My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 26: Vino


__ADS_3

Rania menyeret kakinya dengan malas keluar dari gedung fakultas bahasa dan sastra setelah ia menyerahkan persyaratan S2nya dan wawancara dengan beberapa dosen. Ia mengeluarkan HP dari sakunya dan mengetik sebuah pesan pada Logan.


[Rania]: Mas, aku udah selesai. Mas masih di kantor ya?


Setelah mengirimkan pesan itu, Rania berjalan keluar area fakultas dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Universitas Satya Bimantara memang sangat berbeda. Bangunannya sangat megah dan terawat. Tak heran, kebanyakan para orang berduit yang memilih kuliah di dalam negeri kebanyakan memilih kampus ini sebagai kampus favorit. Para alumninya merupakan orang-orang penting dan pebisnis sukses. Mereka menyumbangkan banyak uang untuk bisa membuat Universitas Satya mempertahankan kualitasnya.


SMA Satya saja sudah semewah itu, Universitas Satya Bimantara, jauh lebih megah dan luas lagi. Bimantara, rektor sekaligus ketua Yayasan Satya Bimantara, yang juga pebisnis sukses yang telah pensiun, berhasil membuat sekolah bergengsi ini naik ke puncak popularitasnya.


Bimantara juga memiliki kemampuan menilai orang dengan baik. Saat skandal Logan dan Rania mencuat, Bimantara berusaha menutupinya juga. Ia ingin Rania tetap mengajar di SMA Satya. Ia sudah mengakui kemampuan Rania sebagai seorang guru, ia tidak ingin karir Rania sebagai guru hancur begitu saja karena skandal itu. Maka dari itu, saat Rania menolak untuk mengajar kembali, bagaimanapun caranya ia tidak ingin kehilangan sosok guru terbaik itu.


Jadilah Bimantara menawarinya beasiswa S2. Siapa tahu, walaupun ia tidak bisa membujuk Rania kembali menjadi seorang guru, suatu saat ia bisa menggunakan kemampuan Rania yang sangat mumpuni untuk menjadi seorang dosen. Begitu pikirnya.


Selain itu, hal yang membuat Bimantara takjub pada seorang Rania adalah karena ia mampu mengubah Vino, sang cucu, yang begitu badung dan sulit diatur. Bahkan kini Vino memilih jurusan manajemen bisnis, itu berarti ia sudah memutuskan untuk berkecimpung di dunia bisnis seperti kebanyakan keluarganya.


Bimantara sendiri memiliki beberapa bisnis. Kini ia sudah pensiun dan menyerahkan semua bisnisnya kepada adik dan juga anak-anaknya. Selain bisnis, keluarga Bimantara juga banyak yang berkecimpung di dunia politik, seperti anggota dewan, camat, hingga walikota dan bupati. Maka dapat dibayangkan betapa besar pengaruh keluarga Bimantara di masyarakat.


Vino menjadi generasi ketiga yang akan meneruskan bisnis-bisnis yang dimiliki oleh Keluarga Bimantara, maka dari itu Bimantara sangat berharap pada cucunya tersebut. Saat Vino terjerumus ke dalam pergaulan anak-anak nakal saat masih SMA, Bimantara sudah tidak berharap apapun lagi pada cucunya itu. Namun berbeda dengan sekarang, harapan itu muncul kembali saat melihat Vino mulai meninggalkan dunia balapan dan berhenti berbuat onar. Dan semua itu berkat Rania.


Kembali pada pertemuan Rania dan Vino di kampus Satya Bimantara.


Saat itu, Vino sedang berjalan menuju foodcourt kampus. Ia memiliki waktu luang sebelum jadwal kuliahnya nanti siang. Ia berniat untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, karena pagi tadi ia tidak sempat sarapan.


Ia berjalan seorang diri dari gedung fakultasnya menuju foodcourt. Tiba-tiba saja karena sibuk melihat HPnya, ia bertabrakan bahu dengan seorang perempuan. Betapa terkejutnya Vino saat perempuan itu berkata maaf dan menatap ke arahnya.


Ya. Perempuan itu adalah Rania. Guru di SMA Satya yang ia panggil dengan sebutan kakak. Perempuan yang mampu mengubah hidupnya. Menyinari kehidupannya yang gelap selama ini menjadi terang benderang dan juga berwarna.


"Ran?" lirih Vino.


Berbulan-bulan lamanya Vino tidak pernah lagi bertemu dengan Rania, semenjak Rania menikahi mantan muridnya, Logan, sekaligus orang yang selalu membuat Rania menangis. Namun cinta dan jodoh adalah rahasia-Nya. Meskipun Vino yang selalu menemani dan menghibur Rania saat itu, hati Rania sudah terlanjur tertaut pada CEO Logan Enterprise itu.

__ADS_1


Harapan Vino terhadap Rania sudah membubung tinggi ketika Logan bersikap acuh dan seperti tidak saling mengenal dengan Rania selama kurang lebih delapan bulan lamanya. Rania menjadi begitu dekat dengannya. Bahkan Vino juga sangat akrab dengan ayah Rania, Rendra. Ia mengira Logan sudah tidak akan mengusik Rania lagi. Namun ia salah, Logan kembali dan dengan begitu beraninya mengambil langkah itu, menikahi mantan gurunya sendiri, di saat ia baru saja lulus dari SMA. Dan itu membuat Vino merasa kalah, hancur, dan malu.


