
Episode 16:
Saat mobil Alina sudah melaju dan sudah menjauh dari Li berada, tiba-tiba Alina melupakan sesuatu, ia lantas menepuk jidatnya.
" Astaghfirullah, kok aku jadi pikun begini! Gimana coba, Aa Li mau ke rumah, kalau aku sendiri belum ngasih alamat rumah mama sama dia." Monolog nya. Sedangkan asisten rumah tangga nya yang melihat kegelisahan anak majikan nya pun merasa heran.
" Nona bicara pada siapa?" Tanya nya.
" Eeeee, tidak kok kak, Lina tidak bicara dengan siapa-siapa!." Asisten itu pun mengangguk percaya, dia pun tak menanyakan apa-apa lagi pada Alina.
" Lina kamu sudah pulang?" Tanya nya, yang ternyata itu adalah Aisyah yang baru pulang dari restoran nya. Dia sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi.
" Ehh mama, Assalamualaikum ma, Iya Udah ma, baru saja pulang, mama sendiri udah lama pulang nya?" Ucap nya, tak lupa Alina segera menghampiri Aisyah dan mencium tangan Aisyah.
" waalaikumsalam! Enggak juga, baru saja mama pulang." Jawab Aisyah. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada televisi.
Alina memilin ujung jilbab nya, merasa ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Aisyah.
" Emmmmm ma!" Panggil Alina dengan ragu. Aisyah yang sedang fokus pada televisi itu, ia pun menoleh saat Alina memanggil nya
" Iya sayang, ada apa?" Jawab Aisyah dengan lembut.
" Emmmm gak jadi deh, besok aja Alina bilang nya." Ucap Alina, ia mengurungkan niatnya. Aisyah tersenyum, dia nampak tidak masalah saat Alina tak jadi mengatakan nya.
" Ya udah gak papa kalau belum mau cerita sekarang, lebih baik sekarang kamu ganti baju dulu, abis itu kita makan siang. Tidak lama lagi mas Ferdi akan pulang, kita makan siang bersama ya!" Ucap Aisyah.
" Jadi pak Ferdi sudah pulang?"
" Iya, sekarang sedang di perjalanan pulang." Jelas Aisyah. Alina mengangguk-angguk, seperti ada yang sedang ia pikirkan.
" Ya sudah ma, Lina ke kamar dulu ya." Pamit Alina.
" Iya sayang."
Tak berselang lama, Ferdi sudah pulang. Alina dan Aisyah menyambut nya dengan perasaan senang. Mereka lalu makan siang bersama dan banyak cerita tentang banyak hal, termasuk kabar orang tua Alina di kampung.
Ferdi mengatakan bahwa dia sudah memberikan sejumlah uang kepada Jaka, dan ia juga sudah membayar lunas uang sekolah Gadis.
Alina merasa terharu, dia merasa banyak berhutang Budi kepada Ferdi dan Aisyah yang telah sangat baik pada nya dan keluarga nya. Berkat bantuan keuangan dari Ferdi, kini hidup keluarga nya jadi lebih baik sekarang ini.
Satu kabar yang membuat Alina senang sekaligus terkejut dengan berita yang di sampaikan oleh Ferdi. Ternyata masalah tentang fitnah yang terjadi pada nya dulu sudah terselesaikan. Semua warga sudah tahu bahwa Alina tidak bersalah dan dia hanya di jebak oleh Dian dan satu orang pemuda. Namun yang tak kalah mengejutkan, ternyata yang menjadi dalang atas semua itu adalah Dewi, teman sekaligus seorang yang sudah Alina anggap kakak sejak kecil. Kini semua tersangka sudah di tindak lanjuti oleh wakil desa, mereka di laporkan atas dugaan pencemaran nama baik.
" Astaghfirullahhalazim!" Alina mengusap wajah nya yang berlinang air mata karena merasa frustasi. Ia tak habis pikir dengan kejahatan yang dilakukan Dewi padanya.
" Terus, siapa yang membongkar kejahatan mereka?" Tanya Alina pada Ferdi.
" Menurut yang bapak dengan dari bapak kamu sih, katanya Dewi sendiri yang mengakui nya." Jawab Ferdi.
__ADS_1
" Memangnya atas dasar apa teh Dewi mengakui kesalahannya? Apa dia menyesal?" Pikir Alina.
