
Jakarta,
Satu hari setelah pemakaman Faris Victor
Rania dan Logan sampai pukul 8 malam di penthouse yang selama ini ditempati oleh Faris, ayah Logan. Ruangannya terasa sangat luas dan kosong. Sejak upacara pernikahan dilangsungkan tadi pagi, mereka berdua langsung disibukan dengan berbagai acara, mulai dari pelayat yang masih saja berdatangan untuk ikut berbela sungkawa atas kepergian sang ayah, juga konferensi pers untuk mengumumkan pernikahannya dengan Rania yang terpaksa digelar sehari setelah kematian Faris.
Dengan langkah gontai, Logan duduk di sofa di tengah ruangan yang didesain sangat mewah itu. Rania duduk di sebelah suami yang baru dinikahinya tadi pagi. Logan duduk dengan kepala tertunduk.
"Sayang.." Rania menyentuh tangan suaminya itu.
Setelah seharian ia menahannya, kini Logan tidak bisa menahan tangisnya lagi. Rania membimbing Logan untuk menyandarkan kepalanya pada bahunya. Ia menepuk pelan punggung Logan dan membiarkan dirinya melepas segala perasaan kalut yang dirasakannya.
"Kamu liat, Ran." Logan melepas pelukan Rania dan memandang ke sekeliling ruangan yang terasa dingin itu. "Rumah ini luas banget. Tapi ayah tinggal disini sendirian berbulan-bulan dalam keadaan sakit. Dan saat itu aku malah benci banget sama ayah."
"Kamu gak tahu saat itu kalo ayah kamu sakit, Gan." ucap Rania mencoba menenangkan.
"Iya justru itu, kenapa aku sampe gak nyadar! Aku tolol banget!" ucap Logan menyalahkan dirinya sendiri.
"Ayah kamu yang mutusin nyembunyiin penyakitnya. Semua orang gak tau kalo dia lagi sakit. Ditambah perlakuan kasar ayah kamu selama ini sama kamu dan Bunda kamu, wajar banget kalo kamu benci sama dia. Kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri lagi ya." ucap Rania.
Logan tidak menjawab. Air mata masih terus mengalir di pipinya. Penyesalan yang begitu besar masih menguasainya. Rania bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur, Ia mengambil segelas air untuk Logan.
"Kamu minum dulu ya." ucap Rania sambil menyodorkan segelas air putih pada Logan.
Logan menerimanya dan meminumnya sedikit. Kemudian Logan terlihat sedikit membaik, air matanya sudah berhenti menetes.
"Sekarang kamu mandi dulu. Udah gitu makan ya."
Logan mengangguk pelan menuruti permintaan sang istri dan berjalan menuju salah satu kamar. Sedangkan Rania berjalan menuju dapur dan membuka kulkas melihat apakah ada makanan disana. Kulkas itu penuh dengan berbagai macam bahan makanan, mungkin Davin, asisten Logan, meminta seseorang menyiapkannya karena Rania dan Logan akan tinggal di penthouse ini untuk beberapa hari kedepan.
Rania memutuskan membuat sesuatu yang mudah. Iapun mengeluarkan sayuran, kentang beku, dan daging steak dari freezer. Ia juga mengambil beberapa bahan untuk saus, dan dua buah telur. Iapun segera mengeksekusi bahan-bahan makanan itu dan menyajikannya di dua buah piring. Ia menata meja makan yang masih ada di ruangan itu juga. Tidak lupa air minum ia sediakan di sisi kedua piring itu.
Logan sudah selesai membersihkan dirinya. Ia kini memakai kaos dan celana selutut dan terlihat lebih segar setelah mandi. Rambutnya masih basah dan pakaian yang ia kenakan membuatnya terlihat seperti dirinya yang masih 18 tahun. Terasa sangat jomplang karena sebelumnya ia menggunakan kemeja putih dengan setelan jas hitam, baju yang ia kenakan saat pernikahan mereka tadi pagi.
"Yuk, makan dulu." ucap Rania saat Logan datang menghampirinya yang sedang menata gelas berisi air putih.
"Kamu gak akan mandi dulu, Ran." tanya Logan. Melihat Rania masih menggunakan dress putih selutut dengan lengan tiga perempat yang dikenakannya untuk upacara pernikahan mereka.
"Nanti aja deh udah makan, mumpung masih anget makanannya. Tapi maaf ya gak ada nasi, aku masakin yang gampang aja biar kamu cepet makan. Besok baru aku bikin nasi buat sarapan." ucap Rania.
__ADS_1
"Gapapa kok. Makasih ya." ucap Logan dengan lemas.
Logan pun mengambil garpu dan pisau di sisi piring yang sudah ditata rapi oleh Rania. Raniapun duduk di depan Logan memerhatikan Logan yang akan menyuapkan suapan pertamanya. Logan menuangkan saus pada steak dan telur di piringnya, kemudian memotong telur mata sapi dan memakannya.
Seketika Logan terdiam. Namun kemudian mengunyahnya dan menelannya. Ia memotongnya lagi dan menyuapkannya lagi.
"Gimana, Gan?" tanya Rania.
"Enak kok." ucap Logan terus melahap makanannya.
Raniapun tersenyum saat masakannya dikatakan enak oleh Logan. Ini pertama kalinya ia memasak untuk Logan yang kini sudah berstatus sebagai suaminya. Rania memotong telurnya dan mencelupkannya pada saus yang dibuatnya. Seketika ia mengernyitkan dahi karena saus itu terasa sangat asin.
"Gan, ini asin banget. Gak usah dimakan lagi. Aku bikinin yang baru." ucap Rania merasa bersalah karena Logan tadi sudah menuangkan seluruh sausnya pada makanannya.
"Nggak kok, ini enak." ucap Logan masih dengan nada bicara yang lemas.
"Tapi..." Rania tidak melanjutkan. Logan terus melahap makanannya sampai habis tak bersisa. Rania merasa sangat tidak enak karena Logan terus saja memakan makanan yang sangat asin itu.
'kapan gue bisa masak yang bener sih? Gue harus belajar lagi sama mama.' ucap Rania dalam hati.
Logan menghabiskan seluruh air putih yang ada di gelas miliknya, kemudian beranjak dari duduknya.
Tiba-tiba ia merasa puncak kepalanya disentuh, dan dicium. Rania mendongak dan melihat wajah Logan disana tersenyum tipis padanya.
"Makasih makanannya, Sayang. Kamu cepet mandi dan istirahat ya." ucap Logan kemudian berlalu.
Rania tersenyum sumringah menerima perlakuan manis dari Logan. Padahal ia masih berduka, tapi suaminya itu tetap berusaha memperlakukannya dengan manis.
***
Keesokan paginya HP Logan berbunyi. Logan masih terlelap, tidak terganggu oleh suara dering yang terus meraung-raung. Rania meraih HP itu dan melihat panggilan tak terjawab dari Davin. Rania memandang ke arah jam, sekarang sudah pukul enam pagi.
"Gan, bangun. Pak Davin nelpon kamu ini." ucap Rania sambil menggoyangkan pelan bahu Logan yang terlelap di sisinya.
Logan mulai terbangun. Iapun bangkit dan duduk, mencoba menghilangkan rasa kantuknya. Ia meraih HPnya yang Rania pegang dan melihat chat dari Davin. Rania melihat wajah Logan yang terlihat tidak segar. Terdapat kantung mata di sekeliling matanya.
"Gan, mata kamu kok item gitu. Kamu tidur gak semalem?" tanya Rania yang tadi malam langsung terlelap begitu selesai mandi.
"Gapapa. Aku siap-siap dulu ya. Aku harus ke kantor sekarang. Ada rapat pemegang saham." ucap Logan beranjak menuju kamar mandi.
__ADS_1
Rania segera berjalan ke dapur dan mempersiapkan sarapan untuk suaminya.
'Ini baru dua hari sejak Om Faris meninggal, Logan harus udah mulai kerja lagi. Ya ampun, kasian banget sih suami gue. Bahkan dia masih nangis-nangis kemarin, tapi kayak gak boleh gitu ya istirahat dulu.' batin Rania merasa empati pada suaminya itu
Iapun memasak nasi pagi itu, dan menggoreng beberapa telur dan sosis. Ia juga merebus wortel dan brokoli, dan menyiapkan segelas susu putih full cream kesukaan Logan. Nasipun matang tepat saat Logan keluar dari kamar. Ia menggunakan setelan jas berwarna abu dengan kemeja putih di baliknya. Ia berjalan menghampiri Rania sambil memasang dasinya.
"Ran, aku berangkat ya." ucap Logan mencium kening Rania yang sedang menata meja makan.
"Sarapan dulu, Gan. Ini aku udah siapin makanan." ucap Rania memegang tangan Logan yang akan berlalu meninggalkannya. Tiba-tiba HP Logan berbunyi.
"Aku udah telat, Ran. Liat Davin udah nelepon aku lagi." Logan memperlihatkan layar HPnya pada Rania dan terlihat nama Davin disana.
Raniapun mengambil HP Logan dan mengangkat telepon dari Davin sebelum Logan berbicara, Rania berbicara pada Davin di telepon.
"Halo, Pak Davin. Ini saya Rania." ucap Rania.
"Halo, selamat pagi Bu Rania. Apa Pak Logan sudah siap berangkat ke kantor?" Kini Davin menyebut Logan dan Rania tidak lagi dengan Mas-Mbak, tapi Bapak-Ibu karena kemarin mereka sudah resmi menjadi suami-istri.
"Sudah, Pak Davin. Masih bisa kan suami saya sarapan dulu, sekitar sepuluh atau lima belas menit?" tanya Rania.
Davin tidak langsung menjawab.
"Baik Bu, silahkan. Saya akan kirimkan helikopter agar Pak Logan bisa sampai lebih cepat." ucap Davin.
"Okay, makasih." Rania menutup teleponnya dan menyerahkannya pada Logan.
"Ran, aku harus cepet pergi. Ini bukan di Bandung, jalanan Jakarta macet banget. Aku ada rapat satu jam lagi." ucap Logan menjelaskan.
Rania membimbing suaminya untuk duduk di kursi meja makan.
"Kamu makan dulu, sambil nunggu helikopter jemput kamu." ucap Rania duduk di depan Logan.
Logan menghela nafas menatap ke arah Rania.
"Kamu harus makan. Kamu hari ini bakal sibuk kan? Kamu harus punya stamina buat kerja. Kalo kamu pengen cepet pergi, berarti kamu harus cepet abisin makanan kamu. Kalo makanan kamu gak abis, jangan harap kamu pergi dari sini." ucap Rania galak.
"Iya, ya udah aku makan." ucap Logan.
Logan memandang nasi di depannya, nasi itu lebih mirip dengan nasi tim karena terlalu lembek. Logan menatap Rania.
__ADS_1
"Maaf, kayaknya tadi aku masukin airnya kebanyakan." ucap Rania dengan senyum menyesal.