
Geo duduk di sofa ruang tamu sambil memandang amplop yang dia pegang.
" Gue yang mulai dan gue juga yang harus terima konsekuensinya. Tenang Geo, bahagianya Mairah bukan sama lo dan lo juga harus bahagia kalau Mairah bahagia " Kata Geo pada dirinya sendiri.
Geo beranjak dari sofa menuju kamarnya, ia duduk dimeja belajarnya lalu mengambil pulpen yang tergeletak disana.
" Dia bilang ini yang terbaik, dan gue doakan semoga ini memang benar-benar yang terbaik " kata Geo berkaca-kaca.
" Makasih udah jadi malaikat yang selalu ada disamping gue " gumam Geo sambil menandatangani surat itu berbarengan dengan air matanya yang menetes dikertas itu.
******
" Suratnya udah kamu kasih ke Geo " tanya Bunda yang diangguki oleh Mairah.
" Terus apa yang kamu tangisin sekarang ? " kata Bunda, sehingga membuat Mairah terdiam.
" Siapa yang milih jalan ini, Bunda tanya ? kamu kan ? " tanya Bunda sambil mengelus rambut Mairah. Awal Mairah pulang dari apartemen Geo tadi, Mairah terus menangis.
" Kamu masih sayangkan sama Geo ? " tanya Bunda sambil menghapus air mata Mairah.
" Nggak Bunda " kata Mairah, sehingga membuat Bunda tersenyum.
" Bunda tau isi hati kamu. Kamu ini cuman dendam, kamu cuman pengen bales perbuatan Geo selama ini kekamu. Makanya kamu pilih cerai, iya kan ? " tanya Bunda lagi.
" Dengerin Bunda Nak, semua yang kamu pilih emang nggak salah. Kamu bebas menentukan pilihan dan kamu sendiri yang udah milih jalan ini kan ? terus apa yang kamu sesali ? " tanya Bunda sambil memperbaiki rambut Mairah.
" Udah nggk papa, semua pasti baik-baik saja " kata Bunda sambil membawa Mairah kepelukannya.
" Kamu istirahat yaa, Bunda keluar dulu " kata Bunda yang diangguki oleh Mairah, namun baru saja Mairah ingin memejamkan matanya namun pintu kamarnya kembali terbuka.
" Kenapa Bun...." kata Mairah terpotong oleh ucapan Jihan yang tiba-tiba datang bersama Marsya.
" Mai, lo beneran udah kasih suratnya ke Geo ? " tanya Jihan.
" Tadi Geo bilang ke Keenan minta ditemenin ke pengadilan, kayaknya mau nyerahin surat itu " timpal Marsya.
" Syukurlah " kata Mairah.
" Lo nggak nyesel ? " tanya Jihan yang diajawab gelengan oleh Mairah.
" Serius ? " tanya Jihan lagi.
" Apaansih, jadi kalian kesini cuman mau nanyain itu ? " kata Mairah kesal.
" Gue sama Marsya mau mastiin sesuatu ke lo sebelum semuanya terlambat " kata Jihan, sehingga membuat Mairah mual dan berlari kekamar mandi.
" Heekkk "
__ADS_1
" Mai, lo nggak papa ? " tanya Marsya saat Mairah membuka pintu kamar mandi.
" Nggak papa " kata Mairah.
" Kayaknya gue mencium bau sesuatu nih " kata Jihan sambil membawa Mairah duduk dikasur.
" Lo berdua kenapa sih ? " kata Mairah bingung melihat Jihan dan Marsya yang sedang menatapnya dengan tatapan mengintropeksi.
" Mai, lo ngerasa ada yang aneh nggak sama tubuh lo akhir-akhir ini ? " tanya Jihan.
" Ngerasain hal aneh ? nggak tuh " jawab Mairah.
" Yakin lo ? " timpal Jihan.
" Yaiyalahh, gue cuman mual-mual biasa aja. Itupun karena gue sakit " kata Mairah.
" Bulan ini lo udah haid belum ? " tanya Jihan lagi.
" Belum " kata Mairah.
" Udah real jadi ini mahhh " kata Marsya heboh.
" Hahh ? jadia apaan ? " tanya Mairah bingung.
" Lo nggak tau ciri-ciri orang hamil ? " kata Jihan, sehingga membuat Mairah terdiam cukup lama.
" Ini belum pasti Mai, mending sekarang lo cek " kata Jihan menenagkan.
" Cek kemana ? ke dokter ? ogahhh gue nggak mau " kata Mairah yang sudah menangis, sehingga membuat Marsya mengeluarkan plastik dari dalam tasnya.
