
Episode 22:
Seperti biasa, setelah pulang sekolah Alina menunggu jemputan nya. Tapi hari ini ia sudah di jemput suaminya, bukan supir pribadi lagi.
" Lina kamu menunggu jemputan mu ya?" Tanya Cia yang sudah berada di dalam mobil nya, dan ia di jemput oleh kakak laki-lakinya.
" Na'am Cia!" Jawab Alina.
" Apa masih lama?"
" Emmm mungkin sebentar lagi akan tiba." Alina melirik jam di pergelangan tangannya.
" Apa mau barengan saja dengan ku?"
" Tidak usah, tidak apa-apa kok. Aku menunggu jemputan ku saja, lagi pula jika aku tak ada di tempat, nanti dia mencari ku." Ujar Alina menyematkan kata dia untuk Li.
" Dia siapa? Supir mu maksud nya?" Tanya Cia heran. Alina lantas mengangguk ragu-ragu. Dia bingung harus memanggil Li dengan sebutan apa saat di depan orang lain. Dia juga tak mau mengangap suaminya sendiri sebagai supir nya.
" Ya sudah, jika begitu aku duluan saja ya."
" Iya, jati-hati di jalan ya Cia!" Alina melambaikan tangan nya kepada Cia, dan di balas pula oleh Cia, namun kakak Cia sempat mengedipkan mata dengan genit pada Alina, membuat Alina cepat-cepat menundukkan kepalanya.
" Siapa namanya?" Tanya kakak Cia saat mobil mereka sudah melaju.
" Siapa?" Cia tak mengerti siapa yang di maksud kakak nya.
" Wanita ninja tadi."
" Ohhh. Itu cadar kak, bukan ninja. Nama nya Alina, memangnya kenapa?."
" Tidak, hanya penasaran saja. Mengapa dia harus memakai cadar seperti itu? Apakah wajah nya
jelek?"
" Kurasa tidak, kika di lihat dari mata nya dia sangat cantik, hanya saja dia sengaja merahasiakannya karena keyakinannya mengharuskan dia memakai penutup wajah." Kakak Cia hanya mengangguk paham.
" Apa dia sudah punya pacar?"
" Sejauh yang aku tahu, Alina tidak memiliki pacar. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak boleh pacaran di karenakan keyakinan nya melarang nya."
" Menarik!" Kakak Cia tersenyum smirk.
__ADS_1
Di sisi lain, Li sudah datang untuk menjemput Alina. Dia agak terlambat sedikit, sehingga murid yang lainnya sudah banyak yang pulang, hingga hanya tersisa Alina saja di sana.
Li cepat-cepat menghampiri Alina dengan rasa bersalah nya.
" Maaf ya sayang, aku terlambat."
" Tidak apa-apa, mungkin kedepannya aku harus lebih bersabar karena memiliki suami artis terkenal yang super sibuk." Alina mengatakan nya dengan perasaan kesal, mungkin sisa kecemburuan nya masih belum hilang, sebenarnya ia tidak mengapa dengan keterlambatan Li.
" Ayo dong sayang, jangan marah begitu!" Bujuk Li.
" Terserah." Ucap Alina. Ia lantas berlalu dari hadapan Li untuk menuju mobil.
Li pun mengikuti sang istri yang masih kesal terhadap nya.
" Sayang, kita langsung pulang atau kamu mau makan dan belanja dulu?" Tanya Li saat mereka sudah berada di dalam mobil.
" Terserah." Alina lagi-lagi hanya mengucapkan kata terserah sambil bersidekap dada.
" Ayo lah sayang, jangan mendiamkan aku seperti ini,
aku tidak sanggup karena suara mu adalah sumber kekuatan ku." Li mencoba merayu Alina meski sebenarnya itu bukan sebuah rayuan semata.
Rasanya Alina ingin sekali tertawa mendengar rayuan Li yang terdengar receh, bak anak sembilan puluhan.
" Ya sudah, jika kamu masih mendiamkan aku seperti ini, aku akan mengajak kamu ke hotel, dan aku akan meminta hak ku sekarang juga." Ucap nya sambil mendekat pada Alina dengan suara yang di buat se sensual mungkin. Tak lupa ia juga menggigit bibirnya sendiri, membuat Alina bergidik ngeri karena nya.
" Iya iya iya! Aku bicara sekarang. Kita akan pulang sekarang, aku sudah lelah dan ingin istirahat." Ucap Alina sambil mendorong tubuh Li menjauh.
Li tersenyum puas, lalu ia kembali memakai masker nya yang sempat ia lepas.
Li pun menuruti perintah Alina yang ingin pulang saja, ia segera melajukan mobilnya untuk menuju rumah.
Tak banyak pembicaraan antara mereka. Seperti biasa, Li hanya fokus untuk menyetir saja.
" Assalamualaikum!" Ucap Alina.
" Waalaikumsalam!" Jawab mereka serempak.