" Bapak rasa tidak, karena katanya Dewi di ancam seseorang yang tak di kenal, kalau sampai dia tidak mengakui kesalahannya, maka orang itu tak segan-segan membuat hidupnya tak tenang." Jelas Ferdi. Alina di buat penasaran dengan orang yang sudah membantu nya. Namun di sisi lain, Alina juga merasa prihatin dengan apa yang menimpa Dewi tersebut, tetapi bagaimanapun dia juga harus mendapatkan hukuman nya atas apa yang sudah ia perbuat pada Alina.
*************
Sampai pagi menjelang pun, Alina masih belum berani untuk mengatakan sesuatu tentang Li kepada Ferdi dan Aisyah. Ia merasa bersalah atas sikap nya itu, tetapi mau bagaimana lagi. Alina masih merasa ragu dan takut untuk mengatakan nya, toh hari ini Li pasti tidak akan datang, karena kan dia juga belum memberi tahu tentang alamat rumah nya kepada Li.
Hari ini bertepatan pada hari libur, keluarga Ferdi melakukan aktivitas nya masing-masing. Ferdi sudah keluar pagi-pagi sekali untuk berolahraga, sedangkan Aisyah dan Alina sedang asyik belajar membuat kue bersama.
Setelah selesai membuat kue Alina dan Aisyah membersihkan diri masing-masing. Tiba-tiba Aisyah yang baru saja selesai membersihkan diri, mendengar bunyi bel dari luar.
Saat seorang asisten nya akan membukakan pintu, Aisyah lebih dulu mencegah nya. Dia mengatakan bahwa dia sendiri lah yang akan membukakan pintu tersebut.
" Selamat pagi menjelang siang Tante!" Sapa seorang lelaki yang menggunakan masker dan kaca mata hitamnya.
" Selamat pagi, cari siapa,,,,,,,?" Perkataan Aisyah terhenti saat pemuda tersebut membuka masker serta kacamata hitam nya.
" Kamu!" Ucap Aisyah merasa terkejut.
" Iya, saya Tante, yante mengenal saya?" Tanya pria itu memastikan. Aisyah hanya mengangguk.
" Maaf, nak Li mencari siapa? Apa nak Li tidak salah rumah?" Tanya Aisyah keheranan.
" Saya rasa tidak Tante!. Benarkan ini rumah orang tua angkat Alina putri?" Tanya Li memastikan. Sebenarnya ia sudah tahu, dia bertanya hanya sekedar basa-basi saja.
" Kalau begitu, silahkan masuk dulu!" Ucap Aisyah mempersilahkan. Ia masih merasa tak menyangka, ada seorang artis terkenal bertamu ke rumah nya.
" Silahkan duduk dulu, Tante akan panggilkan Alina dulu ke kamar nya." Ucap Aisyah saat mereka sudah berada di ruang tamu. Li pun mengangguk dan segera duduk.
" Alina!" Tak ada sahutan dari dalam kamar nya, namun Aisyah mendengar sayup-sayup bahwa ada suara orang yang sedang mengaji. Aisyah membuka pintu, dan benar saja, Alina sedang mengaji sehabis sholat sunah duha yang baru saja ia laksanakan.
Melihat kedatangan Aisyah ke kamar nya, Alina lantas meletakkan Al-Qur'an kecil nya di atas nakas, dan segera menghampiri Aisyah serta menyalami nya dengan Hidmat.
" Alina, ada yang mencari kamu di luar." Jelas Aisyah langsung pada intinya.
" Siapa ma?"
" Kamu temui saja dulu, nanti juga kamu akan tahu." Kata Aisyah dengan sengaja tak mengatakan kedatangan Li kepada Alina. Alina tak protes, ia bergegas membuka mukena nya dan berganti pakaian serta cadarnya.
" Ya udah, kalau gitu Alina temui tamunya dulu ya ma." Aisyah lantas mengangguk sambil tersenyum jail kepada Alina. Alina merasa curiga dengan senyum Aisyah, namun ia tidak menghiraukan nya dan langsung menemui tamu nya itu.
" Aa Li, kok bisa ada di sini?" Tanya Alina heran, sebab dia belum memberi tahu tentang alamat rumah nya kepada Li.
" Kenapa kamu terkejut? Tidak suka dengan kedatangan saya?" Tanya Li berpura-pura tersinggung.
