas terdengar setelah mengetahui bahwa Habibi telah pergi untuk selama-lamanya.
Skip dua tahun kemudian.
" Ehh anak Papa. Sini sayang!"
Abizar putra Pratama. Bayi berumur satu tahun itu dengan cepat merangkak menuju sang ayah dengan girangnya.
" Uppp dapat," ucap sang ayah setelah berhasil menangkap sang buah hati.
Ia langsung menimang-nimang nya sambil sesekali menciumi hidung bayi tersebut.
Abizar, bayi tersebut nampak tertawa senang bermain dengan sang ayah.
" Ehh Aa, mandi dulu ih. Nanti kumannya nempel lagi ke abizar," gerutu wanita bercadar yang baru saja tiba dari dapur.
" Iya Mama cerewet." Pria itu langsung menaruh kembali sang anak ke dalam boks, tak lupa sebelum pergi untuk membersihkan diri karena sehabis pulang dari lokasi syuting, ia sempat menoel hidung sang istri hingga membuat sang istri merasa kesal.
" Ihhh Aa!!" teriaknya tidak terima. Namun setelah itu ia pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya.
Ya, mereka adalah Li dan Alina serta buah hatinya. Mereka telah menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Memori dua tahun silam seakan masih membekas di ingatan mereka.
Kepergian Habibi hingga kejahatan Cassandra seolah menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka berdua.
Begitulah cara Allah mendewasakan hamba-hamba-Nya.Begitu juga dengan kehidupan mereka. Tak ada makhluk hidup yang tak mendapat cobaan. Semua pasti mendapat gilirannya masing-masing.
Dan setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya. Setiap kejahatan, pasti akan mendapatkan balasannya.
AND
Jangan lupa tinggalkan apresiasi terakhirnya.
__ADS_1
Semoga akhir dari cerita Koko Li dan teteh Alina memuaskan.
Salam sayang dari author, dan thanks you for reading 🥰💓