
"Nggak kok, Eyang. Rania kan cuma lagi pengen makan ini aja. Masa dikira ngidam."
Entah kenapa Rania merasa gelisah dengan ucapan sang nenek. Ia mulai menyadari juga. Biasanya Rania lebih menyukai makanan-makanan khas Indonesia atau makanan korea yang memang sedang hits karena Rania sendiri memang pecinta Korea. Tapi seminggu ini ia terus menginginkan makanan-makanan luar terutama masakan Taiwan.
Sore harinya Nindi dan Nabil datang ke apartemen mereka untuk menjemput Eyang Arum. Mereka langsung ke apartemen Rania saat baru saja pulang dari bulan madu mereka. Tepat saat itu Logan sengaja pulang lebih awal untuk menyapa ibu dan ayah mertuanya. Setelah makan malam Nindi, Nabil, dan Eyang Arum beserta Berlinpun pulang.
Rania sedang merapikan meja makan saat Logan membuka kulkas dan melihat ada 3 cup boba disana.
"Yang tadi kamu beli ini?" tanya Logan sambil mengambil salah satu cup.
"Iya, tadi pengen yang seger-seger. Jadi aku beli." ucap Rania yang kini sudah selesai membereskan meja dan duduk di samping Logan yang sedang menikmati bobanya di sofa ruang tengah.
"Tumben. Bukannya kamu gak suka boba." Logan masih menyesap bobanya.
Loganpun mengatakan hal serupa dengan yang dikatakan oleh sang nenek tadi. Rania semakin gelisah. Apalagi Eyang Arum tadi sempat bertanya apakah dirinya hamil atau tidak. Rania memang kurang menyukai boba, namun justru Logan sangat menyukainya. Apalagi boba di salah satu restoran Taiwan yang sudah menjadi langganan Logan. Dan tiba-tiba saja siang tadi ia begitu ingin meminum minuman berisi bulatan-bulatan kecil berwarna hitam itu.
"Ya pengen aja, Mas. Kok kayak aneh gitu sih aku pengen minum itu doang."
"Bukan aneh. Kamu 'kan kalo aku minum ini kayak sama sekali gak mau buat nyobain doang juga." Logan tidak mempermasahkannya lebih panjang, "Oh iya, Yang. Besok WO bakal dateng kesini ya buat ngobrol sama kamu, buat ngomongin masalah resepsi."
Wajah Rania seketika berubah sumringah. Akhirnya mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan mereka akhir tahun ini. Logan menyewa sebuah wedding organizer dan menyerahkan semua pilihan pada Rania.
"Kok disuruh kesini? Mas emang gak kerja?"
"Kamu aja yang ngobrol sama WOnya. Terserah kamu aja pokoknya mau konsep dan detailnya kayak gimana. Aku ikut aja."
"Tapi kan ini resepsi kita, Mas. Masa aku doang yang ngobrol sama WOnya."
"Gapapa, Sayang." Logan menarik Rania untuk mendekat padanya, "Pokoknya aku ikut aja kamu maunya kayak gimana, pake warnanya apa, konsepnya gimana, tempatnya dimana, aku gak akan protes."
"Beneran semuanya terserah aku?" tanya Rania memastikan. Ia tidak ingin nantinya timbul perdebatan karena perbedaan pendapat.
"Iya, Sayang. Kerjaan aku lagi ada sedikit masalah. Pembangunan Hotel di Maladewa lagi agak kehambat. Jadi aku lagi banyak kerjaan banget. Kayaknya besok aku bakal kesana dulu."
__ADS_1
"Mas mau ke Maladewa besok?!" tanya Rania terkejut tiba-tiba saja Logan akan pergi perjalanan dinas lagi.
"Mau gimana lagi. Aku harus cepet beresin masalah disana. Aku pengennya kamu ikut tapi kita harus bagi-bagi tugas supaya semuanya cepet selesai. Aku beresin masalah disana supaya sebelum resepsi kita, kerjaan aku yang berat-berat udah selesai. Kamu disini tolong urusin acara nikahan kita. Pokoknya semua udah tinggal bilang aja sama WOnya kamu maunya kayak gimana." Logan memberikan instruksi kepada sang istri.
Rania memandang ke arah Logan dengan sedih.
"Jadi nanti aku tidur sendiri?" ucap Rania dengan wajah cemberut.
Logan tersenyum gemas melihat sang istri yang merajuk, tumben sekali Rania begitu manja padanya. Iapun memeluk istrinya itu, "Cuma bentar kok, Sayang. Paling lama seminggu. Abis gimana lagi. Ada masalah sama tanah yang dipake buat pembangunan hotel disana. Mereka pengen pimpinannya sendiri yang dateng kesana. Makanya aku harus kesana."
