
Episode 59:
" Dis!" Panggil Alina pada Gadis.
" Ya teh," jawab Gadis sambil masih mendorong kursi roda Alina untuk menuju ke kamar.
" Teteh mau cari angin di taman, kamu mau temani teteh tidak?"
" Apa teteh gak kecapean karena dari tadi teteh belum istirahat," kata Gadis.
Alina mendongak menatap Gadis lalu menggenggam tangan Gadis serta wajah yang memelas.
" Please temenin teteh! teteh bosen di kamar terus," ucapnya dengan merengek ria.
Gadis pun terpaksa menghentikan dorongannya dan memutar kursi roda Alina untuk menuju ke taman.
" Iya deh iya, si yang paling manja saat ini, apa-apa semua harus di turutin," ejek Gadis.
" Sekali-kali gak papa lah manja sama adik sendiri," jawab Alina yang diiringi kekehan.
" Kebalik," jawab Gadis dengan jutek yang di buat-buat.
Dan itu membuat mereka tertawa. Entah apa yang lucu, namun kebersamaan dan kerendoman kedua kakak beradik itu seolah menjadi kelucuan tersendiri bagi mereka berdua.
" Sampai di taman tepatnya di sebuah kursi, Gadis menghentikan dorongannya pada sang kakak lalu merentangkan kedua tangannya dan mengangkat wajahnya ke langit, seolah sedang menikmati udara segar di taman tersebut.
Namun tak begitu lama, gadis kembali ke posisi semula sambil menatap sendu sang kakak yang sedang fokus pada beberapa pasien yang lalu lalang di taman tersebut dengan di bantu oleh suster.
" Teteh gak papa kan?" tanya Gadis. Sontak saja Alina menoleh pada adiknya itu dengan tersenyum manis.
" Teteh baik-baik aja kok, kenapa kamu tanya begitu?" tanya Alina heran.
Namun Gadis tak menjawab, dia malah tertunduk sambil memainkan jemarinya, seolah ragu untuk menjawab.
" Maksudnya kejadian tadi?" tanya Alina.
Dengan sedikit ragu Gadis pun mengangguk pelan.
Alina lantas tersenyum lalu meraih tangan sang adik dan menggenggamnya dengan lembut.
__ADS_1
Alina tahu bahwa Gadis sebenarnya tak tega melihat Alina di perlakukan tidak layak oleh mertuanya. Dan itu hal wajar karena Gadis pun baru kali pertama melihat sang kakak di perlakukan tak semestinya oleh keluarganya, pun Alina tidak pernah memberi tahu pada keluarganya tentang dirinya yang tak dianggap oleh keluarga suaminya sendiri.
" Tidak apa-apa kok, teteh gak menganggap perlakuan Mama Ying terhadap teteh, biar bagaimanapun kan teteh tetap harus menghormati Mama Ying sebagai mertua teteh," jawab Alina dengan bijak.
" Iya teh, kita kan tidak boleh membalas keburukan seseorang dengan keburukan pula. Kalau di balas, apa bedanya kita sama dia, iya kan teh?" kata Gadis dengan senyum polosnya.
" Gadis pintar," ucap Alina sambil mengusap lengan Gadis dengan bangga.
" Teteh minta kamu jangan kasih tau bapak sama ibu ya! nanti mereka sedih kalau tau tentang ini," kata Alina, menatap Gadis dengan binar harapan.
" Iya teh, Gadis janji," jawabnya yakin.
Setelah lama berbincang sambil menikmati udara segar sekitar taman rumah sakit tersebut, Alina dan Gadis pun kembali ke kamar karena kebetulan hari pun sudah mulai sore.
Sedangkan Li yang masih berada di kamar rawat ibunya untuk menemani sang ibu yang kebetulan tak ada siapa-siapa di sana kecuali dirinya, sebab Jung Hee dan Chyou sedang pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaian Ying. Karena sebelumnya mereka tak sempat membawanya karena keadaan waktu itu tidak memungkinkan.
Li sangat gelisah karena dalam pikirannya saat ini hanya terlintas Alina saja. Dia hanya takut kalau-kalau Alina sedang membutuhkannya saat ini. Namun keadaannya juga tak memungkinkan untuk meninggalkan Ying seorang diri. Mau tak mau terpaksa Li pun mengurungkan niatnya. Nanti setelah ayah dan adiknya datang, barulah dia akan menemui Alina.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Jung Hee dan Chyou pun tiba di rumah sakit kembali.
Ying sudah tertidur sedari tadi setelah meminum obat yang di berikan oleh suster. Sedangkan Li tak bisa tertidur karena memang sengaja menunggu ayah dan adiknya, agar ia bisa segera menemui Alina.
