My Ketos My Secret Husband

My Ketos My Secret Husband
Part 84


__ADS_3

Nggak mau periksa ke Dokter aja Mai ? " tanya Bunda, sehingga membuat Mairah menggeleng pelan.


Memang setelah kepergian Afif dua minggu yang lalu, keadaan Mairah sedikit drop.


" Nggak usah Bun, ntar juga sembuh sendiri kalau udah minum obat " jawab Mairah.


Bunda hanya menghela nafas pelan, susah memang menuturi anak perempuannya ini. Padahal tadi Mairah sendiri yang mengeluh sakit kepala, badan panas, sakit perut, mual, muntah, sampai Bunda bingung kok ada penyakit selengkap itu.


" Nanti kalau tambah parah gimana ? " kata Bunda yang terus membujuk.


" Enggak Bun, kan tadi udah minum obat nggak lama lagi pasti sembuh " kata Mairah, sehingga membuat tangan Bunda terulur memegang dahi Mairah dan ternyata panasnnya belum turun juga.


" Yaudah kalau kamu ngerasa badannya tambah sakit panggil Bunda yaa, kita ke rumah sakit " kata Bunda.


Mairah hanya mengangguk lemas, matanya sudah berat karena mengantuk, mungkin karena efek obat, namun baru saja Bunda ingin keluar tiba-tiba Mairah bangkit dan berlari kekamar mandi.


Huekkkk ! huekk ! hueekk


" Kita periksa aja ya Nak " kata Bunda sambil memijit tengkuk Mairah.


" Gak usah Bund, Mairah nggak papa kok " kata Mairah sambil mengelap mulutnya dengan tissu.


" Yaa kamu sampai muntah-muntah begini, Bunda jadi takut " kata Bunda khawatir.


" Nggak Papa Bund, paling Mairah kecapean aja ntar siang juga sembuh " kata Mairah, sehingga membuat Bunda menghela nafas.


" Nanti siang Bunda sama Papa ada acara, nanti Bunda telepon Jihan sama Marsya buat temenin kamu yaa " kata Bunda.


" Bun, Mairah nggak papa serius dehhh. Bunda pergi aja ehhhh Bund kalau di lihat-lihat Mairah gendutan ya " kata Mairah sambil memperhatikan badannya didepan cermin.

__ADS_1


" Gendut itu bukan suatu kekurangan sayang " kata Bunda sambil mengelus rambut Mairah sayang.


" Tapi nggak enak dipandang Bun, kayaknya Mairah harus rajin-rajin olahraga dehh " putus Mairah.


*******


Kini jam sudah menunjukkan jam 11 siang, dimana Mairah sudah rebahan diatas sofa selama 2 jam, namun tiba-tiba dia merasakan lapar.


" Gak papa kok cacing kalau kamu lapar bilang aja, nanti gue makan kok, mau request apa cing ? " kata Mairah sambil mengelus perutnya.


" Yaelah cing gaya bener lu pakai request korean food segala lagi, tapi gue malas keluar. Pakai gofood aja lahh " gumam Mairah.


Baru saja Mairah meletakkan hpnya di atas meja, namun terhenti karena tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.


" Cepet banget datangnya " gumam Mairah sambil berjalan kearah pintu depan.


" Benar rumah Mbak Humairah ? " tanya seseorang yang mengenakan baju kurir.


" Iya benar saya sendiri, ada apa ya Mas ? " tanya Mairah penasaran, perasaan dia tidak sedang memesan apapun kecuali makanan.


" Ini ada kiriman untuk Mbak, silahkan tanda tangani disini " kata kurir tersebut sambil menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Mairah.


" Apaan nih ? apa mungkin gaji Papa ? hahahaha lumayan nih " kata Mairah ngasal sambil masuk kembali kedalam rumah.


Saat duduk kembali di sofa, Mairah mulai membuka pelan surat tersebut. Namun saat membaca judul awal surat tersebut tubuhnya langsung lemas tak berdaya.


...SURAT PERNYATAAN CERAI...


Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, dan teringat dengan Geo. Laki-laki yang sudah 2 minggu tidak pernah menemuinya.

__ADS_1


" Apa yang lo pikirin Mai ? lo sendiri yang minta ini semua terjadi, sekarang semua sudah didepan mata " kata Mairah sambil menyemangati dirinya sendiri.


Mairah bangkit dan berjalan menuju kamarnya, lalu ia duduk di meja belajarnya dengan suasana hati yang entah bagaimana.


Tangannya terulur untuk mengambil pulpen yang tertata rapi di tempatnya, lalu membuka penutupnya kemudian menghela nafas berat.


" Semoga ini benar-benar yang terbaik " gumam Mairah.


Dan dengan pelan menandatangani surat tersebut, namun tiba-tiba air matanya lolos begitu saja, sehingga membuat Mairah segerah menata kembali surat tersebut lalu memasukkannya ke dalam amplopnya kembali. Ia berniat akan datang ke apartemen dimana Geo tinggal untuk menyerahkan surat tersebut.


Ia berdandan senatural mungkin dan menutupi bagian matanya yang terlihat membengkak akibat menangis.


Mairah meneliti kembali penampilannya kali ini, karena ia akan bertemu dengan Geo dia harus tampil sesempurna mungkin. Mairah mengambil tasnya dan mengambil amplop tersebut dan memasukkannya ke dalam tas, Mairah juga sudah menghubungi Jihan dan Marsya agar tidak usah datang, kemudian beralih mengambil kunci mobilnya.


Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di apartemen Geo. Memang jaraknya yang lumayan jauh dari rumah Mairah.


Mairah mendapatkan alamat apartemen Geo dari Ibu Geo, Karena Mairah tidak pernah menanyakan dimana Geo tinggal, dia terlalu gengsi untuk menanyakan kabar laki-laki tersebut.


Bermodalkan tekad yang kuat Mairah mulai berjalan masuk kedalam gedung bertingkat tersebut. setelah itu Mairah masuk kedalam lift dan memencet angka 12, diamana lantai yang Geo tinggali.


Beberapa menit lift berdenting menunjukkan ia sampai di lantai 12, Mairah mulai melihat nomor disetiap pintu dan sampailah Mairah didepan pintu yang ia cari, sehingga membuat Mairah menghembuskan nafasnya pelan.


Mairah mulai menekan bell yang berada disamping pintu, beberapa kali Mairah memencet bell namun tidak ada yang membuka pintu. Namun Mairah tidak menyerah sampai pintu didepannya terbuka.


" H...hai " kata Mairah melambaikan tangannya canggung saat melihat Geo yang membuka pintunya dengan penampilan seperti baru bangun tidur.


_______


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2