" Sebenarnya kita udah ngira ini dari lama, tapi kita belum yakin karena tanda-tandanya masih sedikit. Terus tadi gue kerumah Marsya ada Keenan dan Billy juga disana, dan tiba-tiba Geo dateng minta dianterin kepengadilan. Kita semua kaget karena lo memilih buat cerai, disitu Geo cerita tentang lo yang nginep diapartemennya dan sifat lo yang agak aneh akhir-akhir ini, dan disitu gue sama Marsya baru berani ngomong setelah mereka pergi nganterin Geo " kata Marsya.
" Gue nggak mungkin hamil Han " bantah Mairah.
" Makanya dicek dulu " kata Marsya sambil memberikan kantong plastik ke Mairah.
Akhirnya dengan pasrah Mairah menerima plastik itu dan mengintip isinya " Lo beli lima testpack buat apaan ? " kata Mairah, sehingga membuat Marsya terkekeh.
" Buat mastiin aja, lo coba semua yaa " kata Marsya.
Mereka menunggu selama 10 menit, namun Mairah belum keluar juga.
" Mai, lo ngapain sih lama banget ? " teriak Marsya.
Cklekk
" Gimana hasilnya ? " tanya Jihan yang langsung menghampiri Mairah, sehingga membuat Mairah menyerahkan lima testpack itu kepada Jihan.
__ADS_1
" Gue hamil " kata Mairah lirih sambil menjatuhkan dirinya didepan pintu kamar mandi.
" Mai " panggil Marsya, sehingga membuat Mairah menoleh.
" Gue harus gimana ? gue nggak mau hamil ! satu langkah lagi gue cerai sama Geo, kenapa mesti jadi ? " kata Mairah frustasi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
" Mai lo harus tenang, mungkin ini cara Tuhan buat ngeyakinin kalau jodoh lo tuh Geo, lo harus terima kenyataan. Gimanapun ini anak lo sendiri " kata Jihan.
" Mending sekarang kita telepon Geo. Sya coba lo telepon Keenan, gue yakin mereka masih di ja..."
" Jangan " cegah Mairah.
" Why "
" Jangan kasih tau Geo " kata Mairah lirih.
" Terus lo bakalan diem gitu ? mau ngebesarin anak sendiri ? nggak ngotak lo hahh ?! ini anak lo sama Geo, dia berhak tau " sentak Jihan.
" Gue takut Geo bakal marah ! gue takut Geo nggak mau sama anak ini Han ! mending jangan kasih tau Geo dulu, lagian ini belum tentu akurat " kata Mairah.
" Lima testpack gitu lo bilang nggak akurat ? Lo pikir alasan gue beli testpack banyak buat apaan kalau bukan mau pastiin hasilnya sama, gue sama Jihan bakal ragu kalau salah satu dari testpack itu hasilnya negatif, tapi lo liat ! itu positif semua Mairah. Bagian mana lagi yang buat lo ragu ? " kata Marsya yang dari tadi gemas dengan Mairah.
" Tolong tinggalin gue sendiri " kata Mairah datar, sehingga membuat Jihan menatap Mairah tak percaya.
" Mai, lo..."
" Han udah, kasi waktu buat Mairah mikir " kata Marsya sambil menarik tangan Jihan keluar.
Kini Mairah berjalan menuju meja riasnya sambil memandangi dirinya yang tampak pucat disertai dengan matanya yang sembab.
" Kenapa harus sekarang ? kenapa lo ada diperut gue disaat waktu yang nggak tepat ? " kata Mairah sambil memandangi perutnya yang mulai membuncit.
" Apa perlu gue gugurin aja ? " kata Mairah yang sudah mulai ngelantur.
" Nak, maapin Mama " kata Mairah yang mulai mengelus perutnya.
" Ini yakin perut gue ada bayinya ? woii Nak coba kamu nendang perut Mama, Mama mau ngerasain " kata Mairah sambil berdiri didepan cermin.
" Hahhh taulah, mungkin kakinya masih kekecilan makanya nggak kerasa " kata Mairah yang beralih duduk diatas kasur.
" Ingat ya Nak kamu harus nurut sama Mama, jangan ngelawan. Mama nggak bakalan kasih tau Papa adanya kamu, nanti kita nyusul Om Afif ke LA " kata Mairah.
" Tadinya Mama ada niat musnahin kamu tapi gak jadi. Tapi kamu nurut yaa, kalau nggak nurut Mama kasih kamu ke Papa mau ?! "
________
Happy Readingā¤
__ADS_1