
Rania menatap cemas pada Ibra yang berjalan ke arahnya. Ibra menggunakan nametag dokter, menandakan ia seorang dokter disana.
"Ran, gimana kabarnya?" ucap Ibra saat berdiri di hadapan Rania.
"Baik. Lo gimana? Lo kerja disini sekarang?" tanya Rania.
"Wah gak nyangka ketemu lo disini. Iya gue beres magang dapet tawaran langsung disini. Gue ambil aja. Jadi gue juga sekarang udah gak di SMA Satya lagi. Gara-gara jadwal praktek gue full disini." Ibra menjelaskan.
"Iya, gak nyangka banget. Udah lama ya kita gak ketemu. Selamat ya. Sukses terus buat lo." Rania menyerahkan formulir yang sudah diisinya dan duduk di salah satu kursi ruang tunggu. Ibra duduk di sebelah Rania.
"Thanks ya, Ran. By the way, lo ngapain kesini?" tanya Ibra sambil melihat ke arah tempat pendaftaran yang bertuliskan dr. Ane, Sp.Og.
Rania bingung akan menjawab apa.
"Lo hamil, Ran? Wah selamat kalo gitu." ucap Ibra merasa ikut senang.
"Nggak, Ib. Belum tau gue baru mau cek." ucap Rania dengan suara pelan.
"Loh Logan mana? Lo dateng sendiri?" tanya Ibra sambil celingukan.
Rania menarik baju Ibra dan menariknya ke tempat yang agak sepi.
"Ib, please banget. Lo tolong ya jangan bilang siapa-siapa lo liat gue disini. Terutama kalo lo ketemu sama Logan. Walaupun gak tau lo bakal ketemu sama dia kapan, tapi gue mohon ya jangan kasih tau dia kalo lo ketemu gue disini! Atau siapapun yang kenal sama gue. Please banget, lo harus rahasiain ini." Rania memohon sembari mengangkupkan kedua tangannya.
"Kenapa, Ran? Ini 'kan kabar bahagia?" tanya Ibra keheranan.
"Ceritanya panjang. Pokoknya gue minta sama lo jangan sampe ada yang tau ya." ucap Rania mewanti-wanti.
Ibra terlihat berpikir, ia melihat Rania yang menggunakan topi dan kacamata hitam dan datang sendiri ke klinik yang ia tau lumayan jauh dari tempat tinggal Rania. Berarti Rania memang betul-betul ingin merahasiakan ini dari orang-orang.
"Ya udah, gue gak punya hak juga buat ngumbar-ngumbar. Lo tenang aja, rahasia lo aman sama gue."
Rania menghela nafas lega.
"Thanks banget ya, Ib. Lo emang temen gue." ucap Rania sumringah.
Tiba-tiba terdengar perawat memanggil, "Ibu Rania Putri Direndra!"
"Ib, gue duluan ya. Sekali lagi makasih banyak ya." ucap Rania tulus.
"Sama-sama, Ran. Semoga hasilnya bagus ya." ucap Ibra.
Rania mengangguk dengan ragu. Ia sendiri bingung harus berharap ia hamil atau tidak.
Dengan jantung berdebar, Rania melangkah ke ruangan dokter.
__ADS_1
"Selamat siang, Bu Rania. Gimana ada keluhan apa bu?" sambut dokter paruh baya itu.
Rania dengan ragu mengutarakan maksudnya. "Saya mau periksa, dok. Akhir-akhir ini saya sering ngerasa nafsu makan saja besar dan saya sering ingin makan sesuatu yang biasanya saya gak terlalu suka. Terus saya juga sering ingin buang air kecil, cepat lelah, dan ngantuk." dengan ragu Rania bertanya, "Saya... hamil atau tidak ya?"
"Terakhir ibu menstruasi kapan?" tanya Dokter Ane.
"Bulan lalu, dok. Seharusnya minggu lalu saya datang bulan." ucap Rania masih dengan wajah yang cemas.
"Baik, kita periksa dulu ya."
Dokterpun mempersilahkan Rania berbaring di brangkar. Rania diminta menyingkap sedikit bajunya agar Dokter bisa meletakkan alat USG di perutnya. Rania terus menghela nafas. Ia sangat gelisah.
"Wah, selamat ya. Ibu hamil, usianya masih sangat muda, sekitar 2 minggu." ucap Dokter sambil melihat ke arah Layar di samping Rania. "Ibu lihat, bulatan kecil ini adalah janin yang tumbuh di perut ibu.
Deg!
Rania seperti disambar petir di siang bolong. Tatapannya tertuju pada bulatan kecil di layar itu, ia sangat bahagia mendengarnya. Buah hatinya dengan Logan kini tumbuh di dalam perutnya. Namun di sisi lain, ia tidak bisa membayangkan reaksi Logan jika ia tahu bahwa dirinya hamil. Bagaimana mungkin? Sejak mengecek dirinya hamil atau tidak di Perancis waktu itu, mereka selalu menggunakan pengaman saat berhubungan. Logan tidak mau mengambil resiko. Sehingga tidak pernah sekalipun mereka berhubungan tanpa menggunakan pengaman.
"Tapi dok, saya selalu menggunakan pengaman, kenapa saya bisa hamil?" tanya Rania masih shock dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.
Dokter itu mengerutkan kening, keheranan dengan reaksi Rania, "Apa anda belum menikah?" tanya sang dokter.
"Sudah, dok. Tapi kami masih akan menunda memiliki anak. Makanya kami selalu menggunakan pengaman." jelas Rania.
