
"Tolong bawa Mas Logan ke kamar ya, Zel, Fan." pinta Rania.
Kemudian Hazel dan Rifan segera memapah tubuh Logan dan membawanya ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
"Kalian nemuin Mas Logan dimana?" tanya Rania seraya membuka sepatu dari kedua kaki Logan.
"Dia ada di Bar, Miss. Tadi aku nanyain ke semua temen-temen aku. Dan ada yang gak sengaja ngeliat Logan disana." jelas Hazel.
"Bar?!" Rania tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Setahu Rania, Logan sudah tidak pernah menyentuh minuman itu sejak dia pindah ke Bandung. Logan juga sudah berhenti merokok beberapa bulan lalu. Selama dia masih di kelas 11 Logan memang sempat terjerumus ke dunia anak-anak nakal dan berteman dengan minuman dan juga rokok. Namun itu terjadi sebelum Logan mengenal Rania.
"Masih untung dia cuma mabuk, Miss. Katanya tadinya dia sempet mau berantem sama orang. Cuma temen kita keburu liat Logan dan gak jadi deh babak belurnya." Rifan menambahkan.
Sontak Rania memijit keningnya pelan. Sefrustasi itu Logan hingga ia kembali ke masa kelamnya dulu.
"Rifan, Hazel, makasih banyak ya kalian udah anterin Mas Logan kesini. Maaf banget kalian jadi repot." Rania merasa tidak enak.
"Gak apa-apa Miss. Kalau ada apa-apa kabarin kita aja, Miss. Kayaknya Logan lagi ada masalah ya di kantornya. Setahu aku dia udah gak pernah minum dan ngerokok sejak kelas 12." Hazel tampak khawatir.
"Iya, dia lagi banyak masalah sekarang." Rania menatap cemas pada Logan.
__ADS_1
"Kalau gitu kita pamit ya, Miss." pamit Rifan.
"Sekali lagi makasih ya." ucap Rania sungguh-sungguh. Hazel dan Rifanpun pergi setelah itu.
Rania menghampiri Logan yang nampak sangat kacau, terbaring di tempat tidur, masih menggunakan jaketnya dengan tubuh yang bau alkohol. Ia merasa sangat bersalah melihat Logan sampai seperti ini.
Rania membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil untuk menyeka wajah, leher, tangan, dan kaki Logan. Ia ingin sedikitnya menghilangkan bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Logan.
Perlahan ia menyeka wajah Logan. "Kenapa kamu sampai harus lari ke minuman, Mas."
Beberapa saat wajah Logan tampak lebih segar. Raniapun menyelimuti tubuh Logan dan membiarkannya tidur.
"Selamat pagi, Bu Rania. Mohon maaf saya mengganggu sepagi ini. Mohon maaf juga saya tidak mengangkat telepon anda. Saya baru saja sampai di Maladewa. Kebetulan HP memang saya matikan. Ada yang bisa saya bantu, bu?"
"Sebenarnya ada apa sama Mas Logan, Pak?" sontak Rania merasa emosi. "Semalam dia pergi dan barusan dia pulang dalam keadaan mabuk. Saya gak pernah liat Mas Logan seperti ini, Pak. Tolong beritahu saya apa yang terjadi di kantor! Mas Logan selalu menolak untuk memberitahukan masalahnya pada saya. Saya benar-benar gak tau suami saya kenapa. Sebagai istri dari Mas Logan saya berhak tahu, Pak! Sekarang saya minta Pak Davin ceritakan semuanya pada saya! Sedetail-detailnya!" tegasnya dengan frustasi.
"Baik, Bu. Saya akan memberitahukan semua detailnya. Saya setuju, ibu harus mengetahui semuanya. Begini bu, Logan Enterprise kalah di pengadilan dalam kasus sengketa tanah itu." jelas Davin.
Hati Rania mencelos, seketika menoleh ke arah Logan yang masih tertidur.
__ADS_1
"Ya Tuhan." Rania menutup mulutnya, saking tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kalah, Pak? Itu artinya pembangunan hotel yang sudah tinggal beberapa persen itu harus dihentikan? Milyaran uang yang sudah dihabiskan hilang begitu saja, Pak?"
"Betul, Bu. Namun kami sedang mengajukan banding. Ibu tenang saja, kami akan mencoba semaksimal mungkin untuk mengatasinya. Kami juga akan mencoba menuntut balik Jackson Chou."
"Jackson Chou? Siapa dia?" tanya Rania.
Davinpun menceritakan semuanya mengenai mafia kelas teri bernama Jackson Chou yang selama ini terus menghisap uang perusahaan.
"Jadi Ayah dulu sempat minjam uang pada mafia itu untuk membangun hotelnya?" tanya Rania tidak percaya.
"Betul, Bu. Banyak hal yang sudah almarhum Pak Faris lakukan di awal pendirian Logan Enterprise. Beliau begitu berambisi untuk bisa mendirikan perusahaannya ini menjadi semakin besar. Mungkin karena itulah Pak Logan tidak ingin anda mengetahuinya. Pembangunan Logan Enterprise tidak luput dari cara-cara ilegal yang dulu pernah Pak Faris lakukan. Saya sudah memberikan saran bahwa anda berhak mengetahuinya juga. Namun Pak Logan bersikeras mengatakan bahwa anda jangan sampai tahu. Maafkan saya, Bu."
"Cara-cara ilegal?" Rania terhenyak, "Selain meminjam uang pada penjahat seperti Jackson Chou, apalagi?"
"Saya tidak bisa memberitahukannya pada ibu. Lebih baik Pak Logan sendiri yang mengatakan pada ibu. Namun yang perlu ibu ketahui, Pak Logan sekarang sedang mencoba memperbaiki Logan Enterprise menjadi lebih baik."
Rania menutup teleponnya begitu saja. Kenyataan yang sangat mencengangkan. Ternyata perusahaan yang didirikan ayah mertuanya itu tidak sehebat yang selalu diberitakan oleh media-media bisnis, berdiri satu persatu, sedikit demi sedikit, hingga sebesar sekarang, dan tentunya dengan cara yang baik. Rania mengingat dulu Logan pernah mengatakan bahwa sang ayah membangun perusahaannya dengan menyuap dan menjilat sana-sini. Maka dari itu Logan sempat tidak ingin mewarisi bisnis ayahnya ini.
Sekarang Rania mengerti kenapa Logan bersikeras untuk menutupi semua dari dirinya. Belum mengetahui apa saja yang Faris lakukan saja, Rania sudah kehabisan kata. Apalagi jika sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
Rania menjadi semakin merasa bersalah karena sudah memberitahukan Logan perihal kehamilannya. Ternyata ini adalah waktu yang sangat tidak tepat. Habis jatuh tertimpa tangga, mungkin seperti itulah ungkapan yang bisa menggambarkan kondisi Logan saat ini.