
Logan terlihat memasuki area kolam renang. Ia menggunakan celana renang hitam dengan merek speedo miliknya yang sudah lama tidak ia gunakan. Tidak lupa jaket, topi renang dan kacamata renang dengan merek yang sama juga terlihat menghiasi tubuh tinggi dan berotot khas atlet renangnya.
Logan melambai pada Rania dan Carla yang berada di tribun kolam renang bertaraf internasional itu. Panjang kolam itu 50 meter. Airnya kebiruan bening menembus ke dasar kolam.
Ini adalah pertama kalinya Rania melihat Logan berenang dengan Logan menyadari keberadaannya. Sebelumnya beberapa kali Rania sempat menonton pertandingan renang yang Logan ikuti, namun saat itu mereka sedang perang dingin, sehingga Logan tidak mengetahui bahwa Rania menonton dia bertanding.
Rania selalu terpana melihat Logan mengikuti kejuaraan renang. Tubuh atletis, tinggi, dan perut yang membentuk enam kotak berjajar, kemudian kemampuan Logan dalam membelah air kolam berwarna biru bening menyejukkan itu, selalu membuat Rania terpesona. Jika saja tidak menjadi CEO, Logan sekarang pasti masih menggeluti dunia renang yang sangat dikuasainya ini.
"Udah lama Bunda gak liat Logan berenang kayak gini."
"Iya, Bun. Mas Logan niat banget lagi padahal aku cuma pengen liat Mas Logan berenang di kolam renang di rumah Bunda aja. Malah nyiapin semua ini."
Saat Rania mengatakan ia ingin melihat Logan berenang, Logan segera mempersiapkan kolam renang di sport center miliknya selayaknya akan ada kejuaraan renang. Lintasan, horn, megatron untuk menayangkan score juga dinyalakan.
"Kamu harus mulai terbiasa, Nak. Suami kamu itu bukan laki-laki biasa. Tapi seorang yang hampir memiliki segalanya. Jadi wajar kalau Logan pengen ngasih semua yang lebih dari ekspektasi kamu." ucap Carla.
Kata-kata Carla membuat Rania merinding. Memang benar, Logan bahkan mengatakan jika Rania ingin makan masakan Taiwan, Ia akan membawa Rania terbang langsung ke Taiwan. Tentu menggunakan jet pribadi miliknya.
Ada beberapa atlet yang ikut menjadi lawan Logan. Kelihatannya para atlet itu adalah teman Logan dulu saat Logan masih menjadi atlet. Mereka terlihat bercanda bersama. Logan terlihat sangat santai, menanggapi candaan salah satu temannya dengan terbahak, membuat Rania melihat lagi sosok Logan, remaja yang berusia 19 tahun.
"Sampai ngundang temen2 atletnya dia." gumam Carla, menggelengkan kepala.
"Bunda kenal sama temen2nya Mas Logan itu?" tanya Rania.
__ADS_1
"Kenal dong, mereka di klub renang yang sama dan udah latihan bareng dari mereka SD. Ada Marcus, Cipta, Felix, Annisa, dan Kimberly. Dulu mereka dekat sekali."
Kemudian Logan mulai membuka jaket yang membalut tubuhnya dan menatap ke arah Rania. Logan tersenyum sesekali pada sang istri. Begitu juga teman-teman Logan yang lain, mulai bersiap dan mengisi masing-masing lintasan yang ada.
Seorang pria paruh baya meminta para atlet bersiap. Logan mulai bersiap di posisinya dan saat peluit berbunyi, ia lompat dan seketika tubuhnya masuk ke dalam air dengan begitu indahnya menembus air kebiruan itu.
Logan terus berenang saling menyusul dengan yang lain dan ketika sampai di seberang, Logan melakukan salto dan berenang kembali ke arah ia pergi tadi. Disusul dengan yang lain.
"Kemampuan Logan masih sama kayak dulu. Padahal dia udah jarang latihan." ujar Carla.
"Jago banget ya Bun, Mas Logan berenangnya." Rania terperangah.
