
Episode 12:
Di perjalanan pulang, Alina masih memikirkan pria tadi. Bukan maksud terpesona, hanya saja dia masih penasaran siapa pria tersebut?, Sampai-sampai dia di kejar para wanita muda tadi.
" Kamu kenapa nak?" Lamunan Alina langsung buyar karena suara Aisyah mengangetkan nya.
" E_enggak kok Bu, Alina gak papa." Elaknya. Sebenarnya ia ragu-ragu untuk menanyakan kepada Aisyah.
" E,,,,,,, Bu!" Panggil Alina ragu.
" Ya, Kenapa Alina, kamu mau tanya apa? Tanya aja gak papa kok." Kata Aisyah meyakinkan.
" Itu Bu, tadi Lina ketabrak cowok pakai masker, terus Lina sempet ngomong juga sama temen nya yang bisa bahasa Indonesia. Terus gak lama ada sekumpulan cewek-cewek yang ngejar-ngejar mereka. Memang nya mereka siapa sampai di kejar-kejar begitu? Apa mereka orang jahat ya Bu?" Tanya Alina.
" Oh ya?" Tanya Aisyah memastikan. Alina pun mengangguk.
Polos.
" Hemmm. Bisa jadi sih!. Tapi bisa juga bukan. Siapa tahu dia itu seorang artis yang di kejar-kejar fans nya." Jelas Aisyah.
" Masa sih Bu?"
" Ya bisa jadi, emang tampang nya terlihat kayak penjahat gitu?"
" Enggak juga sih Bu, tapi lebih terlihat kayak seorang model gitu, kalau di lihat dari pakaian nya, stylish banget sih."
" Nah itu dia, pasti dia artis yang lagi naik daun itu, dia emang lagi jadi idola di kalangan para wanita sih, ibu rasa di negara kamu juga." Jelas Aisyah.
" Emang siapa namanya Bu?" Sebenarnya Alina sudah tahu yang di maksud Aisyah, hanya saja, dia hanya ingin memastikan.
" Li,,,,,,, Li siapa gitu namanya?" Aisyah seperti sedang mengingat-ingat.
" Li Chung Yuu maksud ibu?" Alina membenarkan nya.
" Iya bener, itu maksud ibu, kok kamu tahu sih? Apa kamu salah satu fans nya juga?" Aisyah memicingkan matanya, bermaksud menggoda Alina.
Alina dengan malu-malu, mengangguk. Ia menundukkan kepalanya karena malu, wajah nya merona di balik cadarnya.
Aisyah terkekeh dengan tingkah Alina yang malu-malu itu.
" Gak usah malu-malu gitu, ibu juga pernah muda dan punya idola, jadi gak perlu malu sama ibu." Alina mengangguk tanpa kata.
__ADS_1
Setelah itu tak ada percakapan lagi di antara mereka hingga mereka sampai di rumah Aisyah.
***********
Alina sedang duduk di tepi kolam renang, ia sedang menikmati hembusan angin malam di luar rumah. Tadi dia baru saja menelpon keluarga nya di kampung. Bohong jika Alina tidak merindukan keluarga nya, tapi demi keluarga nya juga dia harus menahan rindu itu hingga waktu nya tiba untuk bertemu mereka.
Aisyah yang melihat Alina sedang duduk sendiri di tepi kolam renang pun menghampiri gadis itu dan duduk di sebelah nya.
Merasa ada pergerakan di samping nya, Alina menoleh lantas tersenyum kepada Aisyah.
" Ibu! Ibu kok di sini? Ini udah malem loh, angin malam gak baik buat kesehatan ibu." Alina merasa khawatir.
" Jadi maksud kamu, ibu sudah tua dan harus jaga kesehatan? Sedangkan kamu sendiri duduk di sini." Sebenarnya Aisyah tidak bermaksud tersinggung dengan ucapan Alina, dia paham jika Alina sedang mengkhawatirkan dirinya. Hanya saja, dia hanya ingin menggoda Alina.