" Duh mulai deh!. Kumat lagi nih suuzon nya!!" Ucap Alina kesal. Ia mengatakan nya dengan menggunakan bahasa nya, membuat Li mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan ucapan Alina.
__ADS_1
" Kamu mengatakan apa tadi?" Tanya Li.
" Ah tidak, tidak mengatakan apa-apa!" Elak Alina.
" Jangan berbohong, katanya bohong itu dosa!" Cibir Li. Alina semakin membulat kan matanya merasa kesal karena mati gaya dengan ucapan Li.
" Walaupun saya tidak mengerti bahasa kamu, tapi saya tahu kalau kamu sedang mengatai saya." Tuduh Li masih tak mau kalah.
" Ya terserah Aa saja lah." Alina menghentak-hentakkan kaki nya dan menggerutu karena merasa sangat kesal, hal itu membuat Li sangat gemas dan ingin sekali mencubit pipi Alina. Tapi ia sadar bahwa dia belum boleh melakukan itu. Ia pun terkekeh geli dengan tingkah Alina yang semakin membuat nya tidak sabar untuk menghalalkan nya segera.
' Dasar wanita, selalu bisa berhasil membuat pria merasa tak berkutik dengan tingkah lucu mereka.' Li lantas terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.
Tanpa mereka sadari, Aisyah diam-diam sedang memperhatikan mereka dari kejauhan, sambil senyum bahagia yang terpancar di wajah nya. Ia masih tak menyangka, Alina bisa sedakat itu dengan artis terkenal dan itu juga idola nya sendiri.
Tak lama setelah itu, Ferdi juga pulang dari maraton nya. Dia sempat terkejut dengan kedatangan Li kerumahnya, namun Alina pun menjelaskan maksud kedatangan Li kerumahnya tersebut, kecuali tentang rencana Li yang akan melamar nya.
" Bagaimana pak, apa bapak bersedia membantu Aa Li untuk masuk Islam? Bapak bersedia kan mengantarkan kami ke rumah ustadz Mansur?" Kata Alina. Ustadz Mansur kebetulan adalah guru mengaji Alina di negeri itu, dia salah satu tokoh agama Islam di negeri sana.
Ferdi nampak sedang berpikir keras dengan permintaan Alina yang menurutnya tidak mudah itu.
" Hemmm. Sebenarnya mengapa kamu kekeh ingin masuk Islam?" Tanya Ferdi pada Li. Li yang di tanya begitu merasa gugup dan bingung harus menjawab apa. Sebab, selain ingin mempelajari Islam lebih dalam, ada hal lain yang membuat nya lebih tertarik.
" Emmm, karena saya merasa Islam adalah agama yang membuat saya yakin untuk mengenal nya lebih dalam." Meskipun ia menjawab dengan ragu-ragu, namun ia sama sekali tidak main-main dengan ucapan nya.
Ferdi pun mengangguk puas dengan jawaban Li.
" Baiklah. Apa orang tua mu tahu tentang ini? Apa mereka mengizinkan nya?" Tanya Ferdi seakan mengulang kata yang sama.
" su_sudah, aku sudah memberi tahu orang tua ku, dan mereka tidak keberatan." Jawab Li dengan gugup.
" Baiklah, saya akan mengantarkan kalian ke rumah ustadz Mansur sekarang juga." Dengan sekian banyak pertanyaan, Ferdi pun akhirnya setuju.
" Terimakasih banyak pak." Ucap Li, dia pun meraih tangan Ferdi dan mencium nya.
Mereka bertiga pun berangkat ke rumah ustadz Mansur yang kebetulan letaknya tak terlalu jauh.
Tak berselang lama, mereka pun sampai ke rumah ustadz Mansur, dan beliau menyambut mereka dengan sangat ramah.
Tak lupa Ferdi juga mengatakan maksud kedatangan mereka ke sana.
" Masyaallah, Alhamdulillah. Semoga selalu Istiqomah ya nak." Ucap ustadz Mansur setelah mengetahui maksud kedatangan mereka.
" Terimakasih ustadz!" Jawab Li.
" Baiklah kita mulai sekarang?" Tanya ustadz Mansur.
" Iya ustadz, silahkan!" Ucap Ferdi mempersilahkan.
__ADS_1
Dan mereka memulai nya, acara nya telah selesai dengan lancar. Kini Li sudah resmi menjadi mu'alaf.