My Marriage Life With Young CEO

My Marriage Life With Young CEO
Bab 27: Cemburunya Logan


__ADS_3

Rania tertawa canggung mendengar komentar Vino. "Ya nggak gitu juga, Vin. Lagi pengen aja makan steak. Kamu tau 'kan, kakak pemakan segala."


"Iya sih, bener. Kamu suka apa aja. Kecuali boba." Vino masih mengingatnya bahwa Rania kurang menyukai minuman itu.


"Nah itu tau," Rania kembali tertawa, namun rasanya jadi sangat aneh. Ia begitu panik setiap kali ada orang yang menyinggung tentang perubahan selera makannya.


"Ran, gimana kabar kamu selama ini?" Vino menatap Rania lekat. Entah apa yang dipikirkannya. Namun tatapannya itu mengutarakan tidak menyangka, dan... rindu.


"Baik. Kamu gak liat kakak sekarang?" Rania mecoba menjawab seceria mungkin, suasana itulah yang selalu menjadi latar obrolan Rania dan Vino. Bukan suasana sendu seperti ini.


Tatapan Vino masih sama, sendu. Kemudian ia tersenyum lirih, "Syukurlah. Jangan sering nangis kayak dulu lagi ya."


Ada apa dengan Vino? Kenapa ia berkata seperti itu? Seakan Vino bisa merasakan, hati Rania yang kini sedang dalam keadaan resah. Ingin bersandar, namun tidak mungkin lagi ia lakukan. Rania memainkan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya, mengingatkan dirinya untuk menjaga jarak lebih jauh lagi dengan Vino.


"Nggak, dong. Kakak udah bahagia sekarang. Kamu bayangin aja tiba-tiba kakak jadi istrinya CEO Logan Enterprise." Kembali Rania mencoba mengobrol dengan nada ceria. Ingin berbicara dengan Vino layaknya ia mengobrol santai bersama teman lama yang sudah lama tidak ia temui.


Kali ini Vino menanggapinya seperti biasa, khas seorang Vino, tengil dan penuh canda. Raniapun bernafas lega karena akhirnya suasana sendu itu hilang. Kini mereka mengobrol lebih santai, sama seperti dulu, ditemani makanan yang mereka pesan.


"Yang." Rania merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya, menginterupsi obrolan seru antara Rania dengan Vino. Rania menoleh dan mendapati Logan berada di sampingnya dan duduk di kursi kosong sebelah Rania.


Wajah Logan terlihat sangat tidak nyaman, kedua manik hitamnya menatap ke arah Vino dengan tatapan tidak suka.


"Mas, udah selesai ketemu dosennya?" Rania melihat ekspresi terkejut dari Vino yang Rania lihat dari sudut matanya saat Rania menyebut Logan dengan sebutan 'Mas'. Namun tidak lama Vino kembali menguasai dirinya lagi.


Logan menoleh, tatapannya menghangat, "Udah. Kamu lagi makan?"


"Iya, Mas mau aku pesenin juga gak?" Rania tau akan sangat canggung jika mereka makan bertiga, di meja yang sama seperti ini. Namun ia ingin mencoba untuk membuat hubungan Logan dan Vino tidak sedingin dulu.


"Gak usah. Aku makannya nanti aja di rumah." Terlihat sekali Logan ingin cepat pergi dari sana. Logan melihat steak Rania hanya bersisa satu suap lagi. "Ya udah kamu cepet abisin ya makanan kamu. Terus kita pulang."


Rania mengangguk. Menusuk suapan terakhirnya dengan garpu dan memakannya. Suasana terasa begitu canggung. Hingga akhirnya dengan hati-hati Rania mencoba mencairkan suasana. "Mas, tadi aku gak sengaja ketemu Vino."

__ADS_1


Ketegangan diantara keduanya terasa kembali. Namun Logan berusaha bersikap lebih dewasa, "Oh iya. Lo apa kabar?" tanya Logan basa-basi.


Vino mendengus, "Baik. Lo?"


Pertanyaan yang klasik sekali. Loganpun menjawab, "Baik."


Rania menatap kedua laki-laki itu bergantian. Tidak ada percakapan lebih lanjut. Mereka terlihat tidak berniat untuk membuka obrolan lebih jauh.


"Aku udah selesai, Mas." Rania memutuskan untuk cepat mengakhiri suasana yang sangat tidak nyaman itu. "Vin, Kakak pergi dulu ya."


Logan dan Rania beranjak dari kursi. Logan merogoh tasnya sebelum pergi dan memberikan sebuah amplop berwarna broken white kepada Vino. Vino menatapnya dengan bingung.


Rania familiar dengan amplop itu, dan sesaat kemudian ia ingat itu adalah desain undangan resepsi pernikahannya dengan Logan.


"Ditunggu kehadirannya." ucap Logan dengan nada yang datar.


Vino meraihnya dan tanpa mendengar konfirmasi Vino akan hadir atau tidak, atau sekedar ucapan selamat, Logan segera meraih tangan Rania dan membawanya pergi dari situ.


