
Selesai bertemu dengan Keyla, Rania segera menuju Hotel Logan Ritz. Saat tiba di lobi Logan sudah menunggunya dan mereka segera menuju ke sebuah ruangan VIP di restoran yang terdapat di Hotel miliknya itu. Logan akan menjamu seorang rekan bisnisnya yang merupakan pengusaha asal Inggris, Enrique Woods.
Mr. Woods datang bersama dengan istrinya, maka dari itu Loganpun membawa serta Rania. Usai menghabiskan makanan pembuka, Rania dan Gwen, Istri Mr. Woods memutuskan untuk pindah ke meja lain. Gwen rupanya sama dengan Rania, ia adalah seorang gadis dari kalangan biasa yang dipersunting pengusaha kaya raya. Namun perbedaannya jika Rania dipersunting pengusaha muda, Gwen justru dipersunting Enrique Woods, duda yang sudah berumur.
"Rania, kita jangan ganggu dua pria yang sedang membicarakan bisnis. Kita bisa mati kebosanan nanti." ucap Gwen.
Rania tertawa mendengar ucapan Gwen itu. Sebenarnya Rania sendiri tidak keberatan menemani Logan. Berbeda dengan Gwen yang terlihat sangat bosan, maka dari itu ia mengajak Rania untuk pindah ke meja sebelah, "Iya, Mbak Gwen betul. Lebih baik kita misah aja." ucap Rania diplomatis.
"Kamu gak usah panggil 'mbak' sama saya. Panggil aja Gwen. Kita 'kan gak terlalu beda jauh umurnya. Kamu 24 tahun 'kan? Aku baru 30 tahun." ucap Gwen berusaha lebih dekat dengan Rania.
"Okay, deh, Gwen." ucap Rania diiringi tawa.
"Gimana rasanya jadi istri CEO Logan Enterprise, Ran? Logan itu masih muda banget, tapi dia sangat menguasai apa yang dia kerjain. Aku salut banget, deh. Anaknya Enrique aja sekarang usianya sama kayak Logan, tapi kerjaannya tiap hari cuma ngabisin uang." gerutu Gwen seraya menceritakan anak tirinya.
Rania tersenyum bangga mendengar Gwen memuji suaminya itu, "Aku bingung juga sih kalo ditanya kayak gitu. Yang pasti aku kadang ngerasa terbebani juga." ucap Rania.
"Terbebani kenapa? Kamu harusnya bisa menikmati semua pencapaian suami kamu. Kamu mau gak ikut aku masukin kamu ke grup aku." ajak Gwen.
"Grup apa?" tanya Rania.
"Grup kita-kita aja, istri-istri para pengusaha. Seru loh, kita sering ngadain arisan, hang out bareng, jalan-jalan, belanja bareng. Pokoknya have fun, deh." ucap Gwen.
Rania sudah bisa membayangkan kegiatan dari 'geng'nya Gwen ini. Mereka pasti berisi istri para pengusaha yang sibuk memamerkan harta suami mereka dan menghabiskan uang yang tidak sedikit, atau lebih simpelnya dikenal dengan geng sosialita. Tanpa berpikir lebih jauh Rania sudah memutuskan, dia tidak tertarik untuk bergabung dengan kegiatan seperti itu.
"Aku harus bilang sama suami aku dulu, deh. Nanti aku kabarin. Makasih udah ngajakin aku ya, Gwen." pungkas Rania tidak memperpanjang obrolan itu.
Setelah beberapa jam, pertemuan Logan dan Mr. Woodspun selesai. Mereka pamit pulang, begitu juga Rania dan Logan, mereka segera pulang ke apartemen mereka.
***
Rania melepas sepatunya kemudian menaruhnya di lemari sepatu di sisi kiri pintu saat mereka sampai di apartemen. Begitu juga dengan Logan melakukan hal yang sama.
"Yang, aku mandi dulu ya, baru aku siapin makan." ucap Rania berjalan menuju kamarnya.
"Kan kita baru makan." ucap Logan sambil membuka dasinya.
"Makan apaan? Kamu gak makan tadi. Malah asik ngobrol." ucap Rania yang kini sudah berada di kamarnya.
Logan tersenyum menatap Rania yang begitu perhatian padanya, menyadari bahwa ia memang tidak makan makanan utama saat jamuan tadi. Logan mengikuti Rania dan menutup kamar kemudian menguncinya.
"Yang, aku pengen mandi dulu." Saat itu Rania sedang membuka resleting dressnya.
"Udah ini aja mandinya." ucap Logan dan kemudian merengkuh tubuh Rania dan mulai menciumnya.
Rania membatalkan rencana mandinya, dan melayani sang suami terlebih dahulu.
Begitulah setiap hari rutinitas Logan. Saat pulang kerja, Logan tidak pernah absen untuk menyentuh sang istri, itu seakan sudah menjadi suatu kebutuhan yang utama bagi Logan yang harus dipenuhi sebelum ia melakukan hal yang lainnya.
