
"Kenapa kamu bilang?" hati Logan mencelos, "Kamu istri aku! Aku harus tau kamu dimana! Kamu pergi dari kemarin dan gak bisa dihubungin sama sekali. Kamu anggap aku apa?"
"Kenapa? Kamu masih peduli sama aku? Bukannya kamu dorong aku terus kamu pergi gitu aja dan ninggalin aku di hotel sendirian!" ujar Rania tanpa takut sedikitpun. Hampir saja ia kehilangan janin yang dikandungnya, dan hal itu membuat Rania berubah pikiran untuk tidak lagi tinggal diam.
Logan menyimpan kedua tangannya di kedua pinggangnya. "Aku ingetin ya, Ran, takutnya kamu lupa! Kamu udah bikin aku sakit hati! Kamu meluk cowok lain disaat aku udah jadi suami kamu! Aku nikahin kamu di umurku yang masih 18 tahun! Aku gak mikir dua kali saat aku liat papa kamu di sekolah waktu itu. Aku langsung lamar kamu. Aku relain masa muda aku! Tapi apa yang aku dapet? Kamu gak ngertiin aku sama sekali, Ran! Belum lagi masalah aku di kantor. Aku kerja sampai malam setiap hari! Bahkan aku gak pernah punya waktu buat diri aku sendiri! Aku cape! Pernah gak sih kamu mikirin kondisi aku?"
Ia tidak mengerti keadaan Logan, katanya? Tidak memikirkan kondisinya, dia bilang?! Namun kini akhirnya, Logan meluapkan kekesalannya, hal yang memang Rania tunggu selama ini. Rania mengurungkan niatnya untuk mendebat kata-kata Logan, padahal ia sangat ingin melontarkan kata-kata balasan dan membiarkan suaminya itu untuk meluapkan semuanya.
"Kalau kamu mau tau, semua orang di kantor itu ngeremehin aku! Padahal aku udah berusaha semaksimal yang aku bisa. Bahkan jadiin Logan Ritz sebagai salah satu hotel terbaik di Asia bukan sesuatu yang bisa ngebungkam mulut mereka. Mereka terus bilang gak puas dengan kinerja aku! Mereka selalu bilang aku gak akan mampu dan semua pencapaian aku cuma kebetulan aja. Belum lagi..."
Teriakan Logan terhenti, Rania merasa Logan seperti akan keceplosan untuk mengatakan sesuatu. Kemudian Logan dengan cepat melanjutkan ucapannya. "Pembangunan hotel di Maladewa itu tersendat karena jebakan mereka! Mereka yang bikin tanah itu jadi sengketa. Mereka mau aku mundur dari jabatan aku. Mereka mau aku ngelepasin semua yang udah ayah kasih ke aku!"
Setelah berteriak dengan penuh emosi, Logan terduduk lesu di sofa. Batinnya masih terasa sangat lelah bahkan setelah mencurahkan segala yang selama ini ia sembunyikan dari Rania.
"Ternyata bisa 'kan kamu cerita ke aku?" lirih Rania. "Harusnya selama ini, apapun masalah kamu, kamu ceritain sama aku."
"Buat apa aku cerita sama kamu? Itu bikin aku ngerasa makin gak mampu. Aku gak mau dipandang lemah sama kamu! Aku gak bisa keliatan rapuh di depan kamu! Kamu gak tau sebenernya aku malu nangis depan kamu. Aku ini kepala keluarga! Aku pemimpin perusahaan! Kamu itu gak tahu sebesar apa beban yang aku pikul selama ini, Ran! Aku stress!" Mata Logan mulai memerah dan berair.
Rania masih belum membuka suaranya, ia membiarkan Logan untuk menghabiskan semua unek-unek di hatinya.
"Aku cape jadi orang dewasa! Aku cape nanggung semuanya sendirian! Di tengah-tengah kondisi aku yang kayak gini, kamu..." Logan berhenti sejenak karena ia sedikit kesulitan berbicara, "Aku cuma nyuekin kamu waktu itu. Sekali itu doang, Ran. Sebelumnya kapan aku nyuekin kamu? Tapi kamu malah meluk cowok lain. Dan cowok itu Vino, cowok yang harusnya paling kamu jauhin sekarang. Kamu yang paling tau aku gak suka sama dia."
__ADS_1
Logan mengusap kasar air matanya. Mata, hidung, dan bibirnya memerah. Belum pernah Rania melihat Logan sekacau ini.
"Kamu kacau banget sih." ucap Rania. "Buat apa kamu nikahin aku kalau kamu cuma pengen keliatan kuat dan hebat di depan aku? Seorang istri adalah orang yang akan melihat sisi paling lemah dari suaminya. Sisi yang paling rapuh dari suaminya, yang gak bisa diliat sama orang lain."
