
"Ya udah sebelum kita pulang ke Bandung, aku bakal ajakin kamu pergi." ucap Logan.
"Serius?" tanya Rania kurang begitu yakin.
"Iya, aku bakal atur jadwal aku. Aku bakal sediain satu hari kita pergi ngedate sebelum kita pulang ke Bandung. Kamu mau kemana?" tanya Logan.
Rania berpikir sejenak, "Aku mau... ke Dufan!"
Logan terperangah, "Dufan?"
"Iya, Dufan. Kita kan waktu itu gak jadi main ke Dufan. Kita cuma makan di ancol terus kamu dipukulin orang. Batal deh main ke Dufannya." ucap Rania dengan wajah cemberut mengingat kejadian menyedihkan itu.
"Ya udah, kalo gitu kita ke Dufan." ucap Logan tersenyum menatap Rania.
"Beneran? Makasih, Sayang." Rania memeluk suaminya itu dengan dengan senyum gembira.
"Aku udah lama gak liat kamu senyum kayak gini." ucap Logan bahagia.
Rania melepas pelukannya, "kamunya aja udah gak pernah senyum yang seneng gitu. Gimana aku bisa senyum juga kalo kamunya aja jarang senyum."
Logan tertawa kecil, ia meraih rambut Rania dan menyelipkannya ke belakang telinga istrinya itu. "Jadi aku harus banyak senyum biar kamu senyum juga dong?"
"Iya. Kalo kamu seneng, aku juga seneng. Kalo kamu sedih, aku juga sedih." ucap Rania.
Logan menatap kedua mata Rania bergantian, "Makasih ya, Ran. Kamu masih sayang sama aku. Perasaan kamu masih sama, padahal aku kepaksa jauhin kamu berbulan-bulan waktu itu."
"Aku bukannya mau terus-terusan suka sama kamu. Aku juga pengennya lupain kamu waktu itu. Dicuekin itu gak enak tau!" Raut wajah Rania berubah sedih, "Waktu itu kamu tiba-tiba izin gak masuk dua minggu lamanya. Setelah itu kamu masuk dan sikap kamu berubah banget sama aku. Kamu dingin sama aku. Kalo kita papasan di sekolah, kamu kayak gak kenal sama aku. Itu waktu-waktu paling ngeselin dan pengen aku lupain." Rania meraih tangan Logan dan memainkan jari-jari panjang dan putih milik sang suami.
"Maaf ya. Waktu itu aku diancam sama ayah, dia bakal ancurin pekerjaan keluarga kamu. Aku gak bisa apa-apa. Kalo kamu yang kehilangan pekerjaan kamu sebagai guru, aku gak akan terlalu khawatir. Aku bakal cari cara supaya kamu bakal maafin aku. Tapi kalo pekerjaan keluarga kamu yang ancur, kamu pasti gak akan pernah maafin aku." ucap Logan dengan nada yang sedih mengingat saat ia tidak memiliki pilihan lain selain menjauhi Rania.
__ADS_1
Rania tersenyum lirih, "Jadi itu ya alesan kamu sebenernya. Aku kira kamu bener-bener udah lupain aku. Soalnya pas kamu dateng lagi ke sekolah, pas banget Stella juga ikut program pertukaran pelajar di SMA Satya. Aku kira kamu jadian lagi sama Stella."
"Aku gak tau apa-apa soal pertukaran pelajar Stella, Ran. Tapi sejak tau kamu guru di SMA Satya, aku juga sama udah pengen lupain kamu. Tapi gak pernah bisa. Kalo rintangan dari hubungan kita cuma status guru dan murid, aku gak akan nyerah gitu aja, Ran. Aku pasti terus merjuangin kamu." jelas Logan.
Rania menghela nafasnya, "ya udah, sekarang semuanya udah berakhir." ucap Rania memutuskan untuk menyudahi percakapan mereka mengenai saat-saat sulit dalam hubungan mereka dulu. "Aku sekarang pengen nebus waktu yang udah kita buang selama kurang lebih setahun. Kita harus bahagia sekarang. Terus kamu juga," Rania meraup kedua pipi Logan, "Harus berhenti sedih. Life must go on. Kamu harus bisa bahagia kayak dulu."
Logan tersenyum dan mengangguk. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Rania dan menautkannya. Beberapa saat mereka saling mengisi bahagia ke dalam hati mereka melalui ciuman itu.