" Pa Cho, aku titip Mama. Aku akan keluar sebentar," ucapnya yang terkesan buru-buru.
Dengan sedikit ragu Li pun mengangguk sambil menundukkan kepalanya.
" Pergilah Nak, temui istri mu! dia pasti sudah menunggu mu sejak tadi." Kontak menduga Jung Hee akan mengatakan itu padanya. Ia pikir Jung Hee akan sama seperti Ying yang tidak menyukai Alina, namun dugaannya salah.
" Wah kau mau menemui kakak ipar ya? sampaikan salam ku untuknya ya! tadi aku tidak sempat mengakrabi nya karena situasi yang tegang," kata Chyou yang semakin membuat Li terharu karena ternyata hanya ibunya yang tak menyetujui pernikahannya dengan Alina.
" Oh ya kak. Memangnya kakak ipar sakit apa sampai di rawat di rumah sakit ini?"
Li tertunduk lalu terkekeh sendiri, membuat Chyou dan Jung Hee saling pandang dan heran.
" Ada apa dengan mu Nak, kenapa kau malah tertawa?" tanya Jung Hee penasaran.
" Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja aku yang lupa sesuatu," jawab Li yang semakin membuat Jung Hee dan Chyou penasaran.
" Lupa? apa yang lupa?" tanya Chyou.
__ADS_1
" Aku lupa memberi tahu kalian bahwa saat ini Alina sedang mengandung." Tentu saja Jung Hee dan Chyou terperangah, namun mereka begitu senang mendengar kabar itu.
" Akan tetapi kandungannya sangat lemah dan harus lebih hati-hati dalam segala hal apapun," ucapnya dengan tertunduk lesu.
Jung Hee lantas mendekati putranya tersebut lalu memegang pundaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Tidak apa-apa, aku yakin dia dan calon cucuku akan baik-baik saja. Kau sebagai seorang suami harus selalu berada di sampingnya jika sewaktu-waktu dia membutuhkanmu, kau selalu siap," nasehat Jung Hee.
Li menganguk dan menatap ayahnya dengan yakin. Perasaannya menjadi lebih tenang setelah ayahnya sendiri yang memberi support untuknya. Ia seakan mendapatkan asupan yang lebih untuk menjalani kehidupannya menjadi seorang calon ayah nantinya.
" Ya sudah Pa, aku mau menemui Alina dulu, siapa tahu dia butuh sesuatu." Jung Hee pun lantas menganguk dan Li pun segera menuju kamar rawat Alina yang kebetulan tak begitu jauh dari kamar Ying.
Sampai di kamar Alina, Li membuka pintu dan masuk dengan perlahan. Karena kebetulan semua orang yang menunggui Alina sudah tertidur, namun wanita bercadar itu masih belum tertidur dan malah sibuk dengan ponselnya.
Li pun mendekati Alina dengan perlahan, hingga Alina sendiri tak menyadari bahwa Li sudah datang.
" Assalamualaikum cantik," kata Li dengan setengah berbisik tepat di samping Alina.
" Astaghfirullah halazim," ucap Alina yang terkejut dengan kedatangan Li yang tidak ia ketahui.
" Sutttt," ucap Li dengan meletakkan jari telunjuk nya di atas bibirnya, mengisyaratkan agar Alina tidak boleh terlalu keras saat berbicara.
" Aa sih, bikin kaget aja," kesal Alina dengan suara yang pelan.
" Maaf, tapi kan kamu yang terlalu fokus sama HP sampai tidak melihat kedatangan Aa."
" Iya deh iya, Alina yang salah," kata Alina mengiyakan, namun dengan wajah kesal.
" Utu utu utu, jangan marah ya, kan cuma bercanda. Kalau marah cantik nya hilang nanti," kata Li terdengar seperti sedang merayu.
" Iya, Alina tidak marah, tapi Lina mau sesuatu A," ucap Alina dengan nada merengek.
" Mau apa memangnya?"
" Lina mau rujak boleh tidak?" ucapnya dengan nada memohon.
" Tapi apa ada rujak malam-malam begini?" tanya Li ragu, sebab jam sudah menunjukkan pukul dua malam.
" Ya tapi Alina mau A," kata Alina keukeh.
__ADS_1
" Iya nanti Aa cari kan, kamu tunggu di sini dulu ya!"
Alina pun mengangguk senang karena keinginannya di penuhi. Sebenarnya ia sendiri tidak tega memerintahkan suaminya untuk membelikan makanan saat malam sudah larut begini, namun ia pun tidak bisa menolak keinginannya untuk memakan rujak yang ia mau, karena itu keinginan langsung dari sang buah hati yang masih ia kandung.