"Bu_bukan begitu maksud Alina Bu, Alina cuma khawatir sama ibu, beneran gak ada maksud lain." Alina mengangkat tangannya. Ia merasa bersalah dan takut jika Aisyah salah faham dengan nya.
" Gak usah di bawa serius sayang, ini cuma bercanda." Aisyah terkekeh sendiri, sedangkan Alina merasa canggung dan hanya bisa nyengir untuk menutupi rasa malunya.
" Lagian kamu kenapa di sini sih malam-malam begini? Belum ngantuk?" Tanya Aisyah.
" Belum Bu, Alina lagi pengen menikmati udara malam aja, pengen ngerasain udara di sini itu gimana, ternyata dingin banget di bandingkan Indonesia ya?" Ucap Alina membandingkan.
" Ibu pernah ke Indonesia?" Tanya Alina lagi.
" Kok cuma sekali? Pak Ferdi kan orang sana, emang ibu gak rindu sama mertua ibu?" Tanya Alina. Aisyah memandang lurus ke depan dengan raut wajah sedih nya.
" Melebihi rindu yang ibu penda, ibu sangat rindu kepada beliau, tapi beliau tidak merindukan ibu sama sekali." Suara nya terdengar bergetar.
" Maaf Bu, Alina sudah lancang menanyakan hal pribadi ibu, tapi kalau ibu tidak mau cerita tidak apa-apa kok, Alina pikir hubungan ibu sama mertua ibu baik-baik aja, Alina benar-benar minta maaf Bu." Alina merasa tak enak hati karena telah membuat Aisyah bersedih.
Aisyah menolah pada Alina, matanya nampak sudah berkaca-kaca
Ia lantas tersenyum kepada Alina.
" Tidak apa-apa Alina, ibu malah senang karena ibu ada teman curhat, gak papa kan kalau ibu curhat sama kamu?" Alina tersenyum senang, lalu mengangguk semangat. Dia merasa senang karena Aisyah mempercayai dirinya untuk menjadi tempat curhat nya.
" Gak papa kok Bu, Alina malah senang sekali karena ibu mau bercerita sama Alina." Aisyah tersenyum lalu mulai bercerita.
" Dulu, ibu adalah seorang gadis yang miskin, yang bekerja di perusahaan mas Ferdi sebagai OG, saat itu keberuntungan sedang memihak pada ibu, Mas Ferdi tiba-tiba menyatakan cintanya kepada gadis OG ini dan berniat melamar nya langsung di depan semua karyawan kantor saat itu, ibu terkejut saat itu, terlebih karyawan wanita yang banyak mengidolakan mas Ferdi waktu itu.
Ibu yang juga mempunyai perasaan secara diam-diam kepada mas Ferdi pun menerima lamaran nya dengan senang hati, bahkan ibu sempat merasa bahwa semua itu hanya sebuah mimpi. Bisa di cintai pemuda tampan dan kaya seperti mas Ferdi adalah sebuah anugerah yang patut ibu syukuri.
__ADS_1
Singkat cerita, ibu dan mas Ferdi menikah di sini, di negara ini, dan setelah beberapa bulan, ibu di boyong ke Indonesia dan bertemu dengan mertua ibu. Dari awal dia memang sudah tidak suka sama ibu, karena ibu bukan asli orang sana, dan status sosial ibu yang berbeda dari mereka. Mertua ibu menginginkan menantu dari kalangan terpandang, Meskipun dia tidak pernah memperlakukan ibu dengan kasar, namun dari tatapan dan cara bicaranya yang selalu irit kepada ibu, membuat ibu merasa tidak nyaman.
Beberapa bulan setelah pernikahan, kami di beri kepercayaan, dan ibu mengandung, dan sikap mertua ibu, sedikit demi sedikit berubah lebih baik kepada ibu. Tapi,,,,,,,," ia terisak di sela sela cerita nya.
" Setelah usia kandungan ibu menginjak usia sempurna, ibu mengalami kecelakaan, dan bayi yang ada di kandungan ibu meninggal,,,,,,,!!!" Aisyah tak kuasa lagi menahan tangisnya, air mata nya tumpah begitu saja. Alina merasa prihatin, dia pun menarik tubuh Aisyah kedalam pelukannya dan mengusap-usap punggung nya.
" Dan,,,,, lebih parahnya lagi,,,,,,,, rahim ibu harus di angkat, dan ibu,,,,,,,, tidak,,,,,,!!" Aisyah tak kuasa lagi melanjutkan ceritanya, dia meraung sejadi jadinya di dalam pelukan Alina. Alina ikut merasakan kesedihan yang di rasakan Aisyah, ia pun ikut meneteskan air mata.
Setelah merasa lebih tenang, Aisyah melepaskan pelukannya dan menatap Alina dengan sendu. Dia meraih tangan Alina dan menggenggam nya.
" Alina mau gak jadi anak angkat ibu?" Ucap nya tiba-tiba. Alina sempat terperangah, namun tak lama ia mengangguk setuju.
" Terimakasih ya sayang." Aisyah sangat senang. Ia lantas memeluk Alina dengan gembira.
" Mulai sekarang, kamu harus panggil ibu dengan sebutan mama, Oke!" Ucap nya tanpa bantahan. Alina kembali mengangguk dan tersenyum.
***********
Pagi itu, Setelah mandi dan menyelesaikan kewajiban sebagai umat muslim, Alina pun pergi ke dapur untuk membantu memasak sarapan pagi. Kebiasaan pagi hari yang sering ia lakukan saat di kampung nya. Kebetulan hari ini dia juga sudah mulai masuk ke sekolah baru nya.
Semua asisten rumah tangga Aisyah menunduk hormat dan tersenyum ramah pada Alina, saat dia telah memasuki dapur, membuat Alina membalas senyuman mereka dengan ramah dan sopan pula. Kecuali satu orang yang sudah tak asing lagi di mata Alina. Alina ingat, dia pernah bertemu saat pembantu itu membukakan pintu untuk nya dan Ferdi waktu itu. Namun Alina tak ambil pusing, toh dia juga tidak meminta untuk di hormati
Malahan dia ingin di perlukan sama seperti para asisten lainnya.
Aisyah juga akan mengantarkan Alina ke sekolah baru nya, karena ia memulai sekolah nya hari ini. Banyak pengalaman yang Alina dapatkan, mulai dari mendapat teman-teman yang baik padanya meski dia adalah orang asing, guru-guru yang begitu baik, namun tak sedikit pula yang tidak menyukainya karena cara berpakaian nya yang terlihat aneh menurut mereka. Meskipun dia juga agak susah berkomunikasi karena keterbatasan bahasa.
Setelah pulang sekolah, Alina menunggu Aisyah yang katanya akan menjemputnya ketika pulang sekolah. Namun nampaknya dia agak sedikit terlambat.
Teman-teman sekolahnya sudah pulang semua, dan gerbang sekolah juga akan segera di tutup, terpaksa Alina menunggu Aisyah di luar sekolah. Ia gelisah, karena Aisyah tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
Jalanan juga terlihat sangat sepi saat itu, hingga tak ada satu pun taksi yang lewat.
Byurrr,,,,,,,,.
Tiba-tiba sebuah mobil melewati genangan air yang ada di tengah jalan, dan sialnya Alina terkena cipratan nya hingga membuat pakaian nya basah.
Alina cepat-cepat menutupi cadar putih nya yang terkena air, yang membuat nya menjadi transparan.
Tiba-tiba mobil tersebut berhenti dan seorang pria berkacamata hitam menghampirinya.
Alina menundukkan kepalanya serta pandangan nya, agar cadar nya yang basah tidak terlihat oleh pria yang bukan mahram nya.
__ADS_1
" Sorry, you're oke?" tanya pria itu.
" Yes, I am fine." Alina sedikit melihat siapa pria tersebut. Alina terkejut hingga membuat nya terperangah karena mengetahui siapa yang sedang berada di depan nya saat ini.