My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 19: Menantu Idaman


__ADS_3

"Yang?" Logan masih tertegun melihat sang istri yang dengan senyum manisnya menggunakan bikini dan duduk di sisi kolam renang.


"Udaranya panas. Kita berenang yuk!" ucap Rania sambil memasukkan tubuhnya ke dalam kolam renang.


"Kamu ngapain pake bikini?" ucap Logan yang kini membuka bajunya dan masuk ke dalam kolam renang hanya dengan celana boxer yang digunakannya.


Ia menghampiri Rania dan matanya tidak bisa terlepas dari tubuh Rania yang begitu terekspos karena bikini yang digunakannya.


"Suka?" tanya Rania yang melihat suaminya itu tidak mengedip sama sekali.


"Suka!" ucap Logan merengkuh tubuh Rania dan menciumnya.


Rania melepas ciumannya dan bertanya pada Logan, "Ini tuh kamu sengaja beliin aku bikini? Apa Fany yang milihin?"


"Aku request sama Fany buat nyelipin baju ini diantara baju-baju buat kamu." ucap Logan dengan tengilnya, memamerkan gigi-gigi putih dan rapinya.


"Dasar kamu otaknya." Rania berpura-pura menjitak kepala Logan.


"Daripada aku buka internet terus aku nyari foto cewek pake bikini? Mending mana?" tanya Logan menskakmat Rania.


"Mending liatin aku." ucap Rania dengan cepat.


"Nah itu tau. Lagian badan kamu tuh lebih bagus daripada model Victoria's Secret. Jadi aku pasti lebih milih buat liatin kamu." ucap Logan menatap nakal pada sang istri.


"Tau juga kamu model Victoria's Secret?" Rania menyindir Logan.


"Taulah, kamu lupa Bunda dulu model? Aku juga kan dulu suka ikut-ikutan jadi model dadakan. Ya tau dong dikit-dikit tentang model kelas dunia dan brand-brandnya."


"Oh gitu, bukan karena suka liat model-modelnya di catwalk?" Kali ini Rania yang menskakmat Logan.


"Hehe.." Logan kembali tertawa karena tertangkap basah. "Tapi sekarang udah nggak suka, Yang. Kan udah ada kamu yang lebih s*ksi dari model-model itu." bisik Logan di telinga Rania.


"Ih otaknya m*sum." Rania memukul suaminya itu penuh canda. "Yang, sekarang ajarin aku berenang ya."


"Katanya kamu bisa berenang?" ucap Logan mengingat Rania pernah berkata itu dulu saat mereka tercebur ke kolam renang SMA Satya.

__ADS_1


"Iya cuma bisa gaya dada doang. Itu juga gerakannya asal-asalan. Pengen diajarin sampe bener-bener bisa gitu, Yang. Aku liat kamu berenang tuh kayak yang enak banget. Gerakannya kayak yang lambat, tapi kamu bisa majunya cepet gitu." ucap Rania masih terpesona saat melihat Logan mengikuti lomba-lomba renangnya dulu. Logan berenang dengan sangat baik dan tidak heran jika dia selalu memenangkan perlombaan yang diikutinya.


"Itu ada tekniknya, Yang. Ya udah sini aku ajarin." Kemudian Logan mulai mengajari Rania teknik-teknik dasar dalam berenang. Rania mendengarkan dan mempraktekkan semua instruksi dari Logan dengan seksama. Hingga setelah beberapa saat Rania bisa meluncur dengan baik dan menggerakkan tangan gaya bebas, walaupun belum sempurna.


"Lumayan, Yang. Kamu cepet belajarnya." ucap Logan merasa puas dengan hasil yang dicapai Rania.


"Serius?" ucap Rania sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Beneran. Tapi nanti harus pake baju renang yang bener dan pake kacamata renang. Liat mata kamu merah." ucap Logan melihat mata sang istri yang kemerahan akibat terkena air kolam.


"Iya nanti aku mau beli deh baju renang sama kacamata renangnya. Biar bisa kamu ajarin berenang lagi. Lumayan gratis, gak usah bayar pelatih renangnya." canda Rania.


"Gak ada yang gratis ya di dunia ini." ucap Logan memperingatkan.


"Oh, jadi mau itungan? Okay, aku punya banyak uang kok. Mau dibayar berapa?" Rania mulai bernegosiasi.


"Bayarnya gak pake uang. Tapi pake ini." Loganpun mulai ******* bibir Rania dan merengkuh tubuh istrinya itu. Merekapun larut dalam h*srat yang kembali menggelora. Logan tidak bisa menahannya setelah melihat tubuh sang istri yang tidak kalah s*ksi dengan model-model kelas dunia\, ditambah kulit Rania yang kuning langsat\, khas perempuan indonesia.


Mereka mendapat pengalaman baru lagi hari itu, melakukan penyatuan di kolam renang penthouse mereka.


***


"Mama sama Ayah pindahan sekarang?" tanya Rania seraya mencium tangan Nindi dan Nabil bergantian yang diikuti juga oleh Logan. Rania memang kini sudah membiasakan diri menyebut calon ayah sambungnya itu dengan sebutan ayah.


