My Idol My Imam

My Idol My Imam
Muhrim?


__ADS_3

Episode 14:


Seperti biasa, setelah pulang sekolah Alina menunggu jemputan nya.


Kali ini Aisyah tidak menjemput nya. Dia hanya menugaskan supir pribadinya untuk menjemput Alina, dia juga sudah mengatakan nya pada Alina sebelum dia pergi ke sekolah nya, dia mengatakan ada hal penting yang membuatnya tidak bisa menjemput Alina.


Tidak seperti semalam. Kali ini supir pribadi tersebut datang tepat waktu, namun beriringan dengan itu, sebuah mobil yang Alina kenal, berhenti tepat di depan nya, dan terpaksa Alina menghentikan langkahnya menuju mobil, karena Alina juga berniat mengembalikan Hoodie milik Li kepada pemiliknya.


Benar saja, Li keluar dari mobilnya dan menghampiri Alina. Entah mengapa setiap kali bertemu Li, perasaan Alina selalu di buat tak karuan oleh nya, mungkin karena Li adalah idola nya, atau ada perasaan lain yang melebihi perasaan fans kepada Idolanya.


Begitu juga dengan Li, ia selalu merasa gugup jika menatap Alina, namun dia sangat pintar menyembunyikan perasaan nya hingga tak terlihat oleh Alina bahwa Li sedang gugup.


Alina segera menangkupkan kedua tangannya dan menunduk.


" Kebetulan sekali kita bertemu di sini, ini." Ucap Alina mengunakan bahasa Inggris meski tidak terlalu lancar, namun Alina sedikit bisa menggunakan bahasa Inggris. Alina menyodorkan Hoodie yang sudah ia cuci dan di beri wewangian itu kepada Li. Dan Li pun menerima nya tanpa protes.


" Terimakasih ya Hoodie nya!" Ucap Alina. Li pun mengangguk serta tersenyum manis.


" Sama-sama." Jawab nya singkat.


" Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Alina lagi. Ia pun berbalik dan hendak beranjak menuju mobil yang sudah menunggu nya dari tadi, namun Li memanggil nya kembali.


" Tunggu!." Seru Li.


Alina menghentikan langkahnya tanpa berbalik ke arah Li.


" Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Li meminta izin.


Alina merasa ragu, sebab ia berfikir tidak baik jika seorang wanita dan laki-laki yang bukan mahram nya berbicara berdua saja. Kebetulan di tempat itu sudah terlihat agak sepi karena para siswa/i sudah pulang semua, hanya tinggal dirinya saja yang tersisa.


" Maaf aku tidak bisa!" Tolak Alina. Ia masih tetap pada posisi nya, tanpa menoleh sedikit pun.


" Kenapa?"

__ADS_1


" Karena kita bukan muhrim, tidak baik jika yang bukan muhrimnya berduaan di tempat sepi seperti ini." Alina memejamkan mata nya kuat-kuat, ingatan tentang dirinya di fitnah dan di usir dari kampung nya, seakan berputar-putar di kepala nya.


" Muhrim? Apa itu muhrim?" Tanya Li tak mengerti dengan maksud Alina.


" Di dalam keyakinan ku, muhrim itu adalah sebuah ikatan darah atau ikatan yang di karenakan sebuah pernikahan, selain itu tidak di benarkan seorang wanita dan pria bersentuhan atau berdekatan, kecuali sesama jenis nya." Jelas Alina.


" Tapi bukankah kau dan supir itu bukan muh_rim? Tapi kenapa kau berduaan saja di dalam mobil?" Tanya Li.


" Kami tidak berduaan saja, ada pembantu wanita yang di tugaskan oleh orang tua angkat ku untuk menemani kami." Jelas Alina, yang memang benar adanya.


" Kalau begitu, bukankah kita juga tidak berduaan saja? ada supir dan pembantu mu di sana." Li menunjuk pada supir yang masih setia berdiri menunggu Alina di luar mobil dan seorang asisten rumah tangga yang menunggu di dalam mobil. Li nampak nya masih tak menyerah dengan usaha nya mendekati Alina.


Alina mengikuti arah tunjuk Li, dan terdiam sesaat. Benar juga yang di katakan Li, bukankah dia tidak sendirian saja di tempat itu. Setidaknya ada supir dan pembantu Aisyah yang mengawasi mereka.


Sedetik kemudian Alina mengangguk menyetujui permintaan Li.