***
Kemudian tiba saatnya hari perpindahan mereka ke Bandung. Hari itu sebelum mereka kembali ke Bandung Logan menepati janjinya untuk mengajak Rania kencan. Hari itu mereka pergi menggunakan mobil ferrari merah milik mendiang sang ayah yang kini menjadi milik Logan. Tidak ada supir atau pakaian formal dalam kencan mereka saat itu. Logan menggunakan kaos dan jeans belelnya, begitu juga Rania memakai pakaian senada dengan Logan. Mereka berkencan seperti saat awal pertemuan mereka.
Di Dufan mereka menaiki hampir semua wahana yang ada. Hari itu Logan kembali menjadi Logan yang ceria. Tidak henti-hentinya mereka tertawa dan bersenang-senang. Membeli beberapa cemilan, berfoto bersama, dan bercanda tertawa bersama.
Hingga sore harinya mereka pulang. Setelah mandi dan berganti pakaian, mereka ke Bandara dan menggunakan pesawat jet pribadi menuju Bandung.
Saat ia apartemen itu masih kosong, namun kini apartemen itu sudah siap huni. Berbagai perabot sudah tertata rapi di apartemen mewah di lantai paling atas itu. Rania terperangah dibuatnya.
"Gan, waktu itu apartemennya masih kosong, sekarang kok bisa jadi sebagus ini? Ini mewah banget." Rania tidak henti-hentinya kagum melihat apartemen yang sudah menjadi miliknya itu. Ia berkeliling ke semua ruangan dan hanya satu kata yang selalu muncul dalam benak Rania, kagum. Bahkan Logan membuat sebuah ruangan khusus Rania berlatih dance.
"Makasih ya, Sayang. Apartemennya bagus banget. Kamu bahkan bikin studio dance buat aku." Rania masih terperangah.
"Iya dong kan ini rumahnya Nyonya besar Logan Enterprise. Harus dibikin senyaman dan semewah mungkin." ucap Logan puas melihat ekspresi Rania yang begitu menyukai apartemen baru mereka.
"Untuk sementara kita tinggal di apartemen dulu ya, nanti kalo aku udah lulus kuliah kita pindah lagi ke Jakarta. Kita akan tinggal di mansion nanti."
"Mansion?" Hal lain kini mengejutkan Rania lagi.
"Iya, dulu aku tinggal disana sama ayah dan bunda sebelum mereka cerai. Nanti kita juga tinggal disana ya." ucap Logan.
__ADS_1
"Aku terserah kamu aja. Makasih ya Sayang." ucap Rania bahagia.
Logan mengangguk. Ia meraup kedua pipi Rania dengan kedua tangannya. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu dan dengan segera ia mencium bibir sang istri. Ciuman itu sangat intens dan menuntut.
Tiba-tiba HP Logan bergetar. Logan melepas p*gutannya.
"Bentar ya." Ia mengambil HP di saku celananya. Muncul nama Hazel di layarnya.
"Halo?" sapa Logan pada sahabatnya itu melalui teleponnya.
"Gan, lo dimana? Udah nyampe Bandung belum lo. Kita nungguin nih."
Logan memejamkan matanya sambil mengerutkan dahinya.
"Udah, Zel. Gue sama Rania kesana sekarang." Logan menutup teleponnya.
"Kenapa, Gan?" tanya Rania.
"Aku lupa banget. Hazel bikin acara perpisahan buat Nessie. Soalnya besok dia berangkat ke Korea. Acaranya malam ini banget."
"Yauda kalo gitu kita kesana yuk sekarang." ajak Rania.
"Kamu gak cape? Gak apa-apa kita pergi?"
"Iya gak apa-apa, kok. Aku juga pengen ketemu Nessie dulu sebelum dia berangkat besok."
Wajah Logan terlihat kecewa. Ia ingin melaksanakan ritual pengantin baru yang belum mereka tunaikan sejak pernikahan mereka, namun sepertinya ia harus menundanya.
"Yauda kalo gitu. Yuk." ucap Logan akhirnya. Logan dan Rania keluar dari penthouse mereka dan menuju tempat perpisahan Nessie yang diadakan di hotel miliknya, di cafe yang terdapat di Hotel Logan Ritz Bandung.
__ADS_1