My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 53: Fix Siap Jadi Ayah


__ADS_3

Rania keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Ia melihat Logan masih di tempat tidur, menelungkupkan badannya, sibuk dengan ponsel yang dipegangnya sejak tadi.


"Mas, mandi dulu." ujar Rania sambil mengeringkan rambutnya.


"Iya, Yang. Bentar lagi." Logan tidak mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Rania duduk disebelah Logan dan melihat Logan sibuk melihat video USG dari calon bayi mereka, "Jadi dari tadi Mas senyum-senyum sendiri itu liat itu?"


Logan bangkit dari posisinya dan memeluk Rania dengan gemas, "Aku bersyukur banget kamu sama anak kita sehat-sehat aja. Makasih ya, Sayang, kamu udah jaga dia dengan baik." berulang kali Logan kecup pucuk kepala Rania.


Perasaan Rania menghangat, "Makasih juga Mas sekarang udah bisa nerima anak kita."


Logan tersenyum lebar sekali, "Aku gak sabar ketemu sama anak kita."


"Masih 5 bulan lagi, Mas." Rania mengingatkan.


"Lama juga, ya." keluh Logan.


"Mas beneran udah siap sekarang buat jadi ayah?" tanya Rania, masih belum yakin.


"Iya, dong. Kenapa kamu nanya gitu?"


"Gak apa-apa sih, masih belum percaya aja. Dulu Mas nyuekin aku berminggu-minggu." kenang Rania dengan sedih.


"Maaf, Yang." Logan meraih kedua tangan Rania, "Aku udah berubah sekarang. Aku gak akan bikin kamu sendirian lagi. Aku gak akan nyuekin kamu lagi. Aku udah dihukum sama Papa. Dan aku kapok pokoknya. Bahkan hari ini aku merasa bersyukur banget. Tadi aku sempet ngobrol sama Ayah, dan itu bikin aku tambah sadar kalau aku itu beruntung banget."

__ADS_1


"Mas ngobrol sama ayah?" tanya Rania, "Ngobrol apa?"


"Ayah bilang kalau Ayah sebenernya gak terlalu mempermasalahkan punya anak atau nggak. Dari pertama nikah sama Mama, ayah pernah kepikiran tentang ini. Mama 'kan udah gak di usia yang produktif lagi. Cuma ternyata seiring berjalannya waktu mama terus berusaha buat hamil. Keluarga Ayah juga pengen banget Ayah punya anak. Sampai akhirnya Ayah mulai kepengen juga punya anak. Makanya bulan kemarin mereka ke dokter. Mama sama Ayah dikasih tips, vitamin, pokoknya biar mama cepet hamil. Tapi ternyata masih belum dikasih juga setelah sebulan usaha."


"Mama pasti sedih deh. Mama itu selalu mikirin perasaan orang lain lebih dari perasaannya sendiri. Mama pasti pengen hamil karena pengen bahagiain Ayah dan keluarganya." ujar Rania.


"Iya, Yang. Mama kamu emang baik banget. Terus Yang, kamu tadi liat gak Ayah agak gimana gitu pas ketemu Papa?"


"Iya, bener Mas. Aku udah ngeh dari waktu pertama ketemu sama Ayah di parkiran. Sikap Ayah kayak yang gak nyaman gitu ke Papa. Emang beneran ya ada apa-apa? Aku kira cuma perasaan aku aja."


"Beneran, Yang. Karena sekarang ayah pengen banget punya anak, Ayah jadi agak kesel sama Papa, Yang. Karena kejadian waktu dulu itu. Papa dan Mama berhasil punya kamu dalam sekali melakukan. Sedangkan sekarang mama sama ayah pasti udah sering dong, tapi belum 'cetak gol' juga."


"Jadi ayah ngerasa 'kalah' gitu maksud Mas?" Rania menggerakkan tangannya seperti tanda kutip pada saat mengatakan 'kalah'.


Rania mengerutkan dahinya, "Jadi Mas sekarang juga ngerasa bangga udah bisa bikin aku hamil?" Rania memicingkan matanya pada Logan, merasa ucapan Logan berbau persaingan. Seakan ia sedang berlomba dengan pasangan lain dalam memiliki anak.


Logan menangkap nada sinis Rania, "Iya gak gitu maksudnya, Yang." Logan segera mengklarifikasi.


Rania beranjak dari tepi tempat tidur dan berjalan menuju walk in closetnya.


"Yang, kamu gak marah 'kan?" Logan memastikan.


"Nggak, kok. Ngapain juga aku marah, Mas." Rania keheranan melihat Logan 'parno'.


"Aku jadi takut sekarang kalau ngomong. Takut kamu salah paham dan kita berantem lagi terus kepisah lagi." ucap Logan khawatir.

__ADS_1


Rania kembali mendekat pada Logan. "Segitunya sih Mas gak mau kepisah lagi sama aku." Rania mencubit pipi Logan.


Logan duduk di tepi tempat tidur dan menarik Rania agar duduk di pangkuannya. "Iya, Yang. Gak mau lagi. Aku gak mau kepisah sama kamu lagi." ucap Logan dengan nada yang manaja seraya menatap lekat kedua manik Rania.


Rania mengecup bibir Logan, membuat suaminya itu tersenyum. "I love you, Mas."


"I love you more, Sayang." Mata mereka masih saling memandang.


"Tangannya kok gak bisa diem, ya?" Rania mengulum senyumnya, karena kini tangan Logan mulai menelusup masuk ke jubah mandi yang Rania gunakan.


"Kata dokter Ane, harus sering dibersihin ininya. Biar nanti siap buat dikasihin ke dede bayi." ekspresi wajah Logan nakal.


Sedangkan Rania mulai merasakan sesuatu di inti tubuhnya akibat ulah jari-jari Logan yang tidak mau diam. "Iya dibersihin, Mas. Tapi bukan dimainin kayak gitu." Rania menahan des*han yang ingin ia keluarkan.


Melihat sang istri sudah mulai 'on', Logan mulai menjam*hnya. Kali ini ia harus lebih hati-hati dan menyentuh Rania lebih lembut. Ia mencoba untuk menahannya untuk tidak terlalu 'bersemangat' agar seseorang yang berada di dalam tidak terkejut dan merasa terganggu.


Logan membaringkan Rania di tempat tidur, bibirnyamulai mencumbu bibir sang istri.


Tiba-tiba terdengar pintu kamar mereka diketuk.


"Rania! Sayang!" sontak Logan dan Rania menghentikan aktivitasnya.


"Papa, Mas! " Rania segera bangkit dari posisi berbaringnya.


"Ih, Papa ngapain sih? Ganggu aja." dumel Logan sembari berjalan menuju pintu kamar. "Aku bakal cari cara gimana caranya kita balik ke apartemen biar gak ada yang ganggu lagi. "

__ADS_1


__ADS_2