
Rania terbangun karena sesuatu yang ia rasakan pada kedua bukit kembar dan inti tubuhnya. Rania membuka matanya dan melihat Logan berada di atasnya\, memainkan lidahnya di salah satu bukit kembar miliknya. H*srat Rania terbangun seiring dengan sentuhan Logan di berbagai area sensitifnya itu. Dengan penuh kesadaran kini Rania menikmati perlakuan Logan terhadapnya. Ia mulai mer*mas pelan rambut belakang Logan dan bibirnya mengeluarkan suara yang ia tahu\, sangat disukai oleh suaminya itu.
Sesaat kemudian aktivitas mereka harus terhenti, tiba-tiba saja HP Logan berdering dan dengan segera Logan meraih HPnya.
"Yang? Kamu ngangkat telepon pas lagi kayak gini?" Rania merajuk.
"Bentar ya, Sayangku." ucap Logan meredakan sang istri, yang pasti merasa terganggu karena aktivitas mereka harus tiba-tiba berhenti. Kemudian ia mengangkat teleponnya.
'Pasti Pak Davin. Cuma dia yang berani nelpon Logan di jam segini,' batin Rania yang merasa terganggu. Ia melihat jam menunjukkan pukul dua dini hari.
"Gimana, Dav?" tanya Logan. Kemudian beberapa saat Logan berbicara dengan Davin dengan wajah yang serius.
Tidak lama Logan mengakhiri teleponnya dan merapikan kembali baju Rania yang disingkapnya.
"Yang, nanti lagi ya. Aku harus ke ruang kerja dulu." ucap Logan. Dengan langkah terburu Logan meninggalkan Rania.
"Hah? Gak jadi?!" ucap Rania tidak percaya Logan benar-benar menghentikan aktivitas mereka dan kini sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Rania mendengus kesal dan berusaha kembali tertidur. Namun seketika Rania bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju keluar kamar. Ia berjalan menuju ruangan kerja Logan yang berada di lantai 2. Ia melihat sang suami tidak sedang bermain game seperti yang direncanakan, tapi justru sibuk dengan laptopnya. Wajah seriusnya kembali terlihat. Pikirannya telah tenggelam pada pekerjaannya, bahkan kehadiran Rania di ambang pintunya tidak mengusiknya sama sekali.
Rania berjalan menuju dapur dan berinisiatif menyiapkan beberapa macam buah potong, segelas susu, dan juga roti. Ia simpan di nampan dan ia bawa ke ruang kerja Logan. Suaminya itu kini tengah sibuk berbicara melalui teleponnya. Tatapannya tertuju pada pemandangan di luar dinding kaca dan membelakangi meja kerjanya. Logan tidak menyadari kehadiran sang istri yang masuk ke dalam ruang kerjanya. Raniapun menyimpan kudapan itu di meja Logan dan perlahan kembali ke kamarnya.
Sekitar pukul 6 pagi, Rania terbangun. Ia menoleh ke arah samping dan melihat Logan tertidur pulas di sampingnya. Rania tersenyum dan menggeser tubuhnya mendekat pada Logan. Ia baringkan kepalanya di lengan Logan dan memeluk tubuh suaminya itu. Rania merasa nyaman sekali.
Rania menyentuh puncak hidung mancung suaminya itu untuk mengusiknya. Logan bergeming, tidurnya sangat pulas, sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan Rania. "Yang, bangun. Udah pagi, mau sarapan sekarang gak?"
Tidak ada reaksi dari Logan. Sekali lagi ia bangunkan suaminya itu, "Logan sayang. Bangun yang." Rania menyentuh bibir tipis berwarna merah muda milik suaminya itu sambil menaruh dagunya pada dada Logan.
Logan masih tidak menjawab, ia masih tertidur sangat pulas. Raniapun menyerah dan bangkit dari tempat tidur dan membiarkan Logan tidur lebih lama. Sepertinya ia begadang sampai pagi tadi.
Raniapun berjalan menuju dapur. Ia ambil segelas air putih dan kemudian kembali ke kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Ia masuk ke walk in closet dan berganti pakaian dengan legging hitam dan sport bra berwarna merah jambu dengan logo ceklis di bagian tengahnya. Ia memutuskan untuk menghabiskan waktu paginya di studio dancenya.
