
Rania merebahkan tubuhnya di sofa di kamar Logan. Pintu Balkon terbuka lebar. Semilir angin malam membelai sekujur tubuh Rania. Namun Rania terlalu sibuk dengan pikirannya, rasa dingin yang menusuk bahkan tak ia pedulikan. Mukanya masih masam. Ia teringat kata-kata Kimberly. Bisa-bisanya perempuan itu menanyakan hal sefrontal itu. Tapi iapun tidak bisa menyalahkan. Orang-orang pasti banyak yang menanyakan hal yang sama. Hanya tidak cukup berani untuk mengatakannya di depan Logan.
Hal itu benar-benar mengganggu Rania.
"Yang, lagi apa? Udah malem banget ini ditutup ya pintunya. Ntar kamu masuk angin lagi." Tanpa Rania sadari Logan berada di sampingnya setelah tadi ia pamit membuat susu ibu hamil untuk Rania.
"Jangan dulu, Mas. Langitnya bagus, liat banyak banget bintangnya." Kamar Logan yang terletak di lantai 3 membuat langit malam yang pekat bertabur bintang itu jadi terlihat sangat jelas dari tempat Rania duduk.
"Ya udah nih kamu minum dulu susunya." Logan menyodorkan segelas susu pada Rania. Segera Rania meminumnya seraya berterimakasih pada Logan yang sudah membuatkannya. Padahal Logan bisa meminta Bi Ninah untuk membuatnya. Tapi ia lebih memilih untuk membuatnya sendiri.
Logan beranjak menuju walk in closet dan mengambil sweater tebal juga selimut untuk sang istri. Malam itu memang terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
"Ya udah kamu pake sweaternya ya." Dengan telaten Logan memakaikan sweater pada Rania. Juga menyelimuti Rania dengan selimut yang dibawanya.
"Makasih, Mas. " Rania memang sedikit kedinginan.
"Liat tangan kamu dingin gini." Logan meraih ke dua tangan Rania dan menggosok-gosokkannya dengan kedua tangannya.
Rania tertegun melihat perhatian sang suami.
Seketika Rania mengecup bibir Logan. Logan salah tingkah sambil terus menggosok-gosokkan tangan Rania.
"Kenapa, Sayang?" tanya Logan, tak bisa menahan ujung bibirnya yang tertarik ke atas.
Rania tersenyum kemudian mendekatkan lagi bibirnya pada Logan dan kembali menciumnya dengan intens. Suasana malam yang dingin memang mendukung untuk 'menghangatkan tubuh'.
"Peluk, Mas. Dingin." Rania merajuk.
Logan segera merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Rania melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Logan.
"Mas.. "
"hhmm?"
__ADS_1
"Mas gak apa-apa sama yang ditanyain sama temen Mas tadi?"
"Siapa? Kim? Dia anaknya emang ceplas-ceplos, Yang. Udah jangan terlalu didengerin ya."
"Orang lain kayaknya banyak yang pengen nanyain itu sama Mas. Cuma gak berani aja nanyain langsung sama Mas."
"Aku gak apa-apa, Yang. Biarin aja orang lain mau mikir apa. Aku gak terlalu nanggepin. Ini hidup aku ya terserah aku."
"Tapi yang Mas bilang ke Kim itu beneran?"
"Beneranlah. Aku emang udah siap buat nikah muda. Bahkan setelah kemarin-kemarin kita dipisahin, aku jadi mikir banyak, Yang. Jujur, aku sering loh kepikiran sebenernya kenapa sih aku nekat nikahin kamu. Tapi Ternyata itu keputusan terbaik yang pernah aku ambil."
"Mas seyakin itu?" Rania mendongak menatap wajah Logan yang dipeluknya.
Logan mengangguk mantap, "Iya, Yang. Kamu Sendiri tahu aku gampang kerangs*ng sama kamu. Aku gak pernah bisa puas buat sentuh kamu. Coba Bayangin kalo kita gak nikah. Kejadian waktu di kolam waktu itu pasti sering bakal terulang. Aku gak bisa sentuh kamu. Belum lagi proteksi dari papa."