"Menggunakan pengaman tidak menjamin ibu tidak akan hamil, bu. Semua bisa saja terjadi. Mulai dari alat pengaman yang ibu gunakan bocor dan kemungkinan yang lain. Bahkan ada yang masih berhasil hamil setelah memasang alat kontr*sepsi."
'gimana ini...?' batin Rania gelisah.
"Ibu?" dokter itu memanggil Rania karena ia sibuk dengan lamunannya.
"I-iya dok?" Rania bangkit dari tempat tidur dan duduk di hadapan sang dokter.
"Silahkan ini foto dari janin anda. Anda mau mendapatkan video USG dari janin anda juga?" tanya sang dokter.
Rania meraih selembar kertas hasil USG itu. Terdapat sebuah bulatan kecil disana. Seketika Rania tersenyum bahagia.
'Anak ibu. Sehat-sehat ya, nak.' ucapnya dalam hati.
Rania menyerahkan kembali foto itu. "Saya titip disini aja ya dok hasil USG ini dan juga video janin saya, bulan depan saya akan kontrol lagi." ucap Rania.
Setelah itu Rania pulang. Ia memesan taksi online dan setelah beberapa lama, Rania sampai di depan apartemennya. Ia berjalan lunglai sambil memegang perutnya. Dengan tatapan mata yang kosong ia masuk ke dalam lift. Beberapa kali ia menghela nafas.
Rania tiba di lantai dimana penthousenya berada.
Tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dan sebuah tangan sedang melambai di depan wajahnya. "Miss! Halo?" Raniapun menoleh ke samping kirinya.
__ADS_1
"Hazel?" ucap Rania terkejut melihat sahabat Logan itu.
"Miss lagi sakit? Dari lift kita sebelahan loh, Miss gak nyadar ada aku?" ucap Hazel. Ia masuk ke lift tepat setelah Rania masuk, ia sengaja tidak menyapa Rania, ingin Rania sendiri yang menyapanya. Namun pikiran Rania sepertinya sedang betul-betul tidak ada disana.
"Maaf ya Hazel, Miss beneran lagi banyak pikiran. Haha." Rania mencoba tertawa namun malah terdengar aneh.
"Tapi Miss sehat 'kan?" tanya Hazel agak khawatir pada istri dari sahabatnya itu.
"Sehat kok, gak apa-apa. Anak-anak lagi pada ngumpul lagi?" tanya Rania. Kini mereka sudah ada di depan unit Hazel yang bersebelahan dengan unit Rania.
"Iya, Miss. Biasalah weekend kita ngumpul-ngumpul kayak dulu. Miss mau masuk dulu gak? Logan lagi dinas ke Maladewa 'kan? Miss sendiri di rumah?"
"Nggak deh, Zel. Miss kayaknya agak cape. Pengen istirahat. Kalian have fun ya." Rania melambaikan tangan dan berjalan menuju unitnya.
Hazel membalas lambaian Rania, namun sedikit agak khawatir karena Rania terlihat tidak sehat.
Raniapun tiba di penthousenya. Ia menjatuhkan dirinya ke sofa ruang tengah.
"Gimana dong ini!!!!" teriaknya merasa frustasi.
Beberapa saat Rania terdiam dalam kebimbangan.
Rania mengusap perutnya pelan. "Sayang, ibu bahagia banget kamu ada di perut ibu. Tapi ibu bingung, ayah kamu belum pengen kamu ada. Ibu harus gimana?" Rania mulai mengajak berbicara janinnya, karena ia sendiri bingung harus berbicara pada siapa lagi. Rania mengacak-ngacak rambutnya, saking bingung dan frustasinya.
Rania tidak mungkin memberitahukan hal ini pada Logan. Ia takut Logan akan marah, lalu stress. Sekarang suaminya itu sedang sibuk menyelesaikan pembangunan hotel di Maladewa. Bahkan beberapa hari terakhir Logan begadang. Sekarang saja Logan sampai harus berangkat ke Maladewa. Rania tidak ingin menambah beban pikiran suaminya itu.
Terlebih selama ini Logan selalu dengan tegas menolak untuk memiliki anak.
Jika Logan tidak boleh tau, orang lainpun tidak boleh ada yang tau.
"Sayang, maafin ibu ya. Buat sekarang kamu harus sembunyi dulu. Nanti ibu pasti kasih tau ayah dan semua orang tentang kamu. Sabar ya. Kamu yang penting sehat-sehat di perut ibu." ucap Rania kembali berbicara sambil mengelus perutnya.
Rania kembali menghela nafas.
Tiba-tiba saja ia teringat Hazel dan ingin menghampiri teman-temannya di unit sebelah. Raniapun keluar dan menekan Bel saat tiba di depan unit apartemen Hazel.
"Miss!" Dizza membukakan pintu untuk Rania. Mereka berpelukan sebentar dan Raniapun masuk ke dalam apartemen itu.
"Miss gimana kabarnya? Kita jarang banget ketemu ya sekarang." ucap Dizza.
"Miss baik kok. Kamu gimana?" sebelum Dizza menjawab, Rania melihat teman-teman Hazel beranjak dan berjalan menuju pintu keluar," loh kalian mau kemana?"
"Kita mau ke sirkuit, Miss. Udah lama kita gak balapan. Mobil udah minta dibawa lari-lari." ucap Rifan yang kini nimbrung bersama Rania dan Dizza.
'balapan?' seketika, entah perasaan dari mana, adrenalin Rania terpacu.
__ADS_1
"Miss boleh ikutan gak?" ucap Rania.