Rania masuk ke ruangan yang cukup luas itu. Ia mengambil remote dan memijit sebuah tombol, kemudian gordenpun terbuka dan pemandangan pagi dari ketinggianpun terlihat dengan sangat menakjubkan. Rania menghampiri sebuah meja dengan laptop di atasnya yang ada di sudut ruangan, menggunakan sepatu sportnya, dan mulai menyalakan sebuah lagu untuk pemanasan.
Setelah merasa cukup dengan pemanasan, Rania mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang berputar. Ia melakukan gerakan-gerakan dari dance cover yang pernah dipelajarinya. Mulai dari tarian lagu Medicine dari Jennifer Lopez yang dibawakan oleh Secret Number, kemudian lanjut ke tarian Lisa di Lilifilm #3, Senorita yang juga dibawakan oleh Lisa, dan Partition dari Beyonce yang pernah dibawakannya juga ketika perpisahan Nessie.
Setelah menarikan empat lagu itu, keringat mulai bercucuran di tubuh Rania. Rania menyapukan rambutnya yang menempel di keningnya akibat keringat dan berniat untuk beristirahat sejenak, sebelum ia melanjutkan ke dance berikutnya.
Namun tiba-tiba Rania terkejut saat melihat ke arah jendela seukuran pintu di sebelah pintu masuk studio dancenya. Ia melihat Logan berdiri disana sambil menyandarkan tangannya pada jendela. Menyadari Rania mengetahui kebedaraannya, Logan membuka pintu dan masuk ke dalam studio dance.
"Yang, dari kapan kamu ada disitu?" tanya Rania
__ADS_1
"Dari tadi." ucap Logan menghampiri Rania. Rania terus mundur melihat sang suami kini mendekat dengan tatapan seakan ingin melahapnya.
"Yang, masa disini?" tanya Rania yang sudah mengetahui maksud dari tatapan Logan.
"Emang kenapa kalo disini?" ucap Logan seraya melepas kaos putih polos yang dikenakannya.
Segera setelah itu Logan mulai merengkuh pinggang sang istri dan mulai mencumbunya. Mereka melakukan ritualnya di lantai studio dance pagi hari itu. Sensasi yang berbeda mereka rasakan karena biasanya mereka melakukannya di tempat tidur ataupun di bathtub kamar mandi. Apa yang mereka lakukan terpantul di cermin di studio dance itu, dan suara mereka menggema lebih keras.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka mencapai kenikmatan itu. Logan membaringkan tubuh polosnya di sebelah Rania di lantai studio dance itu. Nafasnya masih menderu, dan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Rania mengambil kain pantai tipis yang ia ingat ada di lemari kecil di studio dancenya. Ia berbaring di sebelah Logan dan menjadikan lengan Logan sebagai bantal, kemudian menutupi tubuh polos mereka dengan kain pantai itu.
"Yang, jangan jadi ya kamu bikin chanel youtube buat kamu upload video dance kamu." ucap Logan.
"Kenapa?" tanya Rania kecewa. "Kan kamu udah setuju. Kamu udah beliin aku kamera sama laptop dengan spek terbaik buat edit videonya."
"Aku gak rela kamu lagi dance diliat sama orang lain. Aku aja selalu gak tahan pas udah liat kamu dance." ucap Logan.
Rania tersenyum kecut, "Itu mah kamu aja yang suka jadi pengen sentuh aku kalo abis liat aku dance. Tapi orang lain gak akan kayak gitu, Yang."
"Nggak pokoknya, aku gak jadi ngizinin kamu bikin video buat kamu upload. Kamu boleh dance tapi kayak barusan aja buat olahraga gitu." pungkas Logan, keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
Rania menghela nafas, ia tidak mempermasalahkan ini lebih lanjut. Izin sang suami lebih penting dari apapun baginya.
"Iya deh, aku nurut kalo suami aku udah bilang gitu. Lagian aku udah seneng banget dengan kamu bikinin aku studio dance ini."
Raniapun memeluk balik suaminya.
"Yang, tadi bukannya lagi tidur? Kok bisa ada di luar?" ucap Rania setelah beberapa saat mereka saling berpelukan.
"Tadi guling aku ilang. Jadi aku gak bisa tidur lagi." Ucap Logan sambil memejamkan matanya. Rania tertawa mendengar ucapan konyol suaminya itu. "Terus aku denger musik dari sini. Aku jadi kepo juga, udah lama gak liat kamu dance."
"Masa sih udah lama? Terakhir kamu liat aku dance waktu perpisahan Nessie 'kan ya?"