Usai melakukan penyatuan, Rania bangkit dari tempat tidur dan meraih kemeja putih yang tadi dikenakan oleh Logan.
__ADS_1
"Minjem baju kamu ya, Yang. Tanggung kotor." ucap Rania sambil memasang kancing pada kemeja Logan yang kebesaran di tubuh Rania yang ramping.
"Kamu makin cantik pake baju aku yang kebesaran di badan kamu." ucap Logan tersenyum nakal sambil menyatukan jari-jarinya dan menaruhnya di belakang kepalanya.
"Aku emang cantik, baru nyadar?" ucap Rania seraya mencepol rambutnya, kemudian berlalu meninggalkan kamar dan menuju ke dapur.
"Dasar, istri siapa sih itu?" gumam Logan sambil tersenyum gemas.
"Kamu cepet mandi dulu, Yang." terdengar suara Rania berteriak dari dapur.
"Okay deh." ucap Logan kemudian berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Setelah beberapa saat Logan sudah menggunakan kaos putih polos dan celana tidurnya. Ia duduk di salah satu kursi di meja makan sambil memainkan game di HPnya, menunggu Rania menyiapkan makanan untuknya.
Rania menggelengkan kepala dan tersenyum melihat suaminya itu. Ia senang melihat Logan kini betul-betul menyempatkan dirinya untuk melakukan hal-hal yang disukainya seperti dulu dan kembali menjadi dirinya yang berusia 18 tahun saat berada di rumah.
Begitu juga dengan pertengkaran mereka di Paris waktu itu, sudah tidak mempengaruhi mereka lagi. Rania memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Rania meletakkan nasi dan beberapa lauk pauk di meja makan, beserta piring sendok dan garpunya.
"Yang, makan dulu. Udah dulu main HPnya." Rania meletakkan segelas air putih di hadapannya.
"Bentar, Yang. Nanggung." ucap Logan, matanya fokus ke layar HP.
"Ya udah, aku mandi dulu kalo gitu." ucap Rania sambil melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Ya udah, kamu simpen dulu HPnya." ucap Rania dengan nada yang sedikit galak. "Aku pengen cepet mandi nih. Badan aku udah lengket banget."
Logan meletakkan HPnya dan tersenyum manis menatap sang istri. Kini wajah suaminya itu berubah 180 derajat menjadi seperti seorang remaja yang menuruti permintaan ibunya untuk meletakkan HP ketika waktu makan tiba. Logan yang tadi penuh karisma mengobrol dan menjamu rekan bisnisnya sudah hilang entah kemana.
"Iya, aku makan." Logan mulai mengambil nasi dan lauk pauknya. "Kamu gak makan?" tanya Logan.
"Aku tadi udah makan. Kenyang banget." Rania memang sudah makan banyak saat acara makan malam tadi. Ia mengobrol dengan Gwen sambil menikmati makanan yang tersedia. Sedangkan Logan dan Mr. Woods hanya menikmati hidangan pembuka, menikmati beberapa tegukan kecil wine, lalu setelah itu larut dalam obrolan bisnisnya.
"Tadi jadi ketemu bu Keyla, Yang?" tanya Logan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Jadi. Sebelum ke hotel tadi kan aku ketemu Keyla dulu. Yang, Keyla cerita, ternyata Pak Bima tau video itu kamu manipulasi loh."
"Iyalah dia pasti udah tau. Aku sempet bingung juga kenapa dia diem aja waktu aku jemput kamu di sekolah waktu terakhir itu."
"Itu gara-gara Pak Bima pengen aku ngajar lagi, Yang."
"Ya udah kalo gitu kamu ngajar lagi aja. Pak Bima pasti pengen banget kamu ngajar lagi, makanya dia ikut nutupin kejadian itu."
"Tapi tetep aja aku ngerasa gak pantes buat ngajar lagi. Orang-orang pasti masih ngomongin kita."
"Orang lain 'kan gak tau masalah itu. Yang penting nama kamu udah bersih lagi sekarang. Kamu ngajar lagi aja. Emang sayang banget kalo kamu berhenti. Kamu guru yang keren banget, Yang."
"Masa sih?" Rania tersipu sang suami memujinya.
__ADS_1
"Serius. Kamu gak percaya sama penilaian aku? Kamu lupa, aku udah bikin Hotel kita jadi salah satu yang terbaik di Asia? Itu 'kan gara-gara aku selalu bisa nilai dan mutusin semua yang terbaik buat hotel kita." ucap Logan dengan bangga dan penuh percaya diri.
"Iya deh, suami aku hebat banget emang." Sudah sering Rania mendengar Logan mengatakannya.