"Biasanya juga Mas pengen aku ikut. Kok sekarang nggak?" Rania memeluk erat sang suami.
Entah kenapa Rania merasa sangat sensitif. Padahal dulu ia sangat mendukung sang suami jika ada perjalanan bisnis. Saat Logan akan berangkat ke Perancis waktu itu, Rania justru merasa tidak perlu ikut serta. Namun Logan yang memaksanya ikut. Namun kali ini Rania merasa tidak rela sang suami pergi tanpa dirinya.
"Iya, Yang. Maaf ya. Kan kayak yang tadi aku bilang, kita bagi-bagi tugas. Kamu disini biar bisa ngontrol persiapan resepsi. Waktunya tinggal sebulan lagi loh. Seudah itu kita honeymoon. Gimana?"
"Emang Mas punya waktu buat honeymoon? Mas sibuk banget gitu."
"Iya bisa diatur, Yang. Cuma ya emang gak bisa lama-lama. Paling beberapa hari aja. Kamu mau kemana nanti honeymoonnya?" Logan mencoba menghibur sang istri.
"Ke Korea, mau?" Logan menawarkan. Rania pasti sangat ingin pergi kesana, mengingat sang istri sangat mengidolakan idol dari negeri ginseng itu.
"Nggak deh kayaknya." ucap Rania.
Logan mengerutkan keningnya, perkiraannya meleset, "Yakin? Bukannya kamu pengen banget kesana ya?"
"Iya sih. Cuma sekarang lagi gak pengen. Aku pengennya kita nginep di hotel Logan Ritz aja. Yang dimanapun boleh."
"Aku jadi kayak gak lagi honeymoon dong, malah kayak kerja."
"Ya gak apa-apa. Pokoknya aku pengen nginep di hotel punya Mas. Kan belum pernah aku nginep di hotel punya suami aku sendiri. Biar bisa sekalian ngasih kritik dan saran nanti."
"Ya udah aku ikut aja deh. Kalo gitu kita ke hotel yang di Lombok aja ya?"
__ADS_1
"Kenapa gak di Bali? Mama sama ayah seneng banget dan puas banget sama pelayanan disana kan?" tanya Rania.
"Boleh. Mau yang di Bali aja? Tapi kalo yang di Lombok kita bisa sekalian ke pulau pribadi."
"Pulau pribadi? Maksudnya?"
"Aku baru beli pulau disana, Yang."
Rania menutup mulutnya terbuka saking terkejutnya dengan ucapan Logan yang kembali menunjukkan sisi kesultanannya.
"Buat apa Mas beli pulau?"
"Ya buat kita liburan, Yang. Pantainya bagus banget loh. Jadi kalo kita lagi mumet, kita liburan kesana. Privat. Gak akan ada yang ganggu. Terus kalo nanti nemu yang bagus lagi bisa kita jual, atau sewain. Jadi buat investasi juga, Yang."
"Kadang aku masih belum biasa sama gaya hidup Mas. Aku kalo ke pantai paling juga ke Pangandaran sama ke Bali. Ini Mas udah punya pulau pribadi aja."
"Kamu harus udah biasa dong, Yang. Kamu kan udah mau 6 bulan nikah sama CEO Logan Enterprise. Uang yang aku kasih kamu belanjain gak sih? Kok jarang minta uang sama aku?"
"Belanja kok. Ya abis Mas ngasihnya juga kebanyakan. Belum lagi Mas juga transfer uang tiap bulan. Aku 'kan gak begitu hobi belanja. Lagian baju, perhiasan, sepatu, tas juga udah penuh di walk in closet. Itu belum semuanya aku pake loh."
"Ya kamu mulai ikut gabung sama istrinya Mr. Woods gitu misalnya. Dia kan suka kumpul sama istri-istri pengusaha yang lain, mereka suka bikin kegiatan. Biar relasi kamu makin luas."
"Kayaknya aku kurang cocok deh sama Gwen." ucap Rania.
"Kenapa?"
"Aku udah bisa ngebayangin geng sosialitanya Gwen pasti kerjaannya belanja, arisan, pamer perhiasan sama barang branded. Aku males, Mas. Bukan aku banget."
Logan menghela nafas, "Ya udah terserah kamu aja. Aku gak akan maksa."
Logan menelusupkan tangannya ke balik kaos yang Rania kenakan. Ia ingin menyalurkan hasratnya sebelum besok ia pergi dinas ke Maladewa.
Rania menahan tangan Logan.
__ADS_1
"Kenapa, Yang?" tanya Logan yang bingung karena Rania menghentikan aksinya.
'bukannya harusnya gue dapet ya minggu ini?' tanya Rania dalam hati.