Kemudian Logan sampai di finish paling pertama. Terlihat dia melihat ke arah Rania dan Carla. Rania mengacungkan jempolnya pada Logan, mengapresiasi Logan yang berhasil sampai paling pertama di garis finish.
Setelah itu mereka melakukan beberapa pertandingan lain, dengan berbagai gaya. Mulai dari gaya bebas, dada, punggung, dan kupu-kupu.
Sudah lama Rania ingin menanyakan hal ini.
"Bunda setuju kalian nikah karena Logan nikahnya sama kamu. Kalau bukan sama kamu, Bunda mungkin gak akan merestui."
"Kenapa, Bun?"
"Bunda gak masalahin dia nikah muda. Bunda udah kenal sekali seperti apa Logan. Dia anak yang pintar, bertanggungjawab, dan dewasa. Saat dia akan menjadi CEO pun, Bunda gak bisa bohong kalau Bunda khawatir banget, tapi Bunda yakin Logan pasti bisa. Begitu juga saat dia memutuskan buat nikahin kamu, Bunda juga khawatir sekali. Tapi karena yang dia nikahin adalah kamu, satu-satunya perempuan yang bagi Bunda paling cocok untuk dampingin Logan, jadi Bunda yakin kalian akan melewati semua kesulitan yang kalian hadapin. Kamu adalah perempuan yang baik, cantik, lembut, keibuan, dan pintar. Jadi walaupun Bunda gak bisa ngurusin Logan Lagi, ada kamu yang bisa gantiin tugas Bunda sebagai ibunya sekaligus istrinya. Makanya Bunda merestui kalian."
__ADS_1
Rania tertegun mendengar penjelasan Carla. Bagi Carla, Rania sosok yang bisa menjadi ibu dan juga istri bagi Logan. Begitu rupanya.
"Makasih ya Bunda. Aku beruntung banget punya Bunda sebagai mertua aku. Bunda juga yang kemarin ngeyakinin Mas Logan buat merubah pikirannya."
"Kalau ada apa-apa bilang ya. Kalau kamu udah merasa masalah kalian gak bisa lagi kalian handle, harus bilang sama Bunda. Jangan kayak kemarin. "
"Iya, Bun." ujar Rania.
Kemudian Rania dan Carla menghampiri Logan dan teman-temannya yang baru saja menyelesaikan sparingnya.
Ketika melihat sosok Rania, Logan yang sedang mengobrol dengan teman-temannya selepas mereka naik dari kolam, memanggil Rania, "Nah itu istri Gue. " ucap Logan Bangga seraya memanggil Rania dengan lambaian tangannya, meminta Rania mendekat.
Teman-teman Logan menyapa Rania dan juga mencium tangan Carla, yang sudah lama tidak mereka temui.
"Tante kok masih cantik aja sih?" puji teman Logan yang bernama Kimberly. Ia terlihat supel dan ramah.
"Apa sih Kim, kamu bisa aja." ujar Carla malu-malu.
"Mommy suka nanyain Tante loh. Mommy pengen ajak Tante ngumpul lagi."
"Nanti deh Tante hubungin mommy kamu ya." pungkas Carla, "Makasih ya kalian udah dateng. Ini tuh Logan ngundang kalian dalam rangka menuhin ngidamnya Rania, loh."
"So sweet banget sih Lo, Gan." Berkat ucapan Carla Logan menjadi ledekan teman-temannya itu.
__ADS_1
Logan hanya bisa tertawa mendengar teman-teman atletnya saling melempar candaan. Rania senang sekali melihat Logan yang terlihat sangat rileks. Dia juga terlihat bahagia saat teman-temannya meledeknya karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
"Gan, kenapa kalian gak pacaran dulu aja sih? Kenapa langsung nikah? Lo gak ngerasa gimana gitu nikah muda kayak gini? Apa karena istri lo lebih tua ya dari lo?" Pertanyaan dari teman Logan bernama Kimberly itu membuat suasana yang asalnya begitu ramah dan hangat, seketika menjadi canggung.