" Pak!" Panggil Alina pada sang supir.


" Ya nona." Jawab supir tersebut dengan sopan dan nampak menghormati Alina.


" Bisa nona." Jawab nya lagi.


" Terimakasih ya pak." Tak lupa Alina mengucapkan terima kasih kepada supir tersebut. Supir itu lantas mengangguk hormat pada Alina.


Alina pun membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Li, namun pandangan nya masih ia jaga.


" Baiklah, memang nya apa yang ingin Aa bicarakan?" Alina seolah keceplosan menyematkan kata ' Aa ' untuk menyebut nama Li, ia terbiasa dengan panggilan itu untuk seorang lelaki yang lebih tua sedikit dari nya saat dia tinggal di kampung nya dulu.


Li menyadari panggilan itu terdengar asing di telinga nya, dia pun penasaran dengan hal itu.


" Apa lagi itu Aa?" Tanya Li penasaran. Alina seolah baru menyadari kesalahannya, dia pun menutup mulutnya yang keceplosan dengan sebutan itu di gunakan untuk Li sebagai orang China, tentu Li merasa asing dengan sebutan itu.


" Eeeeee,,,,,,i_tu,,,,,,,!!" Alina merasa salah tingkah dengan ucapan nya sendiri.

__ADS_1


Li memicingkan mata nya, dia dengan sabar menunggu penjelasan Alina.


" I_itu semacam sebutan untuk orang yang lebih tua dari saya." Jelas Alina. Li pun mengangguk paham.


" Benarkah?" Mata Li nampak berbinar dengan penjelasan Alina. Alina pun mengangguk pelan sambil menggigit bibirnya yang tertutup oleh cadar.


" Kalau begitu jangan hilangkan panggilan itu untuk ku ya!" Pinta Li sedikit memohon.


Awalnya Alina merasa terkejut sekaligus heran dengan permainan Li, namun Alina mengiyakan saja tanpa banyak bertanya lagi.


" Jadi apa yang ingin Aa bicarakan?" Ulang Alina sekali lagi.


" Aku ingin bertanya, mengapa kau selalu menutupi wajahmu itu dengan kain? Apakah terjadi sesuatu pada wajah mu?." Tanya Li.


" Tidak terjadi apa-apa pada wajah ku, dan wajah ku baik-baik saja." Jawab Alina seadanya.


" Lalu untuk apa kau menutupi wajah mu? Apakah wajah mu sangat jelek? tapi kau tidak mau mengatakan nya hanya karena kau malu." Sedikit terdengar mengejek.


Alina yang mendengar itu, merasa mulai di buat jengkel.


" Aku menutupi wajah ku karena keyakinan ku melarang wanita membuka aurat atau tubuh nya termasuk wajah, dan bukan karena apa-apa." Jawab Alina dengan tegas.


" Lagi pula, jelek atau cantik nya diri ku bukan urusan siapa-siapa, termasuk Aa Li." Ucap Alina mulai merasa kesal, setelah itu ia membalikkan badannya, berniat akan meninggalkan Li tanpa berpamitan lagi.


Li sempat di buat terperangah dengan sikap Alina yang tiba-tiba tegas dan agak kasar, namun Li menyadari kesalahannya dan dia cepat-cepat meralat nya.


" Maaf, maaf! Aku tidak bermaksud menyinggung mu, aku hanya ingin bertanya dan mengatakan sesuatu." Ralat Li, namun Alina yang sudah terlanjur di buat kesal oleh Li pun, enggan untuk menghentikan langkahnya. Dia tetap berjalan menuju tempat mobil nya di parkir.


Li mulai bingung, dia telah kehabisan kata-kata untuk meminta maaf kepada Alina. Tiba-tiba,,,,,,,.


" Maukah kau menjadi muhrim ku?" Ucap Li dengan lantang, tegas dan tanpa keraguan.


Seketika langkah Alina terhenti. Dia di buat syok dengan pernyataan Li yang tiba-tiba melamar, menyatakan cinta, atau apalah itu, Alina juga tidak mengerti apa maksud dari Li yang mengatakan hal tersebut pada nya.

__ADS_1


Perasaan Alina di buat campur aduk dengan apa yang baru saja terjadi, ini seakan sebuah mimpi baginya, namun dia juga di buat bingung dan ragu dengan apa yang baru saja Li ucapkan.


__ADS_2