My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 59: Kasih Ibu


__ADS_3

"Saya manggil Bu Arum dengan sebutan ibu bukan karena saya masih menganggap beliau sebagai mertua saya. Tapi beliau memang ibu angkat saya." ujar Rendra menatap tajam Nabil.


Nabil terdiam beberapa saat. "Maaf Pak Rendra." akhirnya ia melunak. "Saya gak nyangka sikap saya ternyata kentara sekali diketahui anda."


"Bukan cuma Rendra aja, aku juga nyadar kalau sikap kamu sama Rendra agak beda. Kenapa sih Bil?" ucap Carla.


"Saya sejujurnya malu." Nabil memijit pelipisnya, "Saya kayak gini karena saya merasa kalah dari Pak Rendra."


"Kalah?" Rendra benar-benar tidak mengerti.


"Dulu dalam sekali masuk, Pak Rendra bisa membuat Nindi hamil. Sedangkan saya..."


Semua orang di ruangan itu terkesiap. Jadi itu alasan perubahan sikap Nabil selama ini.


"Maaf bu Carla. Saya gak bermaksud..." ujar Nabil kemudian saat merasa tidak enak pada Carla.


"Gak apa-apa, Nabil. I'm totally fine. Kamu gak usah seperti itu."


"Jadi gara-gara itu?" ucap Rendra masih keheranan.


Nindi hanya terdiam. "Ini salah Nindi karena sampai sekarang belum bisa hamil."


"Mama kok ngomongnya gitu." Rania menenangkan.


"Kalian jangan stress, deh. Coba harus lebih have fun. Stress itu bikin susah hamil juga loh." ucap Carla.


"Mama sama Ayah pergi liburan, honeymoon lagi aja. Waktu itu Ayah gak bisa lama-lama karena sibuk banget. Sekarang Ayah harus bisa nyempetin." Rania menyarankan.


"Ayah kamu sibuk banget, Sayang." ucap Nindi lesu.

__ADS_1


"Kamu harus bisa nentuin prioritas, Bil. Kamu maunya gimana? Kalau kamu mau cepet punya anak usaha kamu harus lebih ekstra. Cuti beberapa hari dan bawa Nindi liburan. Kamu itu udah terlalu stress. Coba deh ganti suasana." ujar Rendra.


***


Rania berada di kamar beserta Nindi.


"Mah..."


"Kenapa Sayang?" Nindi berada di sofa kamar Rania dan Logan sedang membereskan baju-baju untuk disimpan di lemari.


"Mama sama Ayah baik-baik aja 'kan?"


"Kamu kok nanyanya gitu?"


"Rania khawatir aja. Lihat sikap Ayah tadi takutnya ada apa-apa gitu." Rania menghampiri Nindi dan duduk disebelahnya.


Nindi tersenyum lesu.


Rania tersenyum lirih menanggapi cerita Nindi, "Mama sabar ya. Mama sama Ayah harus terus berusaha. Mama belum juga nginjek umur 40. Masih bisa kok mah. Asal Mama sama Ayah jangan stress. bener tadi kata Papa, Mama sama Ayah harus liburan. Mama mau liburan kemana? Biar nanti Rania yang siapin akomodasinya."


"Gak usah, Ran. Mama gak mau ngerepotin. Udah gak usah ngomongin Mama terus. Mama 'kan disini mau nemenin kamu sama calon cucu Mama. Dia sehat-sehat 'kan?" Nindi mengelus perut buncit Rania.


"Sehat kok, Mah. Posisinya udah bagus, beratnya juga udah pas. Tinggal nunggu keluar aja." Rania memeluk sang ibu, "Rania deg-degan banget, Mah."


"Semangat ya, Sayang. Kamu pasti bisa. Kamu anak yang sehat dari dulu gak pernah kena masalah kesehatan apapun. Kamu pasti bisa lahiran lancar dan normal. Banyak berdoa ya." Nindi memeluk juga Rania.


"Mama dulu waktu mau lahirin Rania deg-degan juga gak?"


"Iya dong, Sayang. Apalagi dulu mama masih umur 15 tahun. Secara medis, tubuh Mama sebenarnya belum terlalu siap buat hamil. Banyak resikonya. Tapi syukurlah kamu bisa lahir dengan selamat."

__ADS_1


"Makasih ya Mama udah lahirin Rania, udah sayang sama Rania, udah ngorbanin banyak hal demi Rania."


"Itu udah kewajiban Mama sebagai orang tua kamu, Sayang. Kamu gak usah seperti itu. Kamu juga nanti akan ngerasain, kasih sayang kita akan jauh lebih besar pada anak kita, dibanding sama orang tua sendiri."


"Masa sih, Mah?"


"Iya, Sayang. Itu yang Mama rasain. Kalau kamu digigit nyamuk aja rasanya Mama kesel banget sama nyamuk itu. Emosi pengen matiin semua nyamuk yang ada."


"Sampai segitunya, Mah?"


"Iya, Sayang. Kamu akan rela ngorbanin apapun demi anak kamu nanti."


Rania bangkit dari pelukan sang ibu dan menatapnya, "Rania jadi gak sabar pengen ketemu sama Logan kecil."


"Dia laki-laki ya? Pasti ganteng kayak Logan." Nindi Setuju.


"Iya, Mah. Semoga ganteng kayak ayahnya." Rania tersipu.


"Kamu bahagia, Sayang?" tanya Nindi tiba-tiba.


"Banget, Mah. Rasanya hidup Rania udah gak kurang satu hal apapun sekarang. Mama udah nikah sama Ayah, Papa juga udah nikah sama Bunda. Aku juga udah sama Logan. Terus nunggu Logan kecil lahir. Gimana Rania gak bahagia coba?"


"Mama lega kalau anak Mama bahagia sekarang. Hidup kamu normal, tumbuh besar dengan cantik dan sehat, selesai kuliah dapet kerja, terus nikah dan punya anak. Itu cita-cita Mama sama Papa dulu. Syukurlah semuanya sesuai dengan rencana kami."


"Mah..." Rania memegang tangan Nindi, "Mama sama Papa kenapa sih gak bener-bener nyoba buat saling cinta aja? Terus kasih Rania adik?"


"Karena di hati Papa kamu udah ada Carla, Sayang. Gak ada tempat lain buat Mama. Tempat di hatinya muncul satu yang kosong, tapi itu untuk kamu."


"Mama tegar banget sih, Mah. Sekarang aja Mama masih diuji kayak gini. Rania pengen bantu tapi Rania bingung harus gimana bantu Mama."

__ADS_1


Nindi menatap wajah sang putri dan meraup kedua pipinya, "Anak Mama emang baik hati." ujarnya sumringah, "Kamu doain Mama aja ya, semoga Mama bisa cepet ngasih kamu adik."


__ADS_2