Logan menjawabnya dengan gumaman, "Aku ngantuk banget, Yang. Aku gak jadi begadang mabar sama Rifan, soalnya Davin gangguin aku."
"Pak Davin bukannya lagi di Maladewa?"
Logan mengangguk. "Dia wakilin aku buat ngontrol pembangunan hotel disana. Dia bilang ada masalah sedikit jadi aku lembur lagi."
Rania memandang wajah suaminya. Ia melihat bawah mata Logan sedikit menghitam.
"Kasian banget suami aku, kerja terus gak berhenti-berhenti." ucap Rania.
__ADS_1
"Mau gimana lagi. Untung ada Davin bantuin aku terus. Kalo nggak aku udah kewalahan. Terus tadi malem ada yang ngirimin cemilan juga. Siapa ya?" ucap Logan pura-pura tidak tahu.
"Driver ojol kali," canda Rania.
"Drivernya cantik banget berarti." Logan menimpali. "makasih, Sayang. Tau aja aku laper jam segitu."
"Iya dong. Aku kan istri siaga." ucap Rania dengan bangga.
"Iya bener. Kamu istri siaga banget." Logan setuju.
Rania tersenyum puas mendengarnya, "Eh, Yang, Pak Davin itu udah nikah kan? Belum punya anak?"
"Udah. Istrinya dokter di rumah sakit Dokter Sam. Tapi ya gitu deh dua-duanya workaholic. Gak ada waktu kayaknya buat punya anak."
"Udah berapa lama mereka nikah?"
"Mungkin 10 tahun. Gak tahu juga."
Rania terdiam sejenak, ada hal yang ingin ia sampaikan namun ia ragu untuk mengatakannya.
"Yang, tau gak, kemarin Keyla nanyain aku udah isi atau belum." Rania berkata dengan sangat hati-hati. "Keyla nanyain itu soalnya aku 'kan sekarang gak ada kegiatan. Dia tau aku orangnya 'kan gak bisa diem doang. Katanya kalo aku punya anak, aku jadi ada kesibukan gitu."
Logan menghela nafasnya. "Aku kan udah ngizinin kamu buat ngajar lagi. Kamu ngajar lagi aja. Atau kamu ambil tawaran Pak Bima buat kuliah S2."
Hanya itu jawaban Logan, ia sama sekali tidak menanggapi ucapan Rania mengenai saran Keyla untuk memiliki anak.
'Okay fix, Logan emang bener-bener belum pengen punya anak. Barusan aja dia udah persiapan bawa pengaman di sakunya.' batin Rania sedikit sedih.
"Aku udah mikirin ini sih, Yang. Aku gak akan ngajar lagi untuk sekarang, aku pengen lanjut S2 aja. Kalo aku mau lanjut ngajar lagi, aku pengen nunggu beberapa tahun lagi. Nunggu siswa-siswa yang tau kejadian kita pada lulus dulu. Baru aku mau mulai ngajar lagi. Kalo gitu gimana?"
"Iya, boleh. Aku dukung keputusan kamu."
"Makasih, sayang." ucap Rania kembali memeluk suaminya.
"Yang," ucap Logan. Rania menjawabnya dengan gumaman, dan Logan melanjutkan, "Kamu jangan bilang-bilang lagi soal anak ya. Kamu 'kan tau aku belum siap buat jadi ayah."
Rania memandang wajah Logan yang berubah dingin.
"Iya. Aku gak akan ngomongin soal itu lagi." ucap Rania, hatinya sedikit berdenyut sakit. Namun ia mencoba tidak memperpanjang masalah itu.
Baginya semua pasangan memiliki keputusan dan peraturan mainnya masing-masing, ada yang menganggap memiliki anak adalah suatu keharusan saat sudah berumah tangga. Ada juga yang menunda, bahkan ada juga yang memutuskan untuk sama sekali tidak akan memiliki anak.
__ADS_1
Walaupun Rania sudah sangat siap untuk memiliki buah hati, jika Logan belum maka ia bersedia untuk menundanya. Ia memahami Logan masih sangat muda. Pekerjaan dan kehidupan rumah tangganya saja pasti sudah sangat menyita waktunya. Seperti tadi malam, bahkan saat ia ingin menghabiskan waktu untuk sekedar bermain game saja, Logan tidak punya cukup waktu. Oleh karena itu, Rania mencoba untuk memiliki pemikiran yang sama dengan sang suami.