"Iya sedikit-sedikit, rumahnya kan udah selesai direnovasi juga. Mumpung Mas Nabil lagi ada waktu. Nanti seudah nikah ayah kamu banyak kerjaan soalnya." ucap Nindi. Nindi dan Nabil memutuskan untuk membeli rumah sebelah rumah Eyang Arum untuk mereka tempati setelah menikah nanti. Kebetulan rumah itu baru saja dijual oleh tetangganya yang pindah ke luar kota. Mereka sengaja mencari rumah yang dekat dari rumah Eyang Arum agar Eyang Arum tidak merasa sendiri saat Nindi sudah menikah nanti.


"Ya udah kita bantuin ya, Mah." ucap Logan dengan sigap mengangkat kotak dan membawanya ke rumah yang berada tepat di sebelah rumah Eyang Arum.


"Memang menantu idaman nih, cucu Eyang." ucap Eyang Arum, ditimpali senyum manis Logan karena dipuji oleh sang eyang mertua.


"Aduh gak apa-apa, Logan. Ayah jadi gak enak masa CEO ngangkat-ngangkatin barang-barang." ucap Nabil agak sungkan.


"Sekarang Logan bukan lagi jadi CEO, Yah. Logan menantunya Mama sama Ayah." ucap Logan seraya membawa sebuah kotak yang cukup besar ke rumah sebelah.


"Gak apa-apa, Yah. Biar olahraga juga." Rania mendukung Logan yang meskipun ia sudah menjadi CEO perusahan besar, bukan berarti ia harus selalu diperlakukan spesial.

__ADS_1


"Iya mama juga setuju." ucap Nindi merangkul sang putri, kemudian menoleh pada Nabil, "Biarin kalo di rumah Logan tetep jadi menantu kita, Mas."


Nabil mengangguk-angguk paham.


"Berlin mana, Mah?" tanya Rania tidak melihat keberadaan sepupunya itu.


"Berlin ada latihan ekskul di sekolahnya. Sibuk banget dia katanya mau tampil nanti di acara tanding basket." ucap Nindi sambil memindahkan sebuah kotak.


Menjelang senja, semua barang sudah ada di rumah baru Nindi dan Nabil. Nabil dan Logan duduk di beranda rumah Eyang Arum sambil melepas lelah setelah bulak-balik memindahkan beberapa kotak.


"Nih minum dulu." Nindi dan Rania membawa beberapa gelas dan dua teko besar air jus jeruk untuk semua orang yang kelelahan. Anak buah dari Nabil berterimakasih dan mengambil air jus itu.


"Nih, Gan. Yang kamu esnya dikit." ucap Rania.


"Makasih, Yang." Logan mengambil gelas yang Rania sodorkan padanya.


"Loh Ran, kamu kok masih manggil suami kamu pake sebutan nama? Walaupun Logan jauh lebih muda dari kamu, kamu harusnya manggil dia pake sebutan yang lebih hormat gitu loh." ucap Eyang Arum menasehati.


Rania dan Logan saling pandang. Merasa canggung.


"Iya, Sayang. Kalian itu udah jadi suami istri. Seorang istri harus manggil suaminya dengan lebih hormat." ucap Nindi menimpali. Nindi sendiri kini sudah memanggil calon suaminya dengan sebutan Mas Nabil, padahal Nabil berusia tujuh tahun lebih muda dari Nindi.


"Gapapa, Eyang. Logan sama Rania enak kayak gini. Kalo ganti nanti jadi canggung." ucap Logan hati-hati.


"Gak boleh gitu. Harus ada panggilan khusus supaya kalian bisa lebih saling menyayangi dan menghargai hak dan kewajiban masing-masing." ucap Eyang Arum menasehati.


"Iya, Eyang. Nanti Rania bakal manggil Logan yang lain deh." ucap Rania menurut. Logan melihat sang istri sambil tersenyum penuh arti.


Tidak lama sebuah mobil pajero sport hitam berhenti di belakang mobil porche putih milik Logan. Kemudian Rendra dan Carla keluar dari mobil itu dan menghampiri mereka yang sedang bercengkrama di beranda rumah Eyang Arum.


"Papa sama Bunda udah pulang dari keliling dunia?" Rania terperangah, gembira akhirnya bisa bertemu dengan sang ayah lagi.


Rendra dan Carla bersalaman dengan semua orang dan terakhir Rendra berniat memeluk sang putri.


"Anak papa, sini Papa kangen." Rendra bersiap memeluk sang putri. Begitu juga Rania yang sudah merentangkan tangan bersiap menerima pelukan dari sang ayah. Rania sangat merindukan sang ayah karena terakhir bertemu adalah saat pernikahan mereka di Jakarta waktu itu.

__ADS_1


Namun sontak Logan menahan tangan Rania.


"Pap, Rania udah besar. Papa gak bisa terus-terusan peluk dia kayak dulu." ucap Logan pada Rendra.


__ADS_2