
Logan kembali melajukan mobilnya, "Sekarang kita ke dokter ya. Aku udah buat janji. Sekarang kita kesana."
"Hah?!" Rania tidak bisa menyembunyikan terkejutnya, "Sekarang?" tubuhnya terasa panas dingin, saking paniknya.
"Iya. Kita ke rumah sakit papanya Dizza." Untungnya Logan terus menatap ke depan, jika tidak ia akan melihat Rania sangat pucat sekarang.
"Mas." Dengan suara lirih.
"Kenapa, Yang?" ujar Logan, masih memusatkan pandangannya pada jalanan di depannya.
"Aku pengen nanya, apa segitunya Mas gak mau kita punya anak?" terbersit di dalam benak Rania untuk memberitahukan Logan mengenai kehamilannya saja. Ia merasa Logan harus mengetahuinya.
"Aku bukan gak mau, Yang. Aku lebih ke belum siap aja. Kan aku udah bilang pengen kita pacaran dulu beberapa tahun ini, terutama pas aku masih kuliah. Aku juga pengen fokus sama kerjaan aku dulu."
"Tapi, kalau seandainya. Ini seandainya ya, Mas." Rania memberikan penekanan pada kata seandainya. "Tiba-tiba aku hamil gimana?"
"Ya, jangan sampe hamil dulu." ucap Logan diiringi tawa, tidak ingin ucapannya itu terdengar kejam.
Namun kata-kata Logan barusan terlanjur menghujam perasaan Rania. "Tapi kalau ternyata aku hamil gitu gimana? Tanpa kita bisa cegah gitu, Mas?" Rania sedikit menaikan nada bicaranya. Matanya sudah terasa panas.
Logan terdiam sejenak. Lalu ia berkata, "Makanya sebelum itu terjadi, kita harus segera cegah itu. Jangan sampe kamu hamil sekarang."
Setetes air mata mengalir tanpa permisi di pipi Rania. Rania sudah bisa membayangkan reaksi Logan jika mengetahui dirinya hamil. Rania mengusap kasar pipinya dan berusaha untuk menghela nafas beberapa kali, mencoba agar air mata lainnya tidak menetes.
"Kenapa sih, Mas? Kita 'kan udah nikah. Kalau punya anak juga gak apa-apa, 'kan?" Kini Rania begitu ingin memberitahukan perihal kehamilannya. Nada bicaranya semakin meninggi.
__ADS_1
"Ran." Logan terbawa emosi, panggilan 'yang' pada Rania menghilang, itu tandanya ia sedang merasa kesal. "Kita udah sepakat 'kan? Waktu kita di Paris, kamu udah setuju buat kita gak punya anak dulu." Logan ingin memastikan dirinya dan Rania masih ada di dalam visi dan misi yang sama.
"Sebenernya apa yang bikin Mas segitu gak pengennya aku hamil??" Rania sungguh ingin tahu. Ia tahu Logan masih sangat muda, tanggung jawab yang ia pikul juga besar terhadap perusahaannya. Tapi kini Rania terlanjur mengandung anaknya, tidakkah ia berpikir untuk bisa menerimanya saja jika Rania hamil? Mengapa ia terus bersikukuh?
"Udah, Ran! Cukup!" Logan agak berteriak. "Aku gak mau berantem lagi. Aku gak mau ada anak diantara kita untuk sekarang, titik!"
Rania terperangah, tidak menyangka Logan sampai agak berteriak seperti itu. Rania memilih diam, berusaha menahan air matanya yang akan keluar jika sedikit saja ia mengedipkan matanya. Diam-diam ia mengusap perutnya dan berkata dalam hati, 'Maafin ayah, Nak.'
"Tolong, ngertiin aku, Ran." Logan merasa bersalah sudah berteriak. "Kamu yang harusnya paling paham keadaan aku sekarang."
Rania bungkam. Ia tidak ingin berkata apapun lagi. Ia tidak peduli lagi jika saat bertemu dokter nanti, kehamilannya akan diketahui oleh Logan. Terserah. Ia tidak akan mencegah Logan untuk mengetahuinya. Ia juga tidak peduli jika Logan marah atau tidak bisa menerimanya.