Logan tertawa mendengar ucapan Rania yang bernada sarkas itu. Ia semakin ingin menggoda sang istri, "Kalau gak jadi guru, kamu jadi pemain film atau pemain sinetron aja, cocok banget."
"Kok pemain sinetron?" Rania mengerutkan keningnya.
"Iya akting kamu bagus banget, Yang. Sampe-sampe aku ngira kamu udah gak suka lagi sama aku dulu." Kini Logan tidak mau kalah dalam menyindir Rania. Ia mengungkit perang dingin yang pernah terjadi diantara mereka ketika itu.
"Kalau itu sih kamu juga jago banget aktingnya." Rania mulai meladeni Logan untuk berdebat. "Kamu 'kan diemin aku selama berbulan-bulan. Kamu tiba-tiba gak masuk 2 minggu, pas masuk kamu lagi, kamu nyuekin aku. Kalau ketemu kamu pura-pura kayak gak kenal."
"Dih kamu sendiri 'kan kayak gitu? Kamu berkeliaran di sekolah, bersikap biasa aja, senyam-senyum kalau ketemu orang-orang. Tapi kalau ketemu aku, kamu lempeng banget. Kayak aku tuh makhluk tak kasat mata."
"Kamu gak tau aja kalau di belakang kamu aku kayak gimana. Aku sering diem-diem nangis di toilet guru tau gak, dan itu gara-gara kamu!" Kini Rania mencoba menjadi pihak yang paling tersakiti.
"Kalau aku, aku latihan renang gila-gilaan, berjam-jam, supaya aku gak mikirin kamu terus. Terus aku juga sering kebut-kebutan ngeluapin rasa marah aku gara-gara jauh sama kamu. Di sekolah aku juga sengaja lebih sering diem di tangga darurat. Aku anti banget dateng ke perpus sama kantin, karena aku takut ketemu kamu. Entar aku galau." ucap Logan dengan nada yang didramatisir.
Rania tertawa mendengar suaminya mengenang masa-masa perang dingin mereka dengan wajah sedih. Iapun memutuskan untuk tidak meladeni lagi perdebatan itu.
"Ketawa aja yang puas. Yang penting sekarang kamu udah jadi milik aku seutuhnya sekarang. Vino udah gak akan ganggu kamu lagi. Bahkan dibanding papa kamu, aku lebih berhak atas kamu sekarang." ucap Logan dengan nada memperingatkan.
Rania cukup terkejut karena Logan menyinggung tentang Vino. Ternyata Logan masih mengingat rivalnya itu. Namun Rania tidak ingin membahas Vino, bisa semakin panjang perdebatan itu.
"Ih, kamu nyeremin." ujar Rania.
Terkadang sekilas Rania sering kali seperti melihat sosok mendiang ayah mertuanya, Faris, di dalam diri Logan. Ambisius dan sedikit angkuh. Hanya saja, Logan punya sisi yang jauh lebih manis dan hangat. Walaupun Rania belum pernah mengenal Faris lebih jauh, tapi Rania bisa sedikitnya tahu seperti apa mendiang ayah mertuanya itu dari cerita Logan.
"Nyeremin apa coba, Yang." ucap Logan menyangkal.
"Iya kamu tuh nyeremin kalo udah pengen sesuatu, kamu harus dapetin itu. Terus kamu tuh ambis dan angkuh banget." ucap Rania dengan gamblangnya.
"Kalau gak gitu aku gak akan jadi pemimpin, Yang. Kalo aku plin-plan aku gak akan dapetin apa-apa. Apalagi di dunia bisnis." Logan sudah menyelesaikan makannya. Ia berjalan menuju bak cuci piring dan mencucinya.
"Masakan kamu makin enak, Yang." ucap Logan berjalan menuju meja makan dan mengambil HPnya.
"Beneran?" tanya Rania sumringah.
"Iya beneran, katanya sekarang pengen direview jujur sama aku." ucap Logan.
"Ntar ajarin aku lagi ya." ucap Rania. Beberapa kali saat senggang, Logan mengajarinya memasak. Skill memasak Logan memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Tidak heran, Logan belajar memasak dengan dibimbing langsung oleh chef berpengalaman yang bekerja di hotel miliknya.
"Okay, nanti kita masak bareng lagi ya." ucap Logan seraya mengecup puncak kepala Rania dan berlalu menaiki tangga ke lantai 2. "Besok aku libur, kerjaan aku udah kelar, aku mau begadang main game. Kamu tidur duluan aja ya!"
Loganpun masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu.
"Dasar Logan. Seneng banget liat kamu udah balik lagi kayak dulu." gumam Rania sambil tersenyum memandang ke arah lantai 2.
Rania membereskan sisa nasi dan lauk pauk yang tersisa. Kemudian Raniapun pergi ke kamarnya, mandi, dan kemudian tidur lebih dulu, tidak menunggu Logan yang kini sibuk bermain game.
__ADS_1