"Mas, kapan undangannya jadi? Kok aku gak tau?" protes Rania.


"Tadi WO ngirimin ke kantor. Karena aku mau ke kampus sekalian aku bawa buat orang-orang yang ada di kampus." Logan masih berjalan dengan tatapan dingin.


"Mana, Mas, aku pengen liat dong undangannya." ucap Rania tidak sabar.


Mereka tiba di mobil Logan. Logan membuka tasnya dan menyerahkan sebuah amplop tanpa nama kepada Rania.


Rania masuk ke dalam mobil Logan dan dengan tidak sabar membuka amplop itu. Sesuai dengan yang Rania inginkan, simple dan elegan. Senyum Rania mengembang lebih lebar ketika melihat namanya dan Logan disana.


"Ngapain kamu makan bareng sama Vino?" tanya Logan dengan nada sedingin es ketika mulai melajukan mobilnya.


Rania menoleh, mata Logan yang tajam seakan bisa menembus kaca mobil di depannya. Rania menyimpan amplop itu dan memusatkan perhatiannya pada Logan. "Aku gak sengaja ketemu tadi, Mas. Dia mau ke foodcourt, sama kan aku juga mau ke foodcourt, jadi aku ajak bareng aja."

__ADS_1


Bahu Logan terlihat naik turun, seiring ia yang menghela nafas dan mencoba meredakan emosinya.


"Mas, kenapa sih? Aku cuma makan bareng, loh." Rania mencoba meyakinkan Logan bahwa makan bersama Vino tadi bukanlah apa-apa, bukan sesuatu yang spesial, apalagi harus dipermasalahkan.


"Kamu masih aja ketawa dan senyum-senyum kalo bareng dia. Aku gak suka." Logan menatap Rania dan berkata dengan tegas, "Aku gak mau liat kamu makan bareng lagi sama dia."


"Mas, jangan berlebihan gitu deh. Mas kok sampe marah gini?" Rania mencoba tertawa.


Logan menepikan mobilnya di bahu jalan, melepas sabuknya, dan menatap Rania lekat, "Aku gak berlebihan, Ran. Kamu sama dia punya masa lalu. Aku sadar dan ngerti banget gimana perasaan dia ke kamu, juga hubungan kamu sama dia. Dia bahkan deket sama kamu lebih lama dari aku deket sama kamu."


"Tapi selama aku deket sama dia itu bukan deket yang kayak gitu, Mas. Aku cuma nganggep dia adik aku aja. Bahkan papa juga kenal sama dia dan udah nganggep dia sebagai anaknya." Rania mencoba menjelaskan.


"Kamu gak ngerti, Ran. Papa aja gak pernah sedeket itu sama aku. Kamu emang nganggep dia adik, tapi apa dia nganggep kamu hanya sebagai kakak aja?"


Rania seketika terdiam.


"Dia bahkan pernah peluk dan cium kamu di depan Candani." Sontak Rania tercengang. "Dan kamu diem aja. Gak berusaha menghindar." Nada bicara Logan berubah lirih, kedua matanya menatap kosong ke depan, tidak lagi menatap Rania.


"Sayang," Rania meraih tangan sang suami, "Udah dong. Kita udah nikah, loh. Masa Mas masih ngerasa gak nyaman sama Vino? Harusnya Mas percaya sama aku. Kalau dipikir-pikir iya juga sih, aku sama Mas itu cuma deket sebentar banget. Kita ketemu bulan Mei, terus kita deket sampai sekitar akhir bulan Juni. Terus pas udah tau ternyata kita sama-sama di SMA Satya kita jaga jarak di sekolah. Setelah itu kita perang dingin. Mas sama aku diem-dieman selama delapan bulan lebih. Selama delapan bulan itu juga aku emang deket sama Vino." Logan kembali menatap Rania, tidak suka Rania membahasnya dengan gamblang.


"Tapi, aku deket sama dia bukan deket karena aku suka. Mas tau sendiri aku itu guru. Mas aja aku jauhin, apalagi dia. Dia sama aku deket karena papa. Karena dia deket sama papa, aku jadi nganggep dia adik. Hanya itu, bukan deket kayak kita waktu itu. Terus, gak penting kali Mas, aku deket lebih lama sama siapa, karena seudah kita kepisah selama itupun, aku tetep milih Mas. Karena emang cuma sama Mas, perasaan aku tertuju."


Logan menghela nafasnya, tanda emosinya mereda. Rupanya kata-kata Rania sudah bisa membuat rasa cemburunya terurai. "Maaf, aku udah gak dewasa."


Rania menggelengkan kepalanya, seraya mengecup tangan sang suami. Logan tersenyum tipis dibuatnya. "Mas manis banget kalau udah cemburu." Rania menggoda Logan, mencoba mencairkan suasana.


"Kamu bener-bener selalu bikin aku kehilangan akal sehat, Yang." Logan kembali memanggil Rania dengan 'yang', tandanya ia sudah baik-baik saja.


...****************...


...Jangan lupa like, subscribe, dan comment ya! ...

__ADS_1


__ADS_2