Rania duduk bersimpuh di depan Logan yang duduk di sofa. Rania meraih kedua pipi Logan dan membuat Logan menatapnya, "Aku ini istri kamu. Justru harusnya kamu nunjukkan sisi lemah kamu sama aku. Karena aku ada disini buat dampingin kamu. Buat support kamu. Seharusnya apapun masalah kamu, kamu ceritain sama aku. Jadiin aku tempat kamu bersandar, tempat kamu buang semua keluh kesah kamu. Aku udah pernah bilang, kamu bukan superhero, Gan. Kamu manusia biasa. Kamu gak harus selalu keliatan tangguh. Kamu selalu bisa nangis kayak gini di depan aku. Kamu gak usah malu." Rania mengusap air mata yang terus keluar dari mata Logan.
"Dan satu hal lagi," ucap Rania, kedua tangannya meraih kedua tangan Logan. "Aku minta maaf banget atas kejadian kemarin. Aku tau aku salah. Salah banget. Harusnya aku gak ngebiarin Vino ngelakuin itu. Maafin aku." Rania mengecup kedua punggung tangan Logan.
Rania menatap lekat kedua mata Logan, "Maafin aku, sebenernya ada sesuatu yang aku sembunyiin dari kamu."
"Kamu nyembunyiin apa dari aku?" tanya Logan penasaran.
Rania memandang tangan Logan yang masih digenggamnya, "Aku nyembunyiin sesuatu, dan Vino tahu tentang itu."
"Aku gak tau dia tau dari mana." dengan cepat Rania mengklarifikasi. "Mungkin dia ngerasa simpati sama aku, makanya dia meluk aku." ucap Rania hati-hati, "Dan perlu aku koreksi. Aku gak meluk dia, Mas. Aku emang salah ngebiarin dia ngelakuin itu. Tapi demi Tuhan, aku gak balas pelukan dia."
Logan teringat saat ia meraih tangan Rania saat itu, tangan Rania memang menggantung disisi tubuhnya, tidak melingkar di tubuh Vino.
"Apa yang bikin dia sampe meluk kamu? Apa yang kamu sembunyiin dari aku?" tanya Logan mencoba menahan amarahnya yang kembali bangkit.
Rania terdiam sejenak. Berpikir. Apakah di saat emosi Logan sedang tidak stabil seperti ini ia akan mengungkapkan tentang kehamilannya? Tapi Rania tidak ingin menyembunyikan hal ini lagi. Bisa saja terjadi hal-hal seperti ini lagi di kemudian hari, dan ia tidak mau itu terjadi lagi. Juga beberapa bulan lagi perutnya akan bertambah besar, sudah tidak mungkin menyembunyikannya. Ia harus memberitahukannya pada Logan sekarang juga.
__ADS_1
"Kemarin, waktu kamu pergi ninggalin aku di hotel, aku telepon Dokter Ane buat jemput aku."
Logan mengerutkan dahinya, "kenapa kamu minta Dokter Ane yang jemput?" Ia merasa aneh. Kenapa Rania tidak meminta jemput pada Pak Riswan, supir yang Logan pekerjakan khusus untuk Rania.
Rania menghela nafas, mengurangi gugup yang dirasakannya.
"Perut aku sakit. Saat kamu gak sengaja dorong aku, perut bagian bawah aku sakit banget." ucap Rania perlahan.
Raut wajah Logan menegang, ia menelan salivanya dengan susah payah. Sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan ini.
Rania meletakkan satu tangan Logan pada perutnya.
"Aku...hamil, Mas. Ada anak kamu di dalam perut aku." ucap Rania akhirnya.
Tatapan Logan nanar. Nafasnya terus menderu, pundaknya turun naik, dan sekujur tubuhnya terasa panas dingin.
"Aku sama Dokter Ane bohong sama kamu tentang pemasangan IUD itu. Saat itu sebenernya aku udah hamil. Waktu kamu ke Maladewa, aku udah hamil 2 minggu, itu pertama kali aku tahu kalau aku hamil. Dan kemarin aku gak pulang karena aku di klinik Dokter Ane, aku gak sadarkan diri dan baru siuman tadi siang."
Seketika Logan menatap Rania dengan tatapan yang lebih terperangah lagi. Ia menarik tangannya yang Rania genggam.
"Aku tahu kamu belum pengen punya anak, tapi anak kamu terlanjur tumbuh di perut aku. Tolong terima dia, Mas. Ini anak kamu." ujar Rania penuh harap.
__ADS_1
Logan tidak berkata sepatah katapun. Ia terlalu shock.
Hingga setelah terdiam beberapa saat, Logan beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rania yang masih bersimpuh di lantai. Ia berjalan menuju pintu keluar, dan pergi begitu saja.