Ya. Malu. Vino malu karena tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk meminang Rania, seperti yang dilakukan oleh Logan.


Beberapa bulan tidak bertemu, sedikit demi sedikit membuatnya bisa melupakan sosok Rania. Namun sekarang, tepat saat ini, Rania kembali muncul di hadapannya, membuat luka di hatinya yang dulu perlahan sembuh, kini terasa sedikit berdenyut nyeri kembali.


Sedangkan, seketika Rania merasa de javu. Kesedihan yang sedang Rania rasakan selalu bisa sampai pada sosok di depannya ini. Seakan Vino memiliki radar yang akan menangkap segala rasa yangresah yang menyelimuti hatinya, hingga secara ajaib, Vino selalu muncul disaat Rania membutuhkan seseorang.


"Kamu ngapain disini?" tanya Vino keheranan.


Suara itu entah mengapa sangat Rania rindukan. Sosok yang dulu selalu ada untuknya, senantiasa meminjamkan bahunya untuk bersandar, di saat Logan tidak ada disampingnya.


"Kakak abis ketemu dosen." ucap Rania, masih menyebut dirinya 'kakak' saat berbicara pada Vino. Sedangkan Vino sudah berhenti memanggilnya kakak saat ia lulus dari SMA Satya dan menyatakan perasaannya pada Rania.


"Dosen?" Kedua alis Vino menyatu.


Wajah Vino berubah sumringah, "Kamu lanjut S2?"


"Iya. Kakek kamu yang nawarin kakak buat kuliah S2," Hati Rania menghangat melihat senyum terbit di wajah Vino. Lega, karena kini mungkin adalah awal yang baik untuknya kembali berteman dengan sosok yang sudah ia anggap adik itu, "kakak ambil aja tawarannya. Siapa yang bakal ngelewatin kesempatan sebagus itu, iya 'kan?"


Vino tersenyum, senang, bahagia, karena Rania akan kuliah disini juga. Itu tandanya kesempatan untuk bertemu dengan Rania menjadi lebih besar. Selama ini, ia tidak pernah berharap untuk memiliki Rania. Ia tahu bahwa itu tidak mungkin. Hati Rania selalu tertuju pada Logan, bahkan setiap air mata yang Rania jatuhkan dulu, penyebabnya selalu saja Logan. Namun meskipun demikian, sosok Logan tetap bertahta kuat di hati Rania. Apalagi sekarang, Rania sudah menikahi laki-laki itu. Maka baginya, bisa melihat dan bertemu dengan Rania saja sudah sangat membahagiakan. Itu sudah lebih dari cukup.


HP Rania bergetar, sebuah chat balasan dari Logan masuk.


"Bentar ya, Vin." Rania meminta izin untuk mengecek HPnya.


[Logan] : Ini aku udah nyampe kampus. Aku ketemu sama dosen dulu ya. Kamu tunggu aja di perpus atau kantin. Nanti aku jemput.


[Rania] : Iya, Mas. Aku tunggu di foodcourt kampus aja ya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Vin?" Rania bertanya sambil memasukkan lagi HPnya ke dalam saku.


"Aku mau ke foodcourt, mau makan. Sejam lagi aku ada kuliah, jadi mau isi perut dulu."


"Ya udah, bareng aja ya. Kakak juga lagi nungguin Logan. Dia lagi ketemu dosen dulu." Rania menawarkan.


"Gak apa-apa emang kalo kamu bareng sama aku? Nanti dia ngamuk." Vino ingat bagaimana interaksinya dengan Logan memang tidak pernah akur. Bahkan mereka pernah terlibat baku hantam dulu. Alasannya tak lain dan tak bukan, Rania.


"Ya, enggaklah. Masa cuma makan bareng dia sampai ngamuk. Yuk," Rania mulai melangkah menuju foodcourt, Vino segera mengimbangi langkah Rania.


"Kamu beneran udah mirip mahasiswa, Ran." Diam-diam Vino mengamati pakaian yang Rania kenakan. Rania menggunakan kemeja, celana jeans, sepatu kets, dan sebuah tas gendong menggantung dipunggungnya.


"Iya dong, kakak udah bukan guru lagi sekarang."


"Beneran gak akan ngajar lagi?" Vino penasaran.


Rania duduk si sebuah kursi dan Vino duduk di hadapannya. "Iya. Kakak masih punya malu. Dengan apa yang udah kejadian waktu itu, masa iya kakak masih ngajar."


"Iya juga sih. Kakak mau pesen apa?"


Rania mengedarkan pandangannya, melihat ke arah kedai-kedai makanan yang tidak mirip kantin itu. Kedai-kedai itu lebih mirip foodcourt di mall-mall mewah.


"Apa ya? Yang enak disini apa?" Rania meminta rekomendasi dari Vino yang pasti sudah lebih mengenal makanan yang ada disini.


"Mau nyobain seblak disini gak? Enak loh. Atau soto ayam sama soto betawinya juga mantap banget." Vino menawarkan makanan favorit Rania, yang dulu sering mereka nikmati bersama.


"Nggak deh. Kakak pengen Steak aja. Enak gak steaknya disini?"


Vino sedikit heran, "Wah, selera kamu udah berubah sekarang."

__ADS_1


__ADS_2