Di sana sudah ada kedua orang tua Alina serta adiknya Gadis, serta Ferdi dan Aisyah yang sedang berkumpul di ruang tamu. Alina melihat tiga buah tas besar terletak di dekat mereka.
" Loh, ibu, bapak sama Gadis mau kemana bawa-bawa tas segala?" Tanya Alina.
__ADS_1
" Ibu, bapak sama Gadis teh mau pulang sekarang." Seketika wajah Alina berubah sedih.
" Kenapa mendadak sekali atuh pak? Lina kan masih kangen sama kalian, kok sudah mau pulang aja?" Ucap Alina tak terima dengan keputusan mereka yang terkesan mendadak dan tanpa menanyakan terlebih dahulu kepadanya.
Imah menuntun tangan Alina untuk duduk bersama mereka.
" Begini ya sayang, kita teh bukan tidak mau berlama-lama di sini bersama kamu, tapi bapak sama ibu tidak bisa ninggalin sawah terlalu lama, apa lagi adik kamu kan sekolah." Imah mencoba menjelaskan pada anak nya itu.
" Tapi tah Alina masih rindu sama kalian." Ucap Alina dengan suara manja, ia juga memeluk sang ibu dengan erat.
" Neng, gak boleh gitu atuh ih! Malu tuh sama suami." Tegur Imah pada sang anak yang bergelayut manja pada nya.
" Biarin." Alina tak perduli, malah pelukannya semakin erat pada Imah. Ia juga menangis di dalam dekapan Imah.
" anjeun ngan kawas budak wae." ( Kamu ini seperti anak kecil saja!)
" Biarin, Lina teh emang masih kecil." Ucap Alina. Li dan yang lain hanya bisa terkekeh melihat tingkah laku Alina yang baru pertama kali mereka lihat.
" Ibu, Gadis juga mau." Gadis pun ikut memeluk sang ibu. Imah juga mengusap kepala kedua anak gadis nya itu.
" Bu, nanti teh kalau anak ini sudah lulus, sekolah di sini saja ya? Itung-itung untuk menemani Lina." Ucap Alina, ucapan nya ia tujukan untuk Gadis.
" Gak mau ah, kamu kan sudah punya kak Li, aku tidak mau setiap hari harus menjadi racun nyamuk untuk kalian." Tolak Gadis. Mereka masih nyaman dalam pelukan Imah.
" Obat nyamuk, geje." Ucap Alina.
" Kalau obat nyamuk, tar nyamuknya pada subur, Yang benar itu racun nyamuk." Jawab Gadis tak mau kalah.
" Benar juga." Ucap Alina mengakui.
" Sudah sudah! Kalian ini, nanti kita tidak jadi pulang kalau kalian banyak drama nya." Imah lantas melerai pelukannya pada kedua anak nya.
" Iya Alina, penerbangan mereka pukul tiga sore, sedangkan ini sudah jam setengah tiga. Waktu mereka tersisa setengah jam lagi." Jelas Ferdi. Alina kembali memandang ibu, bapak serta adiknya dengan tatapan sendu. Tak rela rasanya jika harus berpisah dengan keluarga nya secepat ini. Padahal baru saja mereka saling lepas rindu, sekarang Alina harus secepat itu merelakan kepulangan mereka ke Indonesia.
Walau berat, tetapi Alina tidak boleh egois, sawah nya juga perlu di rawat, dan adik nya juga perlu melanjutkan sekolahnya. Mau tak mau Alina hanya ikhlas untuk berpisah.
" Ibu, bapak sama Gadis. Kalian hati-hati ya! Nanti kalau sudah sampai di sana, kabari Alina ya!" Imah, Jaka serta Gadis mengangguk bersamaan. Mereka pun saling berpelukan dengan haru.
Alina melambaikan tangannya pada keluarganya yang sudah berada di dalam mobil, mereka sudah bersiap untuk menuju bandara. Setelah mobil mereka melaju, Alina tak henti-hentinya melambaikan tangannya sampai mobil mereka menghilang dari pandangan nya. Alina mengusap sisa air mata nya dengan menggunakan punggung tangannya. Li yang mengerti kesedihan istri nya lantas merangkul pundak Alina untuk lebih dekat dengan nya. Alina juga meletakkan kepalanya pada bahu Li, ia seakan melupakan kekesalannya tadi terhadap Li.
" Ehemm. Seperti nya mama harus ke dalam dulu." Pamit Aisyah pada pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
Li dan Alina menoleh sebentar ke arah Aisyah, lalu keduanya mengangguk bersamaan.
" Tenang sayang, masih ada aku disini." Ucap Li, seakan tersadar, Alina lantas menatap tajam ke arah Li. Li di buat bingung dengan sikap Alina yang bisa berubah-ubah. Padahal baru saja mereka saling akur, mengapa sekarang Alina kembali ke mode galak.