Rania setuju dengan itu. Logan selalu saja seperti tak pernah puas menyentuhnya. Bahkan setiap harinya sebelum Logan pulang kerja, Rania harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Karena setelah Logan pulang ia harus melayani sang suami kadang hingga larut malam. Mereka istirahat untuk makan malam, dan setelah tenaga terisi kembali Logan kembali menggempur Rania. Sering kali seperti itu, terutama jika Logan tidak memiliki hal mendesak tentang pekerjaannya.
Secandu itulah Logan pada Rania.
"Umur kamu yang lebih tua dari aku, gak ngaruh apa-apa Yang buat aku. Semuanya Terjadi di saat dan waktu yang tepat. Bahkan anak kita hadir di saat yang tepat juga."
Rania tersenyum tidak percaya, "Masa sih Mas? Aku gak percaya loh Mas ngomong itu."
"Gak apa-apa kamu belum bisa percaya sama aku, Yang. Tapi yang jelas, aku udah sepenuhnya sadar. Semuanya yang terjadi dalam hidup aku emang udah seharusnya kayak gitu."
"Sejak kapan Mas jadi sedewasa ini?" Rania sendiri masih belum bisa mempercayainya.
"Dari dulu kali." ucap Logan seraya mengecup pucuk kepala Rania yang masih bersandar didadanya.
Mereka terdiam beberapa saat menikmati pelukan hangat di tengah hawa dingin Bandung di malam hari.
Tiba-tiba saja Rania meraih tangan Logan dan menyentuhkannya pada dadanya. Logan Sedikit tersentak kaget dengan apa yang Rania lakukan.
__ADS_1
"Yang..?"
"Hari ini belum bersihin punya aku. Kan harus diemut tiap hari biar tambah keluar."
Kata-kata penuh arti itu membuat wajah Logan memerah hingga ke telinga.
Logan berdeham, "Istriku manjanya lagi keluar. Bikin aku gemes aja."
Loganpun segera melahap bibir Rania sebagai pemanasan. Hasr*t mereka berdua sudah tak terbendung. Namun berkali-kali akal sehat Logan mewanti-wantinya, kini ia harus bermain aman dan lembut. Tidak bisa menggunakan seratus persen kekuatannya. Bisa bahaya, begitu benaknya selalu berkata.
Sambil terus bercumbu Logan mengangkat tubuh Rania, membopongnya, menuju ke tempat tidur. Perlahan ia membaringkan Rania disana dan menyelimuti tubuh mereka.
Rania mulai mend*sah nikmat saat Logan menarikan lidahnya di puncak miliknya, juga menghis*pnya secara konstan. Sedangkan tangan Logan yang lain mem*lin puncak yang satunya lagi. Kegiatan Itu lebih lama Logan lakukan, karena memang ada tujuan lain yaitu membuat puncak itu semakin tinggi hingga nanti siap diberikan pada sang calon bayi.
Hingga beberapa saat Rania meraih puncak kenikmatannya lebih cepat. Ia meremas rambut belakang Logan, menyalurkan rasa luar biasa yang tiba-tiba datang di bagian bawah tubuhnya.
"Yang? Udah?" tanya Logan sedikit tercengang, "Aku bahkan belum megang bawah kamu."
Rania tersenyum malu. "Udah gak tahan, Mas."
"Mau dilanjut tapi 'kan?" tanya Logan.
"Biasanya juga Mas gak pernah nanya dulu?"
"Sekarang 'kan kondisi kamunya beda. Takutnya kamu udah lemes gitu. Aku gak apa-apa kok kalo kamunya udah cape. "
Menjadi sangat tolelir Logan ini sekarang. Padahal dulu ia tak pernah peduli Rania yang sudah kepayahan mengimbanginya yang memang sulit untuk merasa puas.
"Nggak, Mas. Aku masih bisa, kok." Rania tersenyum nakal dan mulai menyentuh inti tubuh Logan yang masih bersembunyi di balik celana sweatnya.
Logan semakin ter*ngsang. Padahal ia sudah berusaha membentengi diri agar bisa menahan keinginannya. Namun pertahanan itu ambruk karena Rania yang begitu saja menyalakan lampu hijau untuknya.
Malam itu mereka melakukannya lagi. Penuh kelembutan dan kehati-hatian. Meskipun demikian Logan masih merasa puas. Bahagia. Juga dimatanya kini, Rania dengan tubuh polosnya, memperlihatkan perutnya yang sedikit membesar, membuatnya terlihat lebih cantik dari biasanya.
__ADS_1