My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 33: Lemah


__ADS_3

Flashback (on)


-Satu hari sebelum masuk kuliah-


Rania berada di kamarnya. Matanya terpejam dan sebuah musik klasik melantun dari HPnya.


"Sayang," tangannya mengusap perutnya, "Katanya kalau ibu dengerin musik klasik ngaruh ke perkembangan otak kamu loh. Semoga nanti kalau kamu lahir kamu jadi anak yang pintar, sehat, dan selalu bahagia ya, Nak."


Rania terus mengajak sang janin berbicara, "Gak kerasa sayang kamu udah dua bulan di perut ibu. Dan ayah belum juga tahu tentang kamu. Maaf ya, kamu masih harus sabar. Ayah masih banyak kerjaan. Akhir-akhir ini aja Ayah keliatan stress banget. Dan yang bikin ibu sedih, ayah nanggung semua ini sendiri. Gak tahu kenapa Ayah gak mau ibu tahu tentang masalahnya di kantor. Padahal 'kan ibu cuma pengen bantu juga siapa tau ibu bisa ngasih masukan."


"Yang," terdengar suara Logan dari luar kamar.


"Eh, ayah udah pulang, Nak." Rania mematikan musik di HPnya dan berjalan tergesa menghampiri Logan.


Logan duduk di meja makan dan melonggarkan dasinya.


"Mas, udah pulang? Mau jus jeruk gak?" Rania berjalan menuju kulkas dan memberikan Logan jus jeruk yang tadi dibuatnya.


"Iya, boleh." lirihnya, wajahnya sangat kusut.


Rania meletakkan jus jeruk itu di hadapan Logan. Logan segera meraihnya dan meminumnya sampai habis.


"Aku pulang buat mandi, ganti baju, terus aku berangkat lagi, ya." Logan beranjak dari kursinya.


"Kenapa, Mas? Kerjaannya belum selesai?" tanya Rania sambil mengambil gelas kosong itu dan berjalan menuju bak cuci piring.


"Iya." ucap Logan singkat.


"Masih belum selesai ya masalah hotel di Maladewa?" tanya Rania.


"Belum." Loganpun sudah tak terlihat lagi. Kemudian terdengar bunyi shower dari kamar mandi.


Rania berinisiatif menyiapkan baju yang akan Logan kenakan untuk dia kembali ke kantor. "Mas, pake baju yang ini?" tanya Rania saat Logan masuk walk in closet.


"Iya, boleh." ucap Logan menerima baju yang Rania siapkan dan mulai memakainya.

__ADS_1


"Makan dulu ya sebelum pergi." ujar Rania seraya berjalan menuju dapur dan menyiapkan makanan untuk Logan makan malam.


Beberapa saat kemudian, mereka duduk di meja makan dan melahap makanan yang Rania siapkan dalam diam.


"Mas," Rania mencoba memecah keheningan, "Mau dibawain cemilan juga gak?"


"Gak usah, Yang." ujar Logan singkat.


"Oh, iya udah kalau gitu."


Kemudian suasana kembali hening. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar. Rania bingung. Ia tidak berani bertanya lebih jauh mengenai masalah pembangunan hotel itu. Terakhir Logan menjawab dengan ketus dan memperingatkan Rania untuk tidak usah mencari tahu mengenai masalahnya itu pada Davin. Logan tidak suka jika Rania bertanya padanya mengenai masalahnya itu. Entah mengapa.


"Mas, nanti pulang jam berapa?" tanya Rania.


"Belum tau. Kamu tidur duluan aja ya, jangan nungguin aku." Logan selesai dengan makanannya dan kini ia meneguk air putihnya, "Aku berangkat sekarang, ya."


Logan segera meraih kunci mobilnya dan berjalan menuju pintu apartemen. Tumben sekali ia pergi begitu saja tanpa mencium dan memeluk Rania. Padahal hal itu yang selalu Logan lakukan saat ia akan pergi.


Karena sudah menjadi satu kebiasaan, Rania merasa sedih saat itu. Mengapa kali ini Logan tidak melakukan kebiasaannya. Sebenarnya sikap Logan yang begitu lesu sejak ia pulang tadi sudah bisa menjawab pertanyaan Rania itu. Namun perasaan Rania yang akhir-akhir  ini berubah menjadi sangat sensitif, merasa tidak rela Logan pergi begitu saja.


"Mas!" Rania berjalan menuju pintu apartemen. Disana Logan baru saja selesai memakai sepatunya dan tangannya sudah menyentuh handle pintu.


"Mas, biasanya meluk dan cium dulu kalau mau pergi. Kok sekarang nggak?" Rania merajuk.


Logan menghela nafasnya, "Emang harus selalu ya, Yang?"


Kata-kata Logan memang terdengar agak menyebalkan. Namun sebenarnya masih bisa dimaklumi dan tidak perlu menjadi satu masalah yang besar.


Tapi kali ini kata-kata itu menjadi sangat menyakitkan bagi Rania yang selama hamil menjadi lebih sensitif. Bahkan kata-kata itu kini membuat air mata Rania menggenang di pelupuk matanya.


"Kok kamu ngomong gitu." lirih Rania. Alam bawah sadarnya bahkan membuatnya tidak ingin mengatakan Logan dengan sebutan 'Mas'.


Logan menyapukan kasar rambutnya mulai merasa tidak sabar, "Yang, aku lagi buru-buru. Davin udah nungguin aku. Tim pengacara lagi nungguin aku di kantor! Kamu ngertiin aku dikit aja bisa gak sih? Cuma gara-gara aku gak cium dan peluk aja kamu sampe nangis gitu?!"


Mendengar kata-kata Logan yang agak keterlaluan semakin membuat Rania semakin sakit hati. Ia tidak bisa menahan emosinya lagi. "Gimana aku bisa ngerti kalau kamu gak pernah mau cerita tentang masalah kamu di kantor? Aku cuma nanya dan kenapa sih kamu sampe harus ngomong gitu ke aku! Kamu 'kan bisa ngomong lebih baik!"

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Hal kayak gini aja kamu masalahin? Aku gak ada waktu buat ngeladenin emosi kamu. Aku sekarang lagi pusing-pusingnya!"


"Harusnya kamu cerita sama aku biar aku ngerti!"


"Buat apa aku cerita sama kamu? Kamu gak akan ngerti, Ran!" Logan yang terbawa emosi tidak lagi memanggil Rania dengan 'Yang'.


"Aku emang bukan orang bisnis, tapi kamu bisa cerita sama aku dan aku bukan orang bego yang gak bisa ngertiin masalah kamu sama sekali!" Rania tidak bisa menahannya, "Kamu itu nganggep aku apa sih sebenernya?"


Logan terdiam sejenak, tidak menyangka Rania sampai menanyakan hal itu.


"Kamu beneran mau nerusin ini?" tanya Logan mencoba menahan emosinya, "Udah, aku gak mau berantem. aku udah telat. Terserah kamu mau mikir aku nganggep kamu apa. Aku pusing!"


Logan pergi setelah kalimat menyakitkan itu, meninggalkan Rania yang masih menangis sesenggukan.


Hingga malam hari Logan belum juga pulang. Rania sudah berbaring di tempat tidurnya sejak pukul 9 malam, namun ia masih belum bisa memejamkan matanya. Pukul 11 malam Logan memberikan pesan.


[Logan] : Yang, maafin tadi aku emosi. Malam ini aku juga gak pulang ya. Kamu tidur aja. Besok kuliah hari pertama 'kan? Semangat.


Pesan itu menyiratkan penyesalan Logan. Sepertinya ia menyadari bahwa yang dikatakannya memang sedikit keterlaluan.


Rania memutuskan untuk tidak membalasnya. Hatinya terlanjur sakit, sebutir air mata jatuh dan ia usap dengan kasar. "Kalau kamu tahu aku hamil, apa kamu bakal ngomong keterlaluan kayak tadi, Gan? Aku cuma pengen perhatian kamu. Apa aku salah?"


Flashback (off)


***


Rania perlahan merasa pelukan Vino telah meluluhkannya. Seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia membutuhkannya. Lelah yang ia rasakan selama ini untuk selalu berpura-pura dan menyembunyikan kehamilannya dari Logan tiba-tiba saja mencapai titik puncaknya. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya ia biarkan keluar.


Ia tau ini salah, namun bolehkan ia beristirahat sebentar? Kehamilannya membuatnya sering kali merasa sensitif tapi ia selalu mencoba untuk memendamnya sendiri. Ia tidak bisa memberitahukannya pada Logan. Pun tidak bisa bermanja-manja pada suaminya itu karena masalah Logan di kantornya selalu membuat mood Logan kurang baik akhir-akhir ini.


Kini Vino mengetahui keadaannya. Rania tidak bisa berbohong bahwa ia merasa sangat lega, akhirnya ada orang yang bisa mengetahui tentang kabar yang seharusnya membahagiakan itu. Dan selalu, Vino selalu menjadi orang yang mengetahui jika Rania sedang berada di sisi gelap hatinya.


Rania curahkan semua rasa kalutnya dalam pelukan itu. Tangisnya tak bisa ia tahan lagi. Vinopun memeluk Rania lebih erat, ikut merasakan apa yang Rania rasakan.


"Kamu boleh nangis sepuasnya, Ran. Aku ada disini." lirih Vino.

__ADS_1


Hatinya seperti tersayat mendengar tangis pilu Rania. Jujur ia sangat tidak habis pikir pada Logan. Bagaimana bisa ia membuat Rania harus menyembunyikan kehamilannya. Sebesar apa Logan menolak untuk memiliki anak?


Sebuah tangan tiba-tiba saja mencengkram erat tangan Rania yang menggantung di kedua sisi tubuhnya. Iya, walaupun Vino memeluknya, Rania tidak membiarkan tangannya membalas pelukan itu. Logan menariknya dengan paksa keluar dari pelukan Vino. Rania terkejut bukan main saat melihat Logan disana menatapnya dengan bengis, seakan berkata 'apa yang sedang kamu lakukan dengan cowok lain?'


__ADS_2