Sesampainya di rumah sakit, Rania duduk di ruang tunggu sementara Logan berbicara pada perawat.
Logan menghampiri Rania, "Masih nunggu satu orang." kemudian duduk di samping Rania.
"Yang, jangan marah lagi dong." pinta Logan, seraya meraih tangan Rania. "Maaf tadi aku bentak kamu."
Rania masih terdiam. Hatinya masih berdenyut sakit. Ia pasti akan memaafkan suaminya itu, hanya saja tidak sekarang. Rasanya sulit sekali untuk mengerti jalan pikiran Logan.
"Pak Logan?" sebuah suara milik seorang wanita paruh baya terdengar menyapa Logan. Rania tercengang saat melihat dokter tersebut. Dokter itu adalah dr. Ane Sp.Og yang didatanginya tempo hari di klinik bersalin di pinggiran kota Bandung.
Kenapa dr. Ane ada disini?
Dokter itupun sepertinya juga masih mengingat Rania, karena ia menatap Rania beberapa saat. Namun tidak berkata apa-apa.
__ADS_1
"Iya, Dokter. Apa kabar?" Logan menyambut jabatan tangan Dokter Ane.
"Saya baik. Bagaimana dengan Bapak? Atau Mas mungkin ya saya panggilnya?" ucap dokter itu ramah. Melihat betapa mudanya Logan untuk dipanggil dengan sapaan 'bapak', dokter itu lebih memilih memanggil Logan dengan sebutan 'Mas'.
"Apa aja boleh, Dok. Kenalkan ini istri saya, Rania." Logan merangkul Rania dan memperkenalkannya.
Rania sangat panik, namun di luar dugaan, Dokter Ane menyulurkan tangannya dan bersikap seakan belum pernah bertemu dengan Rania, "Apa kabar, Ibu? Salam Kenal." ujarnya ramah.
Rania mengangguk ragu dan menyambut tangan dokter Ane, masih merasa aneh dengan sikap dokter itu.
"Terimakasih anda sudah memilih untuk datang kemari, Mas Logan. Saya merasa terhormat sekali bisa dikunjungi oleh seorang pimpinan perusahaan besar seperti anda. Pak Dimas sendiri loh yang meminta saya untuk melayani anda dan istri anda." Kembali, Rania melihat suasana dimana Logan diperlakukan spesial oleh orang lain, "Mari ke ruangan saya."
Logan menggenggam tangan Rania dan mengekor sang Dokter menuju ke ruangannya.
"Mas Logan mau minum apa?" tanya Dokter Ane.
"Gak usah, Dok. Terimakasih. Lebih baik langsung saja, mengingat pasien anda yang masih banyak yang mengantri." ucap Logan diplomatis.
"Baik, kalau begitu. Saya mengerti anda juga pasti sangat sibuk. Ada yang bisa saya bantu, Mas?"
"Begini, Saya dan istri saya akan menunda dulu memiliki anak, Dok. Jadi kira-kira saran dari anda apa ya, agar, anda tau, kami bisa dengan tenang saat berhubungan."
Terlihat Dokter Ane begitu terkejut. Ia menatap ke arah Rania dengan penuh arti. Rania menatapnya seakan berkata 'Sekarang anda tahu kan mengapa saya terlihat tidak senang saat tahu bahwa saya hamil'. Dokter Anepun mengerti dan segera mengubah ekspresi wajahnya.
"Ah, anda pasti masih ingin menikmati masa-masa berdua ya? Melihat Mas Logan yang masih sangat muda pasti ingin berpacaran dulu ya, Mas." Dokter itu melemparkan candaan untuk menutupi rasa terkejutnya.
__ADS_1
"Begitulah, Dok." ujar Logan semangat, "tuh, Ran. Dokter Ane aja ngerti."
Rania hanya tersenyum kecut. Dokter Ane menatap Rania kembali, kini tatapannya berubah simpati, seakan berkata, 'saya paham kenapa anda waktu itu ingin menyembunyikan kehamilan anda'.