
Episode 15:
Alina terdiam cukup lama, ia masih merasa gamang dengan semua ini. Ia menelan ludah nya dengan susah payah, tenggorokan nya terasa tercekat.
" A_apa maksud Aa?" Tanya Alina.
" Apa kurang jelas maksud dari ucapan ku tadi? Apa perlu aku ulangi sekali lagi? Bahwa aku ingin menjadi muhrim mu, menikah lah dengan ku Alina putri!" Ulang Li dengan sangat jelas.
Mendengar nama lengkap nya di sebut, Alina membalikkan tubuhnya menghadap Li dengan tatapan heran.
" Dari mana Aa tahu nama ku?" Tanya Alina sambil memicingkan mata. Li menyeringai.
" Jangan kan nama lengkap mu, bahkan nama orang tua mu, adik mu, kedua orang tua angkat mu, semua sudah tercantum dalam pikiran ku Alina." Jawab Li.
" Bahkan aku tahu sebab dirimu sampai di sini." Li tersenyum smirk, ia lantas mendekati Alina, membuat Alina mundur beberapa langkah.
" Bahkan idola mu saja aku tahu Alina putri." Ucap nya. Ia mendekat kan wajah nya pada Alina dan sedikit berbisik.
Tubuh Alina menegang mendengar pengakuan Li yang terakhir. Ia merasa malu sekaligus takut pada Li yang tiba-tiba berubah sikap.
" D_dari mana Aa tahu semua itu?" Tanya Alina gugup.
" Alina, kamu dengar ya! Aku Li Chung Yuu, tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan dan yang aku inginkan, jika aku menginginkan sesuatu, maka aku akan mencari tahu sampai ke akar-akarnya, aku jatuh cinta pada mu sejak pertama kali kita bertemu Alina." Li mengatakan semua itu dengan serius dan lemah lembut. Tatapan mata nya tak dapat di bohongi jika dia benar-benar serius mengatakan semua itu.
Alina jadi bingung dengan sikap Li yang berubah-ubah, baru saja dia terlihat menakutkan, kini dia terlihat sangat romantis.
" Tapi kita berbeda keyakinan A'." Ucap Alina cepat. Hal itu seakan menyadarkan Li dan membuat senyum di bibir nya memudar.
" Siapa bilang aku punya keyakinan? Aku tidak menganut keyakinan apapun." Ucap nya tanpa dosa. Alina kembali di buat terkejut.
" Ma_maksudnya Aa seorang ateis?" Tanya Alina hampir tak percaya. Li pun mengangguk santai.
__ADS_1
" Bukannya keluarga Aa Li beragama Nasrani? Lalu kenapa Aa tidak mengikuti langkah mereka?" Tanya Alina lebih jauh. Ia sadar, tak baik mengetahui tentang masalah pribadi orang lain lebih jauh lagi, tetapi entah mengapa ia sangat ingin mengetahui lebih tentang kehidupan Li.
" Hati ku hanya kurang meyakini nya. Aku hanya tidak ingin memulai sesuatu dengan keyakinan ku yang hanya setengah nya saja." Alina merasa kagum dengan prinsip Li yang selalu berpegang teguh pada pendirian nya.
" Apakah orang tua Aa tidak marah?"
" Tentu saja mereka sangat murka, makanya aku memilih pindah ke apartemen pribadi ku, hanya agar aku tidak mendengar ocehan mereka yang selalu membuat ku merasa pusing." Jelas Li merasa kesal.
" Memangnya menurutmu agama itu untuk apa?" Li bertanya dengan sungguh sungguh.
" Kalau begitu aku ingin bertanya pada mu, jika Aa tidak memiliki rumah, di mana Aa akan tinggal?" Tanya Alina.
" Ya tentunya aku akan terlunta-lunta di jalanan." Jawab Li apa adanya.
" Nah, maka dari itu Aa harus memiliki rumah untuk berteduh dari panasnya matahari dan derasnya hujan, dan juga berbagai macam cuaca."
" Agama itu ibarat rumah bagi kita, jika tidak memiliki keyakinan, pada siapa Aa akan mengadu jika semua orang tidak ada yang mau mendengarkan keluh kesah mu? Kitab apa yang menjadi pedoman mu? Dan kemana arah tujuan mu hidup?" Jelas Alina secara rinci.
" Jadi, agama apa yang harus aku pilih agar aku yakin bahwa Tuhan itu selalu ada untuk ku?" Tanya Li.
" Kalau begitu boleh kah aku belajar agama mu?" Tanya Li lagi, Alina tersenyum di balik cadar nya.
" Tidak ada larangan bagi siapa pun untuk belajar agama ku. Hanya saja itu sesuai niatnya. Jika Aa belajar karena Lillahi tta'ala, maka itu akan baik untuk Aa, tapi jika Aa mempelajari nya karena dunia , maka Aa hanya akan mendapatkan dunia itu saja. Karena apa yang Aa tanam, maka itulah yang Aa tuai." Alina memberi penjelasan secara bijak, membuat Li semakin di buat terkagum-kagum oleh kelembutan dan kebijakan Alina.
" Aku semakin tertarik dengan agama mu, apakah kau bisa mengajari ku tentang agama mu? Aku berjanji akan mempelajari nya dengan sungguh sungguh." Ucap Li memohon. Ia menatap dalam pada Alina. Ada binar kesungguhan di sana. Alina terkesiap, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, seakan merasa bersalah.
" Maaf, aku tidak bisa mengajarkan Aa, Aa cari guru lain saja, aku akan memperkenalkan Aa pada seorang guru ngajiku di kota ini." Tolak Alina dengan sopan.
" Mengapa? Bukankah kau bilang tadi aku boleh belajar tentang agama mu? mengapa kau sendiri tidak mau mengajari ku? Sebenarnya aku salah apa pada mu?" Li nampak tersinggung dengan penolakan Alina.
" Bu_bukan begitu maksud ku, Aa jangan salah faham! Aku hanya tidak bisa, bukan tidak ingin. Seperti yang ku katakan tadi, kita bukan muhrim." Jelas Alina lagi. Ia tidak ingin Li salah faham padanya. Li kembali tersenyum, mungkin dia faham yang di maksud Alina.
__ADS_1
" Maka jadikanlah aku muhrim mu dulu, setelah itu kau bisa bebas mengajari ku tentang apa pun itu." Kini ia mengatakan nya dengan seringai nakal nya, membuat Alina bergidik ngeri karena nya.
Alina hanya bisa nyengir yang di paksakan, seraya beringsut mudur dari Li.
" Aa, beneran mencintai Lina?" Tanya Alina memastikan. Li hanya mengangguk polos.
" Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta pada mu Alina, Kau berbeda dari gadis lain nya." Tutur Li dengan tulus. Alina tersipu mendengar pernyataan Li, pipinya memerah bak kepiting rebus.
" Apa Aa ingin masuk Islam juga karena Lina?" Tanya Alina lagi. Li lantas menggeleng.
" Aku mungkin memang mencintai kamu, tapi aku tidak menjadikan agama sebagai kambing hitam hanya untuk mendapatkan mu. Aku mencintaimu dan mencintai agama yang kau yakini." Jawab Li dengan bijak. Alina tertegun, ia tak menyangka Li bisa mengatakan hal tersebut dengan seindah itu.
" Mau kau kau menolong ku untuk masuk Islam secepatnya?" Ujar Li.
" Tapi,,,,,,,!!!" Alina nampak ragu.
" Apakah keluarga Aa tidak menantang nantinya? Bagaimana nanti kalau mereka juga tidak merestui hubungan kita?" Tutur Alina mulai merasa khawatir. Ia *******-***** tangan nya karena merasa takut.
" Hey! Jangan khawatir! Aku akan menangani itu semua, aku akan menjelaskan pada mereka, dan mereka juga tidak berhak untuk selalu mengatur hidup ku, aku juga tidak mau mereka selalu ikut campur terlalu jauh dengan kehidupan ku, mereka boleh saja mengaturku dalam pekerjaan, tapi untuk masalah hati dan pilihan hidup ku,,,, mereka tidak boleh lagi mengaturnya, mereka tidak boleh lagi semena-mena dengan hidup ku." Ucap Li merasa geram.
" Astaghfirullahhalazim A', Istighfar! tidak baik membenci orang tua kita sendiri. Meskipun bagaimana orang tua kita memperlakukan kita, kita tidak boleh membenci atau tidak menyukainya. Biar bagaimanapun, mereka tetap orang tua yang sudah melahirkan kita dan merawat nya hingga bisa jadi seperti sekarang ini." Ucap Alina menasehati.
" Aku tidak membenci mereka Alina, aku hanya tidak menyukai cara mereka yang selalu mengekang kebebasan ku dan selalu melarang apa yang aku inginkan." Keluh Li.
" Iya, Lina ngerti Aa yang sabar ya!" Ucap Alina. Li lantas mengangguk dan tersenyum manis pada Alina, membuat Alina tersipu.
" Ya sudah, Alina mau pulang dulu, sudah siang juga, tidak baik jika terlalu lama berduaan." Ucap Alina. Ia pun bergegas menuju mobilnya dan segera pulang.
" Tugas mu belum selesai Alina, bagaimana dengan aku?" Seru Li pada Alina yang agak menjauh. Alina membalikkan tubuhnya menghadap Li.
" Besok pagi temui Lina di rumah!" Ucap nya.
__ADS_1
" Untuk apa?" Tanya Li penasaran.
" Udah datang saja, nanti juga tahu sendiri." Ucap Alina penuh dengan teka-teki. Li semakin di buat penasaran, namun saat ingin kembali bertanya, Alina sudah masuk ke dalam mobil nya dan sang supir sudah menancap gas.