My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 44: Penyesalan Terdalam


__ADS_3

Mobil Logan sampai di halaman rumah Carla. Sudah lama rumah itu tidak ditempati ataupun dikunjungi karena Carla dan Rendra yang pergi pelesiran ke berbagai negara semenjak mereka menikah sekitar 6 bulan lalu. Namun rumah itu masih terawat karena secara rutin dibersihkan oleh ART yang sudah bekerja sejak Logan masih kecil, Bi Ninah.


"Inget yang tadi Bunda bilang, kamu jangan sama-sama keras sama Rendra. Kalau kamu mau Rania pulang, kamu harus nurunin ego kamu." ucap Carla sebelum turun dari mobil Logan.


"Iya, Bun. Logan ngerti." lirih Logan, menuruti apa kata sang Bunda.


Keduanya masuk ke dalam rumah. Disana terlihat Rendra sedang menelepon seseorang di ruang tengah. Logan mengedarkan pandangannya, Rania tidak ada disana.


Rendrapun mematikan HPnya dan tatapan tajamnya tertuju pada sang menantu, sekaligus anak sambungnya itu. "Ngapain kamu kesini?"


Logan berdiri dengan menautkan tangannya, berusaha terlihat sopan didepan Rendra, "Maafin Aku, Pap. Aku salah. Aku kesini ingin jemput Rania." ucap Logan dengan suara serendah mungkin.


Rendra tertawa kecut, "Mau jemput Rania?"


"Tadi aku udah ngobrol sama dia, Yang." ucap Carla kini berdiri di sebelah Rendra, "Logan udah ngakuin kalau dia salah. Dia pengen minta maaf sama kamu dan juga Rania."


"Gak segampang itu Papa ngasih maaf sama kamu." Rendra duduk di sofa dan menopangkan satu kakinya, "Kamu kira kesalahan kamu itu bisa selesai hanya dengan maaf?"


Logan menghela nafas, merasa sangat menyesal. "Papa pantas marah sama aku. Tapi kali ini aku bener-bener nyesel, Pap. Tolong izinkan aku ketemu sama Rania, aku pengen minta maaf sama dia."


Rendra menggelengkan kepalanya, "Papa udah terlanjur sakit hati. Seumur hidup Rania, gak pernah Papa izinkan dia dekat dengan laki-laki manapun. Papa sangat selektif dan protektif. Karena papa gak percaya sama laki-laki manapun hingga papa ketemu kamu. Papa ngeliat kamu dewasa dan serius sama Rania, makanya Papa izinkan kamu menikahi putri kesayangan papa. Bahkan papa kesampingkan rasa benci papa pada Faris dan merestui kalian. Padahal Papa gak bisa berhenti ngerasa resah saat melihat kamu yang sangat mirip dengan ayah kamu itu. Papa kesampingkan semuanya! Karena apa? Karena Papa ngeliat Rania sangat mencintai kamu. Papa pikir cuma kamu yang bisa bikin Rania bahagia."

__ADS_1


Rendra mengubah posisi duduknya. Kini kedua sikutnya menyangga pada kedua lututnya, "Tapi apa yang Papa liat sekarang? Papa kecewa banget sama kamu, Logan. Papa bener-bener nyesel nikahin Rania sama kamu. Harusnya Papa realistis. Harusnya Papa nikahin Rania sama laki-laki yang lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, dan usianya lebih tua dari dia. Jadi dia bisa bahagia, bukan malah membatin seorang diri dalam keadaan hamil."


Logan tertunduk, ia tidak akan menjawab apapun yang Rendra katakan. Ia terima semuanya. Selain ia merasa bersalah, ia ingin segera bertemu Rania dan membawanya pulang ke apartemen mereka.


"Rania akan tetap bersama papa disini sampai dia melahirkan." pungkas Rendra.


"Tapi, Pap..." Logan sontak merasa tidak terima. Namun ia ingat kata-kata Carla untuk menurunkan egonya. Ia tidak akan mendebat Rendra yang memang sama keras kepalanya dengan dirinya.


"Gak ada tapi-tapian. Papa gak mau ambil resiko anak papa diperlakukan tidak baik lagi sama suaminya sendiri. Sekarang kamu pulang dan renungi kesalahan kamu."


"Pap, izinkan aku ketemu sama Rania sebentar aja. 10 menit aja, enggak 5 menit aja Pap. Aku ingin ketemu dia, Pap. Aku ingin bicara sama anak aku juga."


Rendra mendengus, "Jadi sekarang kamu udah mau nerima kalau kamu mau jadi ayah? Baguslah kalau gitu. Tapi jangan harap kamu akan mendampingi Rania selama masa kehamilannya."


"Enggak, Yang. Rania bakal sama aku. Dia akan tinggal disini sampai dia melahirkan, baru setelah itu dia bisa pulang sama suaminya. Itu juga kalau Logan bener-bener udah berubah." terang Rendra.


Carla tidak mencoba mengatakan apa-apa lagi. Saat Rendra sudah memutuskan maka tidak akan ada yang bisa mengganggu gugatnya.


"Tapi Rania juga harus kuliah, barang-barang Rania ada di apartemen. Terus gimana kalau dia mau periksa ke dokter kandungan, Pap?" Logan mencoba bernegosiasi.


"Nanti papa belikan Rania baju baru. Nanti Bunda kamu yang bawakan barang-barang penting Rania kesini. Ke kampus, ke dokter, kemanapun itu, papa yang akan antar dia. Kamu gak usah khawatir. Rania ada dalam pengawasan Papa. Dia gak akan kekurangan satu halpun sama seperti selama papa membesarkannya." ucap Rendra dengan nada penuh sindiran.

__ADS_1


Logan bersiap mendebat kembali ayah mertuanya itu, namun Carla segera melerainya. "Udah, Nak." Carla menggelengkan kepalanya.


Jika sang ibu sudah seperti itu, maka Logan tahu akan percuma saja mendebat Rendra. Hingga akhirnya iapun pamit untuk pulang.


Logan berjalan lunglai menuju mobilnya, merasa sangat bersalah. Rasa rindu terhadap sang istri terus membuncah tak tertahankan. Ada apa dengan dirinya selama ini? Berminggu-minggu ia biarkan Rania sendirian menjalani kehamilannya. Sedangkan ia terus dengan keegoisannya. Kini yang tertinggal hanya rasa bersalah dan penyesalan mendalam.


Tepat saat Logan akan masuk ke dalam mobilnya, HPnya bergetar, Rania meneleponnya. Sontak Logan menutup kembali pintu mobil yang baru saja dibukanya dan mengangkat telepon Rania dengan segera.


"Ran?" nafasnya menderu, saking tidak percayanya Rania meneleponnya.


"Liat ke atas, Mas." Loganpun menengadahkan kepalanya ke arah rumah sang bunda. Ia melihat Rania disana, di balkon lantai 3 yang dulu adalah kamarnya. Logan melihat Rania berdiri disana menatapnya dengan sedih.


"Sayang, maafin aku." Logan tidak bisa menahan air matanya, "Maafin aku. Aku udah jahat sama kamu selama ini. Aku biarin kamu hamil sendirian. Maafin aku, Yang." Logan terus terisak, merasa sangat bersalah.


"Mas gak salah, kok. Aku paham situasi yang Mas alamin. Gak apa-apa, Mas. Aku baik-baik aja." ucap Rania yang kini juga berurai air mata.


Logan menggelengkan kepalanya, "Nggak, Yang. Harusnya aku lebih ngertiin kamu. Harusnya aku gak nolak punya anak. Kamu bener, aku cuma mau enaknya aja. Giliran kamu hamil aku malah nyalahin kamu. Kamu harusnya marahin aku, Yang. Kamu harusnya salahin aku kayak Papa barusan. Aku pantes dapetin itu semua."


"Maafin kata-kata Papa ya, Mas. Papa kayak gitu karena Papa sayang sama kita. Papa gak tau kondisi kamu makanya papa ngomong gitu. Tapi sekarang aku gak bisa ngapa-ngapain, Mas. Papa ngelarang aku buat ikut sama Mas. Aku harus tinggal disini sampai aku lahiran."


Logan menyeka air matanya dengan kasar, "Aku pengen dampingin kamu, Yang. Aku pengen periksain anak kita. Aku pengen liat dia. Aku pengen minta maaf sama dia karena udah jadi ayah yang jahat. Aku harus gimana, Yang. Aku kangen banget sama kamu."

__ADS_1


"Mas harus kuat, ya. Kita harus kuat. Mas harus nyoba terus yakinin Papa. Biar kita dibolehin ketemu lagi. Aku yakin Papa akan luluh kalau kita terus bujuk. Sekarang Mas pulang dulu aja ya. Tadi aku udah siapin makan malam, tapi belum aku hidangin di meja makan. Mas makan yang banyak. Jangan begadang terus. Besok.." ucapan Rania tertahan karena isaknya, "besok dan seterusnya maaf karena aku gak bisa nyiapin Mas sarapan."


Keduanya terus terisak. Penyesalan yang Logan rasakan semakin besar di kala ia menyadari bahwa Rania tidak akan berada disampingnya lagi